Athena

Athena
Classroom (2)



"Kakak, tunggu papa dulu yah" ucap Raga lembut.


Anne mengangguk.


Raga duduk di depan pintu kelas Anne, menunggu pembagian raport di kelas anaknya selesai. Ia tentu merasa terpukul atas kejadian ini. Ia belum menjadi papa yang baik untuk anaknya. Sudah genap setahun anaknya sekolah di sini, tapi ia baru mengetahui jika anaknya seringkali mendapatkan perlakuan tidak pantas dari temannya.


Setelah raport teman anak-anaknya sudah dibagikan, Raga memasuki kelas.


"Ada yang bisa saya bantu bapak?" tanya Wali kelas.


"Belum terlambat untuk bapak meminta maaf atas perlakuan anak bapak" lagi-lagi ibu dari Indah berucap.


"Saya baru saja akan mengucapkan hal tersebut ibu Gading Prameswari" kata Raga.


Merasa namanya disebut, ibunya Indah tentu saja terkejut. Ia bahkan baru pertama kali melihat Raga, dan Raga sudah mengetahui marganya.


"Rupanya anda sudah mengetahui siapa saya. Apakah hal tersebut yang membuat bapak kembali lagi memasuki kelas ini?"


"Tentu saja Ibu Gading Prameswari. Selain itu saya juga tentu saja akan membersihkan nama baik anak saya."


"Bapak tidak perlu repot membersihkan nama baik anak bapak. Kebenaran tidak akan berlaku di sini"


"Tentu saja hal itu berlaku untuk mereka semua." kata Raga sambil memandang para orang tua yang ada dalam ruangan.


"Tapi tidak bagi saya. Kebenaran akan berlaku di manapun kaki saya berpijak "


"Jadi?"


"Anak saya adalah anak yang sangat tenang dan damai. Selama hampir 7 tahun saya membesarkan anak saya, baru tadi saya melihat ada tatapan kebencian dalam mata anak saya. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, melihat bagaimana anak anda mengejek anak saya, mendengar kebenarannya dari murid di kelas ini, saya bisa tahu sebabnya."


"Mereka tahu, wali kelasnya pun tahu, tapi tetap tidak berbuat apapun. Seharusnya bapak bisa tahu, langkah yang benar seperti apa?"


"Saya tahu, bu. Maka dari itu saya kembali melangkah masuk ke dalam kelas ini. Silahkan telpon bapak Prameswari dan biarkan saya bicara dengan beliau."


Dengan gerakan yang sangat angkuh, Gading Prameswari menelpon ayahnya, kakek dari Indah.


"Ayah, sesuatu terjadi. Dan orangnya meminta Gading menelpon ayah" ucap Gading kepada Ayahnya.


Sesuai instruksi dari ayahnya, Gading me-loudspeaker panggilannya.


"Dengan bapak Prameswari?" tanya Raga tanpa menyentuh ponsel.


"Iya, saya sendiri. Dengan siapa saya bicara?"


"Dengan papa dari seorang anak yang cucu bapak tindas" jawab Raga.


"Segeralah minta maaf, pak " saran dari beberapa orang yang berdiri di samping Raga.


"Jadi?" tanya Prameswari.


"Saya meminta cucu dan anak anda minta maaf, tapi mereka tidak melakukannya. Wali kelas dan mungkin juga dewan guru mendukung mereka. Apakah ini karena bapak adalah pejabat kota?"


"Anda sudah mengetahui jawabannya, pak." ucap Prameswari dengan penuh kesombongan.


"Baiklah pak. Perkenalkan saya Argantara Perdanakusuma, papa dari Aurora Lysanne Perdanakusuma. Tentu saja bapak lebih mengetahui langkah apa yang seharusnya bapak ambil, tolong juga beritahu kepada anak dan cucu bapak" ucap Raga tenang.


Bisik-bisik kembali terdengar. Siapa yang akan menyangka jika Raga ada ditengah-tengah mereka, terlebih lagi Raga adalah orang tua dari Anne, anak yang kerap kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan.


"Maafkan cucu saya, pak Argantara " ucap Prameswari cepat dari seberang.


"Ayah "


"Segeralah minta maaf, Gading " kata Prameswari sebelum mematikan panggilannya.


