
"Wish you luck yah buat ujiannya besok" ucap Athena pada Clara. Keluarga Devanka pamit untuk pulang karena malam sudah semakin larut.
"Terima kasih, Athena" Clara tentu saja bersikap sangat manis.
"Clara pasti bisalah The. Dia anak Tante yang paling bisa diandalkan" bangga Vita.
"Hati-hati yah Vit, Devan, Clara" ucap Vania.
Setelah mobil keluarga Devanka tidak terlihat lagi, mereka berempat kembali memasuki rumah.
"Omongannya Tante Vita jangan diambil hati yah sayang" Vania mengelus rambut Athena.
"Nggak kok ma." Athena tersenyum.
"Beberapa hari setelah kelulusan sarjana kamu dan Raga, Devan menitipkan Clara kepada kami untuk melanjutkan studi di kota ini. Karena Devan teman baik papa, yah tentu papa tidak menolak. Semoga kamu bisa mengerti" Baskara menjelaskan.
"Iya, pa. The ngerti kok"
Baskara mengangguk.
"Sana kalian istirahat, mama dan papa juga butuh istirahat" perintah Baskara.
"Baik, pa. Selamat malam, mama, pa" kata Athena patuh .
Sejak tadi Raga hanya diam, ia merangkul bahu istrinya kembali ke kamar.
"Kamu duluan yang bersih-bersih" katanya pada Athena.
"Oke deh" ucap Athena. Ia segera memasuki kamar mandi untuk mencuci wajahnya, tak lupa membersihkan area mulutnya juga. Tidak butuh waktu lama ia selesai dan segera mengganti bajunya menggunakan piyama.
"Sana gih, aku udah selesai."
Raga beranjak dari duduknya dan memasuki kamar mandi. Rupanya Athena sudah menyiapkan piyama untuknya.
Athena sedang asyik bermain game di ponselnya sambil menunggu Raga selesai.
"Asyik banget main game nya" ucap Raga. Ia duduk di samping Athena, menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
Athena mengelus kepala suaminya, dan segera menyudahi game nya.
"Udah yuk, tidur" katanya.
"Kamu nggak ada yang mau ditanyakan?"
Athena menggeleng cepat.
"Tadi papa udah bilang, penjelasannya cukup jelas, dan aku mengerti" jawab Athena.
"I'm so sorry" ucap Raga.
"Never mind" Athena tersenyum.
"Ayo tidur" ia merebahkan badannya dan menepuk bantal disampingnya.
Raga ikut merebahkan badannya dan memeluk Athena.
"Nggak ritual dulu?" tanyanya.
"Kamu lagi pengen?" tanya Athena.
Raga mengangguk.
"Yaudah, ayo"
Raga mengecup bibir Athena hingga menjadi l***tan. Mengikuti segala naluri nya sebagai lelaki.
"Pelan-pelan, Ga" ucap Athena.
Raga mengangguk mengerti. Ia megecup kening istrinya dan memasukkan sesuatu ke dalam goa di bawah sana. Ia mendiamkan miliknya beberapa saat.
"Udah bisa gerak?" tanyanya.
"Pelan-pelan yah" pinta Athena.
Raga memulai aksinya, mengeluarkan segala kekuatannya untuk menjelajah malam ini.
Napas keduanya memburu setelah melepaskan sesuatu yang sejak tadi mereka tahan. Raga mencium kening Athena sangat lama, seolah mengucapkan banyak terima kasih.
"Mau di dalam aja?" tanya Raga.
"Iya. Kamu geser ke samping deh"
Raga menggeser badannya menjadi miring menghadap Athena. Ia menjadikan sebelah tangannya sebagai bantal untuk Athena, dan sebelahnya lagi memeluk Athena. Tangan Athena juga sama, keduanya melingkar di pinggang Raga.
"Nggak nge ganjal emang?" tanya Raga.
"Nge ganjal sih. Tapi kan perlu dibiasakan." jawab Athena. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Raga yang masih basah karena keringat.
"The, aku keringatan lho ini"
"Nggak apa-apa, Ga" ucap Athena.
Raga mengelus rambut Athena, mencium kembali kening wanita yang sedang berada dalam dekapannya.
"Tidur, sayang" ucap Raga lembut.
Mendapat elusan Raga di rambutnya, perlahan Athena menutup matanya, hingga menuju alam mimpi.
"Mau pulang sekarang?" tanya Raga pada Athena yang sedang membantu nya memakai dasi.
"Nggak. Aku tunggu kamu di sini aja. Sekalian nemanin mama. Habis pulang kantor, kamu jemput aku" jawab Athena.
