
"Kemarin habis berapa?" tanya Athena pada teman-temannya.
"Apanya The?" tanya Eros.
"Cuannya" jawab Athena.
"Gak banyak, santai" kata Wildan.
"Lagian dibantu bapak-bapak kok" Kevin ikut bicara.
"Papa kalian gak apa-apa?" tanya Athena lagi.
"Ya nggaklah The. Aman kok mereka semua. Apalagi bokapnya Raga, wuihh royal abis" jawab Darren.
Athena mengangguk mengerti.
"Kalau anaknya royal nggak?" tanya Athena dengan muka polosnya.
"Wahhh, Ga. Lo diraguin Ga" Darren memanasi suasana.
Athena terkekeh mendengar ucapan Darren. Darren sedang berubah menjadi kompor. Menyadari Raga menatapnya, Athena nyengir ke arah Raga.
"Ampun, Ga" ucapnya.
Tawa Kevin, Eros, Wildan dan Darren menggema. Raga hanya terkekeh kecil.
"Mau apa The?" tanya Raga.
"Nanti gue beliin" sambungnya.
Athena menggeleng.
"Aku tuh hanya bercanda Ragaaa" jawab Athena.
"Minta tas anu lah, The"
"Hooh, The. Minta anu"
Darren dan Wildan selalu begitu.
"Atau minta dijadiin istri aja The" Kevin mulai ngawur.
Eros mengetuk kepala Kevin menggunakan pulpen.
"Ngawur aja" katanya.
Athena terkekeh melihat Kevin mengadu kesakitan.
"The kayaknya bahagia banget, dari tadi haha hihi terus" celetuk Wildan.
"B aja kok" kata Athena.
Ponsel Athena berbunyi, ada telpon dari daddy nya.
"Hello Daddy"
"The baik. Daddy, mommy dan adik sehat?"
"Hah? Really? Baiklah. The ada di rumah kok."
"Iya, The tunggu. Thanks, dad"
"Bye, see you"
Athena mematikan telponnya.
"Anak Daddy banget" kata Darren.
"Iya dong. Kan manggil Daddy, bukan abi" ucap Athena.
"Sa ae Lo memunah" Kevin menarik rambut Athena yang ia kuncir.
"Astagaa Viin" Athena menepuk pundak The refleks.
"Yaa lord, sakit The. Astagaa" Kevin mengelus bahunya yang terkena pukulan The.
"Sakit banget Vin?" tanya Eros.
Kevin mengangguk.
"Sakit" katanya sambil meringis.
"Sorry, Vin" ucap Athena pelan. Ia tak sadar menepuk bahu Kevin. Rasanya pasti sakit.
"The kayaknya punya kekuatan super deh" kata Kevin.
"Belajar dimana Lo?"
"Gak belajar. Tadi refleks aja" jawab Athena.
Ponsel Athena kembali berdering, ada panggilan dari id 'Papa' . Athena segera menggeser ikonnya ke warna hijau.
"Halo, pa"
"Iya, lagi duduk sama temen-temen"
"Hah? Jadi gimana?"
"Yang tinggal siapa?"
"Batalin aja gak apa-apa kok"
"Ehh iya tapi kasihan"
"Kalau ditanya mau jawab apa?"
"Telat?"
"Nggak apa-apa, pa. The masih ada waktu beberapa hari. Tapi sebaiknya besok udah tiba supaya The ada waktu istirahat sebelum pulang"
"Terima kasih, papa."
"Love you too papa tampan"
Semua mata memandangnya.
"Apaan?" tanya Athena.
"Tadi Daddy, sekarang papa, besok papi kayaknya" cibir Raga.
Athena melihat ke arah Raga, memandang lelaki itu tajam.
"Kamu kenapa?"
"Ga, ucapan Lo" Eros dengan cepat menyela ucapan Raga.
Athena tertawa.
"Iya, aku jadi piaraan mereka" jawabnya santai. Tapi matanya tidak bisa berbohong, sudah ada genangan air disana.
"Vin, tolong yah kalau ada paket yang datang, bangunin aku" pinta Athena sebelum meninggalkan Gasebo di teras. Ia memasuki kamarnya, menguncinya, memastikan mereka tidak bisa masuk.
Athena menangis dalam diam, mengusap air matanya. Ini belum apa-apa. Baru saja ia akan memberitahu sedikit tentang dirinya kepada teman-temannya, tapi Raga seolah men-judge dirinya lebih dulu.
"Lo nyadar nggak pertanyaan Lo kasar banget?" Wildan menarik kerah baju Raga.
"Lemes banget itu mulut" Darren ikut mencibir Raga.
"Sini Lo lawan gue. " Wildan menarik Raga turun dari Gasebo, membawanya masuk ke rumah. Ia menyempatkan meninju rahang Raga sekali sebelum kembali keluar.
