
Sehari setelah resepsi, Hana, Yudha dan Abraham pamit pulang terlebih dahulu. Besoknya giliran keluarga Okan yang meninggalkan kota A. Dan beberapa hari kemudian para kerabat serta sahabat Athena dan Raga juga pamit pulang, pekerjaan mereka sudah menunggu.
Seperti halnya Randi dan Angga beserta keluarga kecil mereka, mereka menyempatkan menginap beberapa hari di Arunika, mendatangi makam orang tua mereka juga Rafa, dan barulah pulang keesokan harinya.
Ini adalah hari ke tiga dimana Raga dan Athena memilih kediaman Rafa sebagai rumah mereka. Sebelum ini, mereka berpindah-pindah tempat, dari kediaman Renal hingga kediaman Baskara. Setelah mengantongi izin untuk tinggal berdua, barulah mereka memasuki rumah Rafa.
"Cuti kamu sampai kapan?" tanya Raga. Lelaki ini juga kembali bekerja mulai Senin kemarin, sekarang sudah Jum'at sore, berarti waktunya untuk Athena hingga weekend berakhir.
"Aku re-sign" jawab Athena. Ia sedang tiduran dengan paha Raga sebagai bantal nya.
"Hah? Emang iya?"
"Iya, Ga"
"Tapi kenapa The? Aku gak masalah kalau kamu kerja lho" Raga mengusap kening istrinya.
"Kan udah ada kamu yang nafkahi aku" jawab Athena enteng.
Raga menepuk jidatnya. Ia lupa sesuatu.
"Aku berdiri dulu, bentar" katanya. Ia berdiri setelah Athena memilih duduk dan bersandar pada headboard tempat tidur.
Raga membuka dompetnya, ia mengambil dua kartu lalu memberikannya kepada Athena.
"The, kartu ini buat kamu, nafkah dari aku, buat kamu beli makanan, juga pakaian. Kartu yang ini, buat tabungan kita. Setiap bulan akan terisi kok." Raga menjelaskan.
"Ehh, aku gak ada maksud gitu lho Ga"
"Iya, tahu. Kemarin aku benar-benar lupa, maaf yah" Raga mencium kening istrinya.
"Padahal kalau kemana-mana kamu yang bayarin" ucap Athena. Ia lalu berdiri dan membuka laci lemari menggunakan sidik jarinya. Ia mengambil sebuah kotak dan menyimpannya di atas tempat tidur. Ia juga mengambil dompetnya, dan mengeluarkan beberapa kartu kemudian memasukkannya ke dalam kotak yang ia ambil.
"Kamu ngapain?" tanya Raga.
"Aku nyimpan kartu dari opa, oma, daddy, mommy dan papi. Tadi kamu udah ngasih aku kartu, dan kartu itu akan aku gunakan dengan sebaik mungkin. Kartu dari yang lain sudah saatnya aku simpan." jawab Athena.
"Kartu sebanyak itu isinya kamu apain aja The?" tanya Raga penasaran. Kartu-kartu milik istrinya benar-benar diluar dugaannya.
"Karena pemegang kartu ini wajib membelanjakan isinya, aku gunakan untuk investasi. Kan kamu tahu sendiri, aku juga baru akusisi pabrik pangan." jawab Athena jujur.
"Masih terisi sampai sekarang?" tanya Raga.
"Masih, Ga. Setiap bulan pasti akan terisi. Tahu nggak, mommy aja udah beranak tiga tapi opa masih kasih duit. Apalagi aku yang belum punya anak" bangga Athena yang mengundang tawa kecil Raga.
"Yaudah, ayo buat anak. Mumpung lagi hujan ini" ajak Raga.
Kini Athena yang dibuat terkekeh karena ajakan Raga. Ia lalu membereskan pekerjaan nya, menempatkan di tempat yang seharusnya dan ikut bergabung dengan Raga di tempat tidur.
"Kamu mau punya berapa anak, Ga?" tanya Athena. Ia menjadikan dada bidang sang suami sebagai bantalnya, sementara tangannya memeluk pinggang sang suami, ia nemplok seperti koala.
"Berapa pun yang Tuhan kasih, asal jangan satu. Nanti ia kesepian" jawab Raga.
