
Terjadi ketegangan di ruang observasi. Athena merasa sesak, keringat dingin mengalir dan juga merasakan pusing. Sempat terjadi pendarahan beberapa puluh menit yang lalu. Keadaan Athena belum kembali normal.
Keluarga dibuat pusing karena Athena butuh beberapa kantong darah, ia harus segera transfusi darah. Rh-null tentu saja masih menjadi hal yang langka hingga saat ini.
"Bagaimana ini, Ren?" Alda tentu saja merasa khawatir. Sejak kecil Athena selalu membutuhkan darah untuk keselamatan nya, beruntung nya ada Jake yang menjadi pahlawan nya. Tapi kini Jake sudah tenang di alam yang berbeda dengan mereka.
Renal mengusap wajahnya, ia sama cemasnya.
Vania jangan ditanya lagi, ia sudah menangis di pojok ruangan. Sementara Baskara menenangkan cucunya. Kini Raga lah yang paling dilanda kecemasan.
"Darah Athena dan Ayra sama, Rh-null" ucap Renal.
"Tapi Ayra masih kecil, Ren" Alda tentu saja tidak mengizinkan anak bungsunya mendonorkan darah, ia memikirkan resikonya di masa depan.
"Aku juga gak tega, Al" lirih Renal.
"Tapi anak kita yang lain sedang membutuhkan nya"
Keadaan semakin mendesak, dengan sangat berat Renal menelpon Lathief dan meminta pendapat mertuanya mengenai hal ini.
"Dad, Raga belum ketemu orangnya" ucap Raga pada Renal.
"Tenang yah. Opa bakal datang dan bawa orangnya" Renal menenangkan.
Tidak butuh waktu lama, Lathief tiba bersama Ayra. Alda dengan cepat memeluk anak bungsunya, air matanya sejak tadi tidak berhenti.
"Mommy jangan nangis." dengan jari-jari kecilnya Ayra mengusap air mata mommy nya.
"Ayra bisa kok mom. Ayra kan sehat. Ini buat akak The juga, kasian Anne dan baby Aidan kalau mama nya sakit"
Ucapan polos Ayra menampar mereka semua yang mendengarnya. Andai bisa, Alda sendiri yang akan turun tangan, ia tentu merasa berat akan hal ini.
"Pendonor nya yang mana?" tanya seorang dokter.
"Saya, dokter " Ayra dengan cepat mengacungkan tangannya.
Dokter tersebut kaget, tentu saja.
"Ini tidak benar, tuan dan nyonya sekalian. Anaknya masih di bawah umur "
"Saya sendiri yang akan bertanggung jawab, dokter" kata Lathief.
Dokter tersebut tentu saja sudah melanggar aturan. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak, pasiennya sedang dalam masa kritis, pihak pendonor juga sudah bersedia mendonorkan darahnya.
"Baiklah, tapi kami tidak bertanggung jawab jika ada kejadian yang tidak diinginkan di hari kemudian " pasrah dokter tersebut.
Alda memeluk Ayra, mengucapkan begitu banyak kata maaf.
"Maafin mommy sayang" ia mencium kening anaknya cukup lama.
Ayra tersenyum.
"Jangan sedih, mom. Kakak akan sembuh" ucapnya sebelum ikut ke ruang transfusi bersama dokter.
Lathief duduk di samping anaknya.
"Maafkan papa, nak" ucap Lathief.
Alda memeluk tubuh papanya yang sudah tidak sekuat dulu. Ia menangis di pelukan sang papa.
"Ayra masih kecil, pa. Kak Jake pasti sedih melihat Ayra begini"
Lathief mengelus rambut anaknya, berusaha menenangkan putri satu-satunya.
"Papa pasti akan meminta maaf pada Jake suatu saat nanti. Papa tidak punya pilihan lain. Cucu papa yang lain sedang membutuhkan bantuan, dan bantuan itu hanya pada ada cucu papa yang lainnya. Kita berdoa yah, semoga The lekas membaik dan Ayra juga baik-baik saja"
Satu jam berlalu, sebuah brankar di dorong keluar dari ruang transfusi, Ayra lah yang terbaring di sana. Wajahnya tentu saja pucat, usianya belum cukup untuk melakukan transfusi darah.
