Athena

Athena
Semangat Untuk Ayra



Suasana duka masih begitu terasa di kediaman Lathief. Para pengantar jenazah baru saja tiba di kompleks Arunika. Paviliun rumah Lathief, Mika dan Renal dibuat menjadi penginapan sementara untuk tokoh masyarakat pulau RelFath. Sebenarnya Lathief sudah memerintahkan mereka untuk beristirahat di AR hotel, tapi mereka menolak dengan halus, dengan alasan mereka akan pulang ke RelFath setelah lepas 3 hari kepergian Abraham dan Jake.


"Adek ikut mommy pulang ke rumah nggak?" tanya Alda.


Ayra menggeleng. Anak itu masih enggan membuka mulutnya.


Athena yang masih duduk di kursi roda pun enggan meninggalkan adiknya.


Vania, mama Raga, memeluk calon menantunya.


"Ikhlaskan yah kepergian ayah dan kakek. Lihat, masih ada Ayra yang harus The beri semangat" Vania mencoba tersenyum saat mengatakannya.


"Terima kasih, Tante" ucap Athena lirih.


Vania mengangguk.


"Tante pamit pulang dulu yah. The istirahat yang cukup, masih lemas kan yah?"


"Sedikit lemas dan pusing, Tante. Hati-hati Tante, terima kasih sudah hadir" Athena mencium punggung tangan Vania, yang dibalas dengan ciuman di keningnya.


Vania juga mendekati Ayra, mencoba memberi semangat pada anak kecil itu. Setelah itu, barulah ia pamit kepada yang lainnya.


"Terima kasih, Van " ucap Alda saat mengantar Vania hingga ke teras rumah.


"Kami turut berdukacita." kata Vania.


Alda mengangguk. Mereka berpelukan, saling memberi menguatkan.


Di perjalanan, Raga sedang diwawancarai oleh papanya.


"Kata Daddy nya Athena, pak Abraham dan pak Jake kecelakaan?" tanya Baskara.


"Iya, pa" jawab Raga.


"Pak Lathief dan pak Abraham saudara yah?" tanya Vania.


"Nggak, ma. Pak Abraham itu anak pengawal nya kakek Ares, jadilah opa Lathief dan pak Abraham tumbuh bersama hingga orang-orang mengira mereka bersaudara. Keduanya benar-benar jadi panutan orang banyak. Disaat orang lain saling membunuh dan menjatuhkan karena harta, mereka berdua malah saling mengangkat untuk kejayaan."


"Kita semua memang sebaiknya seperti itu, son. Kedamaian dalam persaudaraan akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar" kata Baskara.


"Seandainya Raga punya saudara, Raga bisa nggak yah sehebat Athena?" tanya Raga.


"Athena gimana, son?"


"Ia begitu menyayangi adik-adiknya, dan adiknya juga begitu menjaganya. Kedamaian mereka membuat orang lain akan merasa tenang saat melihatnya" jawab Raga.


"Tapi tadi kasihan, mama sebenarnya masih mau bersama The, tapi nggak kuat juga lihat dia nangis, apalagi Ayra. Tadi belum bicara apapun" cerita Vania. Ia tidak ikut ke pemakaman, ia menemani Athena dan Ayra di rumah.


"The habis donorin darahnya. Uncle Jake benar-benar membutuhkannya saat itu, dan hanya Athena dan Ayra yang bisa mendonorkan darahnya. Saat itu Raga dan Athena masih di pulau, tapi pengawalnya datang menjemput kami" kini Raga yang bercerita.


✨✨✨


Tiga hari berlalu, baru saja tokoh masyarakat RelFath pamit untuk kembali ke pulau. Sebelum mereka kembali, mereka menyempatkan untuk berziarah ke makam Ares,Weni, Hans, Karina, Abraham dan Jake. Di rumah Lathief hanya tersisa Brian, Brandon dan Tristan.


"Meskipun ayah kalian telah tiada, hubungan persaudaraan ini harus tetap berlanjut. Aku juga seperti Abraham, anggaplah orang tua seperti ayah kalian sendiri." ucap Lathief.


"Iya, pa" kata Brian.


"Kita semua sama-sama merasakan kehilangan, tapi kita mesti ikhlas akan takdir Tuhan. Biarlah Abraham dan Jake tersenyum melihat kita dari atas sana." Lathief menepuk pelan pundak kedua anak kembar Abraham.


