
Rafeal terus mengikuti langkah kaki Mutia yang terus berjalan hingga ke taman rumah sakit, sejak awal Rafeal memang berjalan tepat dua langkah dibelakang Mutia hingga akhirnya Mutia duduk di kursi taman.
"Duduklah!" Ujar Mutia dengan senyuman.
"Abang berdiri di sini aja." Ujar Rafeal yang masih berdiri tegak dengan terus menjaga jarak dari Mutia.
"Jangan perlakukan aku seperti ini, aku tidak suka. Hanya karena aku anak atasan abang, abang malah menjaga jarak seperti ini, aku lebih suka abang menganggap aku sebagai teman, bisa kan?" Jelas Mutia.
"Tapi....!"
"Duduklah, ada hal yang ingin aku bahas!"
"Baiklah!" Ujar Rafeal dan langsung duduk di samping Mutia.
"Sudah lama kita nggak jumpa, pada hal aku ingin sekali bertemu dengan abang, lucu bukan?" Ujar Mutia.
"Apanya yang lucu? maaf karena dalam beberapa bulan terakhir ini abang memang sibuk, banyak hal yang harus abang selesaikan." Jelas Rafeal.
"Kenapa minta maaf? itu kan kewajiban abang, lagian aku bukan siapa-siapa buat abang. Abang Rafeal masih ingat dengan permintaan papa?" Jelas Mutia.
"Hmmmm!" Ujar Rafeal pelan.
"Apa abang mencintai Ana?" Tanya Mutia yang sukses membuat Rafeal menatap bingung pada Mutia.
"Ana? maksudnya?" Tanya Rafeal tak paham.
"Bukan Ana kan orangnya? aku tau kalau gadis yang abang cintai itu Kania bukan Ana, terlihat jelas kok. Abang bahkan langsung menuruti permintaan Kania tanpa berpikir sama sekali." Jelas Mutia.
"Mutia..."
"Aku jadi iri sama Kania, dia beruntung karena di cintai oleh dua lelaki terhebat sekaligus. Dan soal permintaan papa, abang nggak perlu khawatir aku sudah bicara dengan papa, dia pasti akan mengerti bahwa perasaan sama sekali nggak bisa di paksakan." Jelas Mutia.
"Abang harap suatu saat akan datang lelaki yang jauh lebih baik dari abang untuk menemani hidup mu." Ujar Rafeal tulus.
"Aku juga akan mendoakan abang, semoga Ana bisa membuat abang jatuh cinta padanya dan bisa dengan ikhlas melepaskan Kania untuk abang Marvel." Jelas Mutia.
"Terima kasih Mutia. Oh ya, mau jenguk Rakes?"
"Tentu, ayo!" Ajak Mutia yang langsung bangun.
"Ayo!" Ujar Rafeal yang ikut bangun lalu keduanya segera kembali ke rumah sakit.
__________________
"Khmmmmmmmm!" Suara dehem Lexel bahkan tidak bisa membangunkan pasangan suami istri yang sedang terlelap diatas ranjang sana.
"Kak Zea...." Ujar Kania pelan sambil sedikit menarik kemeja Zea.
"Hmmmm!" Ujar Zea lalu kembali terlelap.
"Rakes...!" Ujar Marvel.
"Hmmmmmm!" Ujar Rakes lalu perlahan membuka matanya.
Betapa kagetnya Rakes saat mendapati ruang rawatnya di penuhi oleh para teman-teman serta sang papa dan ayah mertua yang masih berdiri di ambang pintu sana.
Rakes mencoba bangun lalu menyandarkan punggungnya di dinding, tangannya perlahan mengusap jilbab Zea.
"Zea, Zea....." Panggil Rakes pelan dengan mata yang terus menatap seisi ruangan yang sejak tadi terus saja menatap mereka berdua.
"Hmmmmm, Chim chim jangan ganggu, aku masih ngantuk!" Rengek Zea yang begitu enggan membuka matanya.
"Chim chim?" Ulang Marvel.
"Waaaaah panggilan yang cute banget!" Ujar Mariana.
"So sweet, Chim chim. Waaah manis banget panggilannya!" Ujar Kania dengan senyuman manisnya.
"Seketika jiwa serigala langsung meronta, sangar mu benar-benar lenyap tanpa sisa, Rakes, eh Chim chim!" Ujar Lexel yang begitu larut dalam tawanya.
Zea langsung bangun karena komentar mereka semua, bahkan Zea langsung meloncat turun dari ranjang saat ia melihat Iqbal dan Hadi mulai mendekat.
"Hmmmm, tadi itu ahhhh kalian pasti salah dengar, aku sama sekali nggak mengatakan apa yang kalian tuduhkan!" Sanggah Zea sambil merapikan jilbabnya.
"Kenapa harus malu, panggilannya romantis banget! papa aja jadi iri." Jelas Hadi.
"Pa...." Ujar Rakes.
"Jadi penasaran, kalau abang Rakes manggil Zea dengan sebutan apa?" Tanya Mariana.
"Kak Ana apaan sih!" Ujar Zea yang begitu malu.
"Pasti Chum chum ya? atau enchiiim? atau my Chim Chum!" Ujar Marvel dengan gelak tawa, hingga membuat tangan Rakes langsung mendarat di mulut Marvel.
"Nggak lucu!" Cetus Marvel kesal.
"Ayah juga jadi penasaran nih!" Ujar Iqbal.
