Athena

Athena
Kembali ke Desa



"Kumpul dulu sebentar" Kata Eros.


Mereka duduk di sofa.


"Besok bangun lebih pagi yah. Karena orang-orang ayah yang akan mengantar kita kembali ke desa. Tidak boleh lewat dari jam 7. Jam 7 semuanya sudah siap." jelas Eros.


"Siip, dah" kata Wildan. Ia lalu berdiri dan berjalan ke kamarnya.


Athena juga melakukan hal yang sama. Ia akan prepare malam ini, agar besok tidak perlu buru-buru. Untung saja tadi ia meminta Min untuk mencari tempat laundry, agar ia tak perlu capek mencuci saat sampai di desa. Ia sebenarnya ingin menitipkan barangnya sama Ram aja, karena Ram sudah tidak lagi kembali ke desa. Tapi ia takut temannya akan mempertanyakan kemana semua belanjaannya.


Athena memilih tidur lebih awal. Hari ini sangat melelahkan, ia juga merasa kekenyangan.


Di sofa bawah, Raga mendapat serangan dari para temannya.


"Jadi udah mulai progres nya?" tanya Darren.


"Perlahan. Dia nganggap kita semua sama." jawab Raga.


"Ya iyalah, anaknya lugu gitu. Tadi aja kayak anak kecil pas ketemu sahabat Daddy nya" kata Kevin.


"Lo kayaknya perlu stok sabar yang banyak deh, Ga." Eros menimpali.


Raga mengangguk. Ia memikirkan hal yang sama dengan Eros. Ia harus lebih sabar dalam mengambil langkah. Salah sedikit saja, ia bisa gagal.


"Masalah lain adalah, Lo" tunjuk Kevin kepada Raga


"..dan kita semua gak ada yang tahu who is she?"


"Gue pernah nyari tentang dia waktu tahu dia masuk kelompok kita, tapi hasilnya nihil." kata Eros.


Raga memijat pelan ujung atas hidungnya.


"Gak usah pusing lah. Lo ini Argantara Perdanakusuma, semua hal Lo punya." Kevin menepuk pundak Raga.


"Kecuali ayang" sambung Darren kemudian berlari.


Kevin dan Eros terkekeh mendengar perkataan Darren. Benar sih apa yang Darren katakan.


"Siyalaaan bener itu bocah" umpat Raga.


"Gitu aja marah. Ingat, sabar bro sabar" kata Eros.


Raga berdiri. Ia butuh istirahat sepertinya. Apalagi besok mereka kembali akan melakukan perjalanan jauh.


✨✨✨


Sebuah Mitsubishi Pa ke ro sport terparkir di halaman resort.


"Wah, udah mau balik aja" kata Vania sedih.


"Ya harus dong, Tante. Demi masa depan yang cerah dan glowing" canda Darren .


Celotehan Darren membuat semuanya tertawa.


"Semalam udah kayak eksekutif muda aja, makan di resto bintang-bintang." cibir Edhy.


"Perlu dibiasakan dari sekarang, pa. Biar nanti gak kaku pas jadi eksekutif beneran" timpal Wildan.


Edhy menepuk pelan kepala anaknya.


"Sa ae Lo Ferguso" kata Kevin.


"The tinggal disini lagi gak apa-apa kan?" tanya Vania.


"Nggak yah, ma. Kita masih ada satu rencana besok" jawab Raga cepat.


Vania memeluk Athena.


"Nanti kalau udah sampai di kota A, main-main ke rumah yah sayang"


Athena mengangguk.


"Semoga ada kesempatan, Tante" ucapnya lembut.


Setelah pamit pada semua orang, mereka menaiki mobil. The yang akan duduk paling depan, dekat supir jadi khayalan karena Raga lebih dulu menariknya agar duduk di kursi paling belakang, berdua.


Eros mengalah, ia duduk di kursi penumpang dekat supir. Di belakangnya ada Wildan, Darren dan Kevin.


"Kenapa sih, Ga?" tanya Athena.


"Kenapa apanya?" tanya Raga balik.


"Suka banget narik tangan aku. Takut rindu yah?" tanya Athena polos.


Raga mendorong jidat Athena menggunakan jari telunjuknya.


"GR banget" ucap Raga ketus.


