Athena

Athena
Birthday Trip (4)



Matahari mulai memancarkan cahayanya. Athena dan Raga sedang membongkar tenda juga membersihkan area yang mereka tempati untuk beristirahat semalam.


"Udah semua kan?" tanya Raga.


"Iya, yuk kembali ke kedai" ajak Athena. Ia menenteng keranjang berukuran sedang yang berisi perlengkapan memasak, sedangkan Raga menenteng tenda dan menggendong backpack.


"Kita kayak anak sekolah yang habis kemah" ucap Athena.


"Iya yah. Pulangnya sambil jalan gitu" kata Raga.


Menyisiri pantai tanpa alas kaki terasa begitu membahagiakan. Pasir yang bersih juga halus serasa menggelitik telapak kaki.


"Ehh, bisa pacu kuda juga?" tanya Raga pada si bapak.


Terlihat Run yang sedang memacu kuda di pinggir pantai. Rupanya ia sedang berlomba dengan Dina.


"Bisa, tuan. Tapi hanya saat pagi hari" jawab si bapak.


"Aku mau juga, Ga" pinta Athena.


"Bapak juga sewain kuda?" tanya Raga.


"Iya, tuan."


"Yang warna putih ada?" tanya Athena.


"Ada, nona. Mohon tunggu sebentar" pamit bapak itu menuju penangkaran kudanya yang entah dimana


Tidak lebih dari 15 menit, si bapak sudah kembali dengan 2 ekor kuda mengikuti dibelakangnya.


"Terima kasih, pak" ucap Raga saat tali kudanya berada di tangannya.


Athena mengelus kepala kuda itu dengan penuh kelembutan, mereka seolah berbicara lewat mata. Tidak butuh waktu lama, ia sudah duduk dipunggung kuda.


"Ayo, Ga" Athena sudah tidak sabar.


Kuda mereka jalan berjejer.


"Pagi dan berkuda benar-benar luar biasa" ucap Athena. Ia begitu takjub akan hal ini.


"Keren sih tempatnya. Gak terduga gitu." Raga sama takjubnya.


"Nona, ayo kita berlomba" teriak Dina.


"Dengan senang hati" ucap Athena.


Mereka berempat sudah berdiri di garis start, siap memacu kudanya.


"Yang paling cepat sampai hingga pohon Ketapang di depan sana dia adalah pemenangnya." Run memberitahukan.


"Satu"


"Dua"


"Tiga"


Suara kaki kuda mulai terdengar. Athena merasa begitu senang bisa menunggangi kuda sepagi ini, apalagi dengan suasana yang begitu berbeda. Ia berpikir untuk membuat penangkaran kudanya sendiri di pulau Athena nanti.


"As always, nona yang terbaik" ucap Dina.


"Thank you, Dina" Athena mengedipkan matanya.


"Kami pamit, nona" kata Run. Mereka kembali menunggangi kudanya ke arah lain.


Raga masih shock akan pemandangan tadi. Saat dimana kuda yang Athena tunggangi berlari dengan sangat cepat, dan Athena terlihat sangat menikmatinya, tidak ada sama sekali raut ketakutan di wajahnya.


"Kamu bisa berkuda sejak kapan?" tanya Raga. Ia ternyata belum mengenal Athena dengan baik.


"Sejak kelas 1 SMP. Setiap liburan uncle Jake selalu mengajak untuk berkuda" jawab Athena.


"Kelas satu SMP, itu masih sangat belia, The" kata Raga.


"Ya, tapi Daddy dan mommy tidak melarang karena uncle Jake yang mengajarkan. Kamu sejak kapan bisa menunggangi kuda?"


"Belajarnya sejak kelas 2 SMP, tapi dibolehkan untuk menunggangi kuda sendiri yah waktu kelas 3 SMP. Satu tahunnya yah sama yang mengajari" jawab Raga.


"Nggak masalah. Kita masih punya waktu seumur hidup untuk saling mengenal" kata Athena yang diakhiri dengan kekehan ringan.


"Apalagi olahraga wajib yang kamu pernah tekuni?" tanya Raga.


Mereka kembali berjalan, sambil memegang tali kuda yang berjalan dibelakang mereka.