"Nevan juga anak tunggal"
"Tapi kan ada kamu yang jadi kakaknya, ada Ayra yang jadi adiknya" Raga mengelus rambut Athena.
"Aku selalu merasa hidup dalam mimpi, Ga. Hidup bersama dengan orang-orang baik, sekarang diberi teman hidup yang seperti pangeran" ucap Athena.
"Udah bisa ngalus yah sekarang" Raga menarik tubuh Athena, agar kepala mereka sejajar.
Athena terkekeh saat mendapati serangan bertubi-tubi dari Raga. Raga suka sekali menciumi seluruh permukaan wajah Athena.
"Ga, nanti malam aja yah. Aku ngantuk"
Raga mengangguk. Ia lalu mengubur wajahnya di leher Athena. Kini giliran Athena yang memainkan rambut Raga sebagai pengantar tidurnya.
Saat Raga tidak merasakan lagi elusan di kepalanya, ia mendongak menatap wajah perempuan cantik yang sudah menjadi istrinya. Puas menatap istrinya, ia lalu membawa perempuan itu ke dalam pelukannya dan ikut tertidur.
Saat sedang menata makanan di atas meja, ia merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
"Udah bangun?" tanya Athena.
Raga mengangguk. Ia menempatkan dagunya di puncak kepala Athena.
"Kok nggak bangunin aku?"
"Kamu nyenyak banget tidurnya. Aku juga kan mau masak" jawab Athena.
"Sana gih, mandi dulu"
Raga mencium sekilas pelipis istrinya sebelum kembali ke kamar untuk mandi sebelum gelap datang. Athena kembali menyusun makanan yang sudah matang, hanya sup nya yang masih di atas kompor.
Sedikit banyak ia tahu beberapa hal tentang Raga. Jika dirinya harus sarapan pagi dengan bubur ayam, maka Raga sebenarnya lebih suka sarapan dengan roti. Raga juga lebih suka dengan makanan rumahan ketimbang makanan luar. Entah makan siang atau makan malam, ia meminta Athena untuk masak sup kentang yang dicampur bihun. Athena tentu saja dengan senang hati melakukannya. Seperti saat ini, ia menyajikan sup hangat di atas meja sebagai menu makan malam mereka.
Suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu, Athena menoleh. Ia mendapati Ayra dan Nevan dengan cengiran lucunya.
"Adik-adiknya kakak The datang" seru Athena senang, ia mendapat pelukan dari dua orang adiknya.
"Nggak ganggu kan kak?" tanya Nevan.
Athena menggeleng.
"Tidak sama sekali" jawabnya.
"Udah makan belum?"
Kedua adiknya menggeleng bersamaan.
"Mommy dan daddy kan lagi ke negara T. Oma dan opa juga nggak ada, mama dan papa juga entah kemana, yah larinya kesini, minta makan" jawab Nevan.
"Yaudah, ayo ke meja makan. Kakak panggil Raga dulu" ajak Athena. Setelah adik-adiknya duduk di meja makan, ia lalu berjalan ke kamarnya untuk memanggil Raga.
"Ehh, tumben kesini" heran Raga.
"Lagi cari makan, bang. Kebetulan cuma kak The yang ada ,yaudah larinya kesini" jawab Nevan jujur.
Ayra yang duduk di sebelah Nevan hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Raga terkekeh mendengar jawaban absurd dari adik iparnya.
"Yaudah, ayo makan. Kakak kalian masak banyak" Raga memimpin doa makan sebelum mereka menyantap makan malam.
"Nevan udah ada jadwal ujian?" tanya Athena.
"Udah, kak. Hari Senin pekan depan."
"Bersamaan ujiannya?" tanya Raga.
"Nggak, bang. Senin sidang bisman, Selasa sidang psikologi"
"Masih waras kan?"
"Ya masih lah, bang. Apaan pake gak waras segala?"
"Ayra gimana sekolahnya?" tanya Athena.
"Bagus, kak. Kan sekolahnya dipilih langsung sama daddy, sekolahnya megah" jawab anak kecil itu.
"Nyaman nggak?" kini Raga yang bertanya.
"Nyaman, kak. Teman-teman sekolahnya baik"
Setelah makan malam, Athena menahan adiknya untuk nonton sebentar.