
Sudah sepekan Raga berada di kota C. Hari ini ia akan kembali ke kota A. Tugasnya di sini sudah selesai. Selama berada di kota C, ia selalu mengantar Athena ke kantor, dan menjemputnya lagi saat sore hari. Meskipun Raga sedang mode diam, tapi ia tak pernah lupa memperhatikan sang gadis.
"Jadi balik bang?" tanya Nevan yang sedang berada di apartemen milik Raga.
"Iya, besok harus masuk kantor" jawab Raga.
"Gak pamit dulu sama kakak?"
"Udah pamit kok."
"Bang Raga lagi bertengkar yah sama kakak?"
"Nggak, Nevan." jawab Raga.
Nevan mengangguk mengerti. Tidak seharusnya ia bertanya lebih dalam tentang permasalahan kakaknya.
"Mobilnya aku titip sama kamu yah, kamu simpan di rumahmu saja. Takut gak ada waktu ke sini" kata Raga .
"Gampang, bang. Lagian Abang ada-ada aja sih pake beli mobil segala, padahal mobil di rumah kakak ada beberapa lho"
"Ya nggak enaklah, Van. Kita ini harus mandiri"
"Mandiri bukan berarti begini, bang."
"Iya, lain kali nggak lagi dehh"
Nevan mengantarkan Raga hingga ke bandara. Setelah Raga check in, barulah Nevan pulang ke rumahnya.
"Dari mana dek?" tanya Alda. Perempuan itu sedang mengelus rambut Athena yang ada diatas pahanya.
"Dari bandara, mom" jawab Nevan setelah meneguk ice coklat yang ada di meja.
"Kamu ngapain ke bandara?" tanya Athena.
"Nganterin bang Raga lah" sewot Nevan.
Mendengar jawaban Raga, Athena langsung duduk.
"Raga udah pulang?" tanya Athena.
Nevan hanya mengangguk.
"Bukannya bang Raga udah pamit yah?" tanya Nevan balik.
"Dia gak ada bilang sama kakak" jawab Athena.
"Padahal pergi-pulang kantor sama terus" ucap Alda.
"Tapi Raga gak ngomong, mom" kata Athena lirih.
"Raga buru-buru kali" Alda mengusap pundak anaknya, mencoba menenangkan sang anak.
"Ini kunci mobilnya bang Raga. Dia nitip mobilnya di sini, takut gak ada orang yang ngurus kalau disimpan di apartemen." Nevan memberikan kunci mobil Raga pada kakaknya.
"Lagian ada-ada aja sih beli mobil segala" omel Athena.
"Kak Raga mah orangnya gengsian. Aku bilang juga gitu, terus dia bilang gak enaklah, Van. Kita ini laki-laki, yah mesti mandiri" cerita Nevan.
"Gengsian aja terus, sepekan aku ngajak dia ngomong responnya hanya mengangguk dan menggeleng doang" Athena melanjutkan omelannya.
"Kakak sih pake gantung bang Raga segala" kata Nevan.
"Emang iya kak?" tanya Alda.
Athena menggeleng dan mengangguk.
"The belum siap, mom. The belum punya sesuatu untuk membuat mommy, Daddy dan opa bangga." jawab Athena.
Alda memegang kedua pipi anak perempuannya.
"Sayang, mommy gak pernah nuntut kamu buat jadi apa dan bagaimana, mommy gak mau kamu nolak Raga karena alasan kamu belum bisa membuat mommy dan yang lain bangga. Kami bangga karena ada kamu di sisi kami, menjadi bagian dari kami, dengan atau tanpa pencapaian apa pun" ucap Alda lembut.
Athena memegang kedua telapak tangan mommy nya.
"Mom, please understanding me." pinta Athena.
Alda tersenyum lembut.
"Sayang, semuanya terserah kamu. Kamu yang paling berhak atas hidup kamu. Memutuskan untuk menikah tentu bukan hal yang mudah, sama seperti sekarang. Jika belum siap, segera mempersiapkan diri. Mommy hanya sedih jika kamu menjadikan kata 'membanggakan' sebagai alasan kamu menunda untuk menikah. Mommy selalu sayang kamu, sejak dulu, sekarang dan selamanya."
"Terima kasih, mom." Athena memeluk mommy nya.
