
Athena terbangun dari tidurnya, napasnya memburu tidak tenang. Ia memperhatikan sekitarnya, kemudt segera minum air mineral, agar ia bisa sedikit merasa lebih tenang.
Ceklek
Connecting door nya terbuka, nampak Raga datang sambil membawa nampan.
"Ehh, sudah bangun rupanya " kata Raga.
Athena menarik kedua sudut bibirnya.
"Terima kasih" ucapnya saat melihat Raga datang sambil membawa makanan.
"Ayo makan dulu." ajak Raga.
Athena berpindah duduk di sofa, di samping Raga.
"Udah siang banget kayaknya" ucap Athena.
"Iya, sudah pukul 2 siang" Raga menimpali.
"Habis ini mau kemana?" tanya Athena.
"Keliling aja mau? Sambil naik sepeda"
"Boleh deh. Sore aja yah"
"Siap, tuan putri" Raga mengelus rambut Athena menggunakan sebelah tangannya yang bersih.
Setelah makan, Raga mengembalikan piring kotornya, lalu kembali ke kamar Athena.
Rupanya Athena sedang duduk di balkon kamarnya sambil memandang indahnya garis pantai. Tapi ada yang berbeda, tatapannya terlihat kosong, tidak bergairah, seperti sedang memikirkan sesuatu. Athena bahkan tidak menyadari kedatangan Raga.
Raga menepuk pelan pundak Athena.
"The" panggilnya
Athena terkesiap, ia menatap ke arah Raga.
"Kenapa, Ga?"
"Kamu yang kenapa? Kok melamun?Aku udah lama lho di sini"
Athena menggeleng.
"Aku nggak apa-apa, Ga" jawabnya kemudian tersenyum.
Raga membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di balkon, menjadikan paha Athena sebagai bantalnya.
"Kamu kenapa?" tanya Raga lagi.
"Aku nggak apa-apa, Ga" Athena mengelus rambut Raga.
"Pusat kerjaan kamu ada dimana Ga?" tanya Athena.
"Ya di kota A. Tapi aku bisa kerja di mana pun. Sistem lebih mudah, kemajuan teknologi sangat membantu, aku rasa jarak bukan halangan untuk bekerja" jawab Raga.
"Sebelum menikah aku re-sign dulu, terus kembali ke kota A. Ayra bakal ikut nggak yah?"
"Kalau kamu tetap mau kerja, nggak apa-apa, The. Aku bisa tetap kerja meskipun berada di kota C" kata Raga. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang pekerjaan Athena.
"Ayra aku bawa ke kota A lagi kayaknya."
"Bagaimana baiknya aja " ucap Raga. Kini ia menenggelamkan wajahnya di perut Athena yang dilapisi kaos.
"Parfumnya masih sama" Raga kembali meluruskan badannya, ia bisa menatap Athena dari bawah.
"Iya, udah suka banget sama wanginya" ucap Athena. Tangannya masih sibuk mengelus rambut Raga.
"Parfumnya jangan diganti ya The"
"Baik , Mr. Perdanakusuma"
Mereka mengobrol dengan ringan, hingga sore hari mereka kembali meninggalkan kamar untuk bersepeda.
"Mainnya gak usah jauh-jauh yah Ga. Sekitar sini aja" pinta Athena.
"Oke, tuan putri" kata Raga.
Mereka bersepeda mengelilingi halaman hotel. Dari taman hingga sampai parkiran.
"Nona" teriak Min dari jauh.
"Ayo segera kembali" kata Min.
"Ada apa Min?"
"Silahkan tuan membereskan semua perlengkapannya, kami tunggu di lobi 10 menit dari sekarang." kata Min tegas.
Seolah mengerti bahwa ada sesuatu yang benar-benar darurat, Raga segera berlari memasuki hotel.
Athena sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Dina pasti sudah membereskan perlengkapannya. Run bahkan sudah menjalankan tugasnya dengan cara check out di hotel ini.
Kurang dari 10 menit, Raga sudah berada di lobi hotel. Min mengendarai sebuah Pajero dengan kecepatan diatas rata-rata. Mereka langsung saja berlari memasuki gate khusus untuk jet pribadi.
