Athena

Athena
A day With Raga



Raga tanpa malu-malu menyantap puding rasa jeruk di depannya.


"Mamanya Raga suka puding nggak?" tanya Aina.


"Suka, Oma" jawab Raga.


"Ga, habis ini bisa nggak anterin The ke butik buat ambil baju pesanan Oma?" tanya Aina, lagi.


"Bisa, Oma" jawab Raga lempeng.


"Raga ini penurut yah, apa-apa iya." kata Lathief.


"Nggak, opa. Raga pernah debat Eros" Athena menyela cepat.


"Bagus deh. Opa kira orangnya iya-iya aja. Semua disetujuin, semua dilakukan" kata Lathief.


"Nggak, opa" jawab Raga.


"Bagus itu. Laki-laki harus punya pendirian, tapi tetap egonya ditekan yah" ucap Aina lembut.


"Kalau perempuan, Oma?" tanya Athena.


"Perempuan juga." jawab Aina.


Athena dan Raga sedang dalam perjalanan menuju butik.


"Maaf banget yah, Oma sampai bikin kamu repot seperti ini. Padahal Oma bisa minta sama yang lainnya" ucap Athena tak enak.


"Santai, The. Gak repot kok ini" kata Raga.


"Mama kamu tahu kamu ke rumah aku?"


"Ehh, opa aku maksudnya" ralat Athena cepat.


"Gue bilangnya ke rumah lo." jawab Raga.


"Tante Vania ngizinin?"


Raga mengangguk.


"Aku kira kamu gak izin" kata Athena.


"Aku udah izin yah. Ohiya, mama titip salam. Buat keluarga kamu juga sih, tapi malu bilangnya"


"Iya, salam balik. Nanti aku bilangin Oma"


Raga menghentikan mobilnya di depan sebuah butik yang sangat terkenal. Raga bisa menebak, harga yang ada di butik ini buat orang-orang high end seperti Aina tentu saja. Tapi ia tak melihat itu pada diri Aina tadi. Aina bahkan hanya mengenakan gaun rumahan yang nyaris menutupi seluruh betisnya. Lathief pun begitu, ia hanya mengenakan baju kaos biasa, celana selutut dan sendal jepit.


"Mau ikut masuk nggak?" tanya Athena sebelum membuka pintu mobil.


"Boleh deh" kata Raga.


Mereka lalu memasuki butik yang sangat terkenal itu. Athena disambut oleh seorang pegawai butik.


"Selamat datang, nona The dan tuan.."


"Raga" sambung Athena.


"Selamat datang nona The dan tuan Raga" sambut pegawai itu. Namanya Ami.


"Terima kasih, Ami" kata Athena.


Raga dan Athena mengikuti kemana Ami melangkah.


"Tunggu sebentar, nona, tuan" kata Ami sopan setelah memastikan Athena duduk dengan baik.


Ami datang sambil membawa beberapa paper bag. Ada 6 paper bag.


"Terima kasih, Ami" ucap Athena.


"Sama-sama, nona" kata Ami sopan.


Mereka lalu kembali ke mobil.


"Paper bag nya sebanyak itu?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Entah apa yang sedang Oma pikirkan" lirihnya heran.


"Emang Oma sering begini?" tanya Raga.


"Nggak. Sesekali aja" jawab Athena.


"The, gimana kalau suatu saat nanti ada seorang laki-laki yang minta Lo buat temanin hidup dia, tapi ia dari keluarga yang biasa aja?"


Athena diam sejenak. Mencerna pertanyaan Raga.


"Aku gak tahu, Ga. Kalau aku, juga keluarga aku yah gak pernah Mandang seseorang dari status sosialnya sih" jawab Athena lempeng.


Raga mengangguk.


"Lo kok nggak buka topeng aja?"


"Topeng apa yang harus aku buka?" tanya Athena balik.


"Maksud gue, Lo hidup sebagai seorang Arunika."


"Aku hidup sebagai seorang Arunika sejak papi pergi. Tapi aku gak ingin orang-orang tahu kalau aku adalah seorang Arunika. Dunia ini mengerikan, Ga. Sekali kita salah langkah, berbagai serangan harus kita terima. Arunika adalah sesuatu yang sangat penting buat aku, aku mesti bekerja keras agar Arunika baik-baik saja. Dengan cara menyembunyikan Arunika di belakang namaku, itu adalah caraku menjaga nama Arunika"


"Gue tahu. Tapi gak selamanya Lo bakal tetap sembunyi seperti ini." kata Raga.


"Iya, Ga. Nanti aja, tiba masa tiba akal" ucap Athena kemudian terkekeh kecil karena ucapannya sendiri.


"Udah bisa yah ngelawak" Raga mengacak rambut Athena.


"Rambutku berantakan, Ga"


"Biariiiiin" kata Raga.


"Biiriiiiin" cibir Athena.


Tangan Raga berpindah ke pipi Athena. Raga mencubit pipi Athena.