"Bagaimana dengan Ayra, pa?" tanya Brandon.


"Kita tunggu Ayra menerima semuanya dulu, barulah setelahnya kita tanya bersama-sama" jawab Lathief.


"Baik, pa" kata Brandon.


Jika ada yang bertanya tentang keberadaan Ayra, anak itu berada di rumah Lathief, tepatnya di kamar Athena yang ada di rumah 05.


"Adek, ayo makan dulu" Athena membawa semangkuk sup untuk Ayra. Di belakangnya ada Tristan yang ikut sambil makan kripik singkong.


"Kenyang" ucap Ayra yang terdengar sangat lirih.


Ayra membuka mulutnya, menerima suapan sup dari Athena.


"Adiknya pintar yah kak Tristan?"


"Pinter banget, seperti kakak Tristan" Tristan menimpali


Saat suapan ke 4 akan memasuki mulutnya, Ayra menahannya.


"Kenyang, kak" ucapnya.


Athena mengangguk mengerti. Ia membantu Ayra untuk minum.


"Bentar yah, kakak kembalikan dulu piringnya ke dapur" pamit Athena.


Kedua bocah beda gender itu mengangguk bersamaan.


"Dek, kripik singkong nya enak banget. Bang Raga yang bawa " Tristan mencoba membuka percakapan dengan adiknya.


Ayra hanya menatap Tristan dengan matanya yang sayu. Ia mengangguk. Anak kecil itu tentu sering merasakan enaknya kripik buatan Vania, mama Raga


"Mau kak Tristan siapin?" tanya Tristan sambil menyodorkan sehelai kripik singkong di depan mulut adiknya.


Ayra menerima suapan dari Tristan.


"Terima kasih" ucapnya dengan begitu lirih.


Tristan menepuk pelan puncak kepala Ayra.


"Ayah Jake pasti senang melihat Ayra makan kripik lagi. Kakek Abraham juga pasti senang, kedua cucunya saling menyayangi" kata Tristan.


Ayra mengangguk menyetujui perkataan Tristan.


"Cepat sembuh yah biar bisa main lagi, sama Regan juga" kata Tristan.


"Iya, kakak" jawab Ayra.


Pemandangan di depannya membuat Athena mengusap air matanya yang jatuh. Tristan, meskipun usianya masih belia, ia bisa menjalankan perannya sebagai seorang kakak untuk Ayra.


Lepas 7 hari kepergian Abraham dan Jake, Brian, Brandon dan Tristan pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Brandon akan langsung menuju pulau RelFath, sedangkan Brian dan Tristan akan bertolak ke kota C.


Ayra sudah bisa tersenyum, ia juga melambaikan tangannya pada Brian, Brandon dan Tristan saat mobil yang membawa mereka ke bandara mulai meninggalkan kediaman 05.


"Senyum cucu opa sangat manis" puji Lathief. Ia mengecup pipi Ayra.


"Terima kasih, opa" ucap anak kecil itu.


"Ayo sayang, Ayra katanya tadi rambutnya mau di kepang, sini Oma bantu" panggil Aina agar Ayra duduk di depannya.


Ayra mendekati Omanya yang duduk di anak tangga paling atas. Entah sejak kapan kunciran dan sisir yang berwarna merah itu ada di tangan sang Oma.


Aina begitu ahli dalam mengepang rambut. Dulu ia juga selalu mengepang rambut Alda, Athena dan kini Ayra.


"Cantiknya anak Daddy" kata Renal yang baru turun dari mobilnya.


Ayra berdiri, ia merentangkan kedua tangannya, seolah minta digendong oleh Renal.


Lathief dan Aina yang melihatnya pun tersenyum senang. Ayra begitu beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang penuh cinta dan kasih sayang.


Dari dalam rumah, Alda dan Ivana membawa nampan yang berisi puding dan juga minuman.


"Papanya anak-anak belum ada Ren?" tanya Ivana.


"Belum, masih di jalan kali" jawab Renal.


Ivana mengangguk, ia lalu membatu Alda menata minumannya di atas karpet.


Mereka berharap walau dengan cara sederhana seperti ini, bisa mengembalikan senyum Ayra.