
Aurora masih menjadi mainan Baskara dan Raga. Sementara Athena dan Vania sedang memasak untuk makan malam.
"Mama dari dulu suka lihat papa kalau momong anak kecil, mama seolah melihat sisi lain papa yang tidak diketahui orang-orang" ucap Vania. Dari sini, ia bisa melihat suami dan anaknya sedang bermain bersama Aurora.
Athena mengikuti arah pandang Vania, benar apa yang dikatakan mertuanya.
"Iya, ma. Ada pancaran sendiri dalam tatapan papa dan Raga kepada Aurora, yang bahkan kita sendiri juga tidak mendapatkan nya"
"Pancaran kasih sayang papa kepada anaknya" kata Vania.
Mereka kemudian makan malam. Aurora duduk di kursi bayi yang telah disiapkan Athena. Athena makan sambil menyuapi anaknya. Ya, Aurora sudah menjadi anaknya.
Setelah makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Nama lengkapnya siapa The?" tanya Baskara.
"Aurora Lysanne, pa" jawab Athena, ia sedang mencoba menidurkan Aurora sambil menepuk pahanya pelan.
"Aurora Lysanne Perdanakusuma " Baskara memberikan marganya di belakang nama Aurora.
"Pa!"
"Jangan larang papa, The. Aurora ini adalah cucu pertama papa " kata Baskara.
"Udah, The. Kan papa sendiri yang bilang" Vania tentu mendukung suaminya.
"Tapi gimana kalau orang-orang bertanya, ma?"
"Berhenti hidup diatas perkataan orang-orang The" ucap Raga.
Athena hanya mengangguk pasrah.
Aurora Lysanne Perdanakusuma, seorang anak kecil berusia 6 bulan. Bermata bulat, bulu matanya lentik, pipinya chubby dan bibirnya semerah buah Cherry. Aurora akan menjadi tempat belajar bagi Raga dan Athena menjadi orang tua.
"Anaknya udah tidur itu. Kalian juga istirahat " kata Vania.
"The ke atas dulu pa, ma, Ga" pamitnya. Ia lalu menggendong Aurora ke kamarnya. Mereka masih satu kamar.
Beberapa menit kemudian, Raga juga tiba di kamar. Sudah sangat lama rasanya ia dan Athena tidak sekamar dan tidur berdua. Masalah kemarin benar-benar akan menjadi pelajaran yang sangat penting buatnya.
Nampak Athena sedang berbaring sambil memeluk tubuh kecil Aurora, sementara sebelah tangannya sedang melihat produk-produk untuk anak kecil.
Raga ikut bergabung, ia memeluk pinggang istrinya, juga mencium puncak kepala istrinya.
Athena lalu menyimpan ponselnya, dan berbaring lurus.
"Udah lama banget rasanya aku gak peluk kamu, gak cium-cium kamu" ucap Raga.
"Gimana rasanya?"
"Sangat hampa"
"Aku harap apa yang telah kita lalui bisa menjadikan kita makin dewasa dan bijaksana. Masalah dalam kehidupan rumah tangga akan selalu ada, tapi semoga kamu memilih untuk bersama-sama menghadapi semuanya" ucap Athena.
Raga makin mengeratkan pelukannya pada sang istri, ia juga mencium pelipis istrinya.
"Aku janji akan selalu menceritakan tentang apapun, dan aku berharap kamu akan selalu mendengarkan nya. Maaf untuk hal yang kemarin"
Athena mengangguk. Yang lalu biarlah menjadi kenangan dan pembelajaran. Ia harus menjalani kehidupannya sekarang dan hari esok.
"Kamu sayang Aurora nggak?" tanya Athena random.
"Ehh, ngawur nih pertanyaan nya. Emang ada seorang papa yang nggak sayang sama anaknya?" tanya Raga balik.
"Bisa jadi, Ga. Aurora kan bukan anak kandung kamu"
"Maaf yah, aku belum bisa kasih kamu keturunan" ucap Athena.
"Eh, aku gak ada bilang gitu deh The. Mungkin sekarang belum waktunya Tuhan kasih kita anak, tapi Tuhan menghadirkan Aurora diantara kita dengan cara yang tidak pernah kita duga. Kita hanya bisa berusaha, The, sementara hasil akhir tetap pada tangan Tuhan" Raga tentu saja menenangkan istrinya.
Bukankah rezeki, anak dan ajal adalah rahasia Tuhan? Mereka harus lebih bersabar lagi, sebab semuanya sudah ditulis jauh sebelum mereka lahir di bumi.
"Proyek kamu gimana?" tanya Athena.
"Sudah berjalan sekitar 65%"
"Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk selesai?"
"Kurang lebih 4-5 bulan. Kenapa?"
"Kalau aku minta untuk kita hidup di pulau ini, kamu bersedia?" tanya Athena.
"Ehh, jangan di jawab deh." ucap Athena cepat.
"Semua cabang perusahaan kamu kan sudah ada proxy nya, berarti dari pihak kamu aman. Kalau perusahaan yang aku pegang, masih ada yang belum ada proxy di dalamnya, mungkin dalam waktu 4-5 bulan itu, aku bisa meminta bantuan Daddy untuk mencari beberapa orang yang bisa dijadikan proxy, sambil menunggu proyek ku selesai " Raga menjelaskan.
"Kenapa nggak mau tinggal di Kota A?Dan kenapa harus disini?" kini Raga yang bertanya.
"Bukan nggak mau tinggal di kota A, Ga. Aku hanya ingin hidup tenang, jauh dari keramaian kota, bukan berarti aku gak suka keramaian. Kota A akan tetap menjadi kota terakhir dalam hidupku untuk menghabiskan napas. Dan kenapa harus di pulau ini? Pulau ini adalah amanah dari kakek Ares. Kakek berharap aku bisa membawa kesejahteraan dan kedamaian di pulau ini. Mungkin butuh waktu beberapa tahun untuk hal itu, setelahnya kita akan kembali ke kota A untuk hidup tenang, menemani masa tua orang tua kita." jawab Athena.
"Tapi aku nggak mau tinggal di rumah ini, rumahnya terlalu besar. Beberapa hari yang lalu aku meminta J untuk mencari lahan di pedesaan, tapi koneksi internet nya memadai. Kata J, ternyata kakek Ares juga menyiapkan rumah sederhana di desa dengan halaman yang luas. Aku mau tinggal di sana, Ga"
"Pelan-pelan yah. Semoga proyek aku cepat kelar, izin dari orang tua juga dipermudah" ucap Raga sambil mengelus rambut istrinya.
Aurora menggeliat, mulut nya seolah sedang menyusu, Athena yang mengerti pun bangun.
"Mau kemana?" tanya Raga.
Athena menunjuk meja panjang yang ada di sudut kamar.
"Buatin Aurora susu" jawabnya.
Raga mengangguk mengerti, ia berpindah, tidur lebih dekat dengan anaknya. Ia seolah mendapatkan warna baru dalam hidupnya meski hanya diam dan melihat anaknya tertidur seperti ini.
"The, pengen gigit pipinya" gemas Raga.
"Ngawur banget " ucap Athena. Ia lalu membantu Aurora meminum susu, anak kecil itu sudah membuka matanya.
"Anak mama udah bangun, padahal mamanya belum tidur" Athena menemani Aurora bercerita.
"Mama papanya berisik yah nak yah" Raga juga tak mau ketinggalan.
Aurora hanya bisa menatap kedua orang tuanya. Setelah susunya habis, Athena memangku Aurora, agar susunya bisa dicerna dengan baik. Setelah anaknya bersendawa, barulah Athena menyimpannya di kasur.
"Ehh, kok gak ditidurkan?" tanya Raga.
"Tunggu dulu, biasanya akan tidur sendiri kalau udah ngantuk" jawab Athena. Ia memberikan mainan kepada anaknya.
"Udah larut malam lho ini" kata Raga.
"Iya, Ga. Nanti juga tertidur sendiri kok"
Ocehan Aurora terdengar begitu merdu. Raga sedang menciumi perut anaknya, sehingga tawa renyah Aurora terdengar.
"Papa gigit dikit yah perutnya, gemesh iiihh"
Tawa Aurora kembali terdengar.
Athena yang melihatnya jadi senyum sendiri. Ini pemandangan baru yang akan menjadi pemandangan favoritnya.