
Rakes dan Zea begitu sibuk mengurus diri masing-masing. Rakes yang berdiri di depan cermin dengan bertelanjang dada terlihat begitu telaten mengganti perban pada lukanya, sedangkan disebelahnya ada Zea yang masih sibuk memakai jilbabnya.
"Haissssh!" Gumam Zea kesal dengan tangan yang langsung melempar jilbabnya ke lantai.
"Kenapa? apa jilbabnya buat ulah?" Tanya Rakes.
"Au ah! emang dasar jilbab egois! udah tau lagi buru-buru eh malah ngajak berantem!" Jelas Zea.
Rakes meraih jilbab yang tergeletak di lantai.
"Sini abang bantu!"
"Tapi luka Chim chim masih belum selesai di ganti perbannya."
"Abang masih punya banyak waktu, udah buruan sini!"
Zea segera berdiri di hadapan Rakes lalu memakaikan jilbab di kepala Zea.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Rakes telah sukses memakaikannya.
"Kayaknya jilbab sekolah aku emang selalu cari gara-gara deh, dia pasti mau di manjain sama Chim chim, buktinya sudah beberapa kali sentuhan Chim chim membuatnya nurut seketika. Tau aja apa yang sang pemiliknya inginkan!"
"Oh ya? emangnya, pemilik jilbab ini mau di manjain setiap pagi ya? abang siap kok." Jelas Rakes lalu mengusap lembut kepala Zea.
"Banget!" Ujar Zea lalu semakin mengikis jarak diantara keduanya.
"Awwwww" Jerit Rakes saat seragam Zea menyentuh lukanya.
"Sorry! sorry, sorry!" Pinta Zea yang langsung menatap bagian luka Rakes.
"Abang oke! udah gih sana pergi, ntar telat loh!" Jelas Rakes.
"Beneran lukanya baik-baik aja?"
"Hmmm, pergilah nanti kamu bisa telat!"
"Baiklah, assalamualaikum!" Ujar Zea yang segera meraih ranselnya lalu segera berlari keluar.
Rakes kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda, tangan Rakes mulai memasangkan perban pada permukaan luka, namun langkah Zea kembali mendekatinya.
"Masih ada waktu lima menit lagi, biar aku bantu!" Jelas Zea lalu segera memasangkan perban dengan begitu telaten.
Rakes hanya diam menerima pelayanan dari Zea, setelah selesai Zea segera meraih kemeja yang terletak di atas tempat tidur lalu memakaikannya pada Rakes.
"Jangan hanya menunaikan kewajiban Chim chim sebagai seorang suami, tapi Chim chim juga harus menuntut hak Chim chim sebagai seorang suami. Kita pasangan bukan majikan, kenapa selalu Chim chim yang melakukan segala hal untuk aku. Aku sebagai istri juga punya kewajiban untuk menjaga suami dan melayani suami dengan baik." Jelas Zea.
"Zea..."
"Aku mencintai Chim chim!" Ujar Zea lalu mengecup lembut pipi kiri sang suami.
"Love you more!" Ujar Rakes dengan senyuman.
"Aku berangkat dulu, ayah pasti udah nungguin aku di mobil, Assalamualaikum my lovely Chim chim!" Ujar Zea lalu mencium punggung tangan kanan Rakes.
"Waalaikumsalam, my princess!" Ujar Rakes pelan.
____________________
"Kania, kamu bolos?" Tanya Rafeal saat melihat Kania yang terus berjalan menuju kamar rawat Marvel.
"Abang Rafeal, terus abang sendiri kenapa pagi-pagi sudah di sini? abang bolos juga?" Tanya Kania saat melihat Rafeal yang duduk di kursi yang letaknya tepat di hadapan kamar rawat Marvel.
"Ah, hmmm abang udah minta izin. Apa kamu mau menemui Marvel?"
"Hmmmm, apa boleh?" Tanya Kania.
