
"Gak sekalian makan malam dulu, sayang?" tanya Vania.
Athena tersenyum.
"Udah sore banget ini, Tan. Athena perginya udah dari tadi siang. Daddy udah nyariin"
Vania mengangguk mengerti.
"Tapi pulangnya dianterin Raga yah"
"Gak usah, Tante. Ngerepotin Raga banget" tolak Athena, ia merasa tidak enak.
"Gak repot kok. Raganya juga lagi senggang." Vania tak mau kalah.
"Baiklah. Terima kasih Tante buat jamuan nya, mana pulangnya di kasih sebanyak ini." ucap Athena sambil mengangkat paper bag yang berisi berbagai macam kripik singkong.
"Sama-sama, sayang. Sering-sering yah kesininya, Tante kadang merasa sepi, gak ada teman ceweknya di rumah" keluh Vania.
"Di usahakan yah, Tante. Salam buat om, semoga lekas sehat" Athena mencium punggung tangan Vania, kemudian bercipika cipiki.
"Hati-hati sayang. Raga, jangan ngebut yah, anak orang itu." pesan Vania.
Raga mengangguk.
"Raga berangkat dulu, ma" pamitnya.
"Alamatnya dimana?" tanya Raga.
"Jalan aja, nanti aku tunjukin" jawab Athena.
Ia dengan cepat mengirim pesan kepada mommy dan Min. Kepada Min ia memberitahukan jika temannya akan mengantarnya pulang, jadi Min bisa segera ikut pulang.
Athena Mom, Raga nganterin The pulang. Bisa tolong minta Pak Mi bukain gerbang paviliun?
Mommy kok di paviliun? di rumah aja kenapa sih sayang?
Athena Nanti Raga liat wajah mommy dan daddy
Mommy Mommy dan Daddy lagi diluar kok ini. Nevan juga lagi di rumah papa Mika.
Athena Jadi The bakal sendirian?
Mommy Gak mau malam mingguan dulu?
Athena Emang mommy ngizinin?
Mommy Nggak. Bye Daddy
Athena Jadi gerbang paviliunnya udah dibuka belum?
Mommy turunnya di depan rumah aja. No debat.
Athena kalau Raga bertanya, gimana?
Mommy Yah jawab dengan jujur. Bye sayang, mommy dan daddy dinner dulu.
Athena kemudian membuka room chatnya dengan Nevan. Ia akan meminta Nevan untuk pulang sebentar saja.
Athena Nevan, pulang sebentar aja bisa nggak? Kakak dianterin Raga, gak enak kalau cuman ada kakak di rumah.
Nevan Otw, sama twins juga.
Athena Okay, thanks.
"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Raga.
Athena menoleh ke arah Raga.
"I'm okay" jawabnya.
"Depan belok kiri, Ga" beritahu Athena.
Raga mengangguk. Ia membelokkan mobilnya sesuai instruksi dari Athena. Sekitar 300 meter memasuki jalan yang luasnya sekitar 7 M, Raga menghentikan mobilnya karena ada palang beton yang menghalangi.
"Ke kanan dikit, Ga, terus buka kaca jendela kamu" kata Athena.
Raga kembali melakukan instruksi Athena.
"Halo, om. Ini The, yang diseblah The, namanya Raga, teman Athena. Mohon diingat yah orangnya." ucap Athena lembut saat dua orang berpakaian hitam mendekati mobil Raga.
"Maaf, nona. Kami tidak tahu jika ini adalah mobil teman nona. Baru kali ini nona membawa seorang teman pulang ke rumah" ucap salah satunya.
Athena terkekeh.
"Ya wajarlah, om. Ini kan pertama kalinya. Tolong yah, gerbangnya juga sekalian dibuka"
"Baik nona. Selamat sore menjelang malam, nona"
Raga membunyikan klakson mobilnya saat palang sudah terangkat, dan pintu beton yang nampak luar tiba-tiba bergeser sendiri, hingga nampaklah sport center juga taman.
"Who is you?" tanya Raga.
"I'm Athena Mahendra" jawab Athena.
"Yang jelas"
"Athena Mahendra Arunika" jawab Athena.
Raga menginjak rem nya secara mendadak.
"Really?"
"Yes" jawab Athena.
"Berhenti di rumah 03 yah" kata Athena.
Raga mengangguk. Ia menghentikan mobilnya di dekat angka 03 yang tertulis di palang yang luasnya kira 30x30 CM.
Raga ikut turun dari mobilnya.
"Kakaaaak" teriak Nevan, Arvin dan Arion, mereka berlomba lari dari teras rumah Renal menuju pinggir jalan kompleks.
