My Princess

My Princess
ES_5 Uzun & Azan



Setelah menghabiskan waktu bersama hampir selama satu jam, akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri cerita dimalam bahagia ini, semua pasangan berangsur kembali ke kamar mereka sendiri namun itu tidak berlaku bagi Arina, ia justru melangkah menuju teras belakang, berdiri di sana sambil menatap beberapa bunga mawar yang mulai layu yang berjejer rapi di samping teras.


"Kasian, padahal kalian terlihat begitu cantik saat mekar, tapi waktu justru memaksa kalian untuk layu. Aku juga akan begitu, perlahan semakin tua, semakin lemah dan mungkin lebih parah lagi, saat aku sama sekali tidak lagi berguna!" Ungkap hati Arina dengan diiringi tetesan air mata.


"Tidak berguna? lemah? tua?" Tanya Uzun Yang perlahan berdiri di sebelahnya Arina.


"Abang...." Ujar Arina lalu tersenyum kearah Uzun.


"Abang juga bakal begitu, semua orang kan ada masanya masing-masing!" Ujar Uzun.


"Soal kami..."


"Abang paham, abang juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan sekarang. Tapi, tolong jangan lagi buat abang dan abang Azan khawatir, apapun itu, bicarakan dengan kami lebih dulu!"


"Hmmm, aku janji ini adalah yang terakhir kalinya aku melakukan sesuatu tanpa bicara lebih dulu."


"Gadis baik!" Ujar Uzun sambil mengusap jilbab Arina pelan.


"Abang..."


"Kenapa?"


"Apa benar abang Azan membenci pekerjaannya yang sekarang?"


"Kenapa bertanya begitu?"


"Aku hanya tidak ingin dia melakukan hal yang sama sekali tidak dia suka, hanya karena aku menyukainya!"


"Apa jaksa itu pilihan mu?"


"Hmmm, bukankah terlihat sangat keren saat kita bisa membantu para korban dan menghukum para pelaku kejahatan!"


"Iya, itu sangat keren!"


"Bisakah aku menjadi yang terbaik untuk hidupnya?"


"Tidak...."


"Abang..." Cetus Arina kesal.


"Karena kamu adalah wanita yang paling sempurna untuk mendampingi abang Azan."


"Benarkah?"


"Apa harus abang buktikan?"


"Iya, minta abang Azan untuk segera menikahi ku, maka akan aku akui kalau abang adalah suhu."


"Menikah?"


"Kenapa? apa ada yang salah dengan kata menikah?"


"Jangan!"


"Loh kenapa?"


"Abang harus melakukannya lebih dulu!"


"Ishhhh, aku harus lebih dulu dari Shia!"


"Ohhhh nggak bisa!"


"Emang abang bisa melangkahi abang Azan?"


"Iya juga ya...."


"Dasar, ayo kita masuk!" Ajak Arina yang langsung melangkah hendak kembali ke dalam.


"Arin, percayalah kalau abang Azan akan menjadikan mu wanita yang paling bahagia di dunia ini. Dari segala hal dia lebih unggul dari abang, dan dapat abang pastikan kalau cintanya untuk mu tidak pernah akan berkurang, akan tetap sama seperti saat kalian bahkan belum datang hingga nanti kami pulang!"


"Aku, bahkan sekalipun tidak pernah meragukan itu!"


"Terima kasih karena sudah datang untuk kami!"


"Ayo masuk sebelum aku memeluk abang!" Ujar Arina dengan senyuman dan lekas masuk ke dalam, dengan senyuman Uzun pun mengikuti langkah Arina masuk ke dalam rumah.


_________________


"Yakin abang nggak mau?" Tanya Urshia yang sedang menyantap mie di dalam mangkuknya.


"Sebenarnya abang juga lapar!" Ujar Azan yang langsung mengambil garpu dan langsung menyerang mangkok tersebut.


"Enak banget..." Ujar Azan.


"Pastinya dong, kan masakan mama Nia!" Ujar Urshia.


Seketika keduanya saling memandang lalu tertawa lepas bahkan sampai cekikikan.


"Kirain Shia yang masak!"


"Waaaah, kalau chef Shia pasti rasanya bakal hemmmm!"


"Waaaah nih anak, udah sekeren mana memanahnya?"


"Beeeh! kapan jadi nih ibuk chef tanding boxing nya? biar abang bisa ikutan nonton!"


"Yakin nih? janji?"


"Iya."


"Gimana dengan sidang abang?"


"Itu bisa diatur, jadwal sidang, operasi, semuanya bakal abang pastikan kosong!"