"Raga, nanti pipinya makin melar"


"Biarin melar, ntar kayak bakpao"


"Ihh" Athena bergidik ngeri membayangkan pipinya akan seperti kue bakpao.


Raga tertawa melihat Athena yang bergidik ngeri.


"Hmm, kenapa?"


"Sering-sering yah tertawa seperti tadi." pinta Athena.


"Biar apa?"


"Biar aku gak takut sama kamu." jawab Athena jujur.


"Kamu takut sama aku?" tanya Raga.


"Kalau wajahnya datar gitu, terus diam terus, aku takut sih"


Raga mengelus rambut Athena menggunakan sebelah tangannya.


"Gue usahain yah" kata Raga.


Athena mengangguk.


"Ga?" panggil Athena lagi.


"Hmm, apa lagi?" tanya Raga.


"Depan belok kiri yah. Ke taman kota. Mau makan bakpao, mau beli pentolan juga, mau beli tahu otak-otak, terus martabak buat opa dan Oma" jawab Athena panjang lebar.


Raga mengangguk. Ia memberhentikan mobilnya di taman kota. Ia menemani Athena mendatangi satu persatu stand penjual makanan yang Athena absen tadi.


Saat Athena hendak membayar, Raga selalu membayarnya lebih dulu.


"Uangnya habis berapa?" tanya Athena setelah mobil kembali berjalan.


"Gak tahu, gak hitung" jawab Raga.


"Aku ada uang cash 350 ribu aja. Kalau masih kurang bilang yah" Athena menyimpan uang di dashboard mobil.


Raga menginjak rem mobilnya setelah memastikan kendaraan yang lain aman dan tidak membuat macet jalanan. Ia mengambil tas Athena yang berada di dashboard depan perempuan itu.


Raga kembali memasukkan uang Athena ke dalam tas perempuan itu. Ia lalu menyimpan tas Athena di kantong pintu mobil disisi kanannya. Raga kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


"Kok uangnya di balikin?" tanya Athena.


Raga hanya diam.


"Dompet aku juga kamu sembunyi" omel Athena.


Raga hanya diam.


Athena melihat Raga. Ekspresi datarnya selalu mendominasi, tapi Raga pasti menjawab kalau di tanya.


"Kamu marah?" tanya Athena.


Raga enggan menjawab.


"Aku minta maaf" ucap Athena.


Raga benar-benar diam, tidak merespon ucapan Athena.


Raga menghentikan mobilnya di depan rumah 03. Ia mengunci semua pintu mobil.


"The, jangan bikin gue jadi lelaki pecundang yang biarin teman perempuannya bayar makanannya sendiri. Sekarang yang Lo tahu gue adalah teman Lo, tapi di detik selanjutnya, Lo perlu tahu, gue lelaki yang sedang berjuang untuk bisa bersanding dengan Lo di masa depan" kata Raga tegas.


"Aku minta maaf" ucap Athena pelan.


"Lo nggak salah. Gue yang salah, karena bertindak sebelum memberitahu Lo tentang perasaan gue. Gue bertindak seolah gue adalah orang penting buat Lo"


"Tapi kamu memang penting, Raga"


"Penting sebagai teman Lo." Raga merapikan rambut Athena.


"Tunggu gue yah" ucap Raga lembut.


Athena mengangguk.


Raga mengembalikan tas Athena.


"Lain kali jangan bantah gue, The" pesan Raga.


Athena hanya mengangguk.


Raga membawa paper bag dikedua tangannya, juga beberapa jajanan yang Athena pesan tadi.


Athena hendak membantunya dengan membawa beberapa kantong jajanan, tapi dengan cepat Raga melayangkan tatapannya. Athena hanya mengangguk pasrah. Jadilah ia hanya membawa dua kantong di tangannya.


"Wah, udah pada sampai. Terima kasih yah, The, Raga" ucap Aina.


"Sama-sama, Oma" jawab keduanya kompak.


"Oma, opa, Raga pamit yah. Udah sore" ucap Raga.


"Bentar yah, nak. " pinta Aina. Ia ke dapur.


"Gak mau makan jajanannya dulu?" tanya Lathief.


"Terima kasih, opa. Tapi ini sudah sangat sore. Raga ada latihan basket sejam lagi" tolak Raga halus.


"Wah, pemain basket ternyata. Lagi mau ada turnamen?" tanya Lathief.


"Iya, opa." jawab Raga sopan.


Aina datang sambil membawa dua paper bag di tangannya.


"Titip yah buat mama kamu" katanya.


"Terima kasih, Oma. Maaf merepotkan"


Aina mengelus rambut Raga saat lelaki itu mencium punggung tangannya.


Raga juga mencium punggung tangan Lathief.


Athena tanpa diminta mengantar Raga sampai ke mobilnya.


"Gue pulang" kata Raga setelah mengelus rambut Athena.


Athena mengangguk.


"Hati-hati yah" ucapnya kemudian tersenyum.


Raga membunyikan klakson mobilnya sebelum meninggalkan halaman rumah 03.