My Princess

My Princess
131



"Ma, kenapa membeli barang sebanyak ini? buat apa?" Tanya Rakes yang terus menaiki tangga sambil membawa satu kardus besar.


"Ya untuk di pakai lah, tak mungkin kan untuk di buang!" Jawab Erina ngasal sambil mengikuti langkah Rakes.


"Apa tante beli alat olah raga lagi buat Rakes? soalnya nih kardus berat banget!" Jelas Marvel yang begitu kewalahan membawa kardus besar.


"Marvel, ini bukan untuk Rakes?" Jelas Erina.


"Terus?" Tanya Rakes dan Marvel bersamaan dengan menghentikan langkah keduanya.


"Buat menantu tersayang mama!" Ujar Erina girang.


"Buruan!" Lanjut Erina yang kini sudah berada di depan pintu kamar Zea.


"Mama beli apa sih? Zea nggak butuh barang-barang seperti cewek pada umumnya, mama nggak beli yang aneh-aneh kan?" Tanya Rakes.


"Cerewet, ayo bawa masuk!" Perintah Erina sembari membukakan pintu kamar.


Saat ketiganya masuk di saat itu pula Zea, Kania dan Mariana hendak keluar dari kamar Zea.


Marvel dan Rakes langsung meletakkan kardus bawaannya di dekat pintu, lalu keduanya langsung menatap sang pujaan hati mereka masing-masing.


"Ayo Mariana kita tunggu di luar!" Ajak Erina.


"Ayo Tante!" Ujar Mariana yang langsung mengikuti Erina keluar.


Setelah pintu kamar di tutup dari luar, Rakes langsung mendekat pada Zea dalam waktu yang bersamaan Kania malah menjauh dari jangkauan Marvel.


"Abang...!" Ujar Rakes dan Marvel bersamaan membuat keduanya saling menoleh satu sama lain dan beberapa menit kemudian langsung kembali mengarahkan pandangan mereka pada sosok pujaan hati.


"Kami hanya berteman, tidak lebih!" Tegas Marvel.


"Aku sama sekali tidak bertanya!" Jelas Zea.


"Tapi abang harus menjelaskannya!" Jelas Rakes.


"Bukankah kak Una udah bicara semuanya, nggak ada lagi yang harus di bahas!" Jelas Kania.


"Semua cerita kak Una sudah cukup membuat kami paham dengan hubungan kalian bertiga!" Jelas Zea.


"Sungguh, hubungan kami hanya sebatas teman!" Tegas Marvel.


"Ayo keluar, aku tidak ingin membuat yang lain salah paham!" Jelas Kania.


"Tapi abang nggak mau salah paham ini membuat hubungan kita keganggu, abang nggak mau kalian salah paham!" Jelas Rakes.


"Jika tidak ingin membuat kami salah paham lalu kenapa tadi kalian hanya diam?" Tanya Zea.


"Itu karena.....!" Ujar Marvel yang langsung terhenti.


"Kami hanya....!" Sanggah Rakes yang juga terhenti dengan kebingungan.


"Kenapa? apa pada akhirnya abang menyadari kalau abang mulai goyah?" Tanya Kania.


"Ayo Kania, nggak ada gunanya kita debat panjang lebar." Cetus Zea yang beranjak pergi di susul oleh Kania.


"Jika abang bicara yang sebenarnya apa itu akan baik-baik saja? Zea, apa sekarang abang boleh mengumumkan pada seluruh dunia jika kamu adalah milik abang? abang hanya tidak ingin kamu berada dalam situasi yang kamu nggak suka, abang diam karena abang tau kamu pasti lebih percaya sama abang. dari pada cerita sepihak dari Una kan?" Jelas Rakes.


"Setidaknya....." Ucapan Zea Langsung di selip oleh Marvel.


"Apa hanya karena cerita Una lantas kalian menghakimi kami secara sepihak? oke, kalau pun Una suka sama salah satu dari kami, apa kami harus melarangnya? apa kami yang memintanya? bukankah yang paling penting adalah perasaan kami? meski seribu wanita lain mendekat, abang hanya mencintai mu Kania, bagaimana pun keadaan kamu, abang akan selalu mencintaimu!" Jelas Marvel.


"Setidaknya jelaskan pada kak Una kalau kalian hanya menganggapnya sebagai teman!" Jelas Kania.


"Dengan diam, kalian malah akan menyakiti dia pada akhirnya!" Jelas Kania.


"Apa sekarang kamu malah mengkhawatirkan hati wanita lain?" Tanya Rakes yang langsung mendekap tubuh Zea dari belakang.


"Yah, jangan main nyosor dong, ntar kalau aku ngikutin gimana?" Cetus Marvel.


"Coba aja kalau berani sentuh Kania, bakal aku patahkan tangan abang!" Tegas Zea sambil menatap horor pada Marvel.


"Wiiih nggak suami, nggak istri sama-sama sadis!" Seru Marvel.


