
"The, yang tadi siapa?" tanya Darren.
"Uncle aku, temannya Daddy" jawab Athena.
"Dia pengusaha? Jaringannya sampai seluas ini" tanya Kevin.
Athena menggeleng.
"Uncle Brian adalah seorang dokter."
"Berarti dia jadi tenaga medis dipertandingkan ini" tebak Wildan.
Athena mengangguk.
"Kalian sudah berapa lama di sini?" tanya Alan.
"Tiba di ibu kota dua hari yang lalu. Kemarin sore kami berangkat ke pulau ini." jawab Eros.
"Saat kembali ke ibu kota, kalian harus mengunjungi rumah gue. Mami gue pasti senang dapat tamu dari kota A" kata Alan.
"Gampang, Lan. Yang penting ada makanan aja" ucap Darren.
"Ngomong-ngomong soal makan, kita belum ada makan siang" kata Kevin.
"Ayo, gue tunjukin tempat makan paling enak disini" ajak Alan.
Alan memimpin jalan sambil bercakap-cakap dengan Wildan dan Darren, sesekali Kevin dan Eros menimpali. Raga sejak tadi hanya diam.
"Kamu kok bawa helm?" tanya Athena.
"Gue minta anu buat tanda tangan di helmnya, ternyata beneran mau." jawab Raga.
"Segitunya, Ga?" tanya Athena.
Raga mengangguk semangat. Tadi ia juga tak lupa minta foto bersama dengan idolanya yang selama ini hanya bisa ia saksikan di layar TV atau dari kejauhan.
"Lo pernah sakit The?" tanya Eros.
Athena nyengir.
"Iya" jawabnya.
"Waktu Lo gak masuk seminggu itu yah?" tebak Kevin.
"Iya, Vin"
"Kok Fany gak tahu? Padahal kan satu kelas" tanya Eros.
"Gak pengen repotin orang sih" jawab Athena dengan wajah tidak enaknya.
"Lain kali bilang kalau ada apa-apa. Kami kayak gak guna aja jadi teman Lo. Padahal Lo selalu sibuk ngurusin kami" omel Kevin.
"Iya, tadi aja udah bantu kami banget buat ketemu idola kami" timpal Wildan.
Mereka semua sedang menunggu pesanannya datang.
"Sorry" ucap Athena.
"Sorry terus, besok diulang lagi" Darren ikut mengomel.
Alan terkekeh kecil melihat interaksi Athena dengan teman-temannya.
"AN resto, ini cabangnya yang di kota A bukan sih?" tanya Kevin yang memang cukup kritis dalam segala hal.
"Iya, ini salah satu cabangnya. Suasananya juga sama kan, tata peletakan furniture nya juga gak jauh beda dari yang di kota A" jawab Alan.
"Keren sih yang punya." kagum Kevin.
"Lo pernah ke AN resto yang di kota A?" tanya Eros.
"Pernah. Liburan kemarin sempat kesana untuk dinner" jawab Alan.
"Liburan kemarin Lo ke kota A?" tanya Raga.
Alan mengangguk.
"Rayain ulang tahunnya ini bocah" jawab Alan.
"Wah, Athena curang nih. Celebrate birthday tapi nggak ngundang kita-kita" Rajuk Wildan.
"Nggak gitu yah. Aku aja nggak tahu Alan dan orang tuanya ke negara A. Apalagi tentang celebrate birthday nya, aku sama sekali nggak tahu, serius" Athena mencoba menjelaskan.
"Iya, Athena gak tahu apa-apa. Yang nyiapin adalah mommy dan Daddy nya." Alan membantu Athena menjelaskan situasinya saat itu.
Pesanan datang. Di depan Athena tentu saja ada coto yang masih panas.
"Coto terus" cibir Darren.
"Biarin" sewot Athena.
Setelah makan siang, mereka berpisah. Athena sudah di telpon oleh mommy nya, memintanya untuk segera beristirahat.
"The, gue mau ke suatu tempat dulu. Lo nggak apa-apa masuk sendiri?" tanya Alan.
"Oke, hati-hati yah" pesan Athena.
Athena selesai dengan bersih-bersihnya. Ia juga sudah berganti baju dengan yang lebih santai. Kamarnya diketuk dari luar.
"Raga?" kaget Athena.
Raga mengangguk.
