Athena

Athena
2nd Day



Setelah bersiap-siap, mereka semua menuju kebun yang terlihat sangat luar biasa. Kebun tersebut diberi atap. Segala keperluan termasuk kebutuhan air, pupuk dan yang lainnya benar-benar dikendalikan manusia.


Kebun ini seluas 1 hektar. Ada 4 tingkatan tanaman kentang di kebun ini. Ada yang baru di tanam, ada yang sudah tumbuh, ada yang sudah berumur 60 hari dan satu tingkatan lainnya akan dipanen beberapa hari lagi.


Pada umumnya kentang akan dipanen di hari ke 80 hingga 120. Tergantung dari jenis yang ditanam.


"Pemiliknya dimana, pak?" tanya Eros.


Pak kades melihat jam tangannya.


"Tiga menit lagi ia akan tiba." jawab pak Kades.


"Apakah pertanian disini sudah semaju ini?" tanya Kevin.


"belum semua petani menggunakan metode ini. Beberapa dari kami masih mengandalkan curah hujan"


"Padahal dengan metode seperti ini, bisa menghemat waktu karena tidak perlu menunggu cuaca baik atau buruk. Hasilnya juga pasti lebih banyak" Kata Eros.


Pak kades mengangguk.


"Petani juga mengeluhkan pupuk. Bibitnya juga bisa dibilang cukup mahal" kata pak Kades menyampaikan keluhan warganya.


"Maaf, terlambat" ucap seorang lelaki yang badannya sudah tidak tegar lagi. Di belakangnya seorang pemuda dengan kisaran usia 34 tahun mengikutinya.


Athena menoleh. Betapa kagetnya ia saat mendapati Abraham disini. Ternyata yang bersamanya adalah Run.


"Tidak masalah, pak" kata pak kades.


"Kalian pasti menunggu cukup lama. Sekali lagi, maafkan orang tua ini" katanya.


"Bukan masalah besar, pak" kata Raga.


Abraham menoleh ke arah Athena. Ia hendak mendekati Athena, tapi dengan cepat Run menahannya.


"Perkenalkan pak, mereka ini pelajar dari Maheswari. Mereka di kirim untuk belajar pada masing-masing bidang yang dipilihnya. Kebetulan mereka semua memilih bidang pertanian, dan dikirim kesini untuk belajar" jelas pak Kades.


"Terima kasih sudah tertarik untuk memilih bidang pertanian. Padahal kebanyakan anak-anak millenial seperti kalian pasti akan memilih perkantoran dan sejenisnya. Asalkan mereka tidak kotor" kata Abraham.


"Sebuah kehormatan bagi kami karena diberi kesempatan untuk belajar dari bapak. Mohon bimbingannya, pak" kata Eros.


"Perkenalkan, dia salah satu mitra saya yang baru datang beberapa pekan lalu." kata Abraham memperkenalkan Run.


"Salam kenal semuanya" kata Run ramah. Wajahnya yang sangar dan juga menakutkan saat berada di kota A, kini tak terlihat lagi.


"Salam kenal, kak" Eros menjabat tangan Run, diikuti yang lain. Mereka tak lupa juga untuk menjabat tangan Abraham.


"Perempuannya cuma satu orang yah?" tanya Abraham.


"Iya, pak" jawab Athena lembut.


Abraham menoleh ke arah Run, memastikan apa yang ia lihat. Run mengangguk dengan pelan. Abraham mengerti. Athena ini tidak jauh beda dengan mommy nya.


"Kalian saling menjaga yah. Jaga nama sendiri, keluarga, sekolah dan desa ini" petuah Abraham.


"Baik, pak" kompak Athena, Eros, Raga, Kecil, Darren dan Wildan.


"Jiwa muda memang berbeda. Semangatnya masih menggebu-gebu" kata pak Kades setelah mendengar jawaban kompak dari keenam orang tamunya.


"Pak Abraham, pak Run, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Ada rapat di balai desa" pamit pak kades.


"Adik-adik, bapak undur diri lebih dulu"


"Terima kasih, pak" ucap Eros dan Kevin bersamaan.


"Hati-hati pak kades" ucap Abraham. Sementara Run hanya mengangguk.


