
"Wah, udah pada datang ternyata" sapa Alda ramah.
Ayra memeluk pinggang mommy nya erat, menggesekkan kepalanya manja di perut sang mommy.
"Selamat malam, Tante" sapa Eros
"Jangan gugup gitu mukanya." Alda terkekeh melihat ekspresi teman-teman anaknya.
"Maaf yah, om pulangnya telat" Terlihat Renal berjalan menuju ke taman belakang,
"Tidak masalah, pak" kata Kevin kaku.
"Santai saja, jangan terlalu kaku begitu" Renal terkekeh mendengar perkataan Kevin yang jauh dari kata santai.
"Ayo semuanya, kita makan malam dulu" ajak Alda.
Mereka semua berjalan menuju ruang makan.
"Ayo makan, jangan sungkan. Kalian katanya suka sup yah, ini mbak Ani udah buatin kok, ada sambel juga" kata Alda.
"Terima kasih, Tante" ucap Eros.
Wildan dan Darren belum banyak bicara sejauh ini. Mereka berempat masih begitu canggung makan bersama dengan pemilik sekolah kelagus keluarga pendiri universitas Arunika.
"Mom, kak Nevan kemana?" tanya Ayra.
"Kakaknya lagi di rumah papa, sayang" jawab Alda.
Makan malam berlangsung cukup lama bagi, Wildan, Darren, Kevin dan Eros.
Athena membantu mommy nya membersihkan meja makan. Ia sekalian menyiapkan minuman untuk Daddy, mommy, Ayra dan juga teman-temannya.
Sementara Renal membawa kelima anak muda itu ke atap rumahnya yang di desain sedemikian rupa.
"Kalian teman kelompoknya The waktu praktek di desa itu yah?" Renal mencoba basa basi dengan para pemuda di depannya, berharap keadaan bisa mencair.
"Iya, om" jawab kelimanya.
"Terima kasih yah, sudah jagain anak om dengan baik" ucap Renal tulus.
"Kami yang seharusnya berterima kasih, om. Athena sudah mau merawat kami selama di sana." kata Kevin.
"Athena memang suka yang ribet, anak om berbeda dari yang lain."
"She is limited edition, om" kata Eros.
"Limited edition and she is Arunika's member." sambung Renal.
"Om mengenal Athena saat anak itu masih kecil, baru bisa jalan. Sepertinya umurnya belum setahun. Saat itu, papinya sedang berobat di negara G, om kebetulan melanjutkan sekolah dan kuliah di sana sekaligus melanjutkan usaha papanya om. Suatu hari, om bertemu mereka di rumah sakit tempat papinya Athena berobat, kami saling bertukar cerita, hingga bang Rafa mengamanahkan Athena kepada om. Disaat yang sama, bang Rafa juga menyiapkan berkas atas hak asuh Athena kepada mommy nya, istri om. Tahun selanjutnya, barulah om dan mommy nya Athena bersatu, membesarkan Athena bersama-sama." cerita Renal.
"Om membesarkan Athena dengan penuh kasih sayang, bahkan lebih dari hidup om sendiri. Semakin hari, Athena semakin besar, pendiriannya juga kian kuat. Ia memilih untuk tidak menulis lengkap namanya, hanya Athena MA. Alasannya cukup kuat, ia merasa belum memiliki apa-apa untuk diakui orang lain bahwa ia adalah seorang Arunika. Kami mengerti. Sepuluh tahun yang lalu, om berusaha keras untuk mengubah sistem sekolah. Awalnya masih menggunakan kertas dan pulpen, harus berubah menjadi sistem serba teknologi, itu karena Athena tidak pernah mau sekolah di Maheswari sejak kecil. Ia tidak ingin mendapatkan perilaku yang istimewa dari orang-orang. Sistem berubah sejak lama, bersih, aman dan terjaga, tanpa kebohongan. Athena akhirnya bersedia masuk Maheswari. Om menceritakan ini karena om tidak ingin melihat kalian menilai Athena karena ia adalah Mahendra, Maheswari juga Arunika. Sepanjang hidupnya yang om tahu, ia berusaha berdiri di kakinya sendiri. Nilai sempurna yang selalu ia dapatkan, pure dari hasil usahanya, bukan karena campur tangan siapapun, itu adalah alasan terkuat om mengubah semuanya ke sistem online juga agar ia terhindar dari masalah di kemudian hari." Renal bercerita panjang lebar.
