
"Rafeal tenanglah dulu." Ujar Erina yang segera memeluk Rafeal, Erina mencoba menenangkan Rafeal meski keadaan dirinya sendiri sedang begitu kacau.
"Ma..." Ujar Rafeal yang terkulai lemah di dalam dekapan Erina.
"Pa, apa kata dokter? kenapa Rafeal mengamuk seperti ini?" Tanya Zea.
"Semuanya baik-baik aja sayang, kamu tetaplah disini, kami akan tunggu di luar. Ma, bawa Rafeal keluar." Jelas Hadi yang segera keluar dari ruang Rawat.
"Ayo Rafeal." Ajak Erina lalu membawa Rafeal bersamanya.
"Permisi!" Ujar Dokter yang baru saja datang bersama dengan empat orang suster.
"Ada apa dok?" Tanya Erina yang menghentikan langkahnya.
"Kami akan membawa Rakes ke ruang pemeriksaan, kami harus memeriksanya ulang." Jelas Dokter.
"Tunggu, tolong beri aku waktu beberapa menit saja, setelah itu dokter boleh bawa suami aku." Jelas Zea.
"Baiklah, kami akan menunggu di luar!" Jelas Dokter yang keluar diikuti oleh Para suster.
"Ma, aku dan Abang Rakes baik-baik saja." Ujar Zea mencoba tersenyum karena mendapati Erina yang terus memandangnya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Mama tau sayang, anak-anak mama pasti akan baik-baik saja. Ayo Rafeal!" Jelas Erina yang langsung menutup rapat pintu ruangan tersebut.
Zea kembali mendekati ranjang Rakes lalu menatapnya dalam, perlahan Zea duduk di ranjang tepatnya di samping kiri tubuh Rakes yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Berapa lama waktu yang Chim chim butuhkan untuk berbaring seperti ini? oke fine, aku turuti keinginan Chim chim, tidurlah selama apapun yang Chim chim mau, aku dan Raze Junior akan menunggumu, teruslah tidur sampai puas, selama yang Chim chim inginkan, dan aku akan tetap berada disini. Bukankah ini semua tidak sebanding dengan apa yang Chim chim lakukan untuk aku. Tujuh belas tahun, yah Chