Athena

Athena
Clara Devanka



Athena dan Anne masih berada di kantor Raga. Mereka berdua masih menikmati tidur siang di ruangan Raga yang cukup sejuk. Sementara Raga sudah kembali ke kursi kekuasaan nya, ia kembali meneliti tumpukan berkas sebelum membubuhinya dengan tanda tangannya.


Pintu ruang kerja Raga terbuka bersamaan dengan pintu ruang pribadinya. Raga tentu lebih dulu menoleh ke arah pintu ruang pribadinya, nampaknya istrinya sudah bangun. Sementara tatapan Athena kini jatuh pada seorang perempuan yang berdiri di pintu ruang kerja Raga. Raga mengikuti arah pandang istrinya, ia cukup kaget, tentu saja.


"Ragaa" panggil perempuan itu.


Bagaimana mungkin ia bisa berada di sini, apakah peringatan papanya beberapa hari lalu tidak mereka dengarkan dengan baik?


"Ngapain lo di sini?" tanya Raga.


"Aku mau kamu tanggung jawab, Ga" ucap Clara tidak tahu malu.


"Ngapain gue tanggung jawab untuk hal yang gak gue lakuin?"


"Tapi, Gaa..."


"Shut up, Clara!" bentak Raga.


"Ehh, lo perempuan mur*han, gue sedang hamil anak Raga. Beberapa kali kami menghabiskan waktu bersama. Lo pernah lihat kami kan di depan toko alat lukis, lo tahu kan gimana perhatiannya suami lo ke gue saat di acara nikahan Yudha " Clara menaikkan telunjuknya, ia menunjuk Athena dengan wajahnya yang begitu garang.


"Clara, gue bilang cukup!" Raga menggebrak mejanya.


"Ga, sia-sia kamu menjaga perasaan istri kamu yang gak tahu malu ini" Clara tentu tidak mendengar peringatan Raga.


"Asal kamu tahu, dia datang ke resepsi Yudha dengan lelaki lain" ucap Clara.


Raga menatap istrinya.


"Bener The?" tanya Raga.


Athena mengangguk tanpa ragu.


"Aku juga bilang apa? Dia perempuan mur*han" teriak Clara.


"The, are you sure?"


Athena kembali mengangguk.


"Dia udah khianati kamu, Ga. Mereka bahkan berjalan mesra di depan aku, mami dan papi" Clara kembali menyiram bensin.


"The, apa salah aku?" tanya Raga pada istrinya.


Athena menyunggingkan senyum manis nya.


"Bahkan setelah sejauh ini kamu belum tahu apa kesalahan kamu, Ga" katanya sarkas.


"Tapi tidak dengan kamu pergi bersama lelaki lain, The" teriak Raga. Ia tentu marah saat mengetahui istrinya menghadiri resepsi temannya bersama dengan lelaki lain.


"Apa lelaki itu adalah Andika? Jawab aku The."


Sementara di sisi lain, diam-diam Clara tersenyum penuh kemenangan. Ia sebenarnya hanya datang untuk merayu Raga dan meminta maaf, agar hubungan pertemanan mereka kembali terjalin seperti dulu. Tapi ia tidak menyangka jika Athena juga berada di ruangan ini. Ia mungkin tidak berhasil memanasi Vania, tapi tidak dengan Raga, buktinya lelaki itu sedang tersulut api amarah.


"Si*lan!" umpat Raga sambil meninju tembok tepat disebelah Athena.


Athena tentu saja kaget akan hal ini, Raga begitu marah dan mempercayai omongan Clara. Suara tangis Anne mengembalikan kesadarannya, ia menghela napasnya dan kembali memasuki ruang kerja Raga.


Dengan cepat Athena mengambil anaknya.


"Aku tunggu kamu 5 menit di depan pintu" ucap Athena pada Raga.


"Kalau aku nggak keluar kenapa? Kamu mau datangin Andika?" tanya Raga sarkas.


Athena menggeleng heran, ia lalu mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan Raga. Ia tentu tidak perlu repot-repot untuk melihat wajah Clara. Pintu ruang kerja Raga ia tutup dari luar dengan bantingan yang keras.


"Ga, kamu bisa jadi ayah untuk anak aku. Istri kamu kan gak hamil hamil." Clara tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini.


"Shut up, Clara. Silahkan pergi dan tutup pintu ini dari luar" kata Raga, ia mengusap wajahnya kasar.


Athena sedang berusaha menenangkan Anne yang sedang menangis, anaknya sedang lapar, ia butuh susu sekarang. Meja pantry terlihat olehnya, ia segera kesana dan meminta tolong pada office girl yang ada disana.


"Terima kasih, mbak" ucap Athena saat sebotol susu formula sudah ada ditangannya.


Office girl tersebut membantu Athena kembali memasukkan susu yang ia bawa ke dalam tas kecil.


"Sama-sama, bu" ucapnya sopan.


Athena duduk sebentar sambil meminum kan susu pada Anne, ia tentu sambil berpikir, akan kemana dirinya setelah ini.


Athena memilih untuk pulang ke Arunika's residence untuk mengambil beberapa hal penting yang ia butuhkan.


"Min, saya mau ke bandara" ucap Athena. Anne berada dalam gendongannya dengan bantuan gendongan, ditangannya hanya ada sebuah yas berukuran sedang.


Min tanpa banyak tanya melaksanakan perintah nyonya nya.


"Terima kasih, Min. Kamu boleh ke pulau RelFath sekarang menyusul Ram dan Run." Athena menepuk bahu Min.


"Tapi nyonya..."


"Saya akan baik-baik saja, Min. Jika keadaan sudah kembali membaik, kita akan bertemu lagi di Arunika's residence" Athena memberikan pengertian kepada pengawalnya.


Min mengangguk pasrah.


"Perintah nyonya adalah kewajiban untuk saya" ucapnya.


Athena tersenyum. Ia lebih dulu melihat Min memasuki gate menuju jet pribadi milik Arunika dengan tujuan pulau RelFath. Setelah dirasa aman, barulah ia melangkahkan kakinya ke arah lain.