"Papa" Anne kembali ke dalam kelas.


Raga menoleh. Ia meminta anaknya mendekat.


"Saya minta maaf, pak" ucap Gading pada akhirnya.


"Minta maaf kepada anak saya."


"Tante mohon maaf, nak" sesal Gading.


"Ibuuu" Indah merengek.


Alih-alih fokus pada Indah dan ibunya, Anne malah berjalan ke salah satu temannya.


Kepala kecil Gina mengangguk.


"Sudah, sayang?" tanya Raga.


"Udah, papa "


"Pembagian raport sudah selesai. Saya minta maaf kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian atas ketidaknyamanan hari ini. Sebagai orang tua, mari menjadi tameng pertama untuk anak-anak kita, mari menjadi teman untuk mereka. Lakukan segala hal baik dan terbaik bagi mereka, mungkin dimulai dari tidak melihat orang dari status sosialnya. Tetap pada kejujuran dan kebenaran. Sekalian saya juga mengucapkan terima kasih kepada wali kelas, karena saya yakin ini adalah hari terakhir saya dan keluarga saya menginjakkan kaki di sekolah ini " ucap Raga sebelum meninggalkan kelas Anne sambil menggandeng tangan anaknya.


✨✨✨


"Maaf, papa" ucap Anne saat mereka berada dalam perjalanan.


Raga mengelus kepala anaknya.


"Maaf karena bikin papa malu"


"Papa nggak malu, sayang. Papa malah senang, anak papa sudah bisa membela dirinya sendiri. Papa yang seharusnya minta maaf karena gak perhatiin kakak" kata Raga.


"Papa, kakak mau ice cream"


"Iya, tapi makan siang dulu yah sayang."


"Okay, papa"


Raga membawa anaknya ke AN RESTO, memesankan makanan kesukaan sang anak, tak lupa juga ice cream.


"Jadi kakak sering diganggu sama temannya yang tadi?" tanya Raga.


"Dia bukan teman aku, pa. Dia jahat, namanya Indah." alih-alih menjawab pertanyaan papanya, Anne malah menyampaikan kekesalannya.


"Iya, iya. Indah sering gangguin kakak?"


"Iya, papa. Indah pernah rampas pensil warna kakak, hamburin isi tas kakak, terus bekal kakak juga dicuri, kata-katain kakak juga" jawab Anne.


"Kok kakak gak pernah ngomong sama papa atau mama?"


"Yah nggak apa-apa, kakak kan udah biasa. Tadi kelepasan aja. Maaf papa, sudah bikin papa dimarahin sama ibunya Indah" Anne tentu saja menyesali perbuatannya.


Raga mengelus kepala anaknya.


"Papa senang bisa lihat kakak udah bisa belain diri kakak sendiri. Tapi lain kali kalau ada yang menggangu kakak, bilang yah sama papa. Papa akan lindungin kakak"


Anne tersenyum, memperlihatkan wajah cantiknya pada sang papa.


"Terima kasih, papa" katanya.


"Papa lihat tadi kakak bergerak sangat cepat. Diajarin sama siapa?"


"Nggak belajar, papa. Kakak pernah lihat aunty Aii belajar" jujur Anne.


Raga menghela napasnya. Ayra kini tidak bisa diragukan lagi soal beladiri. Gadis manis itu diam-diam menghanyutkan.


"Ayo sayang, makan dulu" Raga membantu Anne mengambilkan jenis lauk ke dalam piring anaknya.


Setelah makan nasi, Anne lalu memakan ice cream nya.


"Kak, mau nggak sekolah di tempat yang keren?" rayu Raga.


"Sekolah yang gak ada Indah lagi?"


Raga mengangguk.


"Kakak sekolah di dekat sekolahnya Opa Renal" jawab Raga.


Anne hanya mengangguk pasrah. Setelah ice cream nya habis, barulah ia meminta kepada papanya untuk pulang.


"Nggak ada yang mau dibeli? Papa lihat tadi kakak dapat peringkat pertama, anggap saja hadiah dari papa"


Anne berpikir sebentar.


"Beli miniatur Mickey mouse boleh?"


Raga menepuk jidatnya. Anaknya ini benar-benar pecinta miniatur karton dan robot.