
...β€οΈReset Back To Episode 150β€οΈ...
Iqbal menyentuh tubuh Vikram yang tak bernyawa lagi, lalu melumuri tangannya dengan darah dan terakhir menempelkan kedua tangannya di tubuh Vikram dan juga di pistol. Rakes dan Zea masih saja mematung dengan mata yang terus saja menatap mayat Vikram.
Iqbal bangun lalu berusaha melihat keadaan sekitar, setelah merasa lokasi aman dari pantauan cctv dan juga saksi lainnya, Iqbal kembali mendekati Rakes.
"Om minta tolong sama kamu, pergilah bawa Zea! cepat Rakes." Perintah Iqbal.
"Rakes!" Gumam Iqbal karena sejak tadi Rakes masih saja berdiam diri.
"Om, aku yang membunuhnya!" Jelas Rakes.
"Ayah!" Ujar Zea.
"Sayang, percaya sama ayah, semuanya akan baik-baik saja" Jelas Iqbal.
"Tapi aku yang membunuhnya!" Tegas Rakes.
"Tidak, kamu dan juga Zea bahkan tidak pernah datang ke tempat ini, om pelakunya, pergilah!"
"Bagaimana bisa kesalahan aku om yang tanggung!"
"Rakes! ini bukan waktunya kamu keras kepala, ini demi kebaikan kita semua, pergilah!" Jelas Iqbal.
Rakes langsung menggenggam erat tangan Zea, lalu membawa Zea bersamanya, keduanya pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Setelah Rakes dan Zea pergi, Iqbal langsung beraksi. Dengan sigap ia mulai menelusuri seluruh tubuh Vikram, ia terus saja menghapus jejak Rakes yang ada di tubuh Vikram. Disaat Iqbal masih saja fokus tiba-tiba tangan Vikram mencengkram erat lengan kanannya, membuat mata Iqbal langsung menatap wajah pucat Vikram.
"Akan aku hancurkan kalian semua. Kamu dan juga keluarga mu harus merasakan hal yang sama, kamu membuat hidup putri ku menderita dan berantakan maka akan aku pastikan kalau hidup putri mu akan jauh lebih menderita." Gumam Vikram dengan tatapan yang terus menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Selama aku masih hidup, tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh keluarga ku, akan aku bunuh siapa orang yang mencobanya." Tegas Iqbal tanpa rasa takut sama sekali.
"Kita lihat saja!" Gumam Vikram yang langsung menancapkan pisau tepat di kaki kiri Iqbal.
Iqbal yang merasakan darah yang mulai menetes dari kakinya, akan tetapi ia tetap saja tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Vikram. Tangan Vikram menarik pisau tersebut lalu kembali ingin menusuk kaki Iqbal namun tangan Vikram kalah cepat dari aksi Iqbal. Dengan kejam Iqbal menekan bagian bahu Vikram yang terluka, hingga membuat sang peluru semakin mendalam seakan menusuk seluruh pembuluh darah Vikram, bahkan tangan Iqbal tetap saja beraksi meski darah mulai keluar dari ujung mata Vikram.
"Kamulah yang membuat hidup putri mu kacau bukan aku!" Tegas Iqbal lalu melepaskan tangannya dari luka Vikram.
Perlahan Iqbal menjauh, hingga akhirnya Vikram benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.
"Haissssh!" Gumam Iqbal frustasi dengan tangan yang di penuhi dengan darah segar.
Tubuh Iqbal masih terduduk dilantai dengan pandangan yang masih menatap mayat Vikram. Iqbal terlihat begitu kacau, ia bahkan berkali-kali meninju lantai hingga membuat tangannya terluka.
"Maafkan aku! tolong maafkan aku!" Tangis Iqbal pecah dengan air mata yang tak mampu ia bendung lagi.
____________________
Sebuah tangan menekan tombol stop hingga vidio yang sejak tadi mereka tonton berhenti. Suasana terasa begitu sunyi, tak ada yang bicara semuanya larut dalam tontonan mereka, vidio yang begitu menyesakkan dada. Angel bahkan diam-diam menyeka air matanya.
"Begitulah kejadian yang sebenarnya. Bukan Rakes tapi aku lah pembunuhnya!" Jelas Iqbal di hadapan semuanya.
Sang atasan Iqbal juga ikut menyaksikannya, lalu ada Angel, Hadi, semua tim Iqbal dan juga atasan Angel.
"Jika memang harus di usut kembali, maka aku lah pelaku yang harus kalian tangkap. Aku juga sudah lelah dengan semua ini, aku ingin mengakhiri semua hubungan aku dengan keluarga Lestari, aku tidak ingin mereka terus mengganggu keluarga aku." Jelas Iqbal.
"Bukankah sejak dulu kasus ini memang sudah tuntas. Vikram di berhentikan secara tidak hormat, dan kamu bukanlah pembunuh, yang kamu lakukan adalah pertahanan diri saat berada dalam kondisi bahaya." Jelas sang atasan Iqbal.
"Kasus ini sudah kami tutup. Dan sekarang kami hanya menangani kasus kejahatan Lestari dan semua komplotannya." Jelas sang komandan Angel.
"Dan aku janji, akan aku pastikan mereka semua menebus kesalahan mereka." Jelas Angel penuh ambisi.
"Iqbal, selama ini begitu banyak hal yang telah kamu korbankan, kamu bahkan menyembunyikan pangkat kamu yang sebenarnya, kini saatnya kamu jadi diri kamu sendiri. Akan aku atur waktu yang tepat untuk menyerahkan pangkat mu secara benar dan sah." Jelas sang atasan Iqbal lalu tersenyum bangga pada Iqbal.
