Athena

Athena
Kalut



Butuh waktu 7 jam duduk diatas pesawat agar bisa sampai di pulau Athena. Keindahan pantai menyambut kedatangan Athena dan Vania di pulau itu. Dua mobil menjemput mereka. Satu mobil yang hanya terdiri dari seorang supir, dan mobil lainnya berisi 4 orang pria yang berpakaian rapi. Mereka tentu saja menyambut kedatangan Athena dengan penuh kehormatan. Ini kali pertama nonanya menginjakkan kaki di pulau ini. Nona nya adalah kepala dari pulau ini.


"Selamat datang, nona" ucap seorang yang lelaki yang terlihat lebih mencolok daripada yang lainnya.


"Terima kasih, J" Athena mengangguk sopan.


"Silahkan nona" J membuka pintu untuk nonanya, juga untuk Vania.


Mulut Vania seolah terkunci. Di tangannya hanya ada tas jinjing yang berisi ponsel dan juga dompetnya. Ia memperhatikan bagaimana Athena disambut dengan sangat hormat oleh orang-orang di sini. Ia akan bertanya nanti.


"Kemana kau hendak membawaku J?" tanya Athena.


"Ke kediaman nona, tentu saja " jawab J sopan.


Athena memperhatikan sepanjang jalan yang ia lewati adalah gedung-gedung yang dibangun menjadi begitu tinggi, entah bisnis apa yang opanya tanam di pulau ini. Ia belum melewati satu pun rumah warga, seolah tempat ini dibangun hanya untuk pelajar dan pekerja.


Mobil berjalan semakin jauh, satu persatu sudah muncul rumah penduduk yang terlihat begitu megah. Jarak dari rumah satu dan rumah lainnya cukup berjauhan, ia bisa menebak ada helipad resmi di atas atap rumah mereka. Ada hal yang menarik perhatiannya, di depan rumah para penduduk tidak ada pagar, hanya ada tanaman buah-buahan yang dibuat berjejer, beberapa rumah lainnya ada yang menanam berbagai jenis bunga yang dibentuk menyerupai pagar


Jalanan yang mereka lewati juga dibuat begitu kokoh, sehingga mobil berjalan dengan sangat mulus. Di beberapa bagian, jalanan dibuat menjadi dua arah, yang dibatasi dengan bunga sakura.


Mobil yang Athena dan Vania tumpangi mulai memasuki kawasan hutan lebat dan gelap, padahal ini masih siang, kemudian melewati sebuah gerbang besar, tinggi dan kokoh yang terbuat dari beton, sedangkan gerbang yang kedua terbuat dari tembaga yang sangat tebal.


Setelah melewati gerbang berlapis, mereka kembali melewati hutan belantara hingga 7 KM jauhnya. Cahaya terang terlihat, nampak tanaman mawar hitam di sisi kiri jalan, sedangkan pada sisi kanan jalan bunga baby breath tumbuh dengan subur. Ada persimpangan jalan di depan, mobil berjalan lurus hingga terlihat sebuah bangunan yang sangat megah, yang berada di tengah-tengah tanah lapang yang ditumbuhi beberapa jenis buah-buahan.


Sejak tadi Vania tidak berhenti berdecak kagum. Hari ini seolah menjadi hari untuk ia mengeluarkan segala ucapan takjubnya akan ciptaan Tuhan yang telah dititipkan kepada keluarga Arunika.


"Sejak kapan rumah ini jadi, J?" tanya Athena.


"Belum lama, nona. Sepekan sebelum nona berusia 23 tahun, pembangunan rumah ini sudah rampung." jawab J.


"Apakah kakek yang memerintahkan?" tanya Athena.


"Dari cerita ayah saya, tuan Ares Arunika yang memberikan perintah, nona. Beliau ingin saat nona datang kemari, semuanya sudah siap." jawab J.


Athena tersenyum, ia merasa senang dan juga sedih disaat yang bersamaan. Ares pasti sedang tersenyum sekarang, Athena sudah menginjakkan kakinya untuk pertama kali di rumah ini, meskipun dengan alasan sedikit menyakitkan.


"Silahkan masuk, nona. Yang lain sudah menunggu nona" ajak J.


Athena melingkarkan tangannya di lengan Vania, mereka menaiki tangga teras rumah yang topang dengan pilar besar dan kokoh.


