Athena

Athena
I'm Pregnant



Setelah puas bermain, Raga membawa istri dan anaknya menuju restoran yang letaknya masih dalam bangunan mall.


"Nggak bawa bubur buat Anne?" tanya Raga.


"Nggak, Ga. Baby A makan sup kentang dulu yah sayang yah." Athena mengelus rambut anaknya.


"Kamu mau makan apa?"


"Coto kayaknya enak deh, Ga" jawab Athena antusias.


Raga mengangguk. Ia hanya perlu mengklik gambar yang tertera pada tab di meja mereka, tak lupa juga menyertakan jumlahnya.


"Mam" oceh Anne.


"Iya, kita makan yah. Tunggu dulu makanannya" Kata Athena.


"Anak papa tadi main apa sayang?"


"ya. Pat"


"Main bola, lompat - lompat juga yah sayang yah"


Kepala kecil Anne mengangguk.


✨✨✨


Raga mendudukkan Anne di atas troli belanja, yang menyediakan tempat duduk khusus balita. Sementara Athena berjalan di depan, sambil menyusuri rak-rak yang berjejer rapi dengan beragam produk yang disusun sedemikian rupa.


"Kamu gak lupa sesuatu?" tanya Raga.


"Nggak deh kayaknya" jawab Athena.


"Kamu belum ambil pembalut lho" beritahu Raga.


Athena menepuk keningnya.


"Kok aku lupa yah"


"Ehh, tapi pembalut di rumah masih ada, Ga" kata Athena.


"Yaudah. Ke rak sebelah gih. Sekarang giliran anak papa nih" Raga kembali mendorong troli nya.


Raga menata belanjaan istrinya di bagasi mobil.


"Ga, mampir ke apotek bentar yah?"


Raga melihat ke arah istrinya.


"Kamu sakit?" tanya Raga.


"Nggak. Vitamin buat Anne sisa sedikit" jawab Athena.


Raga memarkirkan mobilnya di depan apotek yang tidak jauh dari mall.


"Kamu di mobil aja. Aku aja yang turun" kata Athena saat melihat Raga hendak membuka pintu mobil.


"Yaudah, Anne sama papa yah" Raga mendudukkan Anne di pangkuannya.


Tidak butuh waktu lama, Athena sudah kembali ke mobil.


"Sini sayang, Anne sama mama. Papanya mau nyetir itu lho"


Anne menggeleng. Ia memeluk tubuh papanya.


"Ga, siniin" kata Athena.


"Anaknya gak mau lho, The. Anak papa nemplok yah sama papa " Raga mengelus rambut Anne.


"Papa" oceh Anne, seolah mengiyakan ucapan Raga.


"Iya, sama yah." Raga mulai menginjak pedal gas nya, mengendarai mobilnya menuju rumahnya.


"Anaknya tidur, Ga" Athena melihat Anne yang sedang tidur pulas dalam keadaan duduk sambil memeluk papanya.


"Lucu gini anak kita, The" Raga memeluk anaknya setelah berhasil parkir di depan rumahnya.


"Siniin, aku gendong. Kamu bawa belanjaannya aja"


Dengan hati-hati Raga memberikan Anne kepada Athena. Bayi itu tidur sangat pulas, mungkin karena kecapean bermain di mall tadi. Athena hanya perlu mewanti wanti agar Anne bangun sebelum gelap, agar anak itu tidak begadang.


Tadi Athena juga membeli beberapa potong pakaian untuk Anne dan Raga. Sementara untuk dirinya, ia hanya membeli pakaian rumahan.


Setelah selesai dengan menyusun belanjaan nya, Athena bergegas untuk masak makan malam.


Anne terbangun sebelum Athena selesai dengan kegiatan memasaknya, jadilah Raga yang mengambil alih untuk menjaga Athena di ruang tamu. Sepasang anak dan ayah itu nonton kartun di sore menjelang malam.


Perkiraan Athena meleset. Ia mengira Anne akan begadang karena tidur sangat pulas tadi, tapi ternyata bayi itu bahkan sudah kembali terlelap sebelum jam menunjukkan angka 10 malam.


