Athena

Athena
My Baby Girl



Perkiraan Raga ternyata salah, ia kita perjalanan untuk ke pulau Athena cukup mudah. Tapi dengan bantuan Lathief, semuanya menjadi mudah.


"The ngapain ke pulau Athena sendiri?" tanya Lathief pada cucunya.


"The lagi ngambek, opa, makanya pergi. Tapi perginya sama mama kok" jawab Raga jujur.


"The kalau ngambek memang suka pergi. Waktu kecil dia ngambek sama mommy nya, terus jalan ke rumah opa, mana matahari panas juga. Ya udah, opa bawa ke puncak sama omanya" Lathief bercerita. Ia biasanya akan tertawa mengingat kebiasaan cucunya.


"Tolong dijaga yah cucu opa" katanya.


Raga mengangguk.


"Iya, opa. Terima kasih bantuannya" ucap Raga.


"Bukan hal yang besar, nak. Kamu memang harus kesana untuk mensejahterakan kehidupan di pulau tersebut"


"Raga akan berusaha opa" Raga lalu mencium punggung tangan Lathief kemudian meninggalkan rumah 05. Ia lalu menjemput papanya, mereka berdua akan pergi bersama.


Lathief memerintahkan J untuk menjemput Raga dan Baskara di bandara.


"Setelah semua yang terjadi, papa berharap kamu bisa belajar dan menjadi lebih bijaksana lagi. Sudah selama ini papa dan mama bersama, tapi papa belum bisa mengerti mamamu dengan sangat baik, perempuan memang seperti itu. Kamu harus belajar lebih keras lagi untuk mengerti Athena. Dia perempuan yang sangat baik, seolah ia memang diciptakan menjadi malaikat di bumi, papa mohon, jaga menantu papa" ucap Baskara.


"Iya, pa." Raga juga tentu saja mengakui kesalahannya.


Seandainya dari awal ia bercerita kepada Athena, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Athena tentu dengan senang hati untuk mencari jalan keluar atas masalah ini. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk Raga.


"Awalnya papa ragu untuk menjalin hubungan dengan orang atas. Tapi keluarga Athena seolah dibentuk khusus untuk menjadi keluarga yang tanpa celah, mereka menerima kita dengan sangat baik dan penuh penghargaan. Mereka bahkan dengan tangan terbuka membantu kita berdua, bahkan setelah putrinya tersakiti"


"Maaf, pa. Ini pure salah Raga, bukan karena didikan papa dan mama" ucap Raga.


Baskara menghela napasnya. Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan, sehingga anak perempuan Arunika menjadi menantunya.


"Tempatnya luar biasa. Apa memang dibuat seperti ini J?" tanya Raga saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Athena.


"Ada beberapa hasil rancangan manusia, dan beberapa lainnya adalah murni. Seperti di pusat kota tadi, itu adalah rancangan dari orang-orang tuan Ares pada zamannya. Sedangkan jalan ini, dibuat begini atas permintaan tuan Ares sendiri." jawab J sopan.


"Apakah rumah-rumah di pulau ini memang seperti ini?" Baskara heran melihat rumah-rumah yang ia lewati.


"Untuk di jalan ini, rumahnya memang seperti ini, tuan. Rumah yang berada di kawasan ini adalah milik petinggi pulau. Rumah pertama yang tadi kita lewati adalah rumah untuk nona." jawab J.


"Terus kenapa kau lewati J?" tanya Raga heran.


"Kita akan ke mansion nona dulu, tuan. Nona juga belum tahu jika ia punya di pusat kota " jawab J.


Mereka sudah memasuki kawasan hutan lebat dan gelap.


"Apakah disini aman?" tanya Baskara penasaran.


"Tentu saja, tuan. Pulau ini bahkan terkenal karena kedamaian nya. Tidak ada pencuri, perampok dan penjahat lainnya. Padahal pulau ini sebelumnya terkenal karena penindasan "


"Kenapa bisa sedemikian damainya?"


"Setelah pulau ini resmi menjadi hak milik Arunika, tidak ada lagi penjahat yang masuk, sementara warga lokal di beri pelatihan bela diri. Tuan tidak akan melihat aparat keamanan di sini, karena semuanya bisa melindungi dirinya masing-masing, mungkin pengecualian untuk anak di bawah umur 12 tahun" jawab J.


