
"Mau kemana?" Tanya Uzun tepat setelah Urshia keluar gerbang belakang rumah.
Sejak tadi memang Uzun sudah berdiri tepat di depan gerbang menunggu kedatangan sang kekasih yang berusaha kabur dari pantauan yang lainnya.
"Vampir..." Ujar Urshia pelan dengan wajah penuh rasa kecewa.
"Benar-benar Vampir, nggak tidur apa? masih subuh gini udah stay di depan gerbang! benar-benar asli Vampir nih orang." Gumam Urshia dengan lebih pelan lagi.
Kata-kata Urshia membuat Uzun kembali melangkah semakin mendekati Urshia, membuat langkah Urshia mundur ke belakang.
"Kuyang sayang mau kemana?" Tanya Uzun seolah tidak menghiraukan ucapan Urshia yang jelas-jelas ia mendengarnya dengan jelas.
Mata Uzun terus menatap Urshia dari ujung kepala hingga kaki, penampilan yang beda dari biasanya.
"Hushhh!" Seru Urshia sambil melambaikan tangannya tepat di wajah Uzun.
"Mau kemana?" Tanya Uzun kali ini dengan wajah yang begitu serius membuat Urshia kembali melangkah mundur hingga beberapa langkah.
"Abang, hmmmm!" Ujar Urshia dengan terus berusaha memamerkan senyumannya.
"Abang tanya kamu mau kemana? ini masih pagi buta!" Gumam Uzun dengan nada tinggi dan suara kasar khas saat dia benar-benar sedang marah.
(Gawat, sosok iblis nya muncul lagi! gimana nih? siapapun itu cepat tolong aku, mommy, papa Rafeal kak Arin, aku mohon datanglah, datanglah! aku butuh bantuan kalian!) Bisik hati Urshia sambil terus mencoba untuk terlihat tenang.
"Katakan, mau kemana?" Tanya Uzun lalu perlahan menyentuh lembut bahu Urshia.
"Jika aku ceritakan dengan jujur, apa abang akan marah?" Tanya Urshia yang mulai bisa lebih tenang.
"Ayo!" Ajak Uzun lalu berjalan menuju mobilnya yang memang masih terparkir diluar tepatnya di dekat mereka berdua.
"Apa abang baru pulang? jaga malam lagi?" Tanya Urshia sambil terus mengikuti langkah Uzun.
"Hmmmm!" Jawab Uzun sambil membukakan pintu mobil untuk Urshia.
Urshia langsung masuk dan Uzun pun segera menyusul, mobil mulai melaju meninggalkan area rumah mereka.
"Abang sudah janji kan, kalau abang nggak akan marah?" Tanya Urshia memastikan.
"Tergantung!"
"Maksudnya?"
"Seberapa jujur kamu menjelaskan semuanya!"
"Mau Shia mulai dari sekarang?"
"Shia...."
"Akan Shia ceritakan semuanya!"
"Kita bicara di taman aja!" Jelas Uzun sambil mempercepat laju mobilnya.
Selang beberapa menit keduanya tiba di sebuah taman yang memang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Keduanya keluar dari mobil dan kini duduk manis di salah satu bangku yang berjejer rapi di sepanjang taman.
"Sebelumnya Shia minta maaf!" Ujar Urshia dengan menundukkan kepalanya namun di menit selanjutnya ia langsung menatap intens wajah lelah Uzun.
"Jawab pertanyaan abang!"
"Berburu!" Jawab Urshia lantang.
"Apa?" Seru Uzun dengan suara lantang bahkan ia berdiri dari duduknya.
"Sebenarnya Shia nggak ikut kursus memasak!"
"Abang tau, tapi abang sama sekali tidak pernah kepikiran kalau kamu akan belajar memanah, siapa yang mengizinkan mu? kenapa tidak bicara lebih dulu dengan abang? apa kamu memang memperlakukan abang seperti Vampir?"
"Bukan begitu...! Shia, Shia hanya tidak mau membuat abang khawatir."
"Justru abang lebih khawatir kalau kamu tidak bicara apa-apa. Apa ini ulah mommy?"
"Bukan! Shia memang suka memanah, mommy dan papa Rafeal hanya mendukung keputusan Shia." Jelas Urshia dengan menatap dalam mata Uzun.