Alda tanpa pikir panjang mengikuti kemana brankar itu di bawa. Ruangannya tepat di sebelah ruang perawatan dimana Athena akan di rawat pasca observasi nanti.
"Minum dulu yah sayang" Alda membantu Ayra untuk minum.
"Pusing, mom" Ayra menutup kembali matanya.
"Anak mommy tidur yah sayang, biar pusingnya berkurang " dengan lembut Alda mengelus rambut anak bungsunya.
Sementara di depan ruang observasi, Raga dilanda rasa bersalah. Seharusnya ia bisa bertindak cepat atau paling tidak menyiapkan pendonor untuk istrinya sebelum bersalin.
"Maafkan Raga, dad" ucap Raga.
"Ini tentu di luar perkiraan kita semua, nak."
Raga menghela napasnya.
Dokter keluar dari ruang observasi, memberitahukan jika keadaan Athena perlahan membaik dan akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.
✨✨✨
Pagi hari, Athena sedang menyusui anaknya di atas brankar nya. Ia melihat sekitarnya, sejak ia sadar mommy nya belum kelihatan. Hanya daddy nya yang berlalu lalang di ruang perawatan nya, juga Raga, Vania dan Baskara.
"Mommy kemana, Ga?" tanya Athena. Kini hanya tersisa mereka bertiga.
"Mommy sedang jagain Ayra" jawab Raga.
Athena mengangguk mengerti. Ia tentu tidak tahu maksud tersembunyi dari jawaban Raga.
"Kakak gimana?" tanyanya.
"Anne baik-baik saja. Ada mama Ivana yang menjaganya." Raga menenangkan istrinya.
"Anak mama tampan hmm" dengan jari telunjuknya Athena menyentuh pipi anaknya dengan sangat lembut.
"Kalau dokternya visite, tolong ditanya yah Ga, kapan aku bisa pulang" pinta Athena.
Raga mengangguk.
"Kamu udah ngerasa baikan?"
"Udah. Cuman perih aja di bawah sana, tapi selebihnya udah baik kok" jawab Athena.
Raga yang melihat anaknya sudah kembali tertidur, tanpa diminta mengambil anaknya dari pangkuan Athena dan memindahkannya ke dalam keranjang khusus bayi.
Pagi selanjutnya Athena sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Pulang ke rumah mama aja yah?" rayu Vania.
Athena tersenyum.
"Gimana kalau mama aja yang ke rumah The" tawarnya.
"Kalau kamu gak ikut pulang ke rumah mama yah, itu pasti. Mama akan menyambangi rumahmu" kata Vania.
Alda yang juga berada di sana tersenyum kecil, Athena baik-baik saja. Ia lalu menatap cucunya yang baru saja membuka matanya. Anak kecil dipangkuan nya ini benar-benar tampan.
"Mommy gak ikut pulang?" tanya Athena.
"Mommy ada urusan sayang. The tunggu mommy di rumah yah. Lagian ada mama Vania kok yang temanin The" jawab Alda.
"Yaudah. The tunggu di rumah yah mom."
Alda mencium kedua pipi anaknya.
"Hati-hati sayang. Van, cucunya dijaga itu, jangan dicium mulu"
Vania terkekeh mendengar ucapan besannya.
"Aman ini mah"
Mobil yang disopiri Raga perlahan menjauh dari pelataran rumah sakit. Alda masih harus berada di sini untuk menemani Ayra, setidaknya keadaan Ayra baik-baik saja dan memastikan tidak ada efek samping serius dari tindakan kemarin.
Athena disambut oleh lengkingan suara Anne.
"Mamaaa" teriak anak itu.
Athena terkekeh. Apalagi saat melihat langkah kecil Anne berjalan ke arahnya.
Anne menjulurkan kedua tangannya, minta digendong oleh sang mama. Raga yang melihatnya pun dengan cepat bertindak, membawa Anne ke gendongannya.
"Sayang, mama belum pulih. Kakak di gendong papa aja yah"
Anne mengangguk. Pandangan nya berhenti pada bayi yang ada digendongan Vania.
"Hayoo, ini siapa?" tanya Vania.
Mata Anne berkedip-kedip heran.
"Ini dedeknya kakak." beritahu Raga. Ia mendekatkan Anne dengan Aidan, memberikan anak pertamanya mencium pipi anak keduanya.