Athena

Athena
Always be Daddy's Girl



"Daddy galau terus" ucap Nevan saat melihat Daddy nya melamun.


Renal melihat ke arah Nevan yang sedang bersandar pada ruang rumahnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia lalu menepuk sofa di sebelahnya, sebagai isyarat agar anak lelakinya itu duduk di sebelahnya.


Nevan duduk di sebelah Daddy nya.


"Daddy baik-baik saja?" tanya Nevan.


"Daddy baik-baik saja, son. Kamu gimana? Gimana kuliahnya?" tanya Renal.


"Jadwal ujian meja Nevan udah keluar, lusa sih" jawab Nevan.


Renal menepuk pelan bahu anak laki-lakinya.


"Terima kasih yah udah jadi anak Daddy yang paling bisa diandalkan" ucapnya.


"Daddy mah" anak laki-laki itu terkekeh pelan.


Ayra datang dan langsung duduk di pangkuan Renal, ada se cup ice cream di tangannya.


"Anak Daddy gemesin banget" Renal mencium pipi anaknya.


"Gemesin tapi cengeng" Nevan menggoda adiknya.


"Daddy, kak Nevan tuh" adu Ayra.


Renal terkekeh. Ia mengelus rambut anak perempuannya yang dikepang.


"Anak-anak Daddy udah pada besar" ucap Renal.


"Daddy juga makin tua" ucap Athena yang baru datang, ia duduk di lantai, menduduki kaki Daddy nya.


"Ngelesot aja di lantai" Nevan mengomentari kakaknya yang memilih duduk di lantai.


"Biarin. Aku tuh lagi kangen sama Daddy. Bentar malam kan udah balik lagi ke kota C" Athena tidak mau kalah.


"Daddy, Ayra mau pindah sekolah aja kalau udah ujian semester" ucap anak kecil itu.


"Lho, kenapa?" tanya Renal.


"Bentar lagi anak The menikah. Kasian kalau harus di kota C terus buat nemanin Ayra." jawab anak kecil itu.


"Mau pindah kemana emang?" tanya Nevan.


"Ayra masuk asrama aja kali yah?"


"EHH JANGAN" cegah Athena, Nevan dan Renal bersamaan.


"Ayra pindahnya ke British aja, terus tinggal sama mommy dan Daddy" keputusan Renal tidak bisa digugat.


"Ayra gak mau lagi tinggal sama akak The?" tanya Athena.


"Yah mau, tapi malu-malu sama bang Raga." jujur Ayra.


Renal terkekeh mendengar jawaban polos anaknya.


"Iya yah, bentar lagi akak The jadi istri orang, kita semua bakal ditinggalin" ucap Renal.


"Nggak, Daddy. I'm always your daughter" Athena memeluk betis Daddy nya.


"Bentar lagi bakalan sibuk sama keluarga barunya" Nevan memanasi situasi.


"Nevan" Athena mencubit kecil betis adiknya.


"Aw, sakit kak" Nevan mengelus betisnya yang terasa sakit. Cubitan kakaknya benar-benar terasa panas.


"Yah sorry" Athena ikut mengelus bekas cubitannya.


"Kak, tadi Daddy galau tahuu. Atau jangan-jangan galau karena kakak bakal nikah" ucap Nevan ember.


"Eeh, beneran?" Athena melihat wajah Daddy nya.


"Iya, kakak. Daddy melamun aja" jawab Nevan.


"Daddy gak senang yah?" tanya Athena.


"Ya seneng, bahagia banget. Tapi ada sedihnya juga. Anak perempuan Daddy akan meninggalkan rumah ini untuk rumahnya yang lain. Anak yang Daddy besarin akan menjadi milik lelaki lain" Renal benar-benar galau.


"Daddy, Athena gak pergi, Athena akan selalu menjadi anak perempuan Daddy, akan selalu menjadi kakak untuk adik-adik" Athena menyandarkan kepalanya di lutut Renal.


"Kalau Ayra juga nikah, Daddy sedih nggak?"


"Ya sedih. Kalau bisa mah Daddy berharap anak-anak Daddy kecil terus, terus bersama Daddy" jawab Renal.


"Kalau Nevan yang menikah, Daddy kebanyakan senang, karena Nevan akan membawa anggota keluarga baru untuk keluarga kita."