"Makanya cepat tuh di halalin!" Ujar Rakes yang semakin mengeratkan pelukannya membuat Marvel semakin kesal.


"Abang aja yang terlalu cepat lahir!" Cetus Kania.


"Kamu ngatain abang tua?" Tanya Marvel.


"Ya emang udah tua kan?" Cetus Zea dengan gelak tawanya.


"Ciiiih! udah ah, ayo Kania kita keluar aku yakin mereka mau melakukan hal yang lebih dari sekedar pelukan!". Jelas Marvel menggoda.


"Ah iya, kalau gitu selamat bersenang-senang!" Ujar Kania yang segera keluar dari kamar.


Setelah Kania dan Marvel keluar, Rakes langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah Zea.


Tatapan Rakes begitu dalam, dengan penuh kelembutan tangan Rakes menyentuh wajah Zea, membuat Zea ikut membalas tatapan Rakes.


"Aku selalu percaya pada Chim chim, tapi tetap saja ada rasa cemburu yang membuat dadaku sesak. Aku tau kak Una menyukai abang, itu semua terlihat jelas dari tingkahnya saat bercerita tentang abang. Maaf!" Jelas Zea.


"Abang paham, karena abang juga punya perasaan yang seperti itu, abang bahkan kerap kali merasakannya, saat kamu sama Roger, Rayyan, Taufan dan juga teman-teman mu yang lainnya." Jelas Rakes lalu menyatukan keningnya dengan kening Zea.


"Aneh bukan?"


"Inilah cinta, begini jalannya, meski bagiamana pun hati kecil kita tetap tidak ingin pasangan kita dekat dengan lelaki manapun." Jelas Rakes lalu mengecup kening Zea.


"Ayo kembali ke depan, yang lain pasti nungguin kita!" Ajak Zea.


"Beneran nih?"


"Cepetan sebelum kesabaran aku hilang, aku nggak mau menyerang chim chim sekarang, ayo buruan sebelum aku berubah pikiran!" Jelas Zea yang segera keluar dari kamarnya dengan disusul oleh Rakes.


__________________


"Auwwwwwww!" Teriak Rafeal dan Mariana barengan saat tubuh keduanya saling bertabrakan.


Tubuh Mariana bahkan terjatuh ke lantai, Sedangkan Rafeal masih sibuk mengusap bagian kepalanya yang tadi membentur kepalanya Mariana.


"Dasar bocah! kalau jalan tuh mata di pakek! sakit banget tau!" Gumam Mariana yang begitu kesal saat tau bahwa orang yang menabraknya adalah Rafeal.


"Kalau kamu pakai mata so pasti kamu bakal menghindar dong, itu artinya kamu juga nggak pakek mata!" Gumam Rafeal yang lebih kesal karena Mariana lagi-lagi memanggilnya bocah.


"Haisssssh!" Gumam Mariana lalu segera bangun.


Mariana yang beranjak meninggalkan Rafeal langsung di hadang oleh Rafeal.


Perlahan Rafeal kian mendekat pada Mariana.


"Jangan lagi panggil aku bocah, aku bahkan lebih tua dari kamu sang putri manja." Bisik Rafeal tepat di telinga Mariana.


"Etsss! Satu lagi, aku akan membuat kamu menggila pada orang yang kamu sebut bocah ini, bersiap-siaplah!" Tegas Rafeal yang kembali berbisik pada Mariana namun kali ini ucapannya begitu penuh penekanan.


"Abang Rafeal, kak Ana!" Ujar Kania yang melihat keduanya tepat di depan tangga.


"Kania!" Ujar Rafeal yang dengan spontan menjauh dari Mariana.


"Kenapa di sini? apa yang kalian lakukan?" Tanya Marvel.


"Loh kok pada ngumpul di sini? ayo kembali ke depan, yang lain dari tadi nungguin kalian." Jelas Elsaliani.


"Iya Uma, ayo abang Marvel!" Ajak Kania.


Mereka segera ikut dengan Elsaliani untuk kembali bergabung dengan yang lain, namun dengan langkah yang begitu cepat Mariana langsung menyusul Rafeal lalu merapatkan tubuhnya disisi Rafeal.


"Sejak pertama melihat tatapan mu untuk Kania, aku terus berdebat dengan diriku sendiri dan setelah aku melihatnya kembali hari ini, aku yakin kalau kamu sangat mencintai Kania, Kania kan yang merajai hati kamu?" Bisik Mariana lalu segera melangkah menjauh dari Rafeal.


Perkataan Mariana membuat langkah Rafeal terhenti, kini Rafeal mematung dengan pikiran yang tak menentu.


(Bagaimana ia bisa tau? aku bahkan tidak mengatakannya pada siapapun kecuali Rakes, lalu kenapa dia bisa tau, bagaimana kalau dia mengatakannya pada Marvel? apa yang harus aku lakukan sekarang?) Hati Rafeal terus bergelut dengan dirinya sendiri.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️