Athena

Athena
2 Tahun Kemudian



2 tahun kemudian.


Athena sedang menatap dirinya di depan cermin. Hari ini akan menjadi hari yang berarti bagi keluarga Arunika setelah setahun sebelumnya diterpa badai yang begitu menyakitkan. Ya, badai yang begitu menyakitkan, Lathief sudah kembali ke pangkuan Tuhan. Dua bulan selanjutnya, lagi-lagi badai datang ke keluarga Arunika, Aina ikut menyusul suaminya ke Syurga. Tidak sampai di situ saja, sebulan setelahnya Raka dan Dina mengalami kecelakaan saat menuju perjalanan ke bandara. Rencananya mereka akan kembali ke negara T setelah 3 bulan berada di kota A. Alda, Mika dan Renal jangan di tanya lagi, mereka tentu merasakan kehilangan yang sangat amat menyakitkan. Kehilangan kedua orang tua adalah hal yang paling berat, apalagi dalam jangka waktu yang tidak lama.


Beruntung nya saat itu Raga dan keluarga kecilnya memang sedang kembali ke kota A untuk liburan. Lathief seolah menunggu kedatangan cucunya sebelum pamit untuk pergi lebih dulu. Jangan ditanya lagi bagaimana keadaan Athena saat itu. Selain Aina, Alda dan Mika, Athena tentu menjadi salah satu orang yang dekat dengan Lathief. Kakek tua itu begitu memanjakan cucu pertamanya saat masih hidup. Nyaris setiap hari Athena akan menangis saat mengingat opa dan omanya. Apalagi beberapa bulan kemudian opa dan omanya dari pihak Renal juga ikut meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya.


Kesedihan perlahan bisa diajak untuk berkompromi. Para lelaki tentu saja melakukan usaha terbaiknya untuk membangun kembali pecahan-pecahan kebahagiaan yang ditinggalkan oleh tetua mereka. Perlahan-lahan senyuman para wanita kembali mereka, tawa lirih mereka bisa terdengar. Hingga satu bulan sebelum hari ini Arvin meminta restu keluarga besarnya untuk mempersunting seorang gadis yang sudah lama ia cintai dalam diamnya. Hal itu tentu saja seolah menjadi magic yang mampu membuat para anggota keluarga lainnya mendapatkan semangat lagi.


Hal tersebut seolah mengajarkan bahwa akan ada yang datang dan pergi, begitu pun sebaliknya.


"Mama" Anne datang dan memeluk tungkai atas mamanya.


Athena menunduk melihat anaknya yang sudah cantik dengan gaun kecilnya yang senada dengan gaun yang ia kenakan, baik dari segi warna maupun model.


"Cantik sekali anak mama. Siapa yang model rambutnya?"


"Ayyy" jawab Anne jujur.


"Udah bilang terima kasih sama Aunty Ay?"


Kepala Anne mengangguk.


"Sudah, mama"


Pintu kamar Athena kembali terbuka, nampak Raga yang sedang menggendong Aidan.


"Waw" ucap Raga saat melihat dua wanita kesayangannya. Keduanya persis pinang dibelah dua.


"Mama dan kakak cantik yah dek?" tanya Raga pada Aidan yang sudah berumur 2 tahun lebih.


"Ntik" ucap Aidan.


"Terima kasih papa, terima kasih adek" kata Athena.


"Aidan kembar sama papa. Tapi Aidan masih kecil" ini tentu bukan pertama kalinya Anne berucap demikian. Sejak ia mengerti jika Raga dan Aidan mirip, ia selalu mengatakannya. Apalagi disaat seperti sekarang, keduanya memakai setelan kemeja yang sama.


"Emang mama dan kakak gak mirip?" tanya Raga. Ia jongkok di depan putrinya setelah menurunkan Aidan dari gendongannya, sebab batita itu berjingkrak minta diturunkan.


"Mirip, bajunya." Anne tentu saja makin bawel, pengucapan kata-katanya juga sudah lebih jelas.


"Mukanya juga perasaan. Sama-sama cantik" kata Raga.


Anne nyengir. Ia dengan cepat mencium pipi papanya.


