Athena

Athena
Athena Drop



Kehamilan Athena sudah berjalan 5 bulan. Perutnya sudah terlihat besar. Ada beberapa hal yang sudah tidak bisa ia kerjakan, karena ia akan merasakan lelah.


Anne juga semakin aktif, ia sudah bisa melangkah cepat, mengelilingi setiap sudut rumah dengan kaki kecilnya. Semua barang-barang yang berbahaya disingkirkan oleh Raga, demi keamanan bersama. Jadi Athena juga tidak perlu mengejar kemana langkah kaki Anne berpijak.


"Sayang, gak apa-apa yah main sendiri? Mama ngantuk sekali" ucap Athena.


Anne mengangguk, seolah bisa memahami sang mama. Raga membuatkan Anne ruang bermain yang terdapat sofa bed di dalamnya. Jadilah Anne bisa bermain dan Athena bisa beristirahat.


Athena juga sudah menyimpan sebotol air dan cemilan balita di samping Anne.


Athena merasa badannya sedikit kaku dan pegal, matanya terasa begitu berat minta ditutup.


Ruangan yang digunakan sebagai ruang main Anne tentu saja aman. Di dalamnya hanya ada sofa bed dan mainan milik Anne. Ada tenda kecil yang Raga bangun di dalamnya, biasanya Anne akan tertidur sendiri di dalam sana jika ia sudah lelah bermain sendiri.


Hari sudah sore, Raga tiba di rumah tapi tidak disambut oleh siapa pun. Raga memeriksa satu persatu ruangan yang ada di rumahnya, terakhir ia memasuki ruang bermain milik anaknya.


Ia menggeleng pelan saat melihat anaknya tertidur pulas di dalam tenda, sementara Athena tertidur di sofa bed. Raga mendekati anaknya dan menoel pipi sang anak. Jika tidak dibangunkan, anak itu pasti akan begadang nanti malam.


Mata bulat Anne melihat papanya.


"Papa" ucapnya.


Raga terkekeh. Ia menyambut anaknya dengan pelukan, lalu menggendong nya. Raga mencium kening istrinya, tapi bibirnya terasa panas. Tangannya lalu memegang kening istrinya, istrinya sedang sakit.


"Sayang?" Raga menepuk pelan pipi Athena.


"Mama" Anne ikut memanggil mamanya.


Raga mendudukkan Anne di sebelah istrinya. Lalu melanjutkan untuk membangunkan sang istri.


Mata Athena perlahan terbuka. Pandangannya begitu sayu, seolah tanpa semangat.


"Kenapa Ga?" tanyanya pelan.


"Kamu lagi sakit ini lho. Kenapa gak nelpon aku?" Raga tentu saja panik.


"Badan aku pegal-pegal" ucap Athena.


Raga mengangkat Athena, menggendongnya ala bridal style.


"Kakak, bisa jalan sendiri kan? Mama lagi sakit, ayo ke kamar papa" katanya pada sang anak.


Dengan kaki kecilnya Anne mengikuti langkah sang papa yang cepat. Ia menggendong boneka beruang berukuran sedang yang nyaris menyamai tinggi nya.


"Kita ke rumah sakit aja yah?" Raga mengelus kening istrinya.


Athena menggeleng.


"Nggak usah, Ga. Aku seperti nya kecapean aja" jawab Athena lirih. Pandangan nya jatuh kepada anaknya yang duduk bersila sambil memeluk boneka nya. Athena tersenyum tipis saat melihat mata anaknya berkedip kedip sambil melihatnya terbaring sakit. Mungkin anak itu sedang bertanya-tanya.


"Aku belum masak, Ga. Kamu pesan makanan dulu nggak apa-apa?" tanya Athena.


"Nggak apa-apa, sayang." Raga mencium kening istrinya sebelum beranjak mengganti baju kerjanya menggunakan baju rumahan.


"Mama" oceh Athena. Ia merangkak mendekati sang mama.


Wajah Anne meringis lucu saat tangannya tidak sengaja menyentuh wajah Athena yang panas.


"Kulit mama panas yah sayang?" Athena mengelus rambut pendek anaknya.


"Maaf yah, mama sakit. Gak bisa masak makan malam buat kakak"


Anne hanya mengangguk mendengar ucapan mamanya, entah anak kecil itu mengerti atau tidak.


"Kakak mau ikut papa ke dapur nggak?" tanya Raga.


