Athena

Athena
Novia



"Gak marah lagi kan?" tanya Athena.


Raga menggeleng. Ia mencium pipi sang gadis.


"Kita ke apartemen aja yah?"


"Boleh deh. Aku ganti baju dulu"


"Nggak usah, gitu aja. Ponselnya aja yang dibawa" Raga menarik pergelangan tangan Athena.


"Aku belum sisiran lho" ucap Athena.


"Gak usah sisiran. Nanti makin cantik, gitu aja"


Mobil Raga sudah terparkir di depan teras rumah Athena.


"Kamu tadi kesini naik apa?" tanya Athena.


"Di jemput Run" jawab Raga.


Athena duduk manis sambil menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya.


"Mau masak nggak?" tanya Raga.


"Kamu mau aku masakin?" tanya Athena balik.


"Kalau kamu nggak capek sih. Tapi kalau capek nggak apa-apa, masih bisa lain kali" jawab Raga.


"Aku benar-benar mager, Ga" ucap Athena.


"Iya, lain kali aja kalau gitu" Raga mengusap kepala Athena.


Setelah menempuh oerjalat selama 30 menit, mobil Raga sudah terparkir rapi di basement apartemen. Alih-alih membawa Athena ke lift umum, Raga menarik tangan Athena menuju sisi lain yang menyediakan lift khusus.


"Kok kesini?" tanya Athena.


"Kalau disana nanti ketemu sama Abraham lagi" jawab Raga.


"Cemburuan banget kamu" Athena mencubit pipi Raga.


"Kamu gak suka aku cemburu?"


"Gimana yah jawabnya."


"Kamu jawab aja"


"Kalau cemburunya diam-diam aku gak suka, hehe. Kamu kalau diam ngeri gitu" jawab Athena.


Raga merangkul pinggang Athena.


"Kok lewat?"


"Aku udah pindah unit"


"Aku kira kamu lupa"


"Nggak, The"


Lift berhenti di lantai 21 gedung ini.


"Penthouse?" tanya Athena.


Raga mengangguk.


"Yep. Nambah properti aja" jawab Raga.


"Gak sekalian beli gedungnya?"


"Udah, makanya aku kesini 3 hari yang lalu"


"Ehh, beneran?" tanya Athena.


"Iya, patungan sama papa. Hasil tetap bagi dua"


Raga memasukkan sandi penthouse nya,agar pintunya segera terbuka.


"keren banget" kagum Athena.


Di lantai ini hanya ada 2 unit, yang satunya lagi tentu milik papa Raga. Penthouse nya sangat luas, nyaris menyerupai rumah. Ada 3 kamar, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kolam renang outdoor dan tentu saja balkon yang langsung menghadap ke sisi barat.


Raga berjalan ke dapur untuk mengambil minuman juga cemilan yang dibeli oleh mbak-mbak yang bertugas membersihkan unitnya.


Athena duduk di sofa, sambil menonton serial kartun kesukaannya.


"Kayak anak kecil aja nonton itu" kata Raga sambil menaruh nampan yang ia bawa. Ia lalu tidur di sofa dan menjadikan paha Athena sebagai bantalnya.


"Lucu tahu" ucap Athena. Tangannya mengusap-usap rambut Raga, sesekali ia dan Raga terkekeh saat melihat penderitaan si kucing.


"Apanya?"


"Kamu udah berhasil bangun usahamu sendiri, sekarang merambat ke properti, setelahnya apa lagi?"


"Ya nikahin kamu" jawab Raga.


"Kamu juga udah berhasil,bahkan lebih jauh dari aku. Nama kamu udah masuk Forbes sebagai orang terkaya diusia 20-25 tahun. Kamu bahkan sudah mengakuisisi pabrik pangan di kota ini."


"Masuk Forbes karena 80% yang aku pegang bukan hasil usaha aku sendiri." ucap Athena.


"Kata opa kamu juga ngincar pabrik pangan yang ada di negara T?"


Athena mengangguk.


"Biar sekalian berdampingan dengan pabrik anggur"


"Habis itu apa?"


"Menjadi orang bermanfaat bagi orang lain"


"You did it, The. Tiap bulan 50% penghasilan kamu tersalurkan ke lembaga sosial, ke panti, juga organisasi kemanusiaan" kata Raga


Raga memutar badannya, menenggelamkan kepalanya di perut Athena, tangannya juga melingkarkan sempurna di pinggang Athena.


