Athena

Athena
Kantor Raga



Rencana Athena pulang ke kota A akan segera terlaksana. Usia kandungannya sudah berjalan 7 bulan, ia akan berangkat sebelum kandungannya berusia 8 bulan.


Perutnya kian membesar, beberapa bagian tubuhnya juga ikut membesar, apalagi pipinya.


"Gemesh banget, kayak kakak" Raga bahkan kadang menggigit pipi Athena jika tidak bisa menahan kegemasan nya.


"Sakit, Ga" rengek Athena. Ia membalas dengan mencubit pinggang Raga.


Raga terkekeh.


Di depan mereka ada Anne yang sedang sibuk dengan kertas dan pensil warna. Anak itu sedang asyik sendiri mencoret kertas putih di depannya.


"Kerjaan kamu gimana?" tanya Athena.


"Masih ada beberapa yang perlu aku bereskan sebelum kembali ke kota A" jawab Raga.


"Habis lahiran, kita kembali ke rumah ini lagi pokoknya. Kita besarin anak-anak di sini" kata Athena.


Raga mengangguk.


"Apa pun keinginan ratu, hamba akan turuti" pasrah Raga.


"Kakak, udah ngantuk belum?" tanya Athena.


Anne seolah tidak mendengar pertanyaan mamanya, ia masih asyik dengan pensil warnanya.


"Kak?" kini Raga yang memanggil.


Anne menoleh, menatap kedua orang tuanya dalam diam.


"Tadi ditanya mama lho sayang" ucap Raga.


Pandangan Anne fokus kepada Athena.


"Kakak udah ngantuk belum?" tanya Athena lembut.


Kepala kecil Anne menggeleng.


"no, mama" jawabnya.


Athena tersenyum.


"Kakak gambar apa? Ayo sini dekat mama"


Anne merangkak ke arah Athena sambil membawa kertas dan juga beberapa batang pencil beda warna.


Athena dan Raga tertawa melihat hasil coretan anaknya. Hanya coretan khas anak berusia setahun lebih 4 bulan.


"Anak papa pinter." Raga mengelus kepala anaknya.


Sebelum jam 10 malam, Athena menidurkan Anne. Athena selalu membiasakan Anne agar tidak tidur terlalu malam, agar anaknya bisa bangun lebih pagi esok hari. Ia mulai mengajarkan kebiasaan baik untuk anaknya sejak dini, sedini mungkin malah, anaknya belum berusia dua tahun.


Seperti malam-malam yang telah berlalu, Athena dan Raga akan mengucapkan selamat malam dan selamat tidur kepada putrinya sebelum mereka berdua kembali ke kamarnya.


"Kok kakak makin cuek yah?" khawatir Athena.


"Namanya juga masih kecil, The. Belum ngerti apa-apa."


"Ga, kakak kalau dipanggil lebih dari sekali dua kali, terus juga gak terlalu bawel juga seperti kemarin-kemarin. Anaknya makin dingin" Athena menyampaikan ketakutannya.


"Kamu kayak gak pernah ketemu orang dingin aja. Aku dulu gimana?" tanya Raga.


"Yah, pendiam. Salty juga sih" jawab Athena jujur.


Raga tertawa kecil mendengar jawaban jujur istrinya.


"Kakak pendiam, tapi masih peka, kok. Jangan khawatir yah, kita akan besarin dan didik kakak bersama-sama. Memberikan segala hal terbaik semampu kita kepadanya."


Athena mengangguk.


"Ayo tidur, udah larut malam." Raga mengelus perut istrinya sambil berusaha menuju alam mimpi dengan menutup matanya.


✨✨✨


"The, mau nggak ikut ke kantor?" tanya Raga hati-hati.


Athena yang sedang mengoles selai pada roti pun menoleh, menatap suaminya heran.


"Kok aku pengen lihat kamu duduk di kursi aku yah" katanya random.


"Kamu ngidam?" tanya Athena.


"Nggak tahu juga. Tiba-tiba aja" jawab Raga.


"Tapi kalau kamu gak mau, nggak apa-apa kok" kata Raga cepat.


"Aneh deh kamu" ucap Athena


Raga meringis.


"Kamu sarapan dulu, aku ambil kakak dulu" kata Athena.


"Aku aja, The"


Mata Athena mendelik.


