Athena

Athena
Menuju Petang



Athena baru bangun dari tidurnya saat hari sudah sore. Terdengar suara-suara dari luar rumah. Athena merapikan penampilannya sebelum keluar untuk melihat keadaan di luar. Rupanya banyak anak kecil umur 4 sampai 8 tahun-an jika dilihat. Wildan terlihat sedang bermain kelereng dengan beberapa anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan terlihat sedang bermain masak-masak menggunakan kulit kelapa.


"Haloo" sapa Athena pada anak-anak perempuan.


"Kakaknya udah bangun" ucap salah satu anak perempuan.


"Halo kakak" sapa mereka bersamaan.


Bahkan ada satu anak yang masih kecil, kira-kira umurnya masih dua tahun.


"Adiknya kecil banget. Emang diizinkan sama mamanya buat main?" tanya Athena.


"Dia kemari bersama kakaknya, kak. Kakaknya sedang main kelereng" jawab salah satu anak yang rambutnya kikis.


"Ihh, lucu banget" Athena mencubit pelan pipi anak yang paling kecil.


Anak itu hanya terkekeh memperlihatkan gigi kelincinya.


"Kalian selalu main disini?" tanya Athena.


"Nggak, kak. Tapi tadi ketemu kak Kevin di sekolah, di suruh main kesini" jawab anak perempuan yang bajunya berwarna pink.


"Wildan, emang tadi Kevin ke sekolah?" tanya Athena.


"Iya, The." jawab Wildan kemudian melanjutkan lagi permainannya.


"Kalian kelas berapa aja?" tanya Athena.


"Kelas 3 SD"


"Kelas 2 SD"


"Kelas 1 SD"


"Wah, pada pinter pinter semua" Athena bertepuk tangan.


Ting Ting ting


Sebuah suara sendok yang dipukul ke piring terdengar.


"Masss" teriak anak-anak.


Mereka berhamburan, berlomba menuju motor yang terlihat menjual sesuatu.


Motor itu berhenti di depan rumah yang Athena tinggali untuk sementara.


"Mas aku 2 ribu"


"Aku juga"


"Aku 3 ribu"


"Aku 5 ribu dibagi dua"


"Kok ramai?" tanya Raga yang baru datang entah dari mana.


"Banyak bocil oii" seru Darren senang.


"Tadi katanya diminta Kevin kesini" jawab Athena.


Anak yang paling kecil tadi tidak berdiri dari duduknya, masih asyik mengaduk daun yang dipotong tipis-tipis menyerupai mie.


"Gak jajan?" tanya Athena sambil mengelus kepala adik tersebut.


"Tunggu kakak" jawabnya.


"Namanya siapa sayang?"


"Ayla" jawab anak kecil itu.


"La, ini" seorang anak lelaki datang, memberikan seplastik kecil jajanan pada adiknya.


"Maaci kak" kata Ayla menerima jajanan dari kakaknya.


"Itu apa?" tanya Athena.


"Somai kak, ada bumbu kacangnya, dikasih sambel juga kecap, mantep bener" jawab anak yang rambutnya kikis tadi.


Athena memeriksa kantong celananya.


"Kalau 5 ribu banyak nggak?" tanya Athena.


"Banyak banget, kak. Plastik nya bisa penuh" jawab yang pake baju pink.


"Tunggu bentar yah, kakak beli dulu. Kayaknya enak" kata Athena.


Ternyata Wildan, Darren, Raga, Eros dan Kevin sudah asyik makan dengan para bocah laki-laki.


"Jajan juga The?" tanya Kevin


Athena mengangguk.


"Enak kayaknya" jawabnya.


Athena memesan, tanpa kecap. Hanya somai yang dilumuri saos kacang juga sambel yang merah merona.


"The, Lo sadarkan?" tanya Darren.


"Hah, gimana?"


"Itu, sambelnya kebanyakan. Entar Lo sakit perut" tunjuk Wildan.


Athena terkekeh.


"Aku sering kok" katanya.


Athena berlalu, ia berjalan menuju kumpulan bocah perempuan.


"Wah, punya kakak merah-merah"


"Kata mama gak boleh makan sambel banyak, nanti perutnya sakit"


Athena meringis mendengar perkataan adik-adik di depannya.


"Kan kakak udah besar, pencernaannya udah lebih stabil. Tapi besok-besok gak sepedas ini kok" janji Athena.


Tidak seperti penjual lainnya yang menggunakan tusuk sate, penjual tadi berbaik hati memberi sendok plastik kecil, agar lebih aman.


"Suka kak" jawab mereka serentak.


"Jajannya tiap hari?" tanya Athena.


