
Athena memasuki rumahnya sambil bernyanyi. Di ruang keluarga nampak Nevan yang masih menempel dengan sang mommy. Sementara Daddy sedang melihat berita di TV.
"Opa bawa apa kak?" tanya Nevan saat melihat kakaknya sudah datang.
"Gak bawa apa-apa" jawab Athena.
"Dad, mom, Raga ngajak The nemenin beli sepatu" kata Athena sambil memperlihatkan layar ponselnya pada sang Daddy.
Renal membaca pesan yang Raga kirim. Penglihatannya teralihkan pada kartu yang sempat berkilau saat cahaya dari tv memantul di kartu itu.
"Hati-hati yah perginya" kata Alda.
Athena mengangguk.
"Itu apa?" tanya Renal sambil menunjuk kartu yang Athena pegang.
Athena membuka telapak tangannya. Dan nampaklah dua kartu yang berbeda warna.
"Ini di kasih opa sama Oma. The lupa untuk apa" jawab Athena kemudian memberikannya pada Daddy nya.
"Oma dan opa yang ngasih?" tanya Renal.
Athena mengangguk.
"Kok The ambil?"
"Kata Oma itu kado." jawab Athena.
Renal melihat ke arah Alda sambil menggelengkan kepalanya heran. Mertuanya itu ada-ada saja jika menyangkut Athena.
"Mommy, Athena titip yah."
Alda mengangguk.
"Nevan juga mau, mom" katanya.
"Iya, nanti pasti di kasih kok. Uang jajan dari mommy dan daddy kan masih cukup buat Nevan" kata Alda lembut.
Nevan mengangguk.
✨✨✨
"Om, Tante, saya bawa Athena dulu." kata Raga.
"Hati-hati yah kalau berkendara. Anak om dijaga" pesan Renal.
"Iya, om. Terima kasih" Raga mencium punggung tangan Renal dan Alda.
"Bye mom, dad" Alda mencium kening anaknya, Renal juga.
"Kakak, nitip martabak" teriak Nevan dari balkon kamarnya.
Athena mengangkat jempolnya tanda 'ok' .
"Tadi nggak ditahan lagi kan?" tanya Athena.
Raga menggeleng.
"Palang dan gerbangnya bahkan gak gue lihat" jawab Raga.
Athena mengangguk.
"Bisa yah gerbangnya bahkan secanggih itu?" heran Raga.
"Aku gak tahu pasti sih kenapa bisa sampai segitunya. Tapi kata papa mobil akan terdeteksi 250 M sebelum sampai di gerbang yang sempat kamu lihat kemarin. Ada alat yang tertanam di bawah jalanan yang mendeteksi kendaraan yang akan masuk. Opa juga kayaknya udah mengkonfirmasi mobil kamu agar bisa keluar masuk di Arunika" jelas Athena.
Raga mengangguk mengerti. Keamanan ganda benar-benar diterapkan oleh keluarga bermarga Arunika.
"Mau beli sepatu dimana?" tanya Athena.
"Di AR sport." jawab Raga.
"Okay" kata Athena.
Raga memarkirkan mobilnya di halaman AR sport. Raga memegang pergelangan tangan Athena saat memasuki bangunan megah bertingkat 5 yang menjual segala macam perlengkapan juga alat olahraga.
"Bagus yang hitam atau yang merah?" tanya Raga sambil memperlihatkan dua pasang sepatu.
"Bagus semua" jawab Athena.
"Lo suka yang mana?"
"Yang merah"
Raga mengangguk.
"Tunggu yah, gue bayar bentar" kata Raga.
Athena mengangguk. Ia duduk di sofa yang telah disediakan oleh pihak AR sport.
"Jadi ambil yang hitam atau yang merah?" tanya Athena saat mereka meninggalkan area AR sport.
"Yang merah" jawab Raga.
"Kok bukan yang hitam?"
"Apaan deh?" lirih Athena.
Keadaan mobil kembali hening.
"Mau kemana?" tanya Raga.
"Gak tahu. Aku ikut kamu aja" jawab Athena.
"Gak takut sama gue?"
Athena menggeleng.
"Min, Run dan Ram bahkan gak lebih 10 meter dari sini" jawab Athena tenang.
Raga tertawa.
"Jadi anak sultan beda yah?"
"Siapa yang anak sultan?" tanya Athena.