"Masuklah, mami sama papi baru saja pulang, sekarang Marvel sendirian di dalam, kamu temani dia sebentar karena abang mau beli serapan dulu, kamu mau sekalian abang belikan?"
"Makasih, tapi aku udah sarapan tadi, kalau begitu aku masuk dulu!"
"Hmmmm!"
"Abang...!" Panggil Kania yang kembali menoleh kearah Rafeal.
"Hmmmm" Ujar Rafeal.
"Apa tangan abang sudah baikan?"
"Ah iya, sudah bisa ikot lomba tinju lagi kok!" Ujar Rafeal dengan diakhiri tawa lepasnya.
"Syukurlah! kalau gitu aku permisi!"
"Hmmmmm!"
Kania langsung memasuki kamar rawat Marvel.
"Ntahlah Kania, rasanya perasaan ini kian hari kian mendalam, sepertinya aku harus kabur dari keadaan ini, aku tidak ingin terluka lebih lama dan dalam lagi. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf Kania, Marvel!" Ungkap hati Rafeal.
"Jika ada hal yang mencurigakan segera kabari aku, bahkan hal sekecil apapun itu!" Perintah Rafeal pada empat orang lelaki yang menjaga ruang VIP Marvel.
"Siap!" Jawab keempatnya serentak.
Rafeal segera berlalu.
Perlahan Kania menutup pintu, lalu melangkah mendekati ranjang dimana Marvel di masih terbaring.
"Kania!" Seru Marvel yang segera menyembunyikan ponselnya kedalam selimut.
"Apa aku ganggu?" Tanya Kania yang peka bahwa Marvel begitu terlihat panik dengan kedatangan dirinya.
"Kenapa bertanya seperti itu? mendekatlah! abang rindu." Jelas Marvel dengan memasang senyuman di wajahnya.
Kania kembali mendekat, ia berdiri tepat di sisi ranjang Marvel.
"Apa lukanya masih sakit?" Tanya Kania sambil menunjuk kearah bahu Marvel yang terluka.
"Udah sembuh kok, kamu nggak perlu khawatir, abang bahkan sudah bisa ikut olimpiade tinju kok!" Jelas Marvel.
"Satu jawaban dari dua orang yang sama-sama terluka." Ujar Kania.
"Maksudnya?"
"Ah nggak ada apa-apa kok, hmmmmm abang, aku minta maaf, karena aku abang terluka!"
"Kania, jadi kamu yang menusuk bahu abang?"
"Mana mungkin!"
"Lalu kenapa minta maaf? abang terluka yang karena diri abang bukan karena kamu ataupun orang lain."
"Tapi aku penyebabnya!"
"Kalau begitu abang juga minta maaf!"
"Karena abang yang mengajakmu keluar, hingga membuat kamu terancam dalam bahaya!"
"Itu bukan salah abang!"
"Nah itu kamu tau! Kania, abang sayangkan Kania." Jelas Marvel lalu berusaha menyentuh tangan Kania.
"Aku juga sangat sayang sama abang Marvel, sangat sangat sangat!" Ujar Kania.
"Terima kasih!" Ucap Marvel dengan tangan yang mulai beranjak menyentuh wajah Kania.
Tangan Marvel langsung terhenti ketika seseorang berdehem keras.
"Khmmmmmm" Ujar Rakes yang berjalan santai menuju ranjang Marvel.
"Haaaaaah, selalu saja muncul secara tiba-tiba, hadeeeeuh!" Keluh Marvel pelan.
"Kenapa? apa kamu sedang mengumpat kedatangan aku yang merusak waktu sweet kalian berdua?" Tanya Rakes.
"Nah itu kamu sadar!" Cetus Marvel.
"Seharusnya kamu terima kasih dong, aku datang sebagai penolong kalian berdua, kalian nggak lupa kan, dilarang berdua-duaan bagi lelaki dan perempuan yang bukan mahram karena yang ketiga adalah Syaitan." Jelas Rakes.
