Athena

Athena
Kenapa, Ga?



"Thee" panggil Raga.


Athena tidak merespon panggilan Raga, ia menuang air ke dalam gelas yang akan ia bawa ke kamar.


"The ke atas dulu pa, ma" pamit Athena sebelum menaiki tangga.


Baskara menepuk pundak istrinya, lalu mereka berdua masuk ke kamarnya.


Raga mengusap wajahnya kasar. Ia segera berlari menaiki tangga rumahnya. Nampak istrinya sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Raga duduk di depan istrinya.


"The" panggil Raga.


"Kenapa, Ga?"


"Aku ada salah sama kamu? Aku ada pernah bohongin kamu? Atau kamu marah karena aku belum hamil sehingga kamu tidak jujur kepadaku tentang Clara?"


Raga memegang kedua bahu istrinya.


"The, ini gak seperti apa yang kamu pikirkan"


"Emang apa yang aku pikirkan?"


"The, sumpah, aku gak ada apa-apa sama Clara"


Athena tertawa sumbang, kemudian bertepuk tangan.


"Waw, hebat sekali tuan Raga ini" katanya sarkas.


"The"


"Apa Ga? Gak ada apa-apa kan yah?"


"Sumpah The"


Tawa Athena berhenti, wajahnya berubah menjadi sangat datar, suasana tiba-tiba terasa begitu canggung dan dingin.


"Gak perlu bersumpah, Ga. Aku gak butuh itu. Aku hanya butuh kamu jujur, tapi sepertinya begitu sulit. Awal kita bersama, aku ada lihat Clara telpon kamu. Beberapa hari setelahnya aku lihat kamu dan Clara naik ke mobil yang sama. Kamu ingat kan saat dimana aku dan Ayra bawa makan siang ke kantormu?"


Raga mengangguk.


"Ayra gak salah lihat, Ga. Ayra gak salah orang. Aku juga melihat hal yang sama seperti yang Ayra lihat. Aku diam aja, nunggu kamu jujur, nunggu kamu bicara. Kita ini sepasang suami istri, aku adalah pakaianmu yang akan menutupi segala hal tentangmu, termasuk hal ini dari keluargaku. Selama waktu beberapa bulan itu kamu gak pernah cerita, kamu enggak jujur sama aku. Atau aku bukan lagi teman cerita yang baik yah? Sehingga kamu memilih untuk menyembunyikan semuanya" Athena terkekeh kecil, seolah menertawai dirinya sendiri.


"The,nggak gitu" Raga mengusap pipi Athena.


"Kamu tahu apa yang paling buat aku marah? Aku nemuin surat pemeriksaan kehamilan juga testpack di ruang kerja kamu. Itu membuat aku seolah ditampar oleh kamu dan kenyataan"


"The, stop it"


"Ada hal yang lebih menyakitkan lainnya, beberapa hari aku di kota C, kamu gak ada hubungin aku lagi setelah menanyakan apakah aku sudah sampai atau belum ,kamu bahkan gak balas pesan aku. Gimana mau di balas, dibaca aja juga nggak kan. hahah"


"The, berhenti"


"Gimana mau dibaca, orang kamu telponan dengan Clara. Lucu banget kan Ga? Aku nungguin kamu bales pesan kamu, ehh kamu malah telponan sama Clara" Athena tersenyum saat mengatakannya.


"Forgive me, The"


Athena menatap Raga begitu dalam.


"Kamu minta maaf buat apa, Ga? Kamu udah ngelakuin kesalahan?"


"Aku minta maaf, The" ucap Raga memohon.


"Kalau tahu kamu salah, kenapa terus dilanjutkan kesalahannya?" teriak The.


"Kamu tahu yang paling mengerikannya lagi adalah kamu sedang bersama Clara saat aku sedang kesakitan, saat itu rasanya sangat sakit, dan bodohnya aku malah menelpon kamu. Kamu mungkin nggak sadar, Ayra lihat kamu dan Raga di poli kandungan bersama Clara, sebelum Ayra ke ruang perawatan ku"


Semua yang Athena ketahui telah ia sampaikan kepada Raga. Sementara Raga hanya bisa meminta maaf terus menerus untuk kesalahannya. Mengapa ia begitu bodoh dan ceroboh? Mengapa ia tidak pernah peka akan keterdiaman istrinya.


