
Melihat keadaan sudah memungkinkan, pintu class VIP di buka. Renal mendekati pak Irwan yang sedang duduk di kursi panjang khusus pelatih dan pemain. Alda dan Mika tentu saja juga ikut untuk menyapa pelatihnya dulu.
"Bapak" Renal mencium punggung tangan Pak Irwan. Alda dan Renal juga melakukan hal yang sama kepada pak Irwan.
Pak Irwan cukup kaget juga bahagia melihat kedatangan orang-orang besar di depannya.
"Mika, Alda dan Renal " sapa Pak Irwan.
"Bapak sehat?" tanya Alda.
"Bapak sehat, tapi umur tidak pernah bohong, nak" jawab pak Irwan.
"Randi dan Angga gak ikut?"
Mika menggeleng.
"Mereka baru saja kembali, pak" jawabnya.
"Alex dan Rian juga gak ikut?"
Renal menggeleng.
"Tidak, pak." jawabnya.
"Yah, anak-anak bapak sudah dewasa sekarang. Masing-masing sibuk dengan urusannya. Bapak senang melihat kalian semua berhasil." kata Pak Irwan.
"Bapak bisa aja" kata Alda.
Percakapan mereka terhenti karena anak pak Irwan sudah datang menjemput.
"Hati-hati, pak" ucap Alda melihat pak Irwan sudah pergi.
Mereka juga harus segera pergi sebelum orang-orang menyadari kedatangan mereka.
Tadi Nevan sudah memberitahu jika ia dan si kembar akan menyapa Raga sebentar sebelum pulang.
Vania memeluk anaknya. Ia memutar tubuh anaknya, mengecek apakah ada luka serius atau tidak.
"I'm okay, mama" kata Raga.
Vania mengangguk percaya.
"Bahunya sakit nggak, Ga?" tanya Baskara.
"Sakit, pa" jawab Raga jujur.
"Ngilu gitu"
Baskara mengangguk.
"Istirahat dulu." katanya.
"Tadi yang rame-rame apa?" tanya Diandra. Ia sempat melihat ke lapangan sekilas.
Semua mata memandang ke lapangan.
Nampak pak Irwan yang sedang berjalan keluar dari lapangan. Di kursi pemain juga ada kerumunan. Mereka lalu meninggalkan lapangan, melewati pintu selatan.
"Bang Ragaaa" teriak Nevan.
Teriakan Nevan mengembalikan fokus mereka.
Raga terkekeh mendengar teriakan Nevan dan wajah bete Arvin sambil menatap tajam Nevan.
"Sorry" ucap Nevan pelan sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.
"Maaf yah, om Tante sekalian. Adik saya ini memang suka teriak gitu kalau lagi excited" ucap Arvin tak enak.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Arvin
"Nggak apa-apa. Udah biasa itu" kata Wenda.
"Selamat bang atas kemenangannya" Nevan berhi-five dengan Raga. Arvin dan Arion juga berhi-five dengan Raga, Irvandi, Kevin, Eros, Wildan dan Darren.
"Makasih yah udah sempetin waktunya buat nonton" ucap Eros.
"Santai, bang" kata Arion.
Mereka lalu pamit untuk pulang.
"Mereka semua adik kakak?" tanya Windi.
"Arvin dan Arion saudara kembar, Bu. Nevan itu adik sepupunya. Tapi mereka selalu bersama. Makanya orang-orang ngira mereka bersaudara" jawab Raga.
"Lo kok bisa tahu, Ga?" tanya Kevin.
"Kapan hari gue ketemu mereka di taman yang ada lapangan basketnya. Arion terus ngajakin basket, jadilah kenalan juga sama adiknya juga" jelas Raga.
"Adiknya gemesin gittu" kata Vania.
Raga mengangguk.
"Kita makan siang dulu deh sebelum pulang" usul Eris.
"Tunggu Fany dulu, yah" kata Eros.
"Fany ikut nonton?" tanya Wenda.
"Iya, bunda"
"Kok gak bilang? Kan tadi bisa sama-sama berangkatnya."
"Fany berangkat sama Athena, bun" beritahu Eros.
"Maaf, lama" ucap Fany. Ternyata ia benar-benar datang bersama Athena.
"Nggak apa-apa, sayang. Ayo berangkat" ucap Wenda.
"Mau kemana?" tanya Fany.
"Makan siang dulu sebelum pulang" jawab Eros.
Fany melihat ke arah Athena. Meminta pendapat Athena, bagaimana pun tadi ia berangkat bersama Athena.
"Kamu ikut makan siang aja, nggak apa-apa. Aku ada mang Udin kok yang nungguin" ucap Athena saat menyadari tatapan Fany.
Raga refleks mencubit pipi Athena.