"Shia terhuraaaaaa"


"Kamu ini, ayo lanjut sebelum mie nya tambah ngembang!"


Lalu keduanya kembali menyantap mie yang sejak tadi begitu memanjakan lidah mereka.


"Dasar pelit! bagi dong!" Seru Uzun yang barus aja datang dan langsung merampas mangkok mie tersebut.


"Enak kayaknya!" Ujar Arina yang juga ikutan makan bersama Uzun.


"Dasar perampok!" Cetus Urshia.


"Serius ini enak banget, pegang yang kuat abang Uzun, supaya nggak dirampas balik!" Cetus Arina yang masih mengunyah mie yang memenuhi mulutnya.


"Akan abang jaga sekuat tenaga!" Tegas Uzun.


"Dasar!" Cetus Azan yang hendak merampas kembali namun gagal karena pertahanan Uzun memang tidak ada lawan.


"Benar-benar!" Cetus Urshia yang mulai beraksi.


Namun sebelum Urshia bergerak semua isi mangkok telah habis ludes diamankan ke dalam perut Uzun.


"Cihhhh!" Cetus Azan kesal bahkan ia memukul Uzun.


"Masih lapar! mau lagi dong!" Ujar Arina.


"Kakak masih mau?" Tanya Urshia.


"Iya..." Jawab Arina dengan memasang wajah memelasnya.


"Masak aja sendiri!" Cetus Azan dan Urshia bahkan hampir bersamaan.


"Ayo Arin kita masak!" Ajak Uzun.


"Emang adek bisa?" Tanya Azan yang sontak membuat Arina dan Urshia tertawa karena memang mereka semua tau bahwa orang yang paling bodoh di dapur adalah Uzun.


"Sok sok mau masak, spatula aja nggak kenal!" Cetus Arina.


"Kemaren mama Ana minta tolong ambilkan bawang putih tapi abang malah kebingungan mau ambil yang mana!" Goda Urshia.


"Minyak sama air aja nggak tau bedain!" Cetus Azan yang langsung bangun dan menuju tempat masak.


"Kalian...." Gumam Uzun kesal.


"Udah tunggu di sini biar Shia dan abang Uzun yang masak!" Ujar Urshia yang ikut membantunya Azan masak.


"Tenang aja, besok bakal aku kenalin sama semua pasukan dapur!" Ujar Arina dengan tawa khasnya.


"Jangan ikutan deh!" Gumam Uzun yang semakin kesal.


"Slowwwww, nggak bisa masak mah nggak masalah yang penting isi rekening membeludak!" Ujar Arina.


"Arin....." Ujar Uzun yang semakin kesal.


Hanya butuh waktu beberapa menit kini Azan dan Urshia kembali ke meja makan dengan semangkok mie di tangan masing-masing keduanya.


"Selamat makan!" Ujar Urshia setelah meletakkan mangkok mie di hadapan Uzun.


"Ayo kita makan!" Ajak Azan yang langsung duduk di sebelah Arina.


"Waaah dari wanginya aja udah woww banget, terima kasih!" Ucap Arina dan langsung melahapnya.


"Masakan abang memang mantap!" Ujar Uzun yang terus menyeruput kuah mienya.


Keempatnya terus menikmati sambil terus bercanda bahagia. Dari kejauhan sana Rakes terus saja menatap mereka tanpa berkedip sama sekali.


"Persis seperti mimpi aku waktu itu, setelah puluhan tahun ternyata mimpi itu berubah menjadi kenyataan. Malam ini daddy benar-benar melihat kalian berempat di dunia nyata. Semoga persahabatan kami bertiga menjadi berkah untuk kalian berempat, kini dan selamanya. Dari sini aku mulai paham, bahwa untuk bersama tidak harus sama. Marvel yang dari keluarga kaya raya, Rafeal yang datang dengan masa lalu yang buram dan aku, si manusia srigala, tapi kami bertiga bisa menjadi sempurna saat bersama. Persahabatan yang bahkan telah melebihi ikatan persaudaraan. Apa jadinya jika malam itu mereka tidak menghampiri aku. Uzun, Azan, jadilah banteng yang kokoh untuk Arin dan Shia, lindungi mereka berdua seperti papa mereka melindungi daddy kalian ini." Ungkap Rakes perlahan dengan suara yang terasa gemetar, bahkan air mata perlahan ikut menyentuh kedua pipinya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE Comen vote😘


Stay terus sama My Princess 😘😘😘😘


Khamsahamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,


🍁Xue_Lian🍁


Ditunggu kunjungannyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™