"Kayak bisa aja" ucapnya sebelum meninggalkan suaminya di ruang makan.


Ya, sudah beberapa kali Raga berniat mengganti kan peran istrinya mengambil Anne di kamarnya saat anak itu berteriak, tapi tidak pernah berhasil. Saat tahu papanya yang datang, Anne akan menangis mencari mamanya. Hingga, Athena sendiri yang harus turun tangan dalam hal ini.


"Kakak minum air putih dulu" Athena membatu Anne minum air putih, sebelum mendudukkan anaknya di kursi khusus balita.


"Pagi anaknya papa" Raga mencium pipi anaknya yang duduk di sebelahnya.


"Gii" oceh Anne membalas sapaan papanya.


Athena menyimpan semangkuk bubur di depan anaknya, beberapa lembar roti di depan Raga dan semangkuk bubur dengan taburan suwiran ayam di depannya.


"Ayo, sarapan dulu" ucap Athena.


15 menit berlalu, Athena merapikan meja makan dan mencuci alat masak yang ia gunakan tadi saat membuat sarapan.


"Kak, ikut papa mau?" tanya Raga, ia membawa anaknya berjemur di taman samping rumah.


"Na?"


"Kakak ikut ke kantor mama." jawab Raga.


"Mama?"


"Iya, sama mama juga. Kakak kan belum pernah datang ke kantor papa, hari ini ikut yah" rayu Raga.


Anak kecil itu hanya bertepuk tangan.


Raga sudah rapi dengan pakaian kantornya. Kemeja biru muda dan celana biru malam. Kemejanya ia lapisi dengan jas yang senada dengan celana kainnya.


Sementara Athena mengenakan gaun berwarna biru malam yang menutupi hingga betisnya, kakinya dibalut sepatu balet berwarna coklat susu. Anak kecilnya mengenakan celana legging berwarna coklat susu, yang dipadukan dengan baju kaos berwarna biru malam, sama seperti orang tuanya.


Raga menggendong anaknya menuju mobil, sementara Athena berjalan di sampingnya sambil menenteng paper bag yang berisi makanan ringan dan susu buat Anne.


Athena memilih untuk mengikuti keinginan suaminya. Lagi pula ini akhir pekan, suaminya akan pulang saat jam makan siang.


J tersenyum senang menyambut kedatangan nyonya nya di perusahaan. Ia begitu bahagia melihat wajah nyonya nya yang berseri, selalu memancarkan cinta kasih.


"Senang melihat anda di sini, nyonya" ucap J sopan. Ia mengambil paper bag yang Athena pegang.


"Selamat pagi, J. Terima kasih" Athena membalas ucapan J dengan sangat lembut, seperti biasanya.


"Selamat datang juga nona kecil" sapanya pada Anne.


Anak itu hanya memandang J sebentar dan tertawa kecil.


Raga menggandeng tangan kecil anaknya, sementara tangannya yang lain merangkul pinggang istrinya.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka dengan cepat membungkuk, seolah memberi hormat kepada Athena. Mereka sama senangnya seperti J saat melihat kedatangan Athena.


Athena jarang tampil di depan publik. Hanya wajah Raga yang beberapa kali terlihat oleh penduduk Athena Island.


"Terima kasih, J" ucap Raga.


"Baik, tuan" J meninggalkan ruangan tuannya.


"Jadi?" tanya Athena.


Raga mengangkat sebelah alisnya, dan menggaruk pelipisnya.


"Kamu duduk di kursi aku. Kamu jadi boss hari ini. Sejak menikah kamu melepaskan segala pekerjaanmu demi aku. Entah kenapa juga aku pengen banget lihat kamu duduk di sana" Raga juga sama herannya.


Athena terkekeh. Ia duduk di kursi Raga dan memainkan kursi itu berputar.


"Maa" rengek Anne saat melihat mamanya asyik sendiri.


Raga mendudukkan Anne di paha Athena.


Athena melanjutkan bermain bersama anaknya di kursi Raga.


"Udah, ahh. Aku capek" ucap Athena.


"Kamu kerja lagi deh." katanya pada Raga.


Raga menggelengkan kepalanya.


"Coba nyalakan komputer nya"


Athena menyalakan komputer di depannya. Menunggu hingga beberapa menit dan senyum terbit di bibirnya.