Athena kembali mengusap-usap rambut Raga. Enam bulan bekerja, Athena sudah berhasil mengakuisisi pabrik pangan. Menjadi staf di perusahaan cabang milik Daddy nya tentu hanya sebuah kulit, bukan isinya. Seperti yang dilakukan Ares dan Lathief di jamannya, Athena juga melakukan hal yang sama, bekerja dengan tenang dan rahasia. Ilmu yang ia dapatkan benar-benar ia terapkan dalam perjalanan karirnya.


"Raga" tegur Athena. Ia merasa geli saat Raga menggigit kecil perutnya.


Raga masih melanjutkan kegiatannya, sesekali ia hanya mengecup, kemudian menggigitnya.


"Udah ihh" Athena memegang kepala Raga, agar Raga menghentikan kegiatannya.


Raga kembali meluruskan badannya, menghadap ke atas, hingga ia bisa melihat Athena. Gadis itu sungguh luar biasa.


Ponsel Raga berdering, Athena membantu Raga untuk mengambilnya di meja.


Novia Foss


"Siapa?" tanya Raga


"Novia" jawab Athena.


"Diamin aja" kata Raga.


"Kenapa nggak diangkat? Aku gak bakal ganggu kok" Athena mengangkat kepala Raga, lalu mengambil bantal sofa untuk lelaki itu tiduri. Ia juga tak lupa memberikan ponsel Raga, kemudian menuju kolam renang outdoor yang atapnya bisa dipasang hanya dengan menekan tombol pada remot yang ada di dinding. Athena mengambil remot itu, membawanya ke kursi malas yang ada di pinggang kolam. Athena menekan sebuah tombol, dan wushhh atap kaca terpasang dengan cepat. Jaman sekarang benar-benar canggih.


Merasa mood Athena sedang tidak baik-baik saja, Raga dengan cepat menyusul Athena sambil membawa ponselnya. Ia langsung saja menindih tubuh gadis itu.


"Udah nelponnya?" tanya Athena.


Raga menatap mata Athena, mereka saling bertatapan.


"Novia selalu telpon aku sejak 2 bulan terakhir. Ia juga mengirim pesan, tapi aku gak pernah baca. Tadi kamu belum sempat periksa ponsel aku, sekarang kamu periksa dulu" Raga menyimpan ponselnya di telapak tangan Athena.


"Kamu minggir dulu" suruh Athena.


"Nggak mau" tolak Raga. Ia malah memasukkan wajahnya di ceruk leher Athena.


Athena memiringkan sedikit tubuhnya, agar beban badan Raga tidak terlalu berat ia rasakan. Sebelah tangannya menjadi bantal lelaki itu, sementara tangan lainnya sibuk mengotak atik ponsel Raga.


"Kamu yakin gak pernah jawab panggilan Novia?" tanya Athena.


"Nggak, The" jawab Raga. Ia masih menjelajahi leher Athena.


"Kamu gak penasaran alasan dia nelpon kamu terus?"


"Nggak."


Athena tidak menemukan hal mengganjal di ponsel Raga. Seperti biasa foto mereka berdua yang menjadi look screen, wallpaper juga background di aplikasi. Athena menyimpan ponsel Raga di atas meja bundar yang berdiri tidak jauh dari kursi malas.


Leher Athena sudah basah akibat penjelajahan lidah Raga. Mulut Raga kini sudah sampai di dagu Athena, ia mengecup dagu lancip itu beberapa kali, sebelum merambat ke telinga Athena.


Athena hanya pasrah, tangannya mengelus rambut Raga. Jika Raga dalam mode ini, lelaki itu tidak ingin diganggu, ia akan berhenti dengan sendirinya.


Setelah puas menjelajahi kuping Athena, Raga melanjutkannya dengan mencium bibir sang gadis. Mereka saling menautkan l***h, menjelajahi setiap inci mulut Athena.


"Hah" Athena menyampingkan wajahnya, sambil mengatur napas.


Raga malah kembali menjatuhkan wajahnya di leher Athena sambil mengatur napasnya.


"Mau tidur aja?" tanya Raga saat melihat Athena menutup matanya.


Athena mengangguk.


Raga membawa Athena memasuki kamar utama yang ada di penthouse, membaringkannya dan ikut berbaring dengan kepala yang ada di leher sang kekasih.