
Setelah istirahat semalaman, pagi ini Athena merasa lebih baik. Kepalanya tidak lagi sepusing semalam, tapi badannya terasa panas dingin. Meskipun begitu, ia tetap memasak bubur ayam untuk sarapannya dan Bagas. Ini weekend, tentu saja Bagas memuaskan dirinya untuk bangun agak siang. Hari ini Athena berencana untuk membawa Ayra, Tristan dan Raga piknik di lapangan hijau yang berada di batas kota. Tempatnya cukup sejuk, dan berada di atas ketinggian.
"Morning sister" sapa Bagas. Ia mencium pipi kakaknya.
"Kakak sakit yah?" tanya Bagas, padahal Athena belum membalas sapaannya.
"Nggak kok. Biasanya badan kakak memang terasa panas gitu" jawab Athena.
Bagas mengangguk mengerti. Ia lalu memakan bubur ayamnya.
"Kakak mau temanin adik-adik liburan dulu, kamu mau ikut nggak?" tawar Athena.
"I'm sorry kak. Aku pengen banget ikut, tapi semalam aku mengiyakan ajakan teman untuk nonton balap" ucap Bagas tak enak.
"Okay deh. Have fun" kata Athena. Ia lalu ikut menyantap buburnya.
Setelah sarapan, Athena mengirimkan oesan yang kepada Brian, meminta adik-adiknya untuk bersiap-siap. Sementara dirinya juga menyiapkan beberapa makanan ringan untuk menemani mereka hari ini. Setelah siap, barulah ia bersiap-siap dan menuju carport untuk menyiapkan mobil.
Tidak butuh waktu lama, ia sampai di kediaman Brian. Ayra, Tristan dan Regan sudah siap.
"Regan udah izin kan yah sama orang tuanya?" tanya Athena.
"Sudah, kak" jawab Regan.
"Oke deh. Kakak pamit ke ayah dulu yah, kalian naik ke mobil duluan" kata Athena. Ia mencari keberadaan Brian untuk pamit membawa adik-adiknya.
"The, hati-hati yah nyetirnya. Adiknya juga diperhatikan" Brian mengingatkan.
"Iya, unclee" Athena mencium punggung tangan Brian. Ia lalu naik ke mobilnya.
Ayra duduk di kursi penumpang bagian depan, di sebelah kakaknya. Sementara Tristan dan Regan. duduk di belakang mereka.
"Udah siap semuanya?" tanya Athena.
"Siaaaap" seru Ayra, Tristan dan juga Regan.
Mereka menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di tempat ini. Tempatnya benar-benar terlihat hijau, dan udaranya juga cukup sejuk disaat menjelang siang seperti ini.
Athena menggelar tikar di bawah sebuah pohon yang daunnya sangat rindang. Ia juga mengeluarkan beberapa jenis makanan yang ia bawa dari rumah.
"Kita piknik yah kak?" tanya Tristan.
"Iya. Maafin kakak yah, bisanya cuman kesini. Tapi kalau kalian mau main, bisa kok. Disini ada trampolin, ayunan, dan lain-lain. Asalkan hati-hati yah"
"Ayra mau makan dulu kak" ucap Ayra.
Ia mengambil mie goreng dan juga ayam goreng, lalu melahapnya.
"Tristan, Regan, kalian juga makan gih. Kita makan sama-sama." kata Athena.
Melihat tiga orang anak-anak di depannya membuat perasaan Athena menghangat. Ia juga rasanya ingin segera hamil dan menjadi ibu, tapi ia belum diberi kepercayaan oleh Tuhan. Ia harus lebih bersabar lagi. Apalagi sekarang ada ombak besar yang sedang menerpa rumah tangganya.
"Kak, mau mainn" rengek Ayra.
"Tapi jangan langsung ke trampolin yah, kalian baru habis makan"
"Iya, kakak" kompak ketiganya.
"Main gih, kakak tunggu disini aja"
Mereka bertiga mulai mengeksplorasi berbagai jenis wahana yang ada di sana. Menjelang siang, orang-orang mulai berdatangan, para penjual juga mulai beraksi memamerkan barang dagangannya.
"Kak The, Ayra mau melukis" katanya.
"Emang ada yang sewain alat lukis?" tanya Athena.
