Athena

Athena
Keluarga kecil



"Ponsel kamu" Raga memberikan ponsel milik Athena, menyimpannya di atas meja. Mereka bertiga sedang nonton di ruang keluarga.


Athena hanya melihat ponselnya sekilas dan lanjut menemani Anne berbicara.


"Mau jalan-jalan nggak?" tanya Raga.


"Badan Anne masih hangat." ucap Athena.


Raga memegang kening anaknya, benar, masih hangat.


"Ya udah, di rumah aja" Raga pindah duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya di pundak istrinya. Tangannya menoel pipi Anne.


"Pa pa pa pa pa" oceh Anne. Ia berjingkrak senang.


"Anak papa manggil manggil terus" kini Raga yang meladeni ocehan Anne yang Athena letakkan di depan mereka.


Sofa bed nya cukup luas.


"Kamu mau kemana jam 11 malam di pinggir jalan?" tanya Raga.


"Lagi cari angin segar ." jawab Athena.


"Padahal udah larut malam" ucap Raga.


"Ya mau gimana lagi, orang lagi sumpek di hotel"


"Lain kali jangan pergi-pergi tanpa aku yah" Raga mengacak rambut istrinya.


"Ponselnya juga jangan ditinggal" Raga mencium pelipis istrinya.


Anne yang melihatnya bertepuk tangan.


"Ma ma ma pa pa pa pa"


"Eh?" kaget Athena.


Baru kali ini Anne menyebutkan kata mama.


"Ayo sayang panggil mama lagi"


"ma ma ma ma ma ma" Anne mengoceh sambil bertepuk tangan.


Athena mencium kedua pipi anaknya, ia merasa gemas, dengan sengaja ia menggigit pipi gembul Anne hingga anak itu merengek.


"The, anaknya itu lho, kok di gigit?"


Raga membawa Anne duduk dipangkuan nya.


"Anak papa gemesin yah sayang yah"


Tangan Anne mengusap wajah tampan Raga, ia tertawa kecil.


"Kamu kapan pulang?" tanya Athena.


"Bukan aku yang akan pulang, tapi kita. Aku gak akan pulang kalau gak sama kamu dan Anne" kata Raga.


"Seharusnya aku yang tanya itu. Kamu kapan pulang?" tanya Raga balik.


"Setelah Anne sembuh. Aku belum ajak Anne ke taman bunga tulip" jawab Athena.


"Yaudah, aku pergi bersama kalian, pulang bersama kalian juga" Raga merangkul bahu istrinya.


"Clara gimana?" tanya Athena.


"Kata papa ia akan segera menikah, kandungannya semakin membesar, pak Devanka yang menginginkan hal tersebut. Nyonya Devanka sebenarnya tidak menyetujui pernikahan itu, tapi pak Devanka memaksa dengan dalih bayi itu butuh ayahnya " Raga menjelaskan.


"Kamu dan dia gimana?"


"The, aku dan dia gak ada apa-apa lho. Waktu kamu pergi sama mama, semuanya sudah selesai. Yang baru terjadi pun bukan karena Clara kan, tapi karena kesalahan aku"


Athena menghela napasnya. Ia kadang masih takut untuk berada di samping Raga. Wajah marah Raga masih terbayang, apalagi saat melayangkan tinjunya pada dinding yang tepat berada di sebelah kepalanya.


"ma ma ma ma" Anne memasukkan tangannya ke dalam mulutnya.


"Makan bubur yah sayang. Mama ambilkan dulu" Athena ke dapur untuk mengambil bubur, juga puding untuk dirinya dan Raga. Bukan hanya itu, ada juga kue kukus yang dilapisi coklat cair.


"Kamu makan kuenya gih, Anne biar aku yang suapin" kata Athena.


Raga menggeleng.


"Siniin mangkuknya. Biar aku yang suapin Anne" tolaknya.


Athena dengan senang hati memberikan mangkuk bubur milik Anne kepada Raga. Biarlah Raga menyuapi Anne, agar dirinya bisa makan kue kukus dengan coklat berlimpah.


Raga yang melihat Athena sangat menikmati makanannya pun merasa ingin juga.


"The, suapin puding dong" pinta nya.


Athena mengambil cup puding, menyendok nya lalu menyuapi Raga.


Keluarga kecil memang seperti itu. Kadang menyenangkan, juga ada bumbu menjengkelkan di dalamnya.