"Opa hanya menekankan untuk belajar berkuda, memanah dan berenang." jawab Athena.


"Aku ikut kelas bela diri di umur 8 tahun, dan selesai di umur 13 tahun, awal masuk SMA. Setelah ujian nasional, uncle Jake kembali mengambil alih waktu luangku, beliau mengajarkan menembak" cerita Athena.


"Sangat menakjubkan. Benar-benar menakjubkan" ucap Raga.


"Opa sih yang gembleng. Katanya semua keturunannya harus tangguh dan tak terkalahkan, tapi aku menerima alasannya dengan baik. Tanggung jawab aku dan saudara-saudara aku sangat banyak dan mungkin cukup berat, itulah mengapa opa menggembleng fisik dan mental kami sejak kecil, menggunakan orang lain. Karena beliau sendiri tidak tega melihat kami bercucuran keringat saat sedang berada dia area latihan." Athena melanjutkan ceritanya.


"Ayra juga?" tanya Raga.


"Yah, Ayra juga. Ayra sama dengan aku, hanya half blood, bukan pureblood seperti Nevan dan si kembar. Ayra mungkin bahkan akan lebih baik dari kami, karena ayahnya sendiri yang mengajarkan apa pun."


"Uncle Jake bisa melihat anaknya bercucuran keringat?" tanya Raga.


"Ya, bisa. Beliau bisa. Uncle Jake seperti memiliki dua sisi dalam satu tubuh. Ia akan begitu beringas saat berada dalam area latihan dan menjadi sangat penyayang jika berada di rumah. Opa pernah sekali marah besar karena Ayra mimisan saat sedang tidur, sebelum itu ia ternyata habis berenang entah berapa meter tanpa istirahat. Untuk anak-anak yang masih berumur 7 tahun tentu hal itu tidak wajar sama sekali."


"Tapi Ayra terlihat seperti anak kecil pada umumnya, nampak biasa aja" heran Raga.


"Ya, benar. Ia masih begitu manja, kemarin aja sebelum berangkat ia menangis sambil aku gendong" Athena tertawa mengingat bertapa manjanya Ayra terhadap dirinya.


Mereka sudah sampai di kedai. Kudanya sudah dikembalikan kepada si bapak.


"Bu, pesan nasi gorengnya dua porsi" pesan Athena.


"Baik, nona. Silahkan di tunggu" ucap si ibu.


"Ga, kalau misalkan Ayra nanti mau ikut kita, gimana?" tanya Athena.


"Yah nggak masalah. Yang penting kamu bahagia aja" jawab Raga.


"Thanks" ucap Athena.


Jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Seolah ada isyarat yang ia terima.


"Habis ini kembali ke hotel yah."


"Iya, kamu perlu istirahat." kata Raga.


Setelah membayar semuanya, mereka pamit untuk meninggikan pantai ini.


"Terima kasih pak, Bu atas semua bantuannya" ucap Raga.


"Tapi ini berlebihan, tuan." kata si bapak. Raga membayar lebih dari harganya.


"Tolong diterima yah pak, Bu. Bapak dan ibu sudah membantu kami selama di sini" kini Athena lah yang bertugas meyakinkan si ibu.


Si ibu dan si bapak mengangguk mengerti.


"Kami tunggu tuan dan nona kembali ke sini lagi" kata si ibu.


"Kami pasti akan kembali ke sini, Bu, pak"


Jeep Wrangler Rubicon itu meninggalkan pantai, kembali menapaki jalan yang bukan lagi pasir, tapi aspal hitam.


Athena sedang menghubungi opanya, bertanya tentang Ayra. Ternyata Ayra sedang berada di rumah Brian, Jake dan Abraham datang dari pulau RelFath.


"Kamu kayak panik gitu?"


"Nggak, tadi kepikiran sama Ayra aja. Ternyata dia lagi di rumah uncle Brian. Ada ayahnya dan kakek Abraham, makanya dia ke sana" jawab Athena.


Raga mengacak pelan rambut Athena. Gadis di sampingnya ini begitu penyayang.


"Kamu istirahat gih" ucap Raga sebelum menutup pintu kamar Athena.


"Okay, tuan" kata Athena.


Ia segera bersih-bersih dan merebahkan tubuhnya di kasur busa yang begitu empuk.