
Athena keluar kamar bersama dengan Anne yang ada dalam gendongannya.
"Halo semuanya" ucap Athena yang menirukan suara anak kecil.
Semuanya kompak menoleh ke sumber suara.
"Baby Aaaaaa" Nevan berlari kecil menuju sang kakak. Ia dengan cepat mengambil Anne dari gendongan kakaknya.
Athena terkekeh. Ia duduk di samping Ayra yang sedang bermain game menggunakan tablet milik Raga.
Nevan membawa Anne duduk di sofa, Arvin dan Arion duduk di lantai, tepat di depan Nevan. Mereka bertiga saling sahut menyahut untuk mendapatkan perhatian baby A.
Anne juga sepertinya merasa senang akan keberadaan ketiga pamannya yang begitu tampan. Bayi itu tertawa dan mengoceh, seolah ikut bercakap-cakap dengan ketiganya.
"Kak, aku bawa ke pulau ya?" pinta Arion ngawur.
"Enak aja" sewot Nevan.
"Baby A ikut sama daddy Nevan yah, mau yah sayang, kita pulau Renalda" Nevan membalik tubuh Anne agar menghadap ke arahnya.
Baby Anne tertawa, memperlihatkan mulutnya yang belum ada giginya. Ia mengoceh.
"Van, aku mau gendong dong" ucap Arvin.
"Mau ke om Arvin nggak?" tanya Nevan.
"Anak kecil mana ngerti kamu ngomong apa Van" Raga menimpali.
"Siapa tahu kan bang baby A ngerti kalau aku yang ngomong" Nevan makin ngawur, ia memberikan Anne pada Arvin.
"Ngawur terus" Arion menjitak kepala Nevan sebelum ikut duduk di samping saudara kembarnya.
"Sakit bang" Nevan mengelus kepalanya.
Athena dan Raga hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah random ke tiga orang adik-adiknya.
"Kak, Baby A lapar" beritahu Arvin.
"Kok kamu tahu?" tanya Arion.
"Ini mulut nya mengemut, isep jari tangannya juga" jawab Arvin.
"Wah, Arvin pinter nih" ucap Athena.
"Emang iya kak?" tanya Nevan.
Athena mengangguk.
"Iya, kalau anak bayi lapar biasa **** jari, atau gigit bajunya, tangannya dimasukin ke mulut. Bentar yah kakak buatin buburnya dulu" pamit Athena.
Arion menunggu hingga Athena tidak terlihat.
"Kasian Ayra udah gak disayang lagi" ucapnya setelah memastikan keadaan aman terkendali.
"Arion" tegur Raga. Ia merangkul adik perempuannya.
"Jangan dengerin ucapan bang Arion" katanya.
"Emang bener kok. Tadi ada Nevan sama Baby A terus, Ayra gak disayang lagi. Lihat nih, Bang Arvin sama bang Arion juga sama baby A terus" Arion seolah tidak mendengar teguran Raga.
Ayra yang sedang asyik bermain game pun terdiam. Ia bahkan tidak sadar jika ia kalah dalam bermain.
"Ra, kamu kalah lho ini" Raga memperlihatkan layar tabletnya.
Ayra menatap layar tablet ditangannya, benar ucapan Raga, ia kalah dalam permainan.
"Bang Nevan gak sayang lagi sama Ayra?" tanya nya.
Nevan diam, ia berekspresi seolah sedang berpikir. Ia ikut menggoda adiknya.
"Nah kan, bang Arion bilang apa, Nevan lebih sayang sama baby A sekarang" Arion kembali menyiram bensin.
"Nggak apa-apa kalau gak ada yang sayang sama Ayra. Ayra kan udah besar, udah bisa makan sendiri. Baby A masih kecil, jadi butuh bantuan orang lain." katanya.
Raga terkekeh mendengar perkataan Ayra, ia mengelus kepala adiknya.
"Kalau baby A udah besar, ia akan tetap menjadi kesayangan. Terus Ayra sendiri terus deh" ucap Arion.
"Ayra kan memang sendiri. Mama, papa dan kakak Ayra udah nggak ada. Ayah Jake juga udah pergi" kata anak kecil itu.
Athena yang sudah berdiri di belakang Ayra menjadi terdiam, ia tidak melanjutkan langkahnya saat mendengar ucapan polos Ayra. Ia dengan cepat berusaha mengendalikan dirinya agar dirinya lebih tenang.
