Athena

Athena
Tragedi (2)



Aina yang mendengar penjelasan itu seketika merasa begitu lemas, ia sampai jatuh terduduk. Lathief dengan cepat menenangkan istrinya. Ia menatap mata istrinya, mereka seolah berbicara lewat mata. Aina dengan cepat mengusap air matanya, kemudian memeluk Ayra yang duduk sambil memeluk lututnya dan menangis tersedu-sedu.


Lathief juga ikut mengelus bahu cucunya. Ayra meskipun hanya anak kecil, tapi kepekaan serta kecerdasan nya tidak diragukan lagi.


"Sudah ada yang menghubungi Ram?" tanya Lathief.


"Sudah, tuan."


"Tapi The gak tahu kan?"


"Tidak, tuan. Min kini dalam perjalanan menjemput nona" jawab Ram.


"Kerja bagus" kata Lathief.


Pandangan Lathief kini jatuh kepada dua orang di depannya. Ayra yang sudah lebih tenang, air matanya sudah mengering. Aina juga sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Kita ke ruang tunggu" Lathief membantu Aina berdiri, kemudian menggendong Ayra.


Mereka bertiga kembali duduk di sofa. Tidak lama kemudian, Brian, Brandon dan Tristan datang. Tidak ada lagi ketenangan dalam ekspresi Brian dan Brandon, mereka berdua terlihat begitu panik. Tristan duduk di samping Ayra, ia memeluk adik kecilnya itu.


"Papa minta maaf" ucap Lathief pada kedua anak Abraham.


"Gak ada yang perlu dimaafkan, pa. Ini adalah musibah, sudah ditakdirkan Tuhan" kata Brandon. Ia mengerti, Lathief juga sama terlukanya dengan dirinya dan Brian, mungkin bahkan lebih terluka.


"Orang-orang papa juga sudah berusaha untuk melindungi ayah dan Jake." ucap Brian.


Mereka semua sama sedihnya.


Hingga gelap menyapa, tidak ada yang beranjak dari tempatnya. Mereka masih menunggu keajaiban.


BRUK


Ayra pingsan dan terjatuh ke lantai. Aina yang duduk di sisinya sampai lupa memperhatikan cucunya, sementara Tristan tadi berpindah ke samping Brian.


Lathief dengan cepat menggendong cucunya masuk ke sebuah ruang perawatan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Ia segera membaringkan tubuh cucunya. Seorang dokter dan perawat memeriksa keadaan Athena.


"Nona sepertinya belum makan, ia juga mengalami tekanan yang berlebihan" ucap dokter itu.


"Tadi pagi kami sarapan, tapi adik hanya makan sebuah apel dan ikut kakek bermain golf" kata Tristan.


Dokter tersebut mengerti. Ia kemudian memasangkan infus di tangan kiri Ayra.


Ayra merintih pelan saat merasakan sakit di tangannya. Ia perlahan membuka matanya, melihat sekitarnya dan ditangannya sudah terpasang infus.Ia segera bangun saat mengingat ayahnya sedang sakit.


"Nona minum dulu" dokter tersebut membantu Ayra untuk minum.


Ayra menggeleng. Menolak untuk minum.


"Sedikit saja, sayang" bujuk Aina.


Ayra kemudian membuka mulutnya dan mulai minum. Setelah satu tegukan lolos masuk ke dalam tenggorokannya, ia kembali menjauhkan kepalanya.


Aina mengatur bednya agar bagian kepala lebih tinggi, supaya Ayra bisa bersandar.


Tristan memegang tangan adiknya, jari-jarinya masih begitu kecil. Tristan hanya bisa memberikan semangat kepada adiknya lewat genggaman tangan mereka.


"Aku keluar dulu" pamit Lathief.


Aina mengangguk.


Lathief belum terlalu lama duduk, suara langkah kaki terburu-buru membuatnya menoleh. Athena sudah tiba. Pintu ruang tindakan juga terbuka, seorang dokter keluar dan memberitahukan jika Jake butuh beberapa kantong darah.


Pukul 4 dini hari, keluarga Arunika kehilangan Abraham dan Jake. Dua lelaki itu berperan besar dalam perjalanan karir Arunika Group hingga bisa sekuat sekarang.


Brian dan Brandon menangis tersedu-sedu, merasa begitu kesakitan saat mendengar ucapan dokter. Tadi mereka diberi kesempatan untuk melihat ayah dan saudara mereka dalam ruang perawatan.