"Aku telpon Min, minta nomor kamar kamu" katanya.
Athena mengangguk. Ia membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Raga untuk masuk.
Raga memilih duduk di sofa. Athena duduk di samping Raga.
"Kesini kok nggak bilang-bilang?" tanya Raga. Ia memeluk Athena dari belakang.
"Aku nggak tahu kamu kesini juga. Rencananya mau ngunjungin Alan dan keluarganya, ehh tahunya di minta sama om Okan buat ikut nonton balap, jadi deh sampai ke pulau ini" jelas Athena.
"Untung aja tadi ketemu kamu. Kalau nggak aku pasti salah paham sama Alan. Mana di insta story kamu lagi dirangkul Alan pula" omel Raga.
"Alan saudara aku tahu. Kamu gak boleh salah paham" kata Athena.
Raga mengangguk. Ia menumpukan dagunya di kepala Athena.
Athena yang merasa nyaman pun perlahan terlelap, apalagi dinginnya ruangan yang mendukung. Ia tertidur dalam pelukan Raga.
Mendengar napas Athena yang teratur, Raga memindahkan Athena ke tempat tidur. Ia mencium kening Athena sebentar, sebelum meninggalkan gadis itu sendirian. Di depan pintu ternyata ada Min.
"Athena sedang tertidur. Saya pamit, kak" kata Raga.
"Hati-hati, tuan. Run akan mengantar tuan"
"Terima kasih, Min"
Min melihat keadaan Athena, sebelum benar-benar menutup pintu kamar nonanya.
Athena terbangun dari tidurnya saat matahari sudah berwarna jingga. Ia melihat sekitarnya, mencari keberadaan Raga. Ternyata Raga sudah tidak ada. Ia lalu mengambil ponselnya. Ternyata ada pesan dari Raga.
Argantara Perdanakusuma
Aku pamit yah. Have fun
^^^Athena MA^^^
^^^Maaf, aku ketiduran.^^^
Setelah membalas pesan dari Raga, Athena mencuci wajahnya. Ia mengambil buah yang ada di kulkas, membawanya ke balkon kamarnya.
Ada banyak orang yang sedang duduk di atas pasir sambil menikmati indahnya cahaya jingga. Ada yang terlihat duduk sendiri, berdua dengan pasangannya, juga ada yang bersama keluarganya. Athena jadi merindukan mommy dan Daddy nya.
Athena berdiri dari duduknya saat mendengar bell kamarnya bunyi. Nampak Alan yang sudah berganti baju.
Athena kembali ke balkon, Alan tentu saja mengikutinya.
"Raga kayak kulkas berjalan The" ucap Alan.
Athena mengangguk.
"Raga jarang ngomong kalau di depan orang banyak." Athena mengiyakan.
"Tapi bagus sih, itu tandanya dia gak genit sama cewek lain"
"Emangnya kamu yang suka genit, pacarnya banyak pula" sarkas Athena.
"Cabangnya yang banyak, The. Pusat yah tetap satu" kata Alan yang berhasil mendapat tatapan maut dari Athena.
"Canda, The" ringis Alan saat melihat tatapan tajam gadis di depannya.
"Jadi pusatnya yang dimana?" tanya Athena.
"Yang aku temuin barusan" jawab Alan.
"Kalau pusatnya menjanjikan, cabangnya dihilangkan satu-satu" pesan Athena.
"Siap, ibu negara"
Alan mengambil buah apel di depannya.
"Teman-teman Lo asyik"
"Iya. Mereka juga baik."
"Lo belum mau buka indentitas Lo di depan mereka?"
"Pengen sih. Tapi nunggu selesai ujian aja" jawab Athena.
"Darren dan Wildan bawel sih"
"Kamu juga bawel yah"
"Eros dan Kevin hampir sama pembawaannya."
"Mereka mantan ketos dan waketos di sekolah. Jadi pembawaannya yah tenang gitu, kayak pemimpin deh"
Matahari perlahan menghilang. Digantikan dengan kehadiran bulan yang menghiasi langit, juga taburan bintang yang terlihat sangat cantik. Athena tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di pulau ini bersama Alan juga teman-temannya. Niatnya pure hanya untuk liburan di ibu kota negara G, bertemu Okan dan keluarganya, mendatangi apartemen papinya lalu kembali ke kota A.