Kepala Anne menggeleng. Ia ikut berbaring di samping sang mama.


Athena mengelus kepala anaknya. Sebelah tangannya mengelus perutnya, dimana seorang anaknya lagi berada.


Raga kembali dengan sup di atas nampan, juga sepiring nasi. Ia lalu meletakkan nya di atas nakas, kemudian membuat Athena duduk dan bersandar pada headboard tempat tidur.


"Ma mam" oceh Anne.


"Iya, mama makan yah kak" Raga menimpali. Ia menyuapi Athena


"Kakak mau makan juga atau nanti sama papa?" tanya Raga.


"Ma papa" jawabnya. Ia masih memeluk bonekanya.


Makanan Athena tidak habis.


"Kamu mau kemana?" tanya Raga saat kaki Athena sudah menapaki lantai.


"Temanin kamu dan kakak makan" jawabnya.


"Gak usah, The. Aku bisa kok urus kakak dulu. Tinggal makan kan yah sama bersih-bersih dan ganti baju?"


Athena mengangguk.


"Kamu tunggu bentar yah. Aku nyalain TV." Raga memberikan remote nya pada Athena setelah berhasil menyalakan Tv.


"Ayo kak, makan dulu sama papa" Raga menggandeng tangan kecil anaknya menuju dapur.


Raga menyiapkan makanan untuk anaknya, nasi yang dicampur dengan sup. Nasinya tidak terlalu keras, agar Anne bisa mencernanya.


Sejak berumur setahun beberapa saat lalu, Athena memberikan sendok dan mangkuk sendiri kepada Anne, membiasakan anaknya makan sendiri. Anne akan duduk di kursinya, dan makan sendiri, meskipun ada beberapa butir nasi yang jatuh dan sedikit berantakan.


"Bis papa" ucap Anne saat piringnya sudah tersisa beberapa butir nasi yang tidak bisa lagi menyangkut di sendok nya.


Raga tersenyum.


"Pinter anak papa"


Raga lalu membersihkan meja makan dan mencuci piring. Kemudian membersihkan badan putrinya, mengganti baju sang anak dan membawanya ke kamarnya dan sang istri. Rupanya Athena juga sudah mengganti bajunya dengan celana piyama dan switer.


"Kamu dingin?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Ngerasa dingin, tapi badan aku panas." jawabnya.


"Atau aku telpon dokter aja yah?"


"Nggak usah, Ga. Besok paling udah kembali seperti biasa" larang Athena. Tangannya merangkul bahu kecil anaknya.


"Anak mama diam terus nih" Athena menoel pipi Anne yang sedang nonton film kartun ikan.


"Tan mama" Anne menunjuk layar televisi.


"Iya, ikan warnanya orange, biru, temannya shark" Athena menimpali.


Raga berbaring di sisi lain Athena yang terdapat sedikit space.


"Awas, nanti kamu jatuh lho" ucap Athena.


Raga terkekeh.


"Nggak jatuh, sayang. Aku mau nyapa adek dulu" Raga menaikkan baju Athena, agar bisa melihat perut sang istri. Ia mengelus perut istrinya sambil bercerita dengan sang anak.


Pandangan Anne beralih melihat ke papanya yang sedang asyik sendiri.


"Pa" panggilnya.


Raga menoleh.


"Mau pegang juga?"


Kepala Anne mengangguk. Ia mengulurkan tangan kecilnya ke atas perut Athena. Raga membantu tangan Anne mengelus perut sang mama.


"Ayo kak, panggil dedeknya " suruh Athena. Ia tak lupa mengabadikan momen ini menggunakan ponsel Raga.


"Dek" ucap Anne.


"Halo dedek, ini kakak. Namanya kakak Ann" Raga kembali berceloteh.


Athena ikut menumpukkan tangannya diatas tangan Raga, lalu memotret tangan mereka bertiga.


"Sweet picture" ucapnya sambil mengelus layar ponsel Raga.


"Kita selfie deh" ajak Athena.


Raga mencium perut Athena, sebelum bangun dan duduk di samping sang istri. Ia tak lupa membantu Anne bangun dan memangkunya.


"Kak, ayo foto dulu" ucap Athena sambil mengarahkan ponsel ke wajah mereka bertiga.


Sebuah potret berhasil diabadikan malam ini. Hal itu seolah mengangkat segala rasa sakit yang sedang Athena rasakan.