"Tanpa om menceritakan hal tadi, tentu kami percaya akan kualitas diri Athena. Tapi terima kasih karena om sudah mau bercerita tentang Athena, yang semuanya benar-benar terjaga" kata Kevin.
"Seru banget kayaknya" suara lembut perempuan terdengar. Alda datang bersama Athena dan Ayra.
"Terima kasih, Tante" ucap Wildan saat Alda menyimpan segelas coklat hangat di depannya.
"Sama-sama, kak" Ayra yang menimpali.
"Anak kecil ngomong aja" Renal mengelus rambut putrinya yang duduk di pangkuannya.
"Kalian lanjut aja, Om, Tante dan Ayra mau ke rumahnya bang Mika dulu " pamit Renal.
"Terima kasih, om" ucap kelima remaja lelaki yang ada di sana.
"Bye kak, bye semuanya" Ayra melambaikan tangannya.
"See you Ayra" kata Darren, ia ikut melambaikan tangannya.
"Daddy ada ngomong ke kalian?" tanya Athena.
"Katanya putrinya cantik" jawab Wildan ngawur.
"Anaknya cantik, tapi bapaknya gak galak, beruntung banget Lo Ga" kata Darren.
"Athena dan Arunika, dua perpaduan nama yang sangat match" ucap Kevin.
"Apasih Vin?" Athena memberenggut lucu.
"Fany tahu tentang ini?" tanya Eros.
Athena menggeleng.
"Hanya kalian yang tahu" jawabnya.
"Dan tolong, jangan diberitahu. Jangan berubah juga, jangan sungkan" pinta Athena.
"Gampang itu mah" Wildan meminum coklat panasnya.
"The, Lo pernah merasa kesulitan gitu nggak?" tanya Kevin.
"Sulit dalam artian gimana nih?" tanya Athena balik.
"Yah merasa sulit gitu."
"Nggak pernah sih. Aku yah gini aja" jawab Athena.
"Kalau kesulitan dapat barang pernah, The?" tanya Darren.
"Nggak pernah. Soalnya aku gak pernah benar-benar menginginkan sesuatu. Ada yah ada, kalau belum ada yah nanti dicari"
"Lempeng banget hidup Lo. Kalau nih anak dua diberi harta melimpah kayak gini, gak tahu deh bakal kayak gimana" kata Kevin.
Malam hampir larut, semuanya pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Athena mengantar mereka hingga di depan rumahnya, tempat Raga memarkirkan mobilnya.
"Makasih yah udah pada dateng" ucap Athena.
"Makasih juga The udah diberi makan" kata Wildan.
Athena terkekeh. Ia melambaikan tangannya sambil melihat mobil Raga menjauh.
"Ga, Lo pernah nggak merasa insecure kalau lagi sama The?" tanya Eros.
"Sering, sampai sekarang malah" jawab Raga.
"Gimana tuh cara Lo ngatasinnya?" tanya Kevin.
"Yah nggak gimana-gimana. Berusaha semampunya aja. Asal kalian semua tahu, gue jadi OB waktu sekolah di kantor papa agar bisa memantaskan diri buat Athena. Gue usahanya dari yang kecil aja dulu"
"Lo pernah ketemu tuan Lathief?" tanya Wildan kini.
"Pernah, beberapa kali."
"Gimana tuh?"
"Yah canggung. Lo pada ngerasain apa waktu Daddy nya The datang, auranya pak Lathief lebih dari itu. Buat napas aja susah" jawab Raga bersungguh sungguh.
"Tapi sekarang udah biasa aja sih. Orangnya meskipun tegas yah tetap hangat, ramah gitu orangnya"
"Keren sih" kagum Darren.
"Lo semua pernah bayangin gak sih bisa satu circle dengan seorang Arunika?" tanya Eros.
"Never" jawab keempatnya.
"It's like a dream." ucap Kevin.
"Terus gimana tuh?"tanya Eros.