"Selamat malam sayang nya papa" Raga mencium kening anaknya.


"Mimpi yang indah anaknya mama" Athena juga tak lupa mencium kening anaknya lama, sambil berdoa dalam hati agar kebaikan selalu menyertai perjalanan kehidupan untuk anaknya.


"Udah?" tanya Raga. Setiap malam ia akan melihat istrinya mencium kening anaknya dengan mata yang terpejam, dan ia suka hal itu.


Athena tersenyum.


"Ayo"


Raga merangkul pinggang istrinya.


"Ayo kemana nih?" goda Raga.


"Mencari jalan menuju surga dunia" jawab Athena.


Raga tertawa mendengar jawaban istrinya.


"Yang lama tapi yah. Besok kan aku masih libur" pinta Raga.


"As you wish, papa" Athena mencium pipi Raga sekilas sebelum memasuki kamar mandinya.


Raga menunggu istrinya sambil membersihkan tempat tidur mereka, tak lupa menyusun bantalnya. Ia senang bisa membantu istrinya meskipun hanya dengan hal kecil begini.


"Kamu gak ganti baju?" tanya Athena.


"Ngapain ganti baju, kan bentar juga dibuka" jawab Raga frontal.


Athena mendesis.


Raga tanpa aba-aba menarik tangan Athena hingga mereka berdua jatuh di atas tempat tidur. Athena berada di atas badan Raga.


"Let's start our journey" ucap Raga di depan bibir Athena.


Dengan pelan ia menyesap bibir istrinya, mengabsen seluruh isi mulut sang istri.


"Ga, pelan-pelan" ucap Athena.


Raga menatap heran istrinya. Baru kali ini Athena memberinya peringatan.


Raga mengangguk, ia mencium kening istrinya.


Peluh membasahi tubuh mereka.


"Ini nya gimana?"


"cabut aja, Ga"


Raga bergerak sedikit menjauh, lalu kembali memeluk istrinya, tangannya tak lupa mengelus bahu istrinya.


"Terima kasih" ucap Raga.


Athena tersenyum, senyum yang sangat manis dan begitu tulus.


"Ga, aku gemukan nggak sih?" tanya Athena.


Raga meneliti tubuh sang istri.


"Di beberapa bagian sih. Pipi kamu juga makin chubby, pengen aku gigit"


"Ehh, digigit beneran" Athena mengelus pipinya yang baru saja jadi korban kegemesan Raga.


"Tidur sayang" Raga menenggelamkan wajahnya di dada Athena, men**su seperti anak kecil hingga matanya terpejam dan tertidur lelap.


Athena mengelus kepala suaminya, tak lupa berdoa meminta segala kebaikan untuk kehidupan rumah tangga mereka. Ia berharap apa yang sedang ia pikirkan benar-benar terjadi.


Masih jam 5 subuh, Athena sudah bangun. Ia membuka tasnya dan mengambil sesuatu yang ia beli di apotik kemarin, lalu memasuki kamar mandi. Sambil menunggu hasilnya, ia membersihkan dirinya. Ada banyak jejak yang Raga tinggalkan pada bagian perut dan dadanya, di lehernya juga ada 2. Ia tentu tidak perlu khawatir orang-orang akan melihat bekas kissmark nya, sebab mereka hanya tinggal bertiga di rumah ini. Meskipun setiap Senin pagi beberapa orang akan datang untuk me laundry pakaian, membersihkan rumah dan juga membersihkan halaman, merapikan tangkai tanaman.


Athena melihat hasilnya, air matanya mengalir. Ia duduk di belakang pintu dan mengucapkan syukur yang teramat sangat. Akhirnya penantian nya tidak sia-sia. Hasil testpack menunjukkan dua garis. Untuk mendapatkan kepastian, ia tentu akan mengulangi percobaannya selama 3 kali. Ia berharap hasilnya akan tetap sama. Sebelum keluar dari kamar mandi, Athena mengamankan testpack nya, menyimpannya di tempat yang ia rasa aman.