Athena

Athena
Nostalgia (2)



"Ayo, makan dulu" ajak Athena.


Raga dan yang lain mulai berdiri, mengikuti Athena memasuki dapur. Harum masakan mulai tercium, Darren mengusap perutnya, tidak sabar untuk menyantap makan siang yang Athena masak.


"Kayak lagi nostalgia aja sih" celetuk Kevin sambil menarik kursinya.


"Kalau dulu makan di depan Tv, bentang tikar anyaman, sekarang udah naik level aja, makan di meja makan, pake kursi" Wildan ikut flashback.


"Tapi lebih seru sih makan lesehan" ucap Athena.


"Atau kita makan di luar aja? Tikarnya ganti karpet aja" usul Raga.


"Nggak apa-apa, Ga?" tanya Eros.


"Yah nggak apa-apa. Ayo, makanannya diangkat aja" ajak Raga.


Mereka masing-masing membawa sesuatu di tangan mereka, dan meletakkannya di atas karpet.


"Udah dapat belum nih suasananya?" tanya Darren.


"Udah, yuk makan" jawab Athena.


Athena membiarkan teman-temannya mengambil makanan terlebih dahulu.


"Rasanya gimana?" tanya Athena melihat satu persatu teman-temannya.


"As always, gak ada yang berubah" jawab Kevin.


Athena terkekeh mendengar jawaban Kevin. Barulah ia mengambil makanan.


"Gue makan kentang, makan nasi juga, gak kebayang makan karbohidrat banyak hari ini" ucap Wildan.


"Tapi gak makan banyak juga pasti rugi. Kita dan Athena beda kota, masing-masing sibuk juga." lanjut Wildan.


"Dinikmati aja yah Wil?" canda Athena.


"Ya harus dong" Wildan kembali menyendok sup ke piringnya.


Athena senang melihat teman-temannya begitu lahap menyantap masakannya. Jika dulu ia bisa melihat pemandangan ini setiap hari, sekarang sudah berbeda. Benar apa yang Wildan katakan tadi, mereka berbeda kota, mereka juga punya kesibukan masing-masing.


"Cuci piringnya masih giliran?" tanya Kevin.


Raga mengangguk.


"Tentu saja" jawabnya.


"Gue aja deh yang cuci." Darren dengan sukarela menawarkan diri untuk mencuci piring.


"Ehh, aku aja. Nggak banyak kok ini" tolak Athena.


"The, Lo diam deh. Biarin Darren yang nyuci. Lo tadi udah masak" ucap Eros.


Raga mendudukkan Athena di sofa. Sementara Darren sudah mengangkat piring kotor ke wastafel, Wildan membantu Darren mencuci piring. Eros dan Kevin menyapu tempat bekas makan mereka.


"Gue berasa lagi cosplay jadi tukang bersih-bersih Mr. & Mrs. Perdanakusuma" ucap Kevin.


Eros dan yang lain terkekeh mendengar ucapan Kevin.


"Belajar, Vin. Lo belum ada calon soalnya, semuanya mesti dilakukan sendiri" Wildan menimpali.


"Kayak Lo punya aja" Seloroh Darren.


"Kalian cari deh" suruh Eros.


"Mohon sabar bapak Eros, kami sekarang sedang dalam tahap seleksi" kata Kevin.


"Bukan karena gagal move on kan?" tanya Raga.


"syalan bener" umpat Kevin.


Athena, Wildan, Darren dan Eros terkekeh mendengar umpatan Kevin.


"Kalian istirahat dulu gih. Nanti sore kita jalan-jalan di sekitar sini" suruh Raga.


"Mau kemana Ga?" tanya Athena.


"Yah cari pengalaman" jawab Raga sambil mengusap rambut Athena.


"Pacaran dengan teman sendiri luar biasa yah" celetuk Darren saat melihat interaksi Raga dan Athena.


"Banget." jawab Raga sambil menyugar rambutnya.


Athena terkekeh mendengar ucapan Kevin. Ia juga pamit untuk meluruskan badan. Sementara Raga, Eros, Wildan dan Darren tidur di depan TV. Ada yang tidur di karpet, ada juga yang merebahkan diri di sofa.


✨✨✨


Jam masih menunjukkan angka 3 sore, tapi matahari sudah tidak terlalu terik lagi, udaranya juga sudah mulai terasa sejuk. Mereka mulai menyusuri jalan desa, sesekali membalas sapaan warga desa yang begitu ramah.


