
Tok tok tok
Pintu kamar Athena di ketuk dari luar. Athena segera bangun dari rebahannya untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya.
"Kenapa, Vin?" tanyanya lembut.
"Siap-siap gih, kita ke taman hiburan." jawab Kevin.
"Sama yang lain?"
"Ya iyalah, The"
Athena nyengir. Ia lalu menutup pintu kamarnya kembali. Ia segera bersiap-siap, tidak ingin membuat temannya menunggu. Cukup semalam ia membuat teman-temannya merasa khawatir.
Ia menggunakan celana jeans yang menutupi hingga betisnya, dipadukan dengan baju kaos. Rambutnya ia kuncir. Ia tentu tak lupa membawa ponsel dan dompetnya.
"Let's go!" teriak Wildan dan Darren.
Mereka pergi menggunakan jasa taksi.
"Tunggu, aku mau narik dulu" kata Athena.
"Lo semua antri deh, biar gue yang tunggu dia" suruh Renal.
Eros, Kevin, Wildan dan Darren mengangguk mengerti.
"Ehh, yang lain mana?" tanya Athena saat selesai dengan urusannya.
"Gue suruh ngantri" jawab Raga.
Athena mengangguk.
Raga menarik pergelangan tangan Athena.
"Ayo" kata Raga.
Athena hanya mengikuti kemana Raga membawanya.
"Ciyee, gandengan tangan" Wildan mulai menggoda.
"Sini Wil, gue gandeng tangan Lo " Darren mencengkram pergelangan tangan Wildan.
"Lo nggak gandeng gue yah. Lo mencengkram, man" Kata Wildan setelah berhasil melepaskan tangan Darren dari pergelangan tangannya.
"Udah baikan nih?" goda Eros.
"Semalam aja marah-marahin anak orang. Mata Athena sampai bengkak gitu. Nangis Lo The?" tanya Kevin.
"Nangis, sedikit" jawab Athena pelan.
"Nggak mau lepasin tangan Raga, The?" tanya Darren.
"Nggak ada lepas. Ni anak suka ngilang. Gak baca pesan pula" galak Raga.
"Sa ae Lo bapak" cibir Kevin.
Raga hanya mengangkat bahunya acuh.
Saat Athena akan mengeluarkan uang untuk bayar tiket, Raga melarangnya.
"Udah dibayar Eros" katanya.
Athena mengangguk.
"Kemana dulu nih?" tanya Wildan.
"Naik kereta dulu lah. Keliling kebun binatang" Darren dengan semangat menjawab.
Keretanya hanya muat 10 orang. Tempat duduknya masing-masing dua orang disetiap barisnya.
Wildan dan Darren duduk di barisan ke tiga, Eros dan Kevin di barisan ke empat dan dibarisan paling belakang ada Athena dan Raga.
"Gak mau lepasin tangan aku?" tanya Athena pelan.
Raga menggeleng.
"Nggak mau" Ia malah menyelipkan jari-jari tangannya yang besar di sela jari-jari tangan Athena yang kecil.
"Pas gini" ucap Raga.
Athena hanya mengangguk pasrah. Lagian Raga ini temannya kok, dia sudah berbaik hati menjaganya sejauh ini.
Kereta mulai berjalan menyusuri kebun bintang.
"Ga, sodara Lo noh" tunjuk Darren pada seekor singa yang sedang duduk.
"Hooh, galaknya sama" kata Kevin.
"Kalau yang kecil terus punya telinga panjang di depan kayak Lo, Ren" Raga ikut menunjuk kelinci.
"Lucu tahuu" kata Darren.
"Tapi penakut" skak Eros.
Mereka semua terkekeh mendengar perkataan mematikan Eros.
"Kalau hewan pemakan pisang, itu satu spesies dengan Wildan." kata Kevin.
"Berarti kita sodaraan dong, Vin" kata Wildan.