"baiklah nyonya" ucap Raga.
Mereka berdua turun ke lantai 1 untuk sarapan.
"Gak bikin bubur ayam?" tanya Raga pada Athena.
"Nggak, Ga. Nanti aja makan bubur ayam nya" jawab Athena.
"Mama gak ada bahan buat bikin bubur ayam, makanya The gak buat. Maafin mama yah"
"Nggak apa-apa, ma" ucap Athena.
Tidak lama kemudian, Baskara ikut sarapan.
"Selamat pagi, pa" sapa Athena dan Raga bersamaan.
"Selamat pagi istri dan anak-anaknya papa. Ayo, sarapan dulu"
Mereka sarapan dengan tenang hingga Baskara dan Raga pamit untuk ke kantor.
"Ma, titip istri Raga yah. Jangan diomelin" ucap Raga ngawur.
"Sembarangan aja kalau ngomong" Vania mencubit pinggang anaknya.
Baskara dan Athena terkekeh melihat sepasang anak dan ibu itu.
"Ma, papa kerja dulu yah. Athena, jangan sungkan yah"
Kedua wanita itu mengangguk bersamaan.
"Aku pamit yah. Ma, Raga pamit" ucap Raga.
Athena mencium punggung tangan Raga yang dibalas dengan kecupan di dahinya.
"Hati-hati" ucapnya.
Raga mengangguk. Ia tentu tak lupa mencium kening mamanya juga.
"Jadi hari ini mau ngapain aja?" tanya Vania.
"Buat cake seru tuh ma" usul Athena.
"Boleh juga. Tapi mama gak ada bahan-bahannya. Kita beli dulu yah"
"Baiklah mama" patuh Athena.
"Yaudah, sana siap-siap dulu sayang. Mama tunggu di bawah" kata Vania.
Hingga sore nanti, Athena akan menghabiskan waktu dengan Vania, mertua nya. Mulai dari membeli bahan-bahan untuk membuat cake, membuat cake bersama-sama.
"Mama senang deh akhirnya punya anak perempuan yang bisa diajak ngapa-ngapain" seru Vania senang.
Athena tertawa geli melihat ekspresi mertuanya yang begitu senang. Segitu senangnya Vania bisa memiliki menantu yang bisa membantunya di dapur.
"Mama lebih suka The kerja atau di rumah aja jadi ibu rumah tangga?" tanya Athena setelah ia memanggang kue nya.
Vania yang sedang membuat jus jeruk pun menoleh melihat menantunya yang sedang bersandar menanti jawabannya.
"Mama suka The jadi ibu rumah tangga aja. Tapi kalau The mau kerja, mama juga nggak melarang. Mama akan selalu mendukung apapun yang The inginkan, asalkan tidak melupakan kewajiban The" jawab Vania bijak.
Athena tersenyum mendengar jawaban bijak mertuanya.
"Omongan orang jangan terlalu dipikirkan, yah. Nanti jadi beban buat The. Hidup kita yah milik kita, kita yang nentuin, kita yang jalanin. Orang-orang hanya jadi penonton dan berkomentar, seolah mereka yang berada di posisi kita" Vania mengelus kepala Athena.
"Terima kasih, ma " ucap Athena.
Vania tersenyum dan mengangguk.
"Bentar yah, mama telpon yang lain dulu buat kesini, biar mereka tahu gimana rasanya cake buatan anak mama" ibu-ibu dan jiwa pamernya memang tidak terpisahkan.
"Mama bisa aja" Athena terkekeh.
Mendapat ajakan dari Vania untuk nongkrong di rumahnya, Lana, Windi dan Diandra bergerak cepat menyambangi rumah Vania. Wenda masih di luar kota, belum kembali ke kota A.
"Sayang banget Wenda gak bisa makan cake buatan The" Windi menyayangkan.
"The sejak kapan bisa buat kue?" tanya Lana.
"Sejak kecil The selalu bantu mommy buat kue, tapi pertama kali buat sendiri pas dulu waktu di desa kenangan" jawab Athena.
"Kuenya enak gini. Siap-siap nanti Vania program diet" Diandra ikut berkomentar.
"Terima kasih, Tante" ucap Athena.
"Aku gak sendirian kali. Buktinya kalian juga ikut makan, lebih lahap pula" kata Vania.
"Sering-sering aja The buatnya" Lana tidak tahu diri.
"Tadi The buat banyak kok, nanti aku bagi. Tapi sedikit aja yah" kata Vania.
"Pelit ihh" Windi bersuara.