Athena hanya pasrah dipeluk oleh ketiga adiknya. Sementara Raga yang melihatnya hanya bisa terkekeh kecil.
"Kenalin, teman kakak. Namanya Raga."
"Halo, bang. Nama gue Nevan" sapa Nevan.
"Kami udah kenal, kak. Kebetulan kemarin sore hari pertama calon anggota basket dikumpulkan" jawab Arvin.
"Halo Nevan, Arvin dan Arion." Raga sekalian menyapa ke tiganya.
"Kak, kata mommy, bang Raga disuruh mampir ke rumah papa" beritahu Nevan.
"Emang iya?" tanya Nevan.
Ketiganya mengangguk.
Athena baru hendak mengambil ponselnya di tas, tapi keduluan dengan kedatangan Mika.
"Gak usah telpon mommy nya, kak. Bener kok apa yang Nevan bilang. Halo Raga, nama saya Mika, papa Athena"
Raga membalas jabatan tangan Mika.
"Raga, om" kata Raga.
"Ga, kamu ikut adik-adik dan papa aku dulu yah. Aku bersih-bersih dulu bentar" Athena melihat ke arah Raga.
Raga mengangguk. Ia sebenarnya cukup gugup berada di tengah-tengah keluarga penguasa ini. Keterkejutannya belum hilang, kini ia malah mendapati seorang Mika Alfath Arunika berdiri di depannya yang hanya menggunakan kaos, celana selutut juga sendal jepit.
"Gak usah gugup gitu, bang. Papa gak makan orang" canda Arion.
Raga tersenyum kecil mendengar candaan Arion.
"kamu teman prakteknya Athena juga yah?" tanya Mika.
"Iya, pak." jawab Raga.
"Manggilnya jangan pak, dong. Panggil om aja, gak usah formal. Saya bukan guru atau boss kamu kok" Mika mencoba mengurangi kegugupan Raga.
"Kamu nggak apa-apa yah makan malam disini? Atau mau ngabarin orang rumah dulu."
Raga mengangguk.
"Bentar, om. Raga kirim pesan ke mama dulu"
Mika menunggu Raga yang mengirim pesan ke mamanya di teras. Sementara ketiga anak laki-lakinya sudah masuk lebih dulu.
"Kok diluar, pa?" tanya Ivana yang terlihat cantik dengan gaun rumahan sebetis nya.
"Nunggu Raga kirim pesan ke mamanya dulu, ma" jawab Mika kemudian merangkul bahu istrinya.
"Udah, om" beritahu Raga.
Ia kikuk saat melihat kedatangan orang baru.
"Halo Raga, saya Ivana, mamanya anak-anak"
"Raga, Tante" Raga menjabat tangan Ivana.
"Ayo masuk" ajak Mika.
Raga mengikuti langkah si pemilik rumah. Kediaman Arunika tidak perlu diragukan lagi. Pantas beberapa pengusaha begitu terobsesi untuk menjadi salah satu pemilik rumah di kompleks ini, mevvah nya gak perlu dipertanyakan.
"Maaf, The lama" ucap Athena.
"Padahal papa belum lama lho sampainya" kata Mika.
"The tadi buru-buru. Kasian Raga kalau papa makan" goda Athena.
Mika mengapit leher anak gadisnya.
"Udah bisa yah ngatain papa sekarang"
"Lepas, pa. Kasian gitu anaknya" suruh Ivana.
Mika melepaskan capitannya. Ia lalu merangkul bahu Athena.
"Ayo, makan malam dulu" ajak Mika.
Rumah Mika lebih ramai malam ini. Ada keempat anaknya, juga Raga.
"Makan yang banyak, bang. Mama Ivana masaknya banyak kok" kata Nevan.
Raga mengangguk dan tersenyum kecil.
"Jangan takut gitu, Ga. Papa gak akan makan kamu" ucap Athena. Niatnya menenangkan, malah semua orang kini menatap Raga.
"Kamu takut?" tanya Mika.
Raga menggeleng.
"Bukan takut, tapi lebih ke tidak percaya aja, om. Baru tadi saya tahu Athena siapa, terus sekarang berhadapan langsung dengan om dan keluarga membuat saya segan." jujur Raga. Tatapannya tenang menatap mata Mika.
Mika terkekeh mendengar jawaban Raga.
"Santai, anak muda. Kita ini sesama manusia. Makannya juga sama, makan nasi. Jangan segan begitu."
"Baik, om" kata Raga.
Mereka kembali melanjutkan makan malamnya.