"Ayah!" Seru Zea yang langsung membenamkan wajahnya di lengan kekar Iqbal.
"Ada apa sih? keliatannya seru banget, apa aku ketinggalan pesawat?" Tanya Rafeal yang baru saja bergabung bersama Mutia.
"Kepo!" Ujar Mariana.
"Apaan sih?" Tanya Rafeal yang semakin penasaran.
"Tentang Chim chim!" Jelas Ivent.
"Ivent!" Gumam Zea kesal.
"Rafeal!" Seru Rakes dan Zea serentak bahkan dengan tatapan horor yang seakan siap menerkam Rafeal.
"Ooooo Jannati rupanya!" Ujar Kania.
"Bagus banget, Chim chim Jannati, wuiiih jadi iri!" Ujar Mutia.
"Udah, nggak usah di bahas!" Cetus Zea.
"Gimana? apa Damar sudah di penjara?" Tanya Rakes mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Udah kok Chim chim!" Ujar Marvel.
"Benar benar nih anak!" Gumam Rakes kesal.
"Chim chim nggak perlu khawatir, semuanya telah aman terkendali, Chim chim hanya harus fokus pada kesehatan sendiri, supaya cepat sembuh." Jelas Rafeal.
"Huuuuf! Ayah, gimana keadaan uma?" Tanya Rakes setelah sejenak menarik nafas menenangkan diri.
"Uma sudah membaik kok Chim chim!" Jawaban Iqbal sontak membuat seisi ruangan tertawa.
"Aku mau istirahat!" Tegas Rakes yang langsung membaringkan tubuhnya lalu menutup rapat kedua matanya.
"Cepat sembuh Chim chim!" Ujar Lexel dan Ivent hampir bersamaan.
"Benar-benar! aku mau jenguk uma!" Jelas Zea dan lekas pergi.
"Hati-hati Jannati!" Ujar Hadi menggoda.
"Papa!" Ujar Zea dan lekas melarikan diri.
"Kalian benar-benar lucu, baru digoda sedikit langsung salah tingkah!" Ujar Iqbal dengan senyuman bahagia.
"Om titip Rakes dan Zea ya, karena om dan om Iqbal harus kembali ke kantor!" Jelas Hadi.
"Siap pak!" Jawab Marvel, Rafeal, Ivent dan Lexel serentak serta dengan sigap memberi hormat pada Hadi dan Iqbal.
"Terima kasih, ayo bang!" Ajak Iqbal lalu keduanya lekas keluar dari ruang rawat Rakes.
"Udah bangun gih! pak Iqbal dan papa nggak ada di sini lagi!" Jelas Rafeal.
"Kalian benar-benar membuat aku malu!" Cetus Rakes dan kembali duduk.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Lexel yang sejak tadi begitu mengkhawatirkan keadaan Rakes, apa lagi sejak tadi Jordan terus menghubungi dirinya menanyakan perkembangan kesehatan Rakes.
"Aku baik-baik aja! bilang sama tuan Jordan mu itu, jangan khawatir berlebihan!" Jelas Rakes yang begitu hafal dengan kebiasaan kakeknya.
"Iya, sejak tadi beliau memang begitu panik, sampai-sampai beliau mau langsung ke sini, tapi kamu tenang aja, aku udah ngabarin kok!" Jelas Lexel.
"Kamu yakin semuanya baik-baik aja?" Tanya Marvel memastikan.
"Hmmmm, Mutia, apa kabar?" Ujar Rakes yang mencoba mengalihkan pembicaraan Marvel yang menurutnya kekhawatiran Marvel begitu berlebihan.
"Kabar aku baik-baik aja. Apa abang terluka parah lagi?" Tanya Mutia.
"Cuma luka sedikit aja kok, dirawat beberapa hari juga bakal sembuh." Jelas Rakes.
"Kalian berempat terlihat begitu akrab!" Ujar Mariana yang sejak tadi memang terus memerhatikan kedekatan antara Rafeal, Marvel, Rakes dan Mutia.
"Apa terlihat begitu?" Tanya Rafeal kebingungan.
"Terlihat sangat jelas!" Ujar Kania.
"Itu karena kami sering barengan, karena sejak Mutia SMA kami bertiga kerap kali antar jemput Mutia sekolah!" Jelas Rakes.
"Enak banget ya jadi anak atasan!" Gumam Mariana pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh Mutia.
"Ana...!" Cetus Marvel yang langsung mencubit tangan Mariana.
"Nggak apa kok, lagian Ana ada benarnya juga kan!" Ujar Mutia dengan senyuman.
"Maafkan adik abang, dia emang modelnya gini, agak kasar!' Ujar Marvel.
"Nggak apa-apa kok! Hmmmm, kalau gitu aku pamit, semoga cepat sembuh abang Rakes." Ujar Mutia.
"Lexel, tolong antar kan Mutia." Pinta Rakes.
"Siap, laksanakan!" Ujar Lexel.
"Nggak usah, lagian aku ke sini juga di kawal sih, dia lagi nungguin di parkiran!" Jelas Mutia.
"Kalau begitu biar abang Lexel antar ke parkiran!" Ujar Kania.
"Terima kasih!" Ucap Mutia.
"Hati-hati!' Pesan Rafeal.
Mutia segera pergi dengan dikawal oleh Lexel, sedangkan yang lainnya terus menghabiskan waktu mereka sambil mengobrol dan bercanda bersama.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