Tidak ada yang melerai. Mereka tentu bukan tandingan Wildan atau pun Raga, mereka berdua adalah pemegang sabuk hitam, keahlian bela dirinya sudah terakui. Darren, Kevin dan Eros juga menguasai ilmu bela diri, tapi tak sekuat mereka berdua.
"Udah selesai?" tanya Kevin saat melihat Wildan sudah kembali duduk di depannya.
"Selesai" jawab Wildan. Wildan meminum air mineral di depannya. Mencoba menstabilkan emosinya.
Raga duduk di sofa ruang tamu, mengusap pipinya yang terasa sakit. Kenapa juga ia harus bertanya seperti itu kepada Athena. Ini Athena, gadis yang ia suka. Ia benar-benar tidak suka jika Athena berbicara semanis itu kepada orang lain. Sambil menikmati sakitnya, Raga mencoba tertidur.
✨✨✨
"Aku baik-baik aja, opa. Jangan khawatir"
"Yes, The janji opa" Athena baru bangun dari tidurnya. Ia terbangun karena ditelpon oleh Lathief. Lathief menanyakan keadaannya.
Tok tok tok
Pintu kamarnya diketuk dari luar. Athena memperbaiki riasan wajahnya, meskipun ia tahu matanya akan tetap terlihat sangat bengkak. Apalagi tadi ia menangis cukup lama hingga tertidur pulas.
"Kenapa Vin?" tanya Athena saat melihat Kevin di depan pintu kamarnya.
"Ada orang yang nyari kamu" jawab Kevin.
Athena mengangguk.
"Bentar yah." Ia mengambil ponselnya kemudian berjalan keluar.
"Nona Athena" sapa seseorang yang pakaiannya sangat rapi. Ia menunduk sejenak kemudian menegakkan kembali badannya.
"Halo, om. Maaf udah buat nunggu" ucap Athena tak enak.
"Tidak masalah, nona" kata om tadi.
"Ini kiriman dari Mr.Xxx," beritahu orang itu dengan nada yang sangat kecil.
Athena mengangguk.
"Tolong yah diangkat masuk ke rumah. Teman-teman saya sedang kelelahan" pinta Athena.
Orang itu mengangguk. Ia lalu meng-kode temannya untuk melakukan pekerjaannya.
"Sini, pak. Saya bantu" tawar Kevin. Eros berdiri di dekatnya.
"Jangan , dik. Nona melarang saya" halau orang itu.
Kevin dan Eros melihat ke arah Athena. Athena tersenyum. Wajahnya sangat lucu, matanya yang bengkak membuat dia terlihat sangat sipit.
Wildan mencubit pipi Athena.
"Lutunaaa" Wildan terlihat sangat gemes.
Athena mengusap pipinya.
"Sakit, Wil" bibirnya mengerucut.
Darren dan Wildan terkekeh. Wildan menepuk kepala Athena pelan.
"The, maafin Raga yah. Mulutnya emang tajam, tapi dia baik kok. Kalau pikirannya lagi kacau, dia kadang lupa nyaring ucapannya" kata Kevin.
Athena mengangguk.
"Iya, tadi kayaknya Raga lagi banyak pikiran" ucap Athena.
"Sayang Athena banyak-banyak" Wildan memeluk Athena.
Athena terkekeh.
"Mau juga" Darren memeluk Athena setelah Wildan melepas pelukannya.
"Gue juga boleh The?" tanya Kevin.
Athena mengangguk.
"Terima kasih yah udah jagain The" ucap Athena.
"Apa sih The? Lo itu yang paling berjasa disini" kata Eros galak.
"Nggak yah. Semuanya sama" Athena ikut keras kepala.
"Udah selesai, om?" tanya Athena.
"Sudah, nona. Kami pamit" kata orang-orang itu.
"Tunggu bentar, pak" Athena menahan orang itu.
Athena berlari masuk ke kamarnya, mengambil titipan Renal.
"Ini, titipan dari Daddy. Katanya om nolak beberapa waktu lalu" Athena menyerahkan uang itu ke tangan om-om itu dengan paksa.
"Nona, ini berlebihan." tolak orang itu.
Athena menggeleng.
"Ini amanah dari Daddy, tolong diterima yah"
"Sungguh nona, ini berlebihan" kata orang itu.
"Ini rejeki buat om dan keluarga om. Buat teman-teman bapak juga tadi yang bantu-bantu."
Om itu membungkuk hormat.
"Terima kasih, nona. Saya dan teman-teman pamit pulang. Mari dik" pamit om tadi sopan.
Athena tersenyum. Melihat mobil box itu pergi meninggalkan tempat.