"Ya iyalah, sepupuan juga sama Eros"
"Apaan nih bawa bawa nama gue?" tanya Eros.
"Santailah bapak ketua" kata Kevin.
"Aku nggak nge-gass yah" ucap Eros.
"Temannya The yang mana, Wil?" tanya Darren.
"Temannya The nggak ada disini." jawab Wildan.
"Lah, terus dimana?" tanya Kevin.
"Di kayangan. The kan bukan sejenis kita. Dia itu bidadari" Wildan mulai menjawab ngawur.
"Kayak lagunya si anuu" kata Kevin.
"Hooh Vin" seru Darren.
"Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku" nyanyi Kevin.
"EAAAAAK" teriak Eros, Wildan dan Darren.
"Ada-ada aja kalian" ucap The tapi tetap terkekeh.
"Husst, jangan ribut. Singa kita sedang tidur" kata Kevin pelan tapi tetap terdengar.
Athena melihat ke pria yang duduk disebelahnya. Raga menutup matanya, tapi badannya masih tetap duduk tegap.
"Beneran tidur The?" tanya Darren yang menghadap ke belakang.
Kevin, Wildan dan Darren menepuk jidatnya setelah mendengar jawaban polos Athena. Sementara Eros sudah tertawa keras. Raga yang memang tidak tidur sempat tersenyum sebentar. Mana ada orang tidur lehernya tegak begitu.
Setelah puas berkeliling kebun binatang, mereka lalu menaiki wahana pontang-pontang. Wahana ini cukup ekstrim. Sesekali Athena akan berteriak saat ia mengira akan saling bertabrakan dengan temannya.
"Mau kemana lagi The?" tanya Wildan.
Athena melihat jam tangannya. Ia melihat wahana kincir raksasa di depannya.
"Mau naik itu" jawab Athena sambil menunjuk wahana kincir.
"Hayuuuk" Mereka semua menaiki keranjang yang akan membawa mereka berputar. Masing-masing dua orang disetiap keranjangnya.
Athena tentu saja bersama dengan Raga. Hari ini Raga cukup aneh, ia bahkan tidak mau melepaskan tangan Athena, kecuali dalam keadaan genting. Misalnya saat Athena membalas pesan dari daddy nya atau mommy nya.
Athena dan Raga duduk saling berhadapan. Kincir mulai berputar, membawa mereka pada ketinggian terlebih dahulu lalu menurunkan mereka kembali.
"Kenapa Lo pilih naik wahana ini?" tanya Raga.
"Supaya bisa liat senja di ketinggian." jawab Athena.
Raga memperhatikan sekitarnya. Mereka sudah cukup jauh ke atas, tapi belum berada di puncak. Athena benar, warna jingga yang menghiasi langit bisa mereka lihat dari atas sini.
Athena terlihat menikmati pemandangan yang disediakan oleh semesta. Belum tentu ia akan merasakan hal seperti ini lagi dikemudian hari.
Raga merekam setiap ekspresi yang Athena perlihatkan. Apalagi saat pantulan cahaya jingga berada di wajah Athena. Wajah gadis itu terlihat sangat berseri. Raga bahkan tidak memandang langit sore lagi, ia lebih memilih memandang wajah Athena.
"Keren gila sih view di atas" kagum Wildan.
"Baru pertama kali Lo?" tanya Kevin.
"Kalau naik wahananya yah sering. Tapi naik pas senja baru kali ini" jawab Wildan.
"Pantes The pakai lihat jam segala" kata Darren.
Athena nyengir lucu.
"Keluar yok. Gue lapar" ajak Eros.
Mereka semua meninggalkan taman hiburan.
"Mau makan dimana?" tanya Kevin.
"Hayuk, makan di restoran bintang-bintang. Sesekali" jawab Darren cepat.
"Kan mesti reservasi jauh-jauh hari kalau pengen dinner di restoran bintang-bintang" Eros mengingatkan.