"Shia ingat dulu pas abang mau masuk tentara? bukankah abang konsul sama kamu, abang minta pendapat kamu, abang tanya gimana maunya kamu, terus sekarang giliran masa depan kamu, kamu malah sama sekali nggak cerita ke abang, apa ada hal yang tidak kamu suka dari abang?"
"Bukan begitu? jangan memojokkan Shia dengan kesalahan yang Shia sendiri kebingungan."
"Apa sekarang abang yang jadi tersangka utamanya?"
"Abang paham, makanya abang memutuskan untuk jadi dokter. Dan yang sekarang abang nggak paham adalah keputusan kamu untuk belajar memanah."
"Jujur, bukan hanya belajar memanah, tapi Shia juga ikut club boxing, dan bulan depan ada pertandingan."
"Apa?" Uzun semakin kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Jangan bicara lagi, abang capek, abang mau pulang!" Lanjut Uzun dan langsung melangkah menuju mobilnya.
"Tunggu!" Pinta Urshia yang langsung menarik jas dokter yang masih melekat ditubuh Uzun.
"Aku ingin melindungi abang dan juga kak Arin!" Jelas Urshia yang langsung memeluk Uzun.
"Apa abang tidak cukup tangguh untuk melindungi kalian semua?"
"Bukan itu maksud Shia, kenapa abang selalu saja salah paham?"
"lalu, coba jelaskan!"
"Aku ingin menjadi yang terbaik, pandai dalam segala hal agar abang tidak bisa melirik cewek lain agar abang tidak punya alasan satu pun untuk meninggalkan aku!"
Perlahan Uzun mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Urshia, lalu keduanya saling menatap satu sama lain.
"Apa abang terlihat seperti itu?"
"Shia hanya takut kehilangan abang!"
"Huffff! dengarkan abang baik-baik, entah apapun yang akan terjadi di hati abang hanya ada kamu, mommy, mama Nia, mama Ana dan Arin, cuma kalian wanita yang abang izinkan ada di pikiran dan hati abang, jadi berhentilah untuk melakukan semua hal untuk abang."
"Maaf dan juga terima kasih!"
"Mau berburu ke daerah mana? udah izin sama mommy dan papa Rafeal?"
"Udah, hmmmm ke daerah ini!" Ujar Urshia sembari memperlihatkan lokasi lewat google map di ponselnya.
"Ayo!"
"Vampir juga mau ikut?"
"Hmmmm, pergi bersama Vampir atau Kuyang ikut pulang?"
"Cuma ada dua pilihan!" Lanjut Uzun saat mendapati Urshia yang masih saja berpikir keras.
"Baiklah, ayo!"
Lalu keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan lekas melaju menuju lokasi tujuan.
_____________________
"Ku rasa para tuyul mulai curiga!" Ujar Zea saat ia dan Rafeal sedang berada di teras belakang rumah.
"Memang lebih baik mereka tau semuanya, dengan begitu kita bisa limpahkan semuanya pada mereka jika nanti Rakes dan Marvel mengamuk!" Jelas Rafeal.
"Benar juga, setidaknya ada tuyul yang menjadi benteng pertahanan kita, ide cemerlang!"
"Setelah kita gagal menjadikan tuyul sebagai abdi negara setidaknya kita bisa menjadikan kedua gadis kita menjadi tangguh atau bahkan mengikuti jejak aku!"
"Mengikuti jejak mu? waaaah aku setuju, bukankah sejak dulu selalu saja lelaki yang terjun kali ini biarkan para gadis yang tempur, setidaknya mereka berdua dapat mewujudkan impian aku yang halang ayah!"
"Apa kita mulai dari sekarang persiapannya?"
"Pasti akan menyenangkan!" Ujar Zea yang jelas terlihat begitu senang.
"Sepakat?"
"Oke Deal! kesepakatan kita akan segera menjadi kenyataan!"
"Senangnya!" Ujar keduanya lega.
"Senang? apa yang membuat kalian berdua begitu senang?" Tanya Rakes yang baru saja datang.
"Abang..." Ujar Zea
"Rakes..." Ujar Rafeal hampir bersamaan dengan Zea.
💜💜💜💜💜