"Yang larang Lo ikut siapa?" tanya Raga.
"Raga, lepasin. Anak orang itu" Vania dengan cepat beraksi. Ia melepaskan tangan Raga dari pipi Athena.
Athena nyengir.
"Nggak apa-apa Tante. Udah biasa kok"
"Ayo, makan siang bersama dulu" kata Baskara.
Vania menggandeng tangan Athena.
"Ayo sayang" ajak Vania.
"Tapi Tante, mang Udin nungguin" ucap Athena.
"Kamu minta dia ikut aja" saran Diandra yang mendengar percakapan Athena dan Vania.
Athena mengambil ponselnya. Ia menelpon mang Udin.
"Mang Udin gak pengen ikut, Tante. Katanya beliau pulang dulu. Nanti jemputnya di tempat makan aja" jelas Athena.
"Yaudah, ayo" Vania menarik Athena masuk ke mobilnya. Raga tentu saja ikut di mobil yang sama.
Raga dan Athena duduk di kursi penumpang paling belakang.
"Congratulation!" ucap Athena
"Thanks, The" kata Raga.
"Okay"
"Liburannya gimana?" tanya Raga.
"Yah seru banget" jawab Athena.
"Kamu gak liburan? Aku gak ada lihat foto liburanmu"
Renal menggeleng.
"Latihan basket di perketat selama liburan" jawab Raga
"Sama aja gak liburan berarti"
"Liburannya di rumah aja." kata Raga.
Raga memainkan jari tangan Athena. Jari-jari tangan Athena sangat kecil jika dibandingkan dengan jari-jari tangannya.
"Kecil amat jari-jarinya"
"Jari-jari mu yang kebesaran. Seperti raksasa" kata Athena.
Vania menarik tipis sudut bibirnya mendengar percakapan dua orang di belakangnya. Ia menatap suaminya yang sedang memejamkan matanya. Ia lalu melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
"Gue manusia yah, bukan raksasa"
"Yang bilang raksasa siapa, Ga? Aku kan tadi bilang seperti. SEPERTI"
"Ngalah deh" ucap Raga.
Athena terkekeh melihat muka bete Raga.
"The, puding yang kapan hari Raga bawa pulang siapa yang buat sayang?" tanya Vania saat tidak terdengar lagi suara percakapan anaknya dan Athena.
"Oma, Tante." jawab Athena.
"Wah, pudingnya enak banget. Tante bahkan rebutan sama Diandra"
"Terima kasih, Tante." ucap Athena.
"The bisa buat puding nggak?" tanya Vania lagi.
"Belum bisa, Tante. Belum pernah belajar" jawabnya.
"Tapi The jago bikin kue bolu kok ma" Raga menimpali percakapan mamanya dengan Athena.
"Kapan-kapan ke rumah lagi yah The" pinta Vania.
"Iya, Tante"
"Maaf yah The, waktu ke rumah om gak sempat nemuin." ucap Baskara.
"Nggak apa-apa, om. Om kan lagi sakit." kata Athena.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran yang Athena sangat kenal. AN resto.
"Siapa yang reservasi?" tanya Vania.
"Evan, mungkin. Kan dia sering kesini." jawab Baskara.
Vania mengangguk. Ia kembali menggandeng tangan Athena. Mereka datang terlambat. Semua orang sudah masuk ke restoran kecuali mereka.
Athena sudah gelisah sejak tadi. Debaran jantungnya semakin terasa cepat.
"Selamat datang, nona" sapa tiga orang pelayan saat melihat keberadaan Athena di restoran. Pelayan itu bahkan menundukkan badannya sejenak.
Athena tersenyum kecil.
"Terima kasih, kak" ucapnya.
"Nona butuh sesuatu?" tanya salah satu pelayan itu.
"Tolong antar The ke tempat yang telah di-reservasi atas nama om Evan"
Pelayan tersebut mengantarkan Athena dan keluarga Raga.
"Terima kasih, kak" ucap Athena.
"Sama-sama, nona" pelayan tersebut kembali membungkuk sejenak sebelum meninggalkan Athena.
Vania dan Baskara yang melihatnya cukup heran. Raga segera membuka pintu di depannya, berusaha mengalihkan perhatian papa dan mamanya.
"Lho, kok udah datang? Aku baru aja mau kasih tahu ruangannya" kaget Luna.
"Tadi ada pelayan yang anterin, Lun." beritahu Vania.
"Duduk, sayang" ia menepuk kursi di sebelah kirinya. Di sebelah kanannya ada Baskoro.
Athena duduk di kursi yang Vania tepuk. Jadilah ia duduk diantara Vania dan Raga.
Mereka makan dengan suasana yang begitu ramai. Tentu mereka tak lupa untuk mengabadikan momen hari ini.