"Masih ada 3 bulan di sekolah untuk ketemu, buat nyusun laporan dan persiapan presentasi" kata Athena.


"Iya iya" Raga menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Ia menutup matanya.


Sementara orang-orang di depan mereka kecuali pak supir, sudah tidur lebih dulu.


Mobil berhenti tepat di depan rumah sementara mereka. Setelah menurunkan barang-barangnya, sopir suruhan Eris pamit.


"Terima kasih, pak" ucap Eros.


"Dengan senang hati, tuan." balas sopir itu ramah.


"Hati-hati di jalan, pak" pesan Eros.


Sopir itu mengangguk pasti, kemudian menaiki mobilnya.


Kevin membuka pintu rumah, nggak ada yang berubah.


"Coba cek barang masing-masing" suruh Eros.


Mereka semua mengecek barang-barang yang mereka tinggal. Terutama laptop.


"Aku aman" kata Athena.


Yang lainnya mengangguk. Seolah mengatakan 'aman' juga.


"Syukurlah" kata Eros.


"Aku pamit istirahat yah. Nggak ada yang lapar kan?" tanya Athena.


"Gak ada. Sana istirahat" Raga mendorong bahu Athena agar segera berjalan ke kamarnya dan beristirahat.


Mereka kembali ke desa ini, setelah meninggalkannya beberapa hari. Baru beberapa hari di kota, mereka sudah merindukan suasana desa. Bagaimana jika mereka kembali ke kota A? Kemungkinan mereka untuk datang ke desa ini sangat kecil. Jarak yang harus ditempuh juga cukup menjadi pertimbangan.


"Gak kerasa waktu kita akan habis" kata Wildan.


Mereka sedang duduk di gasebo teras. Hari sudah sore


"Iya, Wil. Aku awalnya khawatir gak bisa hidup disuatu tempat yang nggak aku tahu keadaannya. Pihak sekolah hanya memastikan tempat ini aman, tapi mereka gak ngasih kita clue sedikit pun tentang keadaan tempat ini" Athena mengiyakan ucapan Wildan.


"Pas tahu Lo satu kelompok sama kita-kita gimana?" tanya Kevin.


Athena terkekeh.


"Awalnya kaget, takut juga. Aku benar-benar nggak tahu kalian, gak kenal kalian. Fany juga berusaha buat aku kenal kalian. Eros katanya mantan ketos yah? Tapi aku benar-benar nggak tahu dia, apalagi kalian. Aku nggak tahu kalau ada kalian di Maheswari" jawab Athena jujur.


"Jujur banget The jawabnya" lirih Darren.


"Bener Lo gak tahu Eros?" tanya Wildan.


"Nggak" jawab Athena.


"Waktu pemilihan ketos Lo dimana dah?" tanya Eros.


"Di kelas" jawab Athena.


"Yaa salam. Bisa-bisanya ada murid yang lolos gak milih ketos" Kevin mengusap wajahnya kasar.


"Lo juga gak pernah lihat kami?" tanya Raga.


Athena menggeleng.


"Nggak"


"Benar-benar ini anak" Raga mendorong jidat Athena menggunakan jari telunjuknya.


"Masalah rumah tangga jangan dibawa kesini yah" tegur Wildan.


"Hooh, kasian gue yang masih bocah" Darren memulai omong kosongnya.


"Jadi, Lo baru liat kami pertama kali di cafe?" tanya Eros.


"Iya" jawab Athena.


"Dan Lo nggak ngerasa familiar melihat wajah kita-kita?" tanya Kevin.


"Nggak. Benar, aku nggak pernah lihat kalian" kata Athena.


"Lo di kelas mana dah?" tanya Wildan.


"IPA 4" Jawab Athena.


"Gue dan 4 kunyuk ini kelasnya di IPA 3" greget Kevin.


"Lo sekelas sama Irvandi berarti?" tanya Darren.


"Iya."


"Lo nggak pernah nonton dia main basket?" tanya Darren, lagi.


"Nggak" jawab Athena singkat.


"Emang dia anak basket?" tanya Athena balik.


"Ya iyalah. Satu-satunya orang yang berhasil masuk circle kami yah Irvandi. Dia juga tim inti" beritahu Wildan.


"Aku baru tahu" kata Athena pelan.