Athena

Athena
Deep Talk



Setelah liburan ke desa, Eros, Wildan , Darren dan Kevin pamit untuk kembali ke kota A. Mereka diantar oleh Athena dan Raga ke bandara.


"Terima kasih yah, udah luangin waktunya mengunjungi kota ini" ucap Athena.


Wildan mengelus rambut Athena.


"Okay baby" kata Wildan.


"Lo nggak ikut pulang Ga?" tanya Eros.


"Gue pulangnya lusa" jawab Raga.


Mereka kemudian berhi-5 , saling berpelukan, kemudian berpisah. Panggilan check in sudah terdengar.


"Besok masih libur kan?" tanya Raga.


"Iya, Ga" jawab Athena.


"Mau ke apartemen dulu?"


Athena mengangguk.


Raga mampir di minimarket terlebih dahulu, membeli makanan ringan untuk Athena. Karena stoknya sudah benar-benar kosong.


"Mau makan apa? Ini susah siang" tanya Raga.


"Aku mau makan Coto, dikasih sambel, perasan jeruk nipis, bawang goreng, daun bawang iris, dan bihun yang banyak" jawab Athena excited.


Raga terkekeh mendengar jawaban Athena.


"Iya, tuan putri" ucap Raga.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, mencari tempat makan yang menyediakan menu Coto.


"Makan di sini aja atau take away?" tanya Raga.


"Take away aja, Ga" jawab Athena.


Ia dan Raga kemudian memasuki tempat makan yang menyediakan Coto sebagai menunya. Setelah menunggu beberapa menit, mereka meninggalkan tempat makan itu setelah membayar nya.


Raga tidak malu menenteng kantong belanjaan dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang bebas, merangkul pundak Athena. Athena juga tentunya menenteng kantong cotonya.


Banyak pasang mata yang melihat sepasang kekasih itu. Aura kekuasaan benar-benar terpancar dari diri mereka.


Athena menyiapkan Coto nya, tak lupa ketupat nya. Sementara Raga menyusun makanan ringan yang ia beli ke dalam kulkas.


"Ayo makan" ajak Athena.


Raga duduk di samping Athena, ia menarik mangkuk cotonya mendekat.


"Gak banyak kan sambelnya?" tanya Raga.


"Nggak, Ga. Suwer deh" jawab Athena.


"Makan yang banyak, sayang" Raga mengelus kepala Athena sebelum memulai menyantap makanannya.


✨✨✨


"Ga, aku mau ngomong" ucap Athena.


"Ngomong sini" Raga menepuk sofa di dekatnya agar Athena duduk di sebelahnya.


"Rencana ke depan kamu gimana?" tanya Athena.


Raga menyadarkan kepala Athena di bahunya.


"Yah nikah sama kamu" jawab Raga.


"Kamu ada masalah hmm?" tanya Raga balik.


"Kalau udah nikah mau tinggal di mana?" tanya Athena.


"Yah di rumah" jawab Raga.


"Yang di Arunika?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Tapi kalau kamu gak mau nggak apa-apa kok. Aku ikut kamu aja maunya di mana" ucap Athena cepat.


"Udah bahas rumah aja, padahal lamaran aku belum di jawab" Raga mencium kening Athena sekilas.


"Mama kamu izinin anaknya pergi nggak yah?" khawatir Athena.


"Kamu yang tenang yah. Nanti aku bicarain sama mama dan papa dulu, gimana baiknya" Raga mengelus rambut Athena.


Athena memeluk pinggang Raga.


"Atau kamu ada perempuan lain yang nggak nuntut banyak kayak aku?"


"The, omongannya tolong dijaga" Raga memperingati.


"Aku selalu nuntut kamu ini itu, aku belum kasih kamu jawaban, aku sendiri bingung mesti gimana. Aku tahu kamu manusia, dan manusia pasti punya batasannya sendiri. Kamu pasti udah capek banget"


"The,jangan bikin aku marah yah"


"Kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku" ucap Athena lirih.


Tanpa ba bi bu, Raga membaringkan Athena di sofa, ia lalu menindih tubuh Athena. Athena membuang tatapannya ke samping, enggang untuk melihat Raga.


"Look at me" ucap Raga dengan nada datar.


Athena tidak bergeming, ia malah menutup matanya, ia begitu takut melihat wajah Raga.


"Athenaaa" panggil Raga lagi.


Athena masih tidak memberikan responnya.


Raga memulai aksinya. Ia mencium telinga Athena, juga menjilatinya.


Athena masih enggan untuk membuka matanya.


"Gak mau buka mata yah"


Raga menarik turun kerah baju Athena, mencium lama kulit bagian dada atas Athena hingga kulit Athena menjadi biru bekas bibir Raga.


Athena memegang kepala Raga yang hendak bereaksi lagi. Mereka saling bertatapan.


"Ayo kita nikah. Aku janji bakal ikut kemanapun kamu bawa aku pergi." ucap Athena.


Raga mencoba mengatur napasnya, ia cukup emosi mendengar ucapan Athena.


"The, kalau ada masalah, ayo ngomong." ucapnya lembut.


Athena menggeleng.


"Aku baik-baik aja" katanya.


"Kalau kamu belum siap nikah, jangan begini. Aku bakal tetap nungguin kamu." Raga mencium pipi Athena dengan lembut.


"Aku ikut kamu pulang. Aku bakal ngomong sama Daddy dan mommy" kata Athena.


"Kamu kenapa sih?" Raga begitu heran akan sikap Athena.


"Aku baik-baik aja. Ayo kita nikah" jawab Athena.


Raga menghembuskan nafasnya, berusaha sabar akan situasi yang umia hadapi sekarang. Ia bangun, kemudian berjalan menuju meja bar. Ia mengambil rokok yang terselip di sela-sela botol wine nya. Ia segera membakar rokok itu dan menghisapnya, berusaha pikirannya segera baik dan normal kembali.


Ia butuh waktu sekitar satu jam untuk meredakan emosinya. Saat di rasa cukup, ia segera membersihkan mulutnya, kemudian minum air putih. Barulah setelahnya ia kembali mendekati Athena. Terlihat Athena sedang menyampingkan badannya menghadap ke punggung sofa. Raga ikut membaringkan tubuhnya, ia memeluk Athena dari belakang, ia mencium pipi Athena beberapa kali sebelum ikut memejamkan matanya.


Jam berganti, Athena terbangun. Ia merasakan seseorang memeluk pinggangnya. Ia berbaring terlentang dengab hati-hati, agar tidak membangunkan Raga. Ia kemudian berbalik agar bisa melihat wajah Raga. Ia mengelus pipi Raga yang begitu halus untuk ukuran laki-laki. Entah bagaimana cara lelaki ini merawat dirinya hingga bisa terlihat begitu bersih.


Raga yang merasa terganggu pun, semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Athena tanpa membuka matanya. Ia malah mencari posisi yang nyaman, yaitu menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Athena, agar ia bisa menghirup aroma vanila dari gadis itu.