Athena

Athena
Best Team



Malam di kediaman Perdanakusuma.


Raga dan kedua orang tuanya sedang menonton berita yang menyiarkan Regan Pratama, CEO dari Mahes Group berhasil melebarkan sayapnya ke bidang kuliner. Selain di dunia pendidikan, kesehatan dan properti, perusahaan yang dipimpin oleh Regan merambat ke bidang kuliner. Yah, Renal mundur dari kursi CEO setelah yakin Regan bisa meng-handle semuanya. Renal kini hidup lebih tenang menjadi seorang komisaris seperti mertua dan iparnya, Mika.


"Hebat banget" ucap Raga.


"Tempat yang kita datangi untuk lunch tadi juga di bawah naungan Mahes Group." beritahu Baskara.


"Regan Pratama itu siapa, pa?" tanya Tanya Vania.


"Dia CEO, ma. Regan Pratama diangkat menjadi CEO 3 tahun belakangan dan mungkin akan terus berlanjut" jawab Baskara.


"Hebat dia. Masih muda juga" kata Vania.


"Dia hanya pemeran, ma. Ada orang yang bergerak di belakang layar"


"Bisa gitu, pa?" tanya Raga.


Baskara mengangguk.


"Orang-orang sebenarnya adalah yang tak pernah nampak. Terakhir kali papa tahu pemilik Mahes Group datang sewaktu kamu pelepasan beberapa bulan lalu"


"Jadi yang punya Mahes Group itu pak Renal? Pemilik sekolah?" tanya Raga kaget.


Baskara mengangguk.


"Mereka hanya beberapa kali terlihat di event kecil seperti itu. Sedangkan di event besar, nyaris tak pernah nampak."


"Tapi beliau terlihat masih muda, pa. Seharusnya ia menggunakan waktunya untuk bekerja" kata Raga.


Baskara terkekeh.


"Kalau bisa duduk kenapa harus berdiri?"


Raga diam mendengar ucapan papanya.


"Papa gak bisa nunjuk orang juga buat jalanin perusahaan?" tanya Vania.


"Papa ada orang, ma. Tapi masih perlu bimbingan. Papa terlalu sibuk yah?"


Vania menggeleng.


"Nggak, papa. Kerjanya dari jam 9 pagi, pulang jam 3. Jum'at sampai Ahad libur, yah itu lebih dari cukup buat mama." jawab Vania kemudian memeluk pinggang suaminya.


"Ma, Raga masih ada lho ini" kata Raga.


Vania dan Baskara terkekeh mendengar perkataan anaknya. Mereka berdua lalu meminta Raga untuk bergabung dalam pelukan orang tuanya.


Keluarga yang begitu hangat.


✨✨✨


Upacara bendera akan segera di mulai. Seluruh penduduk Maheswari sudah berdiri di barisan masing-masing.


"Acara tambahan. Para peserta upacara diharapkan untuk tidak meninggalkan tempat masing-masing. Pemberian penghargaan Maheswari kepada tim terbaik juga individu terbaik dalam menjalankan praktek lapangan sekaligus peraih nilai terbaik dalam presentasi." kata protokol upacara.


"Hasil penilaian dari dewan sekolah tentang presentasi kemarin, team terbaik jatuh kepada Desa Kenangan. Untuk yang individu jatuh kepada ananda Dwiyah Pratiwi. Dengan segala rasa bangga dari saya dan dewan guru, kami meminta kepada tim Desa Kenangan dan ananda Dwiyah Pratiwi untuk maju ke depan." ucap kepala sekolah.


Semua teman-teman Athena memandangnya dan Dwiyah. Mereka lalu melangkah ke depan, di depan mimbar. Seorang siswa yang bertugas membawa sebuah piala yang terbuat dari kaca yang dipahat, hingga membentuk piala yang sangat terlihat cantik.


Kepala sekolah menyerahkan ke tujuh bentuk penghargaan itu kepada ke tujuh orang muridnya.


"Terima kasih, pak" ucap mereka bersamaan, kemudian balik kanan dengan serentak.


Pemahaman mereka tentang peraturan baris berbaris tidak perlu dipertanyakan. Saat orientasi sekolah, pihak sekolah sudah bekerja sama dengan instansi yang melatih mereka baris berbaris.


Suara tepuk tangan terdengar.


"Gue gak nyangka lho" kata Wildan.


"Gue apalagi" sambung Darren.


"Thank you all. We did it" ucap Eros.