Lathief dengan cepat mengurus keberangkatan mereka ke kota A. Abraham dan Jake akan dimakamkan ditempat yang sama dengan Ares.


Dina bertugas mendorong kursi roda Athena, sementara Raga menggendong Ayra dan juga mengurus Tristan.


Ayra masih tertidur, tadi jarum infus nya dilepas dengan sangat hati-hati, agar anak itu tidak terbangun.


Mereka semua dalam perjalanan ke kota A, bersama dua mayat. Dua pesawat pribadi milik Arunika berangkat bersamaan, satu khusus untuk keluarga Arunika dan orang kepercayaannya, satu lainnya untuk mengawal bayangan.


Di kompleks Arunika, Renal dan Mika juga menyiapkan segalanya. Rencananya mereka akan terbang ke kota C pagi nanti, tapi ternyata orang-orang yang ada di kota C yang datang lebih dulu.


Brandon tak lupa menghubungi orang-orang penting yang ada di RelFath. Mereka semua akan tiba saat pagi nanti. Kehilangan dua orang penting secara bersamaan sungguh menjadi pukulan terberat bagi mereka semua. Apalagi ini adalah seorang Abraham dan Jake yang mengukir banyak kenangan di pulau RelFath.


Akses jalan sangat lancar, tanpa hambatan sedikit pun, hingga mereka sampai di rumah 05. Tidak banyak orang yang datang, hanya ada orang tua Raga dan sahabat desa kenangan, juga para tokoh masyarakat RelFath.


Ayra perlahan membuka matanya, ia kembali memperhatikan sekitarnya.


"Minum dulu sayang " ucap Ivana.


Ayra minum dengan bantuan Ivana.


"Ayah sudah sadar?" tanya nya.


"Ayo, kita sama-sama lihat ayahnya Ayra" Ivana memapah anak kecil itu.


Merasa ada yang berbeda, ia kembali menangis. Berusaha melangkah mendekati ayahnya yang sudah tertutupi kain panjang.


"Ayah" ucap anak kecil. Aina membuka penutup kain yang ada di bagian kepala, agar Ayra bisa melihat jasad ayahnya.


"Ayah" Ayra mengelus pipi ayahnya. Perban yang terpasang sudah di lepas, wajah ayahnya terlihat begitu bersih dan berseri. Ayahnya juga tersenyum, seolah ia sangat bahagia.


"Ayo, cium ayah sayang" kata Aina.


Ayra mencium kedua pipi ayahnya, kemudian mencium kening ayahnya cukup lama.


"Kalau ayah ketemu papa, mama dan kakak, tolong sampaikan salam Ayra" ucapnya.


Anak kecil itu kembali merasakan kehilangan. Hal yang sama ia lakukan kepada Abraham.


"Kakek, jagain ayahnya Ayra yah" ucapnya lirih.


Alda membawa Ayra masuk ke dalam pelukannya. Memeluk anak itu sangat erat, seolah memberi tahu jika Ayra tidak sendirian.


"Pemakaman nya sudah siap, pa" beritahu Renal.


Lathief mengangguk. Ia mendekati jenazah Abraham dan Lathief, mencoba merekam wajah tampan keduanya dalam ingatannya sambil memanjatkan doa untuk dua orang yang sangat berjasa besar bagi dirinya dan keluarganya. Setelah di rasa cukup, barulah ia mempersilakan pengurus jenazah yang juga merupakan salah satu tokoh masyarakat di RelFath untuk mengkafani keduanya sesuai dengan petunjuk dalam keyakinan.


Jalanan menuju tempat pemakaman di kosongkan, tidak ada satupun kendaraan lain yang lewat, selain kendaraan para pengantar jenazah. Ada ratusan orang-orang Arunika yang mengantar Abraham dan Jake hingga tempat terakhirnya. Kedua orang tersebut dikenal karena kedisiplinan, kebijaksanaan juga karena ketenangan mereka yang berbahaya.


Lathief sendiri turun tangan menimbun tahan kuburan adiknya. Ini adalah bakti terakhir yang bisa ia lakukan untuk adiknya, Abraham.


Sementara di kediaman 05, Alda sedang mencoba menghibur kedua putrinya.


"Tugas ayah dan kakek kalian sudah selesai di dunia, makanya Tuhan memanggilnya lebih cepat. Kita semua hanya perlu mengirimkan doa untuk ayah dan kakek, juga berbuat baik seperti yang mereka harapkan" Alda mengelus kepala Athena yang bersandar di pundaknya. Sementara Ayra berada di pangkuannya, dan memeluk tubuh Alda erat.