Sebuah nada dering terdengar. Athena mengambil ponselnya. Ternyata dari Daddy.
Ia mundur 5 langkah dari keberadaan teman-temannya.
"Halo, dad" sapa Athena.
"Ini baru cari restoran. Tapi teman The pengen makan di restoran bintang-bintang, padahal belum reservasi dari jauh hari"
"Hah? Really dad?"
"Thank you so much, Daddy."
"Bye"
Athena berjalan ke arah teman-temannya dengan raut wajah yang terlihat begitu senang.
"Senang banget The" kata Wildan.
"Daddy aku baru nelpon. Terus bertanya sudah makan apa belum, aku jawab belum. Baru cari restoran bintang-bintang, tapi gak yakin dapat karena waktunya kepepet. Daddy nawarin ke hotel temannya. Di hotel temannya ada rooftoop yang disulap jadi restoran bintang-bintang" jelas Athena.
"Nggak ngerepotin?" tanya Darren tak enak hati.
Athena menggeleng.
"Ayo" ajaknya.
"Hotelnya dimana The?" tanya Eros.
"ATH Hotel" jawab Athena
"Yaudah, ayoo" seru Wildan.
"Naik becak aja yok. Gak jauh dari sini, sekitar 1 kilometer kata Daddy aku" kata Athena.
"Wahh, ide bagus itu." Eros dengan semangat memanggil tukang becak yang kebetulan ada 3 yang berjejer.
"Lo nggak minat ganti pasangan The? Seharian lho sama Raga terus." tanya Darren.
Saat Athena akan menjawab, tangannya sudah ditarik oleh Raga.
Saat mereka sudah sampai di lobi hotel, seorang perempuan menunggu kedatangan mereka.
"Dengan nona Athena?" tanya perempuan tersebut.
"Iya, mbak" jawab Athena sopan.
"Silahkan ikut saya" kata mbak itu.
Mereka menaiki lift khusus. Bukan lift pengunjung ataupun pegawai.
Perempuan tadi memencet angka 27. Lift berhenti, tanda mereka sudah sampai di lantai tujuan.
Perempuan tadi membuka sebuah pintu. Benar ada restoran di atas sini. Mereka tak perlu takut kepanasan atau kehujanan, karena atapnya sudah di desain otomatis.
Ada banyak orang yang terlihat sedang menikmati makanannya, juga ada beberapa lainnya yang terlihat pamer dengan apa yang mereka gunakan. Restoran ini bahkan ada VVIP nya.
"Nona mau di luar atau di VVIP?" Tanya perempuan tadi.
Athena melihat teman-temannya. Seolah bertanya lewat tatapan. Mengerti semua temannya ingin menikmati angin malam, Athena melihat sekitar.
"Boleh aku dan teman-temanku duduk di sudut sana?" tanya Athena.
"Tentu saja, nona" jawab perempuan itu sopan.
Perempuan itu terlihat menggerakkan kepalanya kebarisan lelaki yang berdiri dekat pintu. Tiga orang lelaki tersebut dengan cepat menambah 2 kursi di tempat yang Athena tunjuk.
"Silahkan, nona" ucap perempuan itu sopan. Ia mengantar Athena dan kelima temannya hingga sampai di tempat yang Athena inginkan.
"Terima kasih, mbak. Maaf merepotkan" ucap Athena.
"Dengan senang hati, nona" pelayan itu hendak pergi, tapi Athena tahan.
"Tunggu, mbak." Athena berdiri membelakangi teman-temannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas mininya.
"Ini untuk, mbak." katanya.
"Maaf, nona. Saya tidak bisa menerima ini" tolak perempuan itu.
"Tapi aku sudah membuat mbak repot." kata Athena.
"Dengan senang hati nona saya menerima perintah anda. Saya pamit, nona" perempuan itu membungkuk sejenak sebelum meninggalkan meja 07.