Athena

Athena
Ars Area (4)



Athena tidak melanjutkan perjalanan nya ke lantai atas.


"Aku capek, Ga" keluh nya.


Bagaimana tidak merasakan lelah, rumah yang ia tinggali kini bangunannya lebih besar daripada rumah-rumah yang ada di pulau RelFath. Jarak antara ruangan satu dengan yang lainnya cukup jauh.


"Yaudah, ayo istirahat sama anak-anak" kata Raga.


Mereka kembali ke kamar.


"Kamu udah beritahu kapten kalau kepulangan kita ditunda?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Udah, Ga" jawabnya kemudian tersenyum.


Athena sudah membaringkan tubuhnya, menjadikan perut Raga sebagai bantalnya.


Raga mengelus rambut istrinya yang sedang digerai. Cuaca di sini cukup sejuk, itulah yang membuat Athena betah untuk tidak mencepol rambutnya.


"Nambah anak kayaknya bagus deh, Ga" ucap Athena sambil menatap plafon kamar.


Raga sejenak menghentikan kegiatannya mengelus rambut Athena. Lalu melanjutkan nya kembali saat sudah menguasai dirinya.


"Emang Kakak dan adik gak cukup bikin kamu bahagia?" tanya Raga.


"Bahagia. Sangat bahagia."


"Kakak masih batita, adek juga belum cukup satu tahun, kalau misalkan kamu hamil lagi, gimana dengan anak-anak? Atau kita pake bantuan nanny aja, gimana?"


Athena menggeleng cepat. Ia tidak ingin anak-anaknya dibesarkan dengan bantuan nanny. Bukan apa-apa, ia hanya ingin melihat sendiri bagaimana anaknya tumbuh besar. Ia hanya ingin merasakan menjadi sebaik-baiknya ibu bagi anak-anak nya.


"Big no" jawab Athena cepat.


"Aku sebenarnya merasa dua anak cukup. Selain daripada itu, aku gak mau lihat kamu kesakitan lagi. Itu membuat aku tersiksa juga, tidak bisa menjadi tempatmu berbagi kesakitan " jujur Raga.


"Melihat kamu melahirkan Aidan, saat itu aku berjanji pada diri aku sendiri untuk tidak lagi menyakiti kamu."


"Maaf, Ga" Athena menoleh menatap suaminya.


Raga tersenyum.


Bahkan dilihat dari bawah pun, senyum Raga tetap menenangkan, wajahnya masih tampan bak dewa.


Percakapan mereka terganggu saat Aidan menangis.


"Ulu ulu, anak mama nangis hmm. Lapar yah?" Athena memangku Aidan, sambil memberinya ASI.


"Papanya juga laper nih ma, pengen nen" ucap Raga.


Athena mendelik menatap suaminya.


"Sana buat nen sendiri"


"Nen gantung lebih nikmat kali. Aidan aja sampai nyaman gitu, sampai tidur kembali" Raga semakin ngawur.


"Tolong dong, mulutnya dikondisikan " omel Athena.


Raga terkekeh mendengar omelan istrinya. Ia lalu bangkit berdiri dan mengambil Aidan di pangkuan Athena. Lelaki itu kemudian kembali menidurkan Aidan di samping kakaknya yang masih begitu pulas tertidur. Raga tentu memberi batasan di tengah agar anaknya tidak saling menyerang dan menindih. Apalagi badan Aidan masih kecil, bisa gawat kalau Anne menyerang nya.


Sore hari, Raga berkeliling menggunakan mobil buggy yang entah berasal dari mana. Kendaraan yang sering digunakan oleh para pemilik perkebunan tersebut terparkir rapi di depan rumah. Athena dan kedua anaknya tentu saja ikut. Anne duduk di depan Raga, sedangkan Aidan berada di tengah antara Raga dan Athena. Udara segar mereka hirup dengan sangat puas.


"Mau kemana kita?" tanya Raga.


"Coba ke sana, feeling aku di sana ada danau" kata Athena sambil menunjuk ke kiri.


Raga mengikuti instruksi sang istri, mengendarai mobil buggy dengan santai dan tenang, seolah menikmati setiap hal yang ia lewati.


"Ntik" ucap Anne saat melihat bunga-bunga di depannya.


"Iya, cantik. Seperti anak papa" Raga memeluk tubuh kecil anaknya.