"Ada kak. Bayar pake uang biru, terus lukisannya bisa dibawa pulang" jawab Regan.
Athena mengeluarkan 3 lembar uang biru dari dompetnya, dan memberikannya pada ketiga krucil.
"Terima kasih kak" Mereka pergi setelah mendapatkan uang dari Athena.
Athena makan puding yang ia bawa sambil menunggu adik-adiknya selesai. Ia juga tak lupa untuk mengecek pekerjaannya lewat tab yang ia bawa. Ia benar-benar menyibukkan dirinya agar pikirannya tetap waras.
"Terima kasih yah udah nemenin kakak piknik." ucap Athena.
"Kami yang seharusnya bilang makasih kak. Terima kasih udah ajak kami main" ucap Regan.
Athena tersenyum.
"Ayra, gak pamit dulu? Besok kan kita udah pulang" tanyanya pada Ayra.
Ayra terkekeh. Ia berbalik melihat Tristan dan Regan yang masih duduk dibelakang nya.
"Ayra pamit yah. Terima kasih udah nemanin Ayra selama disini." ucap Ayra.
Tristan mencium pipi adiknya, sementara Regan hanya bisa mengacak pelan rambut Ayra.
"Mau foto dulu nggak?" tanya Athena.
"Mauu" jawab ketiganya.
Tristan dan Regan mendekat kan diri mereka dengan Ayra, Athena lalu memotret mereka bertiga.
"Kalian istirahat gih." ucap Athena.
Tristan mencium punggung tangan Athena, Regan juga melakukan hal yang sama.
"Regan, lukisan aku buat kamu aja. Kasihan kak The kalau mesti dibawa pulang ke kota A" Ayra memberikan lukisannya kepada Regan lewat jendela mobil.
"Thanks" ucap Regan.
Setelah berpamitan dengan mereka berdua, Athena kembali menginjak pedal gas mobilnya. Ia harus segera sampai di rumah, sebab kepalanya makin terasa pusing.
"Ayra mandi dulu yah sayang. Kakak sepertinya butuh istirahat" Athena mengelus kepala adiknya.
"Iya, kak" Ayra berlalu ke kamarnya untuk mandi. Hari sudah hampir gelap.
✨✨✨
Athena dan Ayra sedang dalam perjalanan pulang ke kota A. Tadi Bagas yang mengantar mereka ke bandara. Dan di d'luna airport, sudah ada Min yang menunggu.
Ayra turun di depan rumah 03 setelah mencium pipi kakaknya, dan mobil kembali jalan hingga sampai di kediaman Athena.
Athena memasuki rumahnya dengan perasaan campur aduk, jantungnya juga berdetak dengan sangat cepat. Ia berjalan cepat menuju kamarnya, dan segera merebahkan dirinya di tempat tidurnya.
Saat merasa kepalanya kian pusing, Athena menelpon Raga beberapa kali, tapi lelaki itu tidak menjawabnya. Akhirnya Athena menelpon omanya, karena rumah omanya yang paling dekat.
"Sayang, are you okay?" tanya Lathief, disampingnya ada Aina yang sudah berderai air mata .
"I'm not okay, opa" jawab Athena lirih.
Lathief membuka pintu balkon kamar Athena dan meminta Min untuk menyiapkan mobil.
Dengan tubuhnya yang tidak sekuat dulu, ia menggendong cucunya. Badan cucunya terasa begitu panas.
Aina tentu tak lupa menelpon Alda dan Ivana, memberitahukan jika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Athena tentu mendapatkan perawatan lebih cepat dan lebih baik saat sampai di rumah sakit, kini ia sedang terlelap tidur.
"Besan kamu udah tahu?" tanya Lathief pada Renal.
"Sudah, pa. Tadi Alda yang menelpon Vania" jawab Renal.
"Raga kemana ini?" tanya Mika.
"Kemarin sore kata Nevan mereka bertemu di bandara, mungkin Raga keluar kota untuk suatu pekerjaan" jawab Renal.
Mika mengangguk mengerti.
Alda sejak tadi menggenggam tangan anaknya.
"The jarang sakit, sekalinya sakit bikin kaget" kata Aina.
"Iya, ma. Flu aja jarang dia" Ivana mengiyakan.