
Seperti yang telah Raga katakan beberapa hari yang lalu kalau mereka akan berkumpul hari ini. Raga, Eros, Kevin, Darren dan Wildan memilih untuk bertemu di kafe O, tempat yang menjadi saksi atas persahabatan mereka.
Dahi Eros mengernyit saat tidak mendapati kehadiran satu-satunya perempuan dalam circle mereka.
"Where is Athena?" tanya nya pada Raga yang baru datang.
Raga meringis, tidak tahu harus menjawab apa.
"Ga?" kini Kevin yang bertanya.
"Kami sedang ada masalah" jawab Raga pada akhirnya.
"Ehh, sorry. Kami gak tahu" ucap Eros cepat.
"Nggak apa-apa" kata Raga. Ia menyesap kopi di depannya, entah siapa yang memesannya.
"Lo kurang duit apa kurang istirahat? Tuh mata kayak mata panda aja" kata Wildan.
"Kurang perhatian lebih tepatnya, Wil" Darren menimpali.
"Mau cerita nggak lo? Barangkali kami bisa bantu" Kata Kevin.
"Kalau nggak mau juga nggak apa-apa, The buat aku aja" Darren lagi-lagi berbicara semaunya.
Jitakan maut Eros mendarat cantik di jidat Darren.
"Teman lagi susah kok" ucapnya.
"Maaf bapak Eros" Darren menangkup kan kedua telapak tangannya di depan dada, seolah memohon ampun.
"Sa ae nih bocah" Jidat Darren lagi-lagi menjadi korban toyoran Wildan.
Raga menceritakan kronologi kenapa Athena bisa pergi. Ia menceritakan permasalahannya, mulai dari Clara hingga kesalahan pahamannya pada Athena.
"Lo bodoh atau gimana, Ga?" tanya Kevin pedas.
"Temannya lagi dapat masalah malah di katain bodoh" Wildan menabok lengan Kevin.
"Gak tahu mesti gimana lagi. Opa Lathief aja yang genggam dunia gak bisa tahu dimana letak Athena, apalagi aku yang masih menapaki tanah" ucap Raga pasrah.
"The kalau marah seram juga ternyata" Timpal Darren.
"Dia marahnya yah diam, atau paling menakutkan nya lagi yah kayak gini, pergi." kata Raga.
"Terus kamu dan Clara gimana?" tanya Eros.
"Clara sih, jadi perempuan kayak ular " cibir Darren.
"Keluarga Athena gimana?" tanya Kevin.
"Nah, ini yang juga buat aku merasa bersalah banget. Mereka semua, keluarga Athena gak ada marah-marah apalagi maki-maki aku. Mereka semua malah menenangkan aku, meminta aku untuk sabar."
"Kamu sih, syialan bener jadi suami" umpat Darren.
"Wajarlah Athena baik gitu, keluarga nya aja kayak gimana, paket komplit " Ucap Wildan.
"Kira-kira Athena ke mana?" tanya Eros penasaran.
"Mana aku tahu, Ros. Dia gak ada bawa ponsel, gak ada jejak penarikan uang, jejak keberangkatan apalagi. Dia terlalu pintar " Raga begitu frustasi.
"Kalau kamu gak bisa jaga Athena, aku siap kok menerima Athena dengan senang hati " kini Kevin yang tahu diri. Temannya lagi sulit, dia malah memanasi situasi.
"Anak lo gimana?" tanya Wildan.
"Ehh, iya, lo kan udah jadi bapak sekarang " Kevin baru ingat.
"Athena bawa lah."
"Pasti sulit sih jadi kamu. Istri dan anak gak tahu kemana" ucap Wildan.
"Mau dibantu pun kami gak tahu mesti gimana. Kalau bapak Lathief aja gak bisa melacak, gimana kami yang modalnya dari orang tua" kini Eros lah yang pasrah. Sungguh, ia sangat ingin membantu temannya ini.
Darren menggelengkan kepalanya.
"Kehidupan rumah tangga ternyata gak semudah kelihatannya " ucapnya.
"Jadi gak pengen nikah yah Ren?" tanya Kevin.
"Ya tetap mau. Pengen lah nikah" jawab Darren.
"Masalah yang sedang menimpa Raga bisa menjadi pelajaran buat kita semua, agar suatu hari nanti kita tidak mengalami hal yang sama, selain itu kita juga bisa mengantisipasi terjadinya hal yang kayak gini. Ga, ini pasti berat buat kamu, tapi kamu mesti sabar lagi. Usaha kamu juga perlu lebih lagi. Ingat, perjuangan kamu dapat Athena gak mudah, sekarang kamu berhasil menjadi teman hidupnya, jangan disia-siakan lah anak orang, apalagi sekarang udah ada baby A" ceramah Eros.
"Iya, thanks yah udah pada luangin waktunya " ucap Raga.
"Gak mau tahu, aku mesti ketemu The sebelum ke kota sebelah lagi" kata Darren.
"Iya, gak enak juga ngumpul gak ada The. Biasanya The sukarela masak untuk kita" Kevin ikut mengiyakan.
Raga menghela napasnya. Ia hanya bisa berharap istri dan anaknya segera pulang.