Athena

Athena
Opa's Birthday



Sepulang dari acara makan siangnya, Athena bergegas pulang.


"Gak mampir dulu?" tanya Athena saat mobil Raga sudah terparkir di depan rumahnya.


"Nggak, maaf yah. Lagian kamu pasti family time dulu" jawab Raga.


Athena mengangguk.


Raga mencium kening Athena sebelum gadis itu membuka pintu mobil.


"Hati-hati di jalan" ucap Athena.


"See you later" Raga membunyikan klakson mobilnya sebelum meninggalkan Athena.


Athena memasuki rumahnya dengan kebaya yang masih menempel di badannya.


"Tuan putri kita sudah pulang" sambut Arion yang sedang berbaring di karpet ruang keluarga.


"Sesak banget" ucap Athena. Ia bergegas ke kamarnya untuk bersih-bersih dan mengganti bajunya.


"Jadinya kemana nih?" tanya Athena yang baru bergabung dengan Alda dan Ivana.


"Ke AR HOTEL. Mama udah siapin semuanya" jawab Ivana.


Alda mengangguk, mengiyakan ucapan Ivana.


"Opa sama Oma tahu nggak?" tanya Athena.


Keduanya menggeleng kompak.


"Papa nggak mikirin hal lain karena tadi kesenangan lihat cucunya berdiri di atas podium sambil merangkul bahunya" goda Alda.


"Mommy apa-apaan sih?" Athena menutup wajahnya karena malu.


"Udah rencanain ini emang?" tanya Ivana.


Athena menggeleng lalu mengangguk.


"Sebenarnya kemarin siang dapat informasi dari pihak kampus untuk menyiapkan pidato singkat sebagai lulusan terbaik, terus The siapin deh. Pas larut malam alarm The bunyi, eh Opa ulang tahun ternyata. Yah udah, diberi surprise dengan cara ini aja." cerita Athena.


"Tadi keren banget" ucap Ivana.


"Bisa aja sih mama"


"Anak mommy makin besar sekarang, bentar lagi kerja nih gak minta sangu lagi pasti" kata Alda.


Athena nyengir.


"Tapi kalau mommy masih mau ngasih juga nggak apa-apa kok" ucapnya sambil mengedipkan matanya lucu.


Alda mencubit kedua pipi anaknya.


"So sweet banget kalian" ucap Ivana saat melihat pemandangan ibu dan anak di depannya. Ivana begitu kagum terhadap keduanya. Alda yang sangat menyayangi Athena meskipun gadis itu bukan anak kandungnya. Dan perlakuan Athena yang begitu menghormati Alda meskipun Alda bukan mama kandungnya. Athena juga tidak pernah lagi membahas tentang mama kandungnya di depan mereka, anak itu cukup tahu jika mama kandungnya sudah meninggal.


"MOOOOM, kak Arion nih" teriak Ayra dari taman.


"ARIOOOOOON" tegur Ivana sambil berteriak.


Arion adalah musuh bebuyutan Ayra. Arion selalu menjahili anak kecil itu, dan yang paling sering terjadi adalah Arion menggelitiki Ayra hingga anak itu menangis.


✨✨✨


Malam menyapa penduduk semesta. Semua anggota keluarga sedang dalam perjalanan menuju AR HOTEL.


"Habis ini langsung ke kota C?" tanya Mika pada Athena.


"Pekan depan, pa." jawab Athena.


"Ayra jadi ikut sama kakaknya?" tanya Aina.


"Ikut, Oma" jawab Ayra.


"Wah, bentar lagi rumah Renal pasti sepi nih" kata Mika.


"Jangan lebay kalian. Anak-anak yah gitu, punya jalannya masing-masing, jangan di tahan selagi tujuannya baik. Papa aja dulu lepas Alda ke RelFath, hidup di kota C, yah mau gimana lagi, itu pilihannya. Jadi orang tua itu nggak gampang. Papa dulu ngiranya cuman besarin doang, di sayangi, ehh pas udah besar makin sulit ngelepasnya." ceramah Lathief.


Mika dan Renal mengangguk mengerti.


"Iya, pa" ucap keduanya bersamaan.