"Tapi...." Keluh Iqbal.
"Jangan lagi bersembunyi, kalau begitu saya permisi, selamat siang!" Jelasnya dan lekas pergi bersama sang atasan Angel.
"Selamat!" Ucap Hadi dan langsung memeluk erat tubuh Iqbal.
"Ternyata benar kata pepatah ' Dibawah pimpinan yang hebat, anak buah yang bodoh pun bisa sukses, dan sebaliknya di bawah pimpinan yang buruk, anak buah yang hebat pun akan hancur' Pak Vikram bukanlah teladan yang baik. Selamat!" Jelas Angel dengan senyuman.
"Jangan lupa traktir makan ya!" Jelas Hendra yang ikut nimbrung memeluk Iqbal yang masih berada di dalam pelukan Hadi.
"Haissssh, aku juga mau ikutan!" Ujar Alam yang juga bergabung di ikuti oleh Luqman dan Alam.
"Aku juga!" Seru Angel yang langsung melebarkan tangannya untuk bergabung.
"Upsss! kalau kamu cuma jatah aku!" Seru Hendra yang lekas memeluk erat tubuh Angel hingga membuat yang lainnya tertawa.
____________________
"Jangan termenung terlalu jauh!" Ujar Zea yang langsung duduk disebelah kanannya Marvel.
Sejak tadi Marvel memang sedang duduk menyendiri di bangku taman rumah sakit, kedatangan Zea membuat Marvel berhenti bergelut dengan pikiran yang sejak tadi cukup membuat kusut otaknya.
"Zea, kenapa ke sini? siapa yang nemanin Rakes?" Tanya Marvel setelah sejenak menoleh pada Zea.
"Ada mama sama abang Roger." Jelas Zea lalu sejenak menatap lekat wajah Marvel yang terlihat jelas begitu kacau.
"Aku, abang Rakes, Kania, kak Ana atau Rafeal?" Tanya Zea.
"Maksudnya?" Tanya Marvel.
"Yang membuat wajah abang kusut gitu!" Jelas Zea.
"Bukan kalian, tapi abang sendiri!" Jelas Marvel.
"Loh! kenapa? apa abang tiba-tiba terjangkit penyakit mematikan? atau terinfeksi virus zombi?" Tanya Zea dengan memasang wajah syok yang membuat Marvel tidak bisa menahan gelak tawanya.
"Ternyata selain sangar kamu bisa ngalawak juga!" Ujar Marvel yang mulai bisa sedikit tersenyum.
Zea hanya membalasnya dengan senyuman lebar hingga memamerkan seluruh gigi putihnya.
"Apa ini soal Kania?" Tanya Zea pelan yang kembali serius.
"Hmmmm!" Ujar Marvel dengan anggukan kepalanya.
"Ada apa? apa Kania berpaling?" Tanya Zea.
"Dia hanya diam, dan abang tau kalau dia nggak akan pernah ninggalin abang. Tapi, ada masalah dengan hati abang!"
"Jadi abang yang oleng?"
"Zea, mana mungkin abang berpaling, Kania adalah satu satunya gadis yang abang cintai. Tapi, kamu tau kan kalau Rafeal jauh lebih pantas untuk Kania, mungkin jika abang yang ada di posisi Rafeal, jujur abang nggak akan sanggup, dia begitu tangguh, bahkan dia begitu mendukung hubungan kami, aku merasa seperti berada diantara keduanya, aku ada di tengah-tengah hubungan mereka berdua."
"Kenapa menyimpulkan seperti itu? Jelas bukan kalau lelaki yang Kania cintai itu abang bukan Rafeal."
"Zea, abang rasa abang yang salah!"
"Mau jalan-jalan?" Ajak Zea yang langsung bangun.
"Kemana?"
"Udah ayo!"
Marvel hanya menurut, ia perlahan mengikuti langkah Zea.
"Dulu, aku sama sekali tidak tertarik dengan abang Rakes yang begitu misterius, aku justru begitu mengagumi abang Roger, tapi nyatanya abang Rakes adalah lelaki terbaik untuk aku. Begitu pula abang dan Kania, mungkin dari satu sisi Rafeal terlihat lebih pantas mendampingi Kania, tapi saat Rafeal yang melihat, dia justru melihatnya dari sisi yang berbeda, abang Marvel adalah lelaki yang lebih cocok untuk Kania. Bagi aku, abang ataupun Rafeal, sama aja tapi coba abang ingat-ingat lagi dengan perasaan Kania, dia pasti telah memilih abang tanpa ada keraguan, lagi pula Rafeal terlihat lebih cocok dengan kak Ana!" Jelas Zea.
"Zea....!"
"Jangan tumbang! Kania milik abang Marvel dan tugas kita sekarang adalah mempersatukan Rafeal dan kak Ana!" Tegas Zea yang begitu berambisi ia sampai menggepal kedua tinjunya sangking begitu bersemangat.
"Dasar kamu ini!" Ujar Marvel sambil menyentuh kepala Zea yang terbalut dengan kerudung ungu.
"Kita harus ekstra cepat, jangan sampai keduluan sama anak atasan abang!" Jelas Zea.
Marvel kini malah tertawa lepas dengan sikap Zea. Hingga tanpa terasa kini keduanya berdiri tepat di depan pintu ruang rawatnya Rakes.
"Ayo masuk! pasti dari tadi Chim chim mu itu nungguin kedatangan kamu!" Ujar Rakes yang langsung masuk.
"Abang Marvel!" Gerutu Zea kesal dan ikut masuk.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