"Kita mau kemana, Ga?" tanya Kevin.


"Di dekat sini ada bukit, yang diatasnya cukup lapang. Gak terlalu tinggi sih, tapi lumayan bisa melihat pemandangan kota dari jauh" jawab Raga.


"Asique, udah lama gak ke bukit" seru Wildan.


"Tapi sering ke puncak kan Lo?" tanya Wildan.


"Beda lah, Wil" jawab Darren.


Hanya Eros yang membawa ransel ukuran sedang yang berisi air mineral juga makanan ringan. Sementara Raga hanya membawa kamera. Dan yang lainnya hanya membawa diri dan ponsel.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di bukit yang Raga bilang tadi. Hanya ada beberapa pohon yang menjulang tinggi, tempatnya cukup luas, tanahnya datar. Dibelakang bukit ini berjejer bukit yang lebih tinggi, gunung yang sangat besar dan tinggi dan juga hutan belantara. Sementara jika melihat ke arah bawah, pemandangan kota akan terlihat.


"Keren tempatnya" kata Kevin.


"Menenangkan banget" Athena ikut berkomentar.


Mereka duduk di atas rumput sambil melihat pemandangan yang disuguhkan oleh alam.


"Gue kayaknya bakal ke negara D beberapa bulan lagi" Eros membuka percakapan.


"Ngapain Lo disana?" tanya Wildan.


"Ayah lagi pengen suasana baru, setidaknya untuk sementara waktu. Dan bunda juga gak izinin gue tinggal sendiri di kota A" jawab Eros.


"Berapa lama?" tanya Raga.


"2 sampai 3 tahun mungkin" jawab Eros ragu.


"Lo ninggalin Fany dong?" kata Darren.


"Ini dia masalahnya, Fany gak mau LDR-an"


"Ribet sih" Kevin berkomentar.


"Ada opsi lain nggak?" tanya Athena.


Eros mengangguk.


"Gue bisa nggak ikut ke negara D, asalkan gue udah ada yang urus di kota A. You know lah keinginan ibu-ibu jaman sekarang, apalagi usia kita sudah cukup matang, materi juga sudah mendukung"


"Terus?"


"Fany belum mau nikah, Ga." Eros menjawab pertanyaan Raga.


"Kita semua tahu, Fany sedang koas sekarang, belum lagi internship. Fany ingin menyelesaikan studinya terlebih dahulu sebelum menikah" lanjut Eros.


"Berat sih" ucap Wildan.


"Untung mami gue masih aman" Kevin mengelus dadanya lega.


"Terus Lo bakal gimana?" tanya Raga.


"Gue udah berusaha buat yakinin Fany untuk menikah, tapi gak berhasil. Yaudah, ikut alur aja, ngekor ayah dan bunda ke negara D" jawab Eros pasrah.


"Fany setuju Lo ikut ke sana?" tanya Darren.


"Setuju gak setuju dia yang tentuin sih. Tapi setelah mendengar jawabannya sebelum berangkat kesini, gue tahu dia gak setuju."


"Hubungan Lo gimana? Kan Fany gak kuat LDR" Kini Wildan yang bertanya.


"Yah nggak gimana-gimana. Kalau gue pulang nanti dan kami ditakdirkan untuk bersama yah ujungnya pasti bakal bersama, kalaupun sebaliknya yah mau gimana lagi" jawab Eros.


"Pasrah banget Lo" kata Kevin.


Athena diam mendengar percakapan teman-temannya. Ia menjadi terganggu dengan percakapan mereka. Ia sama seperti Fany, sama-sama menggantung hubungan mereka. Ia jadi berpikir, apakah Raga juga akan melakukan hal yang sama seperti Eros suatu hari nanti.


Wildan membuka bungkusan kripik, kemudian mulai mengunyah.


"Semuanya tergantung Lo sih. Dalam kasus ini Lo yang paling banyak waktu luang, karena Fany masih dalam tahap pendidikan, waktunya terbatas. Kalau Lo mau, Lo bisa buat LDR an Lo menjadi perjalanan dinas. Misalnya setiap 2 bulan sekali Lo pulang ke kota A dan menemui Fany." Raga memberikan sarannya.