
Athena memilih untuk pergi tanpa supir, sehingga Raga lah yang mengendarai mobil. Anne duduk anteng di pangkuan Athena.
"Selama ini kamu berada di kota ini?" tanya Raga memecah keheningan.
"Iya" jawab Athena.
"Kamu pernah kesini sebelumnya?"
"Pernah. Jika saat liburan sekolah, mommy dan daddy pasti ngajak aku dan Nevan untuk business trip, negara ini termasuk salah satunya" cerita Athena.
"Seharusnya daddy tahu keberadaan kamu"
"Nggak. Daddy mungkin punya kuasa di tempat ini,tapi tidak di kota lainnya. Papa mungkin juga sama, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa beliau jangkau"
"Dan kamu sengaja gak datang di tempat yang mereka kuasai" tebak Raga.
"Aku butuh ketenangan saat itu, Ga. Makanya aku pergi ke tempat dimana gak ada seorang pun yang ngenalin aku" jujur Athena.
Raga mengusap kepala istrinya.
"Jangan lagi yah?"
Athena hanya tersenyum, tidak membalas ucapan Raga.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka menikmati betul keindahan dan keasrian ibu kota negara X.
"Ngomong-ngomong kita gak pernah liburan berdua selama ini" ucap Raga.
"Setelah menikah, yah belum. Ehh sekarang udah ada anak" Athena terkekeh.
Raga melihat sekilas anaknya yang sedang asyik menghisap ibu jari tangannya.
"Sekali nya pergi yah sama anak" Raga menyetujui ucapan istrinya.
Hamparan bunga tulip berbagai macam warna terlihat rapi. Bunga-bunga itu seolah ditanam mengikuti garis lurus.
"Anne makan dulu yah sayang" Athena mengeluarkan kentang yang sudah dihancurkan, ia menyuapi Anne yang terlihat senang melihat pemandangan di depannya.
Bayi itu berjingkrak senang, bertepuk tangan dan mengoceh.
"Tamannya cantik yah sayang yah" Raga menemani Anne bercerita.
Sisi dingin Raga akan hilang jika berhadapan dengan Athena dan Anne. Lelaki itu akan bersikap manis dan hangat jika sedang di rumah. Anne memberi warna pada kehidupan Raga yang hanya ada hitam, putih dan abu-abu.
"Kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Raga.
"Aku, daddy, mommy dan Nevan pernah ke sini. Gak banyak yang berubah, hanya pohon yang disebelah sana yang makin lebat" Athena menunjuk sebuah pohon yang cukup lebat.
Raga mengangguk mengerti.
Langit biru perlahan berubah menjadi kuning keemasan, cahayanya memantul pada danau.
"The, ayo kita abadikan momen ini" ajak Raga. Ia berdiri bersama Anne yang ada di gendongan nya. Athena juga ikut berdiri.
Nampak Raga sedang meminta salah satu wisatawan untuk memotret mereka bertiga.
"Langit nya keren" takjub Athena. Cahaya jingga semakin terlihat jelas.
"Waktu aku ke sini dulu itu masih siang, sehingga kami tidak sempat melihat senja di sini. Ternyata pemandangan nya sangat megah. Hamparan bunga tulip berwarna warni, danau yang cantik juga langit yang begitu mendukung"
Raga merangkul pundak istrinya.
"Masih ada waktu seumur hidup untuk kita melihat matahari terbit dan juga matahari terbenam bersama-sama. Aku akan berusaha berumur panjang untuk menemani mu duduk menyaksikan keindahan semesta" ucap Raga.
"Anne juga yah sayang yah"
"ce ce ce ce cece" anak itu mengoceh. Makanannya sudah habis, ia kembali mengisap jari jempolnya.
Langit selalu bisa membawa ketenangan untuk Athena. Perasaan cemasnya hilang begitu saja. Ia akan selalu merasa bahagia melihat keindahan langit.