"Lo, Athena"
"Aku anak mommy, anak daddy, bukan anak sultan" katanya lempeng.
Raga mengacak rambut Athena.
"Bisa aja ngelesnya" katanya
Athena terkekeh kecil melihat Raga yang greget.
"Jadi?"
"Ayo deh, Ga. Aku mau nunjukin sesuatu"
Athena membawa Raga ke sebuah kompleks pemakaman yang terlihat sangat mewah. Athena berhenti di sebuah makam dengan nama Rafa Mahendra.
"Papi, kenalin, ini Raga, teman pertama The yang The bawa ke Arunika." ucap Athena. Ia seolah bercerita dengan papinya.
"Ga, kenalin, papi aku. Papi kandung aku. Mamaku meninggal saat melahirkan aku. Papi menyusul mama saat aku berumur 1 tahun. Yah, mommy Alda bukan mama kandung aku, tapi sejak kecil, sejak aku masih bayi yang kulitnya masih merah, mommy merawat aku." cerita Athena.
Tentu saja Athena tidak mengetahui cerita yang sebenarnya. Lathief begitu ahli dalam menghapus jejak seseorang di muka bumi. Lathief tidak ingin cucunya menjadi sedih karena dilahirkan oleh seorang perempuan jahat seperti Gadis.
"Kalau yang itu makam kakek James dan nenek Rina. Kakek meninggal di perjalanan pulang setelah berhasil menjalankan tugas terakhirnya sebagai seorang pilot. Nenek Rina menyusul beberapa bulan kemudian"
Raga mendengarkan cerita Athena dengan baik. Ia membiarkan Athena mengeluarkan segala hal yang ada di kepalanya.
Athena juga membawa Raga ke makam Ares, Weni, dan Hans.
"Ini tempat pemakaman seorang Arunika juga kerabat dekat Arunika. Ini kakek Ares, orang yang memberi nama Arunika di belakang namaku. Kata opa, kakek sangat sayang sama The." cerita Athena yang di akhiri kekehan kecil.
"Kakek Ares, ini Raga. Temannya Athena." Athena mengelus nisan di depannya.
✨✨✨
"Lo baik-baik aja?" tanya Raga.
Athena mengangguk.
"I'm okay" jawabnya.
"Mommy ngebesarin aku, opa, Oma, nenek dan kakek buyut, papa Mika juga sahabat-sahabat papi menjaga aku hingga sekarang. Kasih sayang mereka tak terhingga. Opa bahkan mengirimkan orang-orangnya untuk aku, memperlakukan aku seperti Nevan, Arvin dan Arion, bahkan lebih."
"I see. Opa Lo totalitas banget. Bahkan ngirim ketiga pengawal Lo, pak Abraham juga tentu saja adalah orang-orang opa Lo"
"Raga perhatiin sampai segitunya ternyata" kata Athena kemudian terkekeh.
"Lo gak mau cerita bagian di bandara?" tanya Raga.
"Aku ulang tahun tepat ketika kita meninggalkan desa kenangan. Aku aja lupa hari ulang tahunku. Saat sampai di bandara, aku mendapat bunga yang kamu lihat sendiri kan. Ternyata itu kerjaan opa dan dan Daddy." cerita Athena.
"Jadi Lo yang di atas Limosin hitam malam itu? Yang di kerubungi orang-orang. Mama kira yang diatas Limosin adalah artis. Hingga papa bilang itu mobil Arunika."
"Jadi kamu tahu aku ada di atas Limosin itu?" tanya Athena.
"Sebelum tahu tentang Lo, gue gak tahu kalau Lo ada di atas Limosin itu. Tapi sekarang gue yakin, opa dan Daddy Lo jemput Lo di bandara pake limosin" jawab Raga.
"Iya, opa ada-ada aja. Padahal kan bisa pakai yang lain. Aku omelin sebelum pulang" gerutu Athena.
"Lo ngomelin pak Lathief ?" tanya Raga sambil menelan ludahnya.
Athena mengangguk.
"Seharusnya opa gak perlu pakai limo ke bandara."
"Seharusnya mobil apa The?"
"Mobil keluarga kan ada, yang gak terlalu mencolok gitu" jawab Athena.
"Opa Lo lakuin itu pasti dengan penuh perhitungan." kata Raga.
Athena mengangguk.