"Dwi, tolong dong fotoin kami" kata Darren.


Dwiyah mengangguk. Ia lalu mengambil ponsel Darren.


"The, diri tengah" kata Kevin.


Athena berdiri di tengah. Di sebelah kanannya ada Kevin dan Raga. Di sebelah kirinya ada Eros, Wildan dan Darren.


"Dwi, one more. Gue sama koki gue dong" kata Raga. Ia menarik tangan Athena agar berdiri di sampingnya.


"Oke deh" kata Dwiyah.


Raga mengangguk. Ia memotret Athena dan Dwi menggunakan ponselnya.


"Bagus kan Ga fotonya?" tanya Dwi.


"Bagus, Dwi" jawab Raga.


Mereka lalu kembali ke kelas masing-masing. Di kelas Athena, semua teman-temannya sudah mengambil posisi masing-masing untuk mengabadikan momen hari ini. Athena dan Dwi membuat mereka semua bangga.


"The, Dwi cepet" teriak Irvandi.


Athena dan Dwi duduk paling tengah sambil memangku pialanya.


"Selamat buat kalian" kata Feby.


"Terima kasih, Feb" ucap Athena dan Dwi bersamaan.


"Usahanya pasti keras banget yah. Secara kita semua tahu standar IQ pelajar disini gak main-main" kata Fany.


"Kalau gue yah nyaris tiap malam belajar." jawab Feby jujur.


"Lo gimana The?" tanya Bastian, si ketua kelas.


Semua teman-teman Athena terlihat antusias mewawancarai dua orang temannya itu.


Athena terkekeh kecil melihat ekspresi teman-temannya yang begitu penasaran.


"Kalian biasa aja lihatnya" ucap Athena.


Mereka semua terkekeh saat menyadari komuk konyol mereka.


"Jadi apa tips nya ibu Athena?" tanya Fany.


"Kalau aku sendiri yah gitu, belajar aja, gak di paksain. Dari awal Eros memang nekan kita-kita buat menguasai materi masing-masing. And we did." jelas Athena.


"Tapi gue lihat kalian pembawaannya santai gitu, kayak gak tertekan" kata Audy.


Athena terkekeh mendengar perkataan Athena.


"Eros nekannya supaya kami semua menguasai materi. Kalau udah khatam yah hantam aja kata Kevin. Gak perlu kaku, ikutin alur aja. Lagian kita diberi waktu 3 bulan untuk menguasai materi juga diri kita di depan publik. Kalau dari The sendiri yah jangan dijadiin beban"


"Bisa-bisanya peraih tim terbaik santai gini cara ngomongnya" Irvandi seolah tidak percaya.


"Yah emang santai, Irvandi" greget Athena. Ia menarik sedikit rambut Irvandi.


"Wahh, The ada perkembangan nih." Bastian bertepuk tangan melihat ekspresi lepas dari temannya yang satu ini.


"Apa sih Bas?" tanya Athena.


"Lo gak cinlok sama teman kelompok Lo The?" tanya Dwi yang sepertinya pertanyaan nya sudah basi.


"Seharusnya Lo nanya gitu saat The baru balik, Dwi" greget Audy.


"jadi The?" tanya Feby.


Athena menggeleng.


"Lo gak ada rasa sama salah satunya?" tanya Fany juga ikut penasaran.


Athena menggeleng.


"Sama semua, sayang mereka semua. Mereka udah jagain The selama disana" jawab Athena.


"Yahh" Dwi dan kaum perempuan kecewa.


"Athena, mereka semua itu most wanted nya Maheswari. Jangan lempeng gitu jadi orang plisss" Dwi terlihat begitu gregetan.


"Apa hubungannya coba?" tanya Athena.


"Lo gak kagum gitu lihat mereka?" tanya Hana yang sejak tadi diam.


Athena menggeleng.


"Biasa aja" jawabnya.


"Udah udah bubar. Athena pagi-pagi bikin lapar" teriak Dwi. Ia benar-benar keluar dari kelas setelah meletakkan pialanya di atas mejanya.


"Dwi kenapa deh?" tanya Athena pada Fany dan Audi yang masih tersisa.


"Dwi kayaknya lagi dapat, The. Gak usah dipikirin" kata Fany yang sebenarnya lebih greget daripada Dwi.


"The, polosnya dikurangi dikit yah" ucap Hana pasrah.


Athena hanya mengangguk. Kemudian menarik tanga Fany dan Hana untuk segera ke kantin.