Mereka mengangguk.


"Mama kalian gak marah?"


Mereka menggeleng.


"Tadi jajan pakai sisa uang saku sekolah." jawab salah satu diantara mereka.


"Emang ke sekolah di kasih jajan berapa?" tanya Athena.


"5 ribu" jawab mereka kompak.


"Lho, semuanya 5 ribu yah?" tanya Athena.


Mereka mengangguk, kecuali Ayla.


Lima 5. Dapat apa ia di kota A?


"Sekolah kalian jauh nggak?" tanya Athena.


"Nggak. Dekat pertigaan sana"


Pertigaan? Jaraknya kurang lebih 2 kilometer dari sini.


"Kalian diantar?"


"Jalan kaki sama-sama" jawab yang rambutnya kikis.


"Hebat kalian" kata Athena senang.


Dulu, waktu umur Athena seperti mereka, ia bahkan tidak perlu merasakan lelahnya berjalan demi menuntut ilmu. Setiap hari Daddy nya akan menjemputnya, atau jika tidak sempat, maka Min yang akan menggantikan Daddy nya.


Gelap sudah akan menyapa.


"Kakak, kami pulang dulu yah. Sampai jumpa besok" pamit mereka.


Athena melambaikan tangannya.


"Ayla, ayo pulang" panggil anak laki-laki.


Ayla merentangkan tangannya, meminta untuk digendong.


Kakak Ayla berjongkok depan Ayla, meminta Ayla gendong belakang.


"Dadah kakak" ucap anak kecil itu.


"Da dah cantik. Hati-hati yah gendong adiknya" pesan Athena.


"Siap, kak" kata anak lelaki itu.


Kasih sayang kakak kepada adik memang tidak perlu diragukan. Sayang sekali Athena adalah anak pertama. Athena melihat kepergian Ayla, hingga semakin mengecil.


"Lagi ingat adiknya?" tanya Raga yang entah dari mana asalnya. Ia ikut duduk di bangku panjang depan rumah.


Athena mengangguk, kemudian menggeleng.


"Lagi ingat adik, tapi pengen punya kakak juga" jawab Athena.


"Lo anak pertama?"


Athena mengangguk.


"Masih lebih baik Lo, Lo punya adik. Gue bahkan gak punya saudara lain."


"Kamu anak tunggal?"


Raga mengangguk.


"Sepi pasti." tebak Athena.


"Sepi, makanya sampai betah berteman sama mereka-mereka" tunjuk Raga pada teman-temannya yang duduk di gasebo bambu.


Athena terkekeh.


"Panggil yang lain masuk gih. Udah malam." suruh Athena.


Athena masuk ke rumah lebih dulu. Ia memasak nasi, kemudian menggoreng tahu dan membuat sambel.


Jam 7 semuanya siap. Mereka kemudian makan malam.


"Pulang-pulang perut gue bisa one pack" kata Kevin.


"Hooh, gue berasa makan di rumah sendiri" ucap Darren setuju.


"Mana tempat gym jauh pula" keluh Wildan.


Athena terkekeh mendengar keluhan temannya. Ia senang masakannya disukai oleh mereka. Ini baru hari ketiga mereka disini, masih tersisa 87 hari lagi.


"Bersyukur tim kita ada perempuan, bisa masak pula. Setidaknya kita gak kelaparan, gak kelabakan tiap mau makan. Pulang nanti, Lo bisa nge gym sepuasnya" kata Eros.


"Siap, bapak Eros" kompak Kevin, Darren dan Wildan.


Athena mengangkat piring kotor ke dapur. Ia akan mencucinya besok pagi. Airnya sangat dingin, selalu dingin.


"Eros, bisa nggak kita ngadain bimbel buat anak-anak tadi?" tanya Kevin.


"Gimana?" tanya Eros.


"Tadi gue gak sengaja ketemu guru mereka di sekolah saat nemenin pak kades ke balai desa. Gurunya bertanya gue mahasiswa bukan? Terus gue jawab masih pelajar. Meskipun ia tahu gue masih pelajar, beliau minta tolong untuk ngadain bimbel anak-anak disekitar sini. Beliau yakin dengan kualitas kita, padahal gurunya tahu kalau kita-kita ini masih anak SMA" jelas Kevin.


Eros melihat semua temannya secara bergantian.


"Boleh tuh" seru Wildan.


"Waktu kita cukup luang. Gak perlu setiap hari, paling nggak 2 kali seminggu" kata Raga.


"Yaudah. Setiap Kamis dan Sabtu sore" putus Eros.


Mereka bertepuk tangan. Setidaknya ada kegiatan lain yang bisa mereka lakukan.