Terlihat beberapa orang pelayan berbaris menunggu kedatangan nonanya, tapi ada hal yang membuat Athena tersenyum, yaitu keberadaan Mbak Ni, pengasuhnya waktu masih kecil.


"Mbak Niii" Athena memeluk mbak Ni.


"Lama gak ketemu" ucap Mbak Nii.


"The senang ada mbak Ni disini. Kenalin mbak, mama mertua aku"


Mbak Ni membungkuk sejenak, ia tersenyum.


"Selamat datang, nyonya" sapanya.


"Terima kasih, bu" Vania juga tersenyum.


"Silahkan makan dulu, barulah setelahnya nona dan nyonya bisa istirahat" mbak Ni membawa mereka ke ruang makan keluarga, yang berukuran minimalis.


Hidangan coto sudah ada di atas meja, juga beberapa masakan lainnya.


"Terima kasih, mbak Ni" ucap Athena.


"Ayo ma, makan dulu. Setelah ini mama harus beristirahat." Athena menyendokkan makanan ke piring Vania.


"Mama bisa sendiri lho The" protes Vania.


"Kalau mama yang ambil sendiri, makanannya sedikit aja. Kalau The yang ambilin kan gini, biar mama makan yang banyak" kata Athena.


Vania tersenyum bahagia mendapatkan perhatian dari menantunya. Ia tahu, ia juga mengerti, menantunya sedang kalut sekarang. Masalah memang datang dari segala arah dengan cara yang berbeda. Vania hanya bisa berdoa dan berharap, semoga masalah yang sedang menimpa kehidupan rumah tangga anaknya segera mendapat jalan keluar, agar mereka berdua bisa hidup tenang dan bahagia.


Saat Athena hendak membereskan piring kotornya, dua orang pelayan mendekat.


"Biar kami saja, nona" katanya.


Athena mengangguk. Ares menyiapkan semuanya dengan detail dan sangat baik.


Seorang pelayan lain mendekat.


"Mari nona saya tunjukan kamar nona" ajaknya.


Athena dan Vania mengikuti langkah pelayan di depannya, ada tangga kokok di depan mereka, juga terlihat ada lift di sudut ruangan. Alih-alih menaiki lift, Athena malah meminta untuk menapaki anak tangga.


"Ini kamar utama, kamar nona." beritahu pelayan itu, lalu membuka pintu kamar di depannya.


Athena serasa sedang cosplay jadi seorang putri di negeri dongeng. Kenapa kakeknya bisa begitu detail dalam merencanakan segalanya. Apa memang Ares membeli pulau ini khusus untuknya?


"Untuk nyonya, nyonya bisa menunjuk kamar yang ingin nyonya tempati, kecuali dua kamar di depan kamar ini" kata pelayan.


"Kenapa dengan kamar itu, mbak?"


"Saya juga tidak tahu, nona. Tapi sebaiknya pesan tuan Ares dijalankan"


Athena mengangguk.


"Mama akan tidur disini, bersama The" ucap Athena.


Vania hanya bisa mengangguk. Rasa takjubnya belum menghilang sejak tadi.


"Terima kasih yah, mbak. Kami akan beristirahat"


Pelayan tersebut mengangguk mengerti, kemudian meninggalkan kamar Athena.


"What do you think about this The?" tanya Vania. Mereka berdua sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur yang berukuran sangat besar ini.


"Gimana,ma?"


"Mama lihat kamu tidak begitu kaget dengan semuanya. Mama juga dari keluarga yang bisa dibilang cukup berada, tapi ini kali pertama mama menemukan ada kehidupan putri di bumi"


"Ma, ini hanya titipan dari Tuhan. Kebetulan saja Arunika mendapatkan titipan sedikit lebih banyak dari yang lain. The aja baru tahu pulau ini waktu The ulang tahun, ma. Semua ini juga hal baru buat The, kecuali mungkin dalam segi pelayanan dan fasilitas. Semua keturunan Arunika masing-masing mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang sama, dimana pun." kata Athena.


"Dengan semua yang kamu miliki, kenapa kamu memilih Raga untuk membersamai langkahmu?" tanya Vania.


Athena menatap wajah Vania yang terlihat sedih.