Ini tentu bukan jet biasa, kecepatannya tidak seperti pesawat biasanya.
"Saat sampai di kota C, tolong kabarin aku bagaimana pun keadaannya. Kita akan berpisah di bandara, aktifkan terus ponsel kamu" ucap Raga.
Athena hanya mengangguk. Bibirnya terasa begitu berat hanya untuk mengucapkan sepatah kata.
"Min, tolong jaga Athena " pinta Raga.
"Itu sudah tugas kami, tuan" kata Min.
Mereka benar-benar berpisah di bandara. Athena dengan cepat menaiki mobil yang sudah menunggunya sejak tadi, tentu saja diikuti oleh Min. Sementara Run dan Dina berada di mobil lain.
Mobil itu membawa Athena menuju rumah sakit milik Arunika. Sebelum opanya berbicara, Athena lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Ambil darah aku, sebanyak apapun yang uncle Jake butuhkan" katanya cepat.
Seorang dokter dan perawat membawa Athena menuju ruang transfusi darah. Setelah satu kantong darah penuh, darah tersebut langsung ditransfusi ke dalam tubuh Jake. Dokter tersebut kembali mengambil kantong darah yang kosong untuk di isi.
Athena berada dalam ruang transfusi selama 3 jam. Jarum baru saja dilepas, 5 kantong darahnya berhasil keluar. Ini tentunya bukan hal yang wajar. Athena bahkan terlihat sangat pucat. Min dengan cepat membantu Athena meminum salah satu pil obat yang diberikan Brian.
"Silahkan istirahat, nona " Kata Min sebelum meninggalkan Athena sendirian di dalam ruang perawatan.
Athena menutup matanya, badannya terasa sangat lemas, kepalanya juga sangat pusing, penglihatannya sangat tidak jelas. Gadis itu kemudian tertidur.
Dini hari, Athena terbangun. Kepalanya sudah tidak sepusing tadi, penglihatannya juga sudah cukup jelas.
"Udah bangun?" tanya Raga.
Athena mengangguk.
"Anterin aku ke ruang perawatan uncle Jake" ucapnya lirih.
Raga mengambil kursi roda yang telah disediakan. Ia mengangkat Athena agar bisa duduk di kursi roda, kemudian membawa kursi roda itu ke depan ruang perawatan Jake. Nampak Brian dan Brandon sedang duduk di kursi tunggu. Ada Lathief juga yang bersandar pada pilar yang berdiri kokoh.
Pintu ruang perawatan terbuka, seorang dokter keluar. Lathief mendekat dengan cepat.
"Gimana, dok?" tanyanya.
"Tuan Abraham masih kritis, tuan. Tuan Jake juga sama." jawab dokter tersebut.
Lathief mengusap wajahnya kasar, ia kembali berdiri dan bersandar di pilar.
"Dokter, tuan Jake menyebut kata Athena" lapor seorang perawat.
Semua mata kini memandang ke arah Athena. Lathief mengangguk saat ia bertatapan dengan anaknya.
Perawat tersebut menggantikan tugas Athena untuk mendorong kursi rodanya.
Dapat Athena lihat, lukanya memang sangat berat. Pundak Abraham patah, sebuah ranting menusuk tepat di jantungnya. Sementara Jake parah bagian kepala, ia sampai mengalami pendarahan hebat.
"Uncle Jake" panggil Athena.
"Iiira, too lo ng di jaa gaa" ucap Jake dengan penuh perjuangan.
Athena mengusap air matanya.
"Ayah harus sembuh agar bisa menjaga Ayra" ucapnya.
Jake mencoba membuka matanya, tapi benar-benar tidak bisa.
"Too long" ucapnya.
"Iya, Athena pasti akan menjaga Ayra. Kita sama-sama yah jaga Ayra nya"
Kesadaran Jake kembali hilang, tangis Athena pecah. Ia melihat ke arah Abraham, Abraham juga sama. Melihat patient monitor yang menempel di dinding, harapan Athena perlahan menurun. Ia mencoba berdiri, mengecup pipi dan punggung tangan Abraham, ia juga melakukan hal yang sama pada Jake. Dua orang lelaki itu sangat berarti dalam hidupnya, mereka berdua sangat berjasa besar bagi Athena.