"Apa ada hal lain yang kamu sembunyikan? Yang lebih besar daripada ini Ga?"


"Nggak ada, The." jawab Raga.


Athena mengangguk. Ia lalu berdiri dan mengambil ponsel juga dompetnya yang ada di laci nakas.


"Kamu butuh waktu untuk memikirkan segalanya. Pikirkan apa dan bagaimana kita nantinya, pikirkan setiap jalan yang akan kamu tempuh, aku ikhlas jika memang kamu sudah tidak mampu jalan bersamaku. Jaga kesehatan" kata Athena. Ia dengan cepat melangkah meninggalkan Raga.


Raga dengan cepat mengikuti langkah Athena, yang entah kenapa bisa berjalan secepat itu. Ia bahkan sudah berlari, tapi belum mampu menyamain langkah Athena.


"Ma, The pergi dulu" pamit Athena pada Vania yang sedang duduk di sofa.


"Mau kemana sayang?" tanya Vania.


"The mau pergi ,ma"


"Kasihan papa, ma"


"Kalau mama gak boleh ikut, kamu gak boleh pergi" ancam Vania.


"The, jangan pergi" Raga memeluk istrinya.


"Jangan buat semuanya makin rumit, Ga. Aku dan kamu sama-sama butuh waktu sendiri-sendiri untuk bisa berpikir." ucap Athena dingin.


"Mama izin ke papa, kalau papa izinin mama pergi sama The"


Mendengar ucapan menantunya, Vania dengan cepat memasuki kamarnya dan meminta izin pada Baskara.


"Kalau hari kamu sudah tenang, kembali lagi yah ke rumah papa. Papa akan selalu menunggu kepulangan anak perempuan papa" Baskara mengelus kepala Athena.


Athena mengangguk.


"Tolong jangan ada yang bilang sama keluarga The. Yang tahu masalah ini hanya Ayra, tapi Ayra sudah janji untuk tidak memberitahu kepada siapapun." pinta Athena.


"The, aku bilang jangan pergi" kata Raga.


Tapi Athena tetap melanjutkan langkahnya.


"Aku gak beri izin kamu buat pergi The."


Athena berhenti melangkah. Ia lalu menoleh.


"Aku juga gak ada izinin kamu buat bohong, Ga. Pilihannya cuma ada dua, kamu izinin aku pergi dan mama ikut, atau aku pergi sendiri tanpa izin kamu" kata Athena.


"Kita masih bisa ngomong baik-baik The"


"Udah basi, Ga. Seharusnya kamu ngomong baik-baik beberapa bulan yang lalu, saat semuanya baru kamu mulai"


"The"


"Silahkan memilih."


"Aku izinin kamu pergi bareng mama, tapi gak boleh lewat dari 7 hari"


"Aku akan pulang lebih atau kurang dari 7 hari dengan syarat semuanya harus selesai, termasuk masalah ini dan hubunganmu dengan Clara"


"Hati-hati di jalan. Ma, Raga titip Athena"


Vania menggandeng tangan menantunya keluar dari rumahnya.


"Mama yang nyetir yah?"


"The aja, ma" tolak Athena.


"Kamu belum baik-baik aja sayang" kata Vania.


"Nggak apa-apa ma?"


Vania mengangguk.


"Mau kemana sayang?"


"Ke bandara ma"


Vania menoleh.


"Athena baik-baik aja kok ma kalau pergi sendiri." ucap Athena.


Vania menggelengkan kepalanya.


"Mama tetap harus ikut. Mama nggak mau kamu sampai kenapa-kenapa" katanya.


Athena tersenyum.


"Terima kasih, ma"


Vania mengendarai mobilnya hingga di bandara. Di bandara sudah ada beberapa orang yang menunggu.


"Aku mau ke pulau Athena. Kalau opa bertanya, jawab saja yang seperti saya katakan"


Mereka semua mengangguk mengerti.


"Sampaikan juga kepada opa, jangan ada yang menyusul kesana, siapapun orangnya. Katakan saya melarangnya. Saya dan mertua saya sedang tidak ingin di ganggu"


"Baik, nona"


"Ayo, ma" Athena melingkarkan tangannya di lengan sang mertua.