✨✨✨
Sepulangnya dari kota C, Raga seolah memaksa dirinya untuk bekerja keras. Sudah sebulan ini ia memilih untuk menginap di apartemen miliknya, bekerja hingga larut malam dan kadang lupa untuk makan.
"Lo nggak tidur?" tanya Kevin.
"Tidur" jawab Raga.
"Jangan maksain deh, Ga. Lo udah bayar orang buat kerja, jangan maksain diri lah" kata Eros.
"Namanya juga usaha. Apalagi kemarin baru launching" Raga merespon perkataan Eros.
"Gue lihat perkembangannya cukup signifikan." ucap Wildan.
"Meskipun Lo mesti berdarah-darah sih bangunnya, tapi hasilnya menjanjikan. Apalagi di era seperti ini" kata Darren.
"Ini juga berkat bantuan kalian. Thanks yah" Raga menyeruput kopi di depannya.
"Lo berhenti deh minum kopinya. Nanti Lo gak bisa tidur" Kevin meminggirkan kopi Raga.
Raga hanya pasrah saat Kevin meminggirkan kopinya.
Setelah pulang dari kafe O, Raga menuju ke lapangan golf. Lathief menghubungi nya untuk bermain golf bersama.
"Kamu sepertinya kurang sehat" tegur Lathief.
"Kurang tidur, opa." Raga mengakuinya.
"Jiwa anak muda memang selalu membara, lupa tidur, lupa makan, yang diingat hanya bekerja" Lathief menepuk pelan pundak Raga.
Raga terkekeh kecil mendengar ucapan Lathief.
"Opa juga gitu?"
Lathief menggeleng.
"Opa tetap makan, tidur yang cukup, agar bisa bekerja dengan baik" jawabnya.
"Kamu harus jaga kesehatan, itu yang paling utama. Kalau gak sehat, pekerjaan akan terganggu, orang-orang terdekat mu akan merasa sedih." ceramah Lathief.
"Baik, opa"
"Selamat yah atas launching aplikasinya. Opa senang lihat kamu bisa beradaptasi dengan era globalisasi ini."
"Terima kasih, opa"
"Kamu ini" Lathief menepuk pelan kepala Raga.
Penglihatan Raga mulai berkunang kunang, hingga ia tidak bisa melihat lagi.
Pengawal Lathief segera bertindak, membawa Raga menuju rumah sakit. Lathief dengan cepat segera menghubungi Baskara, memberitahu situasi sekarang.
Jarum infus sudah terpasang di tangan Raga, lelaki itu dehidrasi berat dan butuh bantuan nutrisi.
"Maaf, tadi saya mengajaknya bermain golf" sesal Lathief.
"Bukan masalah yang besar, pak. Belakangan ini Raga memang sering kedapatan lembur di kantor, pulang larut malam" beritahu Baskara.
"Jiwanya begitu menggebu-gebu untuk membangun usahanya sendiri" Lanjut Baskara.
"Anak-anak memang seperti itu. Sekali lagi saya minta maaf" ucap Lathief.
Raga membuka matanya dengan perlahan, ia melihat sekitarnya. Tak lupa melihat tangan kirinya yang terasa ngilu karena tusukan jarum infus.
"Maaf udah repotin opa" ucapnya pelan.
Lathief mengelus kepala Raga.
"Seharusnya opa yang minta maaf, ngajak kamu main golf padahal kamu terlihat tidak baik-baik saja"
Raga tersenyum kecil.
"Raga aja yang kurang istirahat, opa. Ini bukan salah opa" katanya.
"Mama udah tahu, pa?" tanya Raga.
Baskara menggeleng.
"Belum papa beritahu. Mau diberitahukan sekarang?" tanya Baskara balik.
"Nggak usah, pa. Setelah cairannya habis, tolong minta dokter buat lepas infusnya" jawab Raga.
Baskara mengangguk mengerti. Anak lelakinya ini benar-benar tidak ingin membuat sang mama khawatir.
"Gak di rawat aja?" tanya Lathief.
"Nggak usah, opa. Keluar dari sini, Raga janji bakal istirahat yang cukup dan memperhatikan kesehatan" janji Raga.
"Kalau ada masalah, segera diselesaikan. Jangan dibuat larut agar tidak menimbulkan masalah yang lain. Kalau capek, segera istirahat. Kamu sedang bekerja di perusahaanmu sendiri, jangan menyiksa diri" ceramah Lathief.
"Iya, opa. Terima kasih." ucap Raga.