"The dan Ayra juga sama , dad. Kami berdua akan membawa menantu untuk Daddy." kata Athena.


"Tetap beda, sayang." Renal tidak mau di debat.


"Daddy kalau galau mah gak mau kalah" ucap Athena.


Renal terkekeh mendengar ucapan anaknya.


"Mommy teriak-teriak panggil makan siang gak ada yang denger" omel Alda. Ia menggelengkan kepalanya melihat pemandangan di depannya. Renal dikelilingi oleh 3 anaknya, Athena bahkan mengelesot di lantai sambil memeluk lutut Daddy nya.


"Mommy ganggu ihh, anak-anak tumben lagi manja gini" kata Renal.


"Itu anak-anaknya pada kenapa ?" Tanya Alda.


"Daddy lagi mellow mommy, akak bentar lagi jadi istri orang" jawab Nevan.


"Iya, mommy" Ayra mengiyakan.


"Daddy gak mellow sendiri yah, kakak juga kok" Renal membela dirinya.


"Pengen meluk Daddy terus" ucap Athena.


"Pelukannya nanti aja, udah yuk sekarang makan siang dulu" ajak Alda.


Nevan dan Athena sudah berdiri dari duduknya dan mengikuti Alda menuju dapur.


"Gendong, dad" Ayra minta digendong.


Renal dengan senang hati membawa anak berumur 9 tahun itu ke dalam gendongannya.


"Ehh, jangan tidur dulu dek, makan siang dulu" teriak Nevan saat melihat mata Ayra sudah akan tertutup.


"Kakak" rengek Ayra.


"Udah, adek makan dulu. Habis itu tidur siang" kata Renal. Ia mendudukkan Ayra di dekat Alda.


Alda mengelus rambut putri kecilnya.


"Makan dulu yah?"


Ayra mengangguk. Ia mengambil nasi juga perkedel kentang.


"Kok sedikit makannya?" tanya Athena.


"Ngantuk, kak" jawab anak kecil itu.


"Ya udah, adek makan dulu" suruh Athena.


Mereka makan dengan tenang. Setelah minum dan membawa piring kotornya ke wastafel, Ayra langsung nemplok di pangkuan Alda.


"Udah yuk, tidurnya sama mommy" ucap Alda. Ia membawa Ayra ke sebuah kamar dengan ukuran ranjang yang cukup besar.


"Nevan gak ikut?" tanya Athena.


"Nevan mau ke rumah papa" jawab Nevan.


"Oke dehh. Hati-hati dek" ucap Athena.


Ia ikut tertidur di samping kanan mommy nya. Memeluk pinggang sang mommy yang sudah ada kaki Ayra yang juga melingkari pinggang mommy nya.


"Daddy tidur samping The yah" pinta gadis itu.


Renal tidur dan memeluk putrinya juga istrinya.


Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru seperti kemarin ia menggendong Athena, membawanya ke zoo, mengantarnya ke sekolah. Beberapa pekan ke depan ia akan melepaskan anak gadisnya untuk hidup bersama dengan lelaki pilihannya.


Kini Alda dan Renal sudah berada di kamarnya, mereka meninggalkan dua putrinya yang sedang lelap dalam tidurnya.


"Ren, jangan sedih begitu. Biarkan anak-anak menemukan bahagianya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya. Anak-anak ini adalah titipan, beberapa pekan ke depan, orang lain yang akan menggantikan kita menjaganya, merawatnya dan menafkahinya. Putri pertama kita akan memulai hidupnya, mari kita sama-sama mengantarnya menuju gerbang kehidupannya yang baru. Ini mungkin terasa sangat sulit bagi kamu, aku juga sama. Sejak kecil ia hadir dalam kehidupan kita, menjadikan kita orang tua, memberikan warna dalam kehidupan kita, tentu bukan hal yang mudah untuk melepaskannya." Alda berbicara sambil melingkarkan tangannya di lengan suaminya.


Renal mencium kening istrinya.


"Raga juga lelaki yang baik. Ini tentu bukan pilihan Athena sendiri, tapi kita semua sepakat untuk memilihnya menjadi teman hidup anak kita." kata Alda.


"Thanks, Al"


Alda memeluk suaminya.