Pintu berlapis terbuka dengan sendirinya, lalu tertutup kembali. Mereka masih harus melewati hutan belantara.


"Berapa jarak dari pusat kota ke mansion J?" tanya Raga.


"Totalnya 37 KM, tuan. Jarak pusat kota ke gerbang 30 KM sedangkan jarak dari gerbang ke mansion 7 KM." jawab J.


"Kapan kita akan sampai J?" tanya Baskara.


"Sebentar lagi, tuan. Jika anda sudah melihat cahaya di depan, berarti kita akan segera sampai"


Cahaya mulai nampak, pohon besar dan tinggi kini tergantikan dengan mawar dan baby breath. Sebuah mansion megah dan kokoh berdiri didepan mereka.


"Silahkan masuk, tuan" ucap J.


Raga dan Baskara mengikuti langkah J memasuki mansion.


Suara cekikikan mulai terdengar, tapi ada satu suara yang asing di pendengaran mereka, tapi ocehannya begitu menenangkan.


"Nona" panggil J.


Athena menoleh. Ia tersenyum.


J segera pergi.


"Selamat datang, pa, Ga" Athena memeluk keduanya bergantian. Vania sudah menceritakan jika masalah Clara sudah selesai, dan Raga tidak bersalah. Raga memang hanya membantu dan menjaga Clara seperti adiknya sendiri.


"Itu siapa The?" tanya Raga.


Seorang bayi duduk diatas karpet sambil memegang mainan.


"Cucu mama" jawab Vania yang datang sambil membawa botol susu. Ia kemudian memeluk suaminya. Baskara mencium kening istrinya.


"Mama ambil anak orang dimana?" tanya Raga.


"Mama nggak ngambil yah." Vania menarik kuping anaknya.


"Sakit ma" ucap Raga.


Vania melepaskan tangannya dari kuping Raga.


"Cantiknya cucu kakek" Baskara mendekati Aurora. Ia mencolek pipi cucunya.


Aurora melihat Baskara dengan mata bulatnya, ia berkedip-kedip seolah bertanya.


Tanpa menunggu lama, Baskara mengangkat Aurora ke dalam gendongan nya.


"Haloo cucu kakek, ini kakek Bas" Baskara mulai berceloteh dengan Aurora.


"Ladies and gentleman, ada yang bisa jelaskan?" tanya Raga.


"Mama angkat Aurora jadi cucu, berarti kalian adalah papa dan mamanya" Vania menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas.


"The?"


Athena terkekeh.


"Aku mau Aurora jadi anak pertamaku"


"Anak orang ini lho, nanti orang tuanya pada nyariin, kasihan"


"Orang tuanya sudah meninggal, Ga. Neneknya meminta agar Aurora aku yang asuh. Dua hari kemarin nenek nya ikut meninggal, aku jadi wali sah untuk Aurora. " cerita Athena.


"Kok kamu gak bilang? Gak cerita"


"Kamu gak mau yah rawat Aurora?"


"Bukan gak mau, The." jawab Raga cepat.


"Kalau mau bertengkar, sana jauh-jauh. Nanti telinga cucu opa terkontaminasi" usir Baskara.


"Papa udah tahu?" tanya Raga.


"Ya tahulah. Kalau kamu gak mau rawat, yah biar sama papa aja." Baskara kembali bermain bersama cucunya.


"Aku takut kamu gak izinin, makanya aku gak cerita. Kalau misalkan kamu gak izinin, Aurora bisa di bawa mama atau mama Ivana" ucap Athena.


"Ehh, jangan." tolak Raga. Ia mendekati papanya, agar bisa ikut memegang Aurora.


Raga mengambil tangan kecil Aurora, lalu menciumnya.


"Ini papa sayang." ucapnya.


Bayi itu melihat ke arah Raga. Matanya berkedip-kedip lucu. Tanpa menunggu waktu lama, Raga mengambil Aurora dari gendongan papanya.


"Ga, cucu papa lho itu" kata Baskara.


"Ini anak Raga, pa " Raga tidak mau kalah.


"Jadi udah officially nih jadi papa?" goda Vania.


"Iya dong, ma." jawab Raga.


"Helo my baby girl" Raga mencium kening Aurora.


Athena tersenyum melihatnya.