Athena yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dua orang anaknya sudah tumbuh besar, sudah bisa berjalan dan berlari. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Anne yang semakin bawel, tapi juga pendiam, Aidan yang sudah semakin aktif, selalu ada saja hal baru yang ia kerjakan, seolah menjadi hiburan tersendiri bagi Athena. Apalagi di saat-saat terpuruk nya, anak-anaknya seolah menjadi obat.


"Udah yuk, kita turun sekarang. Para tamu pasti sudah berdatangan" ajak Raga. Ia tentu tak lupa kembali menggendong anak laki-lakinya yang sedang sibuk mencoreti kertas menggunakan lipstik mamanya.


"Tolong yah, itu lipstik MAHAL" kata Athena sambil menatap Raga.


"Siap, nyonya. Dana akan segera masuk ke dalam rekening anda" balas Raga. Ia tentu yang menjadi penanggung jawab untuk semua kerugian istrinya karena keaktifan anak laki-lakinya.


Untung saja Aidan pintar, hanya mencoret di kertas, tidak pada bagian lain seperti bajunya atau bed cover.


"Ayo sayang" Athena menggandeng tangan kecil Anne keluar kamar. Raga ikut berjalan di samping dua wanitanya sambil menggendong Aidan yang diberi mainan ditangannya agar anteng.


"Ayy" Aidan girang sendiri saat melihat Ayra dalam rangkulan Brian, tentu saja ada Tristan di sana.


Ayra melambaikan tangannya, ia berbicara sebentar dengan Brian dan Tristan sebelum mendekati keluarga kecil kakaknya.


"Halo sayang sayang nya Ayy" Ayra lebih dulu mengelus pelan pipi Anne sebelum mengambil Aidan yang sejak tadi menyodorkan lengannya minta di gendong.


"Ehh, nanti baju kamu berantakan, dek" khawatir Athena.


"Nggak kok, kak. Aidan yang anteng yah sayang"


Aidan mengangguk mendengar peringatan Aunty nya.


"Kakak ke mommy dulu, di depan sudah ada mama Vania juga kok" suruh Ayra.


"Kamu nggak apa-apa dititipin mereka?" kini Raga yang khawatir.


Ayra terkekeh.


"Kan udah sering. Kayak gak tahu aja" jawabnya.


"Kakak ke sana gih"


Athena dan Raga lalu melangkah pergi ke meja depan yang terdapat keluarga nya. Di atas pelaminan sudah ada Mika dan Ivana yang duduk di sebelah kanan kedua mempelai, kemudian kedua mempelai yang duduk di tengah, lalu Pak Mr. dan Mrs. Irsan.


Ya, yang menjadi mempelainya adalah Arvin. Ia mempersunting salah seorang temannya di masa kuliah, yang berprofesi sebagai seorang perawat di rumah sakit Arunika yang ada di Kota C. Sebenarnya mereka sempat berpisah dan hilang komunikasi saat Putri lulus dari pendidikan nya. Keduanya bertemu kembali saat Arvin sudah menyelesaikan pendidikan spesialis nya dan mengambil tugas di Arunika's hospital.


Jodoh tentu saja menjadi misteri, sudah ditetapkan oleh sang pencipta dan akan bertemu saat waktunya tiba.


"Cantik banget si putri" sejak tadi Alda menatap wajah mempelai wanita.


"Cantikan mana sama kakak?" Athena tentu saja cemburu.


Alda dan Vania terkekeh mendengar pertanyaan mematikan Athena.


"See? Van, dia sudah sebesar ini dan masih saja cemburu " ledek Alda.


Vania kembali terkekeh geli.


"Yaudah, anak mama yang paling cantik" Vania memeluk sebelah lengan Athena yang duduk diantara dirinya dan Alda.


Sebelah tangan Athena yang bebas, melingkar di lengan mommy nya.


"Mommy dan mama tentu tak kalah cantik" ucapnya.


Di mana Raga berada? Tentu saja di lingkaran kursi lain bersama para lelaki.


"Setelah ini siapa nih?" tanya Raga pada kedua adik iparnya.


"bang Rion lah" jawab Nevan cepat.


"Yah, padahal daddy udah ngebet juga pengen mantu baru" Renal nimbrung.


"Nevan aja deh yah" Baskara ikut menggoda.