"Bawa ponsel kan , Ga?" tanya Athena.


Raga mengangguk. Ia turun dari buggy untuk mengambil ponselnya di saku celananya.


" Aku potret kalian dulu" katanya sambil mengarahkan kamera ponselnya pada ketiga kesayangannya. Mereka membelakangi taman tulip dan danau, juga bukit-bukit yang berada jauh di belakang mereka.


"Ayo, berempat lagi" kata Athena.


Mereka mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan untuk suatu hari nanti.


"Yun papa" rengek Anne.


Raga segera membatu Anne turun dari buggy.


Melihat kakaknya yang bisa bergerak bebas, Aidan juga berjingkrak dalam gendongan Athena.


"Sini, aku aja yang gendong" kata Raga.


"Ta ta"


"Iya, kakaknya lagi lari-larian. Aidan tunggu nanti yah, supaya bisa lari-larian sama kakak" Raga duduk di atas rumput.


"Seharusnya rumput nya bersih. Gak apa-apa deh Aidan duduk tanpa pengalas" kata Athena.


Jika Anne sedang berlarian, memegang bunga sesuka hatinya, maka Aidan hanya bisa merangkak, kemudian berhenti dan duduk lalu bertepuk tangan


✨✨✨


Satu pekan berlalu dengan cepat. Athena menatap segala sisi ruangan yang ada di lantai basemen sebelum melangkahkan kakinya menaiki travelator yang akan membawanya meninggalkan bangunan ini. Bangunan ini akan ia rindukan, ia harus ke sini lagi suatu hari nanti agar Ares merasa senang saat cucunya berkunjung pada tempat yang ia bangun.


Athena tentu tak lupa pamit pada ketiga mutan yang menjaga bangunan tersebut, hingga mutan itu melambaikan tangannya kepada Athena, seolah begitu berat melepaskan kepergian nona mereka. Athena bukan lagi nona kecil seperti yang Ares ceritakan kepada mereka. Nona kecil itu sudah menjadi seorang nyonya dengan dua orang anak.


"Bagaimana liburan nya nyonya tuan?" tanya kapten.


"Luar biasa. Terima kasih" jawab Raga.


Kapten itu mengangguk. Ia kemudian melakukan tugasnya menerbangkan helikopter untuk membawa Raga dan keluarga kecilnya kembali ke ibu kota pulau RelFath.


"Terima kasih, kapten. Maaf merepotkan" ucap Athena.


"Dengan senang hati nyonya. Semoga anda dan keluarga selalu berbahagia" ucap kapten itu dengan sangat tulus sebelum melambaikan tangannya pada Raga dan keluarganya yang sudah berada di dalam mobil.


Bumi sudah gelap saat mereka sampai di rumah. Athena hanya bisa memasak yang instan untuk makan malam mereka kali ini. Badannya cukup lelah dan pegal.


Setelah makan malam, Anne dan Aidan terlelap begitu saja di kursinya masing-masing. Nasi Anne bahkan masih tersisa, tadi saja saat minum, Raga membantu nya. Tidak butuh waktu hingga 60 menit setelah minum, anak itu langsung tertidur sambil bersandar pada sandaran kursinya. Aidan tidak beda jauh, ia bahkan hanya makan beberapa suap bubur dan minum air mineral, lalu ikut terlelap.


Athena dan Raga terkekeh pelan melihat kedua anaknya. Anak-anaknya tentu juga merasa kelelahan, hingga tertidur saat sedang makan.


"Tolong gendong kakak, ganti bajunya juga, biar tidurnya nyaman. Aku juga akan ganti baju adek" kata Athena.


Raga mengangguk mengerti. Ia mengangkat tubuh anak perempuannya ke kamar batita itu dan melaksanakan perintah Athena.


"Kamu bersih-bersih dulu. Aku mau beresin meja makan dulu"


"Kamu aja yang bersih-bersih. Meja biar aku yang rapikan " Raga tak mau mengalah. Ia tahu betul bahwa istrinya juga sama capeknya.


"Nggak apa-apa?" tanya Athena.


Raga tersenyum. Ia mengacak pelan rambut istrinya.


"Nggak apa-apa. Sana gih, bersih-bersih terus ganti baju. Kalau mau tidur, tidur duluan aja, nggak apa-apa." jawabnya.