Sudah empat tahun belakangan Abraham menjadi petani disini. Ia tidak terjun langsung dalam mengurus kebunnya. Ia hanya akan datang sekali sebulan. Tapi setelah Lathief menelponnya, jika Athena memilih bidang pertanian, dan kebetulan pihak sekolah menempatkan di desa ini, Lathief dengan hati mengajukan lahannya kepada pihak sekolah sebagai media belajar untuk Athena dan teman-temannya. Min, Run dan Ram tentu saja menempati rumah Abraham sebagai rumah tugasnya untuk menjaga Athena.


Abraham dan Run menemani para remaja tersebut berjalan mengelilingi kebun.


"Sejak empat tahun lalu. Ini adalah percobaan ketiga produk kami. Percobaan pertama gagal. Ulat berdatangan. Percobaan kedua, bisa dibilang berhasil tapi agak memakan waktu hingga 120 hari. Semoga kali ini berhasil, bisa dipanen kurang dari 100 hari" jelas Abraham.


"Apakah bapak menanam produk sendiri? Bibit misalnya?" tanya Kevin.


"Tentu saja. Bahkan pupuk saya membawa dari luar" jawab Abraham.


"Bukankah itu cukup sulit? Atau petani disini akan merasa terasingkan." tanya Athena.


"Sebenarnya cukup sulit. Awalnya petani disini memang keberatan. Apalagi setelah melihat kegagalan saya dua kali, mereka khawatir tanamannya ikut tidak berhasil." jelas Abraham.


"Apakah bapak tidak cemas dengan hasilnya nanti?" tanya Eros.


"Kegagalan dan keberhasilan adalah dua hal yang berdampingan. Saya sudah menyiapkan mental terlebih dulu sebelum memulai semuanya" jawab Abraham.


"Adik-adik, saya akan memberitahukan tentang jadwal kalian. Seperti di sekolah, kalian sekolah dari Senin hingga Jum'at, maka kami juga memilih opsi itu. Untuk jamnya, kalian hanya perlu berada disini hingga pukul 11 siang." jelas Run.


"Baik, kak" jawab semuanya.


"Kak, disini ada pasar nggak?" tanya Athena.


"Ada, sekali seminggu. Setiap hari Sabtu. Kebetulan besok hari Sabtu, jadi kakak sarankan untuk membeli kebutuhan yang menutupi hingga pekan selanjutnya. Ohiya, kalian tidak perlu cemas akan sayur mayur, warga disini suka memberinya secara cuma-cuma"


"Terima kasih kak, untuk penjelasannya." ucap Eros.


Abraham melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Sekarang sudah pukul 11 siang. Sebagai rasa syukur bapak atas kehadiran kalian, kalian kami undang untuk makan siang di rumah." ajak Abraham.


"Wahh, terima kasih, pak" ucap Wildan senang.


Abraham terkekeh geli melihatnya raut wajah Wildan.


"Cuacanya dingin. Bikin lapar terus" ucap Darren polos.


"Kalian jaga kesehatan" pesan Abraham.


Mereka lalu meninggalkan lahan pertanian milik Abraham, kemudian berjalan menuju rumah milik Abraham.


Rumah Abraham menyerupai villa dengan halaman yang luas. Ada kolam renang di bagian belakang. Athena sampai berdecak kagum.


"Keren banget" katanya.


"Bener. Tinggal di desa, selera kota" kata Wildan.


Abraham meminta mereka di taman belakang, itulah sebabnya mereka bisa tahu ada kolam renang di bagian belakang villa.


"Gue gak akan membeku kan, kalau berenang disini?" tanya Darren polos.


"Gak, Ren. Paling Lo cuma hipotermia" canda Kevin.


Abraham terkekeh mendengar pertanyaan Darren.


"Silahkan duduk." kata Abraham.


Mereka duduk di gasebo.


"Kak Run di mana? Gak ikut makan?" tanya Eros.


"Jam segini Run akan tidur. Ia akan makan setelah bangun tidur. Takut tidurnya kebablasan kalau makan sebelum tidur, katanya" jawab Abraham.


Makanan dihidangkan. Ada ayam goreng, sayur daun labu siam yang ditumis, juga sup kentang.


"Makan yang banyak. Cuaca dingin membuat kita lapar terus." kata Abraham.


"Terima kasih, pak" ucap mereka serempak sebelum menyantap makan siang di depannya.