"Nah kamu itu syaitan nya!" Cetus Marvel.
"Abang apaan sih!" Protes Kania lalu sedikit mundur.
"Wuiiiih mulut, baru juga satu malam di rumah sakit, udah koslet aja tuh mulut!" Ujar Rakes.
"Ah, abang Rakes datang sendirian?" Tanya Kania yang mencoba mengalihkan pokok pembahasan.
"Iya, loh kamu bolos?" Tanya Rakes.
"Aku udah minta tolong sama kawan untuk minta izin kok! dan aku juga udah minta izin sama mama dan papa!" Jelas Kania.
"Oh ya udah!" Ujar Rakes.
"Selamat pagi semua! abang...." Seru Maryana yang baru datang lalu segera berlari pada Marvel.
"Gimana abang baik-baik aja kan?" Tanya Maryana dengan tangan yang langsung menyentuh wajah Marvel yang masih sedikit pucat.
"Abang baik-baik aja, kamu gimana?" Tanya Marvel.
"Aku sama sekali nggak kenapa-napa!" Jelas Maryana.
"Waaaah udah kayak di pasar malam aja nih, rame!" Seru Rafeal yang baru saja datang.
"Ya udah pulang aja sana?" Seru Maryana.
"Galak bener jadi cewek neng!" Cetus Rafeal.
"Biarin!" Cetus Maryana.
"Mulai lagi deh!" Ujar Kania dan Marvel hampir bersamaan.
"Pertanda jodoh tuh!" Seru Rakes.
"Ihhhh nggak banget deh!" cetus Maryana.
"Aku juga ogah kali!" Seru Rafeal yang tak mau kalah dari Maryana.
"Udahlah pusing mikirin kalian berdua!" Cetus Marvel.
"Khmmmmm! Ana, Kania, boleh kalian tinggalkan kami bertiga sebentar?" Pinta Rakes.
"Tentu!" Ujar Kania.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama!" Jelas Maryana.
"Oke!" Ujar Rakes.
"Ayo Kania kita ke kantin!" Ajak Maryana.
"Ayo kak!" Ujar Kania, lalu keduanya lekas keluar.
"Ada apa?" Tanya Rafeal dan Marvel setelah pintu di tutup dari luar.
"Kita harus usut latar belakang penyerangan mereka semalam!" Jelas Rakes.
"Bukannya tante Angel sudah menangkap pelakunya?" Tanya Rafeal.
"Itu hanya kaki tangan mereka." Jelas Rakes.
"Apa rencana mu?" Tanya Marvel.
"Untuk satu minggu ini kita amati dulu, ya sekaligus nunggu luka kalian kering, setelah itu baru kita action." Jelas Rakes.
"Apa ada yang kamu curigai?" Tanya Rafeal.
"Aku yakin dalang dari semua ini adalah Lestari!" Jelas Rakes.
"Lestari? maksud kamu tante Lestari mantannya om Iqbal?" Tanya Marvel.
"Siapa lagi!" Ujar Rakes.
"Apa tidak sebaiknya kita cerita sama om Iqbal?" Usul Rafeal.
"Biar kita pastikan dulu, setelah itu baru kita putuskan mau lanjut secara rahasia atau colab sama pasukan ayah." Jelas Rakes.
"Oke, aku setuju!" Ujar Marvel.
"Kenapa menatap ku begitu?" Tanya Rafeal yang menyadari bahwa kedua temannya sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan intimidasi.
"Oke!" lanjut Rafeal dengan suara tegas.
"Oke!" Seru Marvel dan Rakes.
"Selalu saja aku yang jadi bahan percobaan!" Cetus Rafeal yang segera merebahkan tubuhnya di sofa.
"Jangan berisik aku mau tidur!" Seru Rafeal setelah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Siap Mayor!" Tegas Rakes dan Marvel serentak lalu diakhiri dengan gelak tawa yang sukses membuat Rafeal kesal.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