Limosin hitam yang mereka tumpangi terparkir cantik di depan lobi hotel. Athena menggandeng tangan kecil Ayra memasuki hotel, mereka menuju ke rooftoop hotel ini, tempat dimana Athena mendapatkan surprise dulu.


Sebuah meja panjang terlihat di tengah-tengah rooftoop, dengan beberapa kursi di sisinya. Ada banyak makanan yang dihidangkan di atas meja panjang itu.


Orang-orang masuk terlebih dahulu kecuali Mika dan Alda. Dua saudara itu mengambil kue terlebih dahulu untuk sang papa.


"Makan malamnya dalam rangka apa ini?" tanya Lathief.


"Kan cucu papa tadi wisuda" jawab Ivana.


Alunan biola mengiringi Alda dan Mika yang masing-masing membawa kue ditangannya. Lathief terkekeh melihat kedua anaknya yang berjalan ke arahnya. Sebuah lilin angka 63 yang tertancap diatas kue itu kembali mengingatkan dirinya bahwa waktu terus berjalan.


Lathief meniup lilin pada dua kue itu bergantian.


"Papa, terima kasih sudah jadi papa yang hebat untuk Alda dan kakak serta kedua menantu papa, jadi suami yang paling setia untuk mama dan jadi opa yang paling bisa diandalkan oleh cucu-cucunya. Papa, ini tidak seberapa bahkan tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang telah papa lakukan dan berikan kepada kami. Perayaan ini hanyalah usaha kami agar bisa membuat papa merasa bahagia di hari tua seperti sekarang, yang akan menjadi ingatan untuk papa di hari esok dan yang paling penting agar papa lebih semangat menjalani masa tua papa dan berdoa gar umurnya dipanjangkan, berusaha agar sehat terus untuk melihat proses kami semua untuk membentuk senyum di wajah papa." ucap Alda.


Lathief memeluk anak perempuannya, yang tak pernah mengecewakan dirinya. Ia benar-benar merasa menjadi manusia paling beruntung diberikan keluarga sehangat ini. Ia juga meminta Mika masuk ke pelukannya. Dua orang anaknya ini adalah titipan semesta yang sudah menemukan jalannya masing-masing.


"Terima kasih anak-anaknya papa" ucap Lathief. Ia kemudian mencium kening Mika lalu Alda.


"YEAAAAAAYYYY, selamat ulang tahun opa" teriak kelima cucunya kompak.


Lathief terkekeh. Ia tak lupa merangkul pinggang istrinya dan menyematkan ciuman singkat pada pipi sang istri.


"Terima kasih sudah setia menemani papa hingga kini" ucap Lathief.


Aina mengangguk.


"Selamat ulang tahun" katanya.


Ivana dan Renal juga mengucapkan ulang tahun kepada mertua mereka.


"Opa, boleh makan sekarang nggak?" tanya Arion tiba-tiba.


Arvin menatap Arion tajam, sementara yang lain terkekeh mendengar pertanyaan Arion.


"Aku lapar, Vin" ucap Arion.


"Iya, udah-udah. Ayo makan dulu, jam makan malam bahkan sudah lewat" Lathief melerai kedua cucunya.


Semuanya duduk di kursi masing-masing, menyantap hidangan yang ada di atas meja.


"Mau makan apa dek?" tanya Nevan pada Ayra.


"Kentang goreng aja kak" jawab Ayra.


"Gak makan nasi atau yang lain?"


Ayra menggeleng.


"Udah tadi sore" jawabnya.


"Ayra lagi diet yah?" tanya Mika.


"diet itu apa pa?"


"Yang gak makan malam"


"Ayra makan malam, papa. Makan kentang"


Yang lain hanya mendengar percakapan papa dan anak itu.


Setelah makan malam, masing-masing berpencar. Para muda mudi memilih duduk di kursi malas pinggir kolam renang, sedangkan yang lain memilih duduk di sofa yang membentuk lingkaran. Ayra sudah terbaring lelah di sofa, menjadikan paha Alda sebagai bantal.


Gemerlap bintang terlihat jelas dari lantai teratas ini, juga kendaraan yang hilir mudik dan lampu-lampu kota yang menyala.