"Arion" tegur Arvin.
"Kak Raga, Ayra pulang yah, tolong bilangin sama kakak The." Anak kecil itu melangkah ke arah Arvin yang sedang memangku Anne.
"Bye baby A" ucapnya setelah mengelus pelan pipi Anne.
"Gak pamit sendiri ke kakak?" tanya Athena cepat.
"Ayra pulang yah kak" ucapnya.
Athena tersenyum.
"Bisa kan pulang sendiri?"
"Bisa, kak" jawabnya pasti.
"Nggak mau nginap disini aja?" tanya Raga.
"Nggak usah kak, nanti aja" jawabnya.
"Bye semuanya " Ayra melambaikan tangannya lalu meninggalkan kediaman Athena.
"Vin, bawa sini baby A nya. Kakak mau suapin dulu " kata Athena.
Di depannya sudah ada kereta bayi yang biasa digunakan anak kecil untuk bermain.
Sementara Arion ketar ketir melihat ekspresi tenang kakaknya.
"I'm sorry" ucapnya.
Athena menoleh. Ia mengangkat sebelah alisnya , seolah bertanya maksud dari ucapan adiknya.
"Maaf, kak. Tadi aku hanya bercanda" Arion memperjelas ucapannya.
"Kakak juga bukan pureblood seperti kalian. Kakak sama dengan Ayra dan juga baby A, kami hanya segelintir orang yang memiliki nasib baik yang diberikan sedikit keistimewaan hidup bersama kalian. Benar ucapan Ayra, ia sendiri. Kakak juga sendiri, baby A juga sendiri, orang tua kandung kami sudah tidak ada di dunia ini. Kakak tahu kamu bercanda, Yon, tapi tolong jangan bawa kata "sendiri" jika berada di depan kakak maupun Ayra." ucap Athena dengan sangat tenang sambil menyuapi Anne.
"Maaf, kak" ucap Arion dan Nevan bersamaan.
"Iya, lain kali kalau bercanda ingat batasan yah" Athena tersenyum pada kedua adiknya.
"Iya, kak" kompak Arion dan Nevan.
"Bang Raga dengar Arion lebih pilih AlThaf Island daripada RelFath yah?" Raga mengalihkan pembicaraan.
"Iya, bang. Kalau RelFath seperti nya memang untuk sejenis Arvin yang suka dunia kesehatan" jawab Arion.
"Emang di AlThaf gak ada?"
"Kalau di AlThaf lebih dominan tambang, bang. Opa tanam perusahaan batu bara dan migas disana" Arvin menjelaskan.
"Udah ketebak sih siapa yang akan jadi sultan dadakan" canda Nevan.
"Kak The belum tergeser tuh" kata Arvin.
"Ehh, kakaknya pengen banget digeser?" tanya Raga. Sementara Athena hanya terkekeh.
"Kalau boleh, bang. Tapi kayaknya impossible" jawab Arion.
"Why?" Tanya Raga.
"Bang Raga belum tahu?" tanya Nevan balik.
Raga menggelengkan kepalanya.
"Apa?"
"Satu-satunya cucu opa yang punya saham disana hanya kakak" jawab Nevan.
"Hah, emang iya?" tanya Raga kaget. Ia kira Athena tidak ada sangkut pautnya dengan pulau-pulau yang lain.
"Gak banyak, Ga" ucap Athena.
"Iya, bang. Aku cuma jadi dirut, yang punya saham tinggal di rumah suapin baby A, tapi uangnya ngalir setiap saat" jawab Arion dengan dramanya.
Athena terkekeh kecil.
"Tolong yah pak bekerja dengan baik dan benar" godanya.
"Kak, baby A belum makan?"
"Seharusnya udah bisa kan yah? Umurnya udah 6 bulan " kata Athena ragu.
"Bisa kak, dibuatin bubur juga, jadi kakak gak perlu lagi beli bubur kayak gitu"
"Giginya belum ada lho Vin?" kini Raga ikut bersuara.
"Buburnya kalau bisa di tekan-tekan dulu pakai sendok, bang. Kan baru belajar, masih minum susu juga kok " jawab Arvin tenang.
"Bang Arvin udah boleh nih jadi papa muda" ucap Nevan.
"Kuliah ku belum selesai, Nevan" Arvin menatap Nevan.
Buburnya sudah habis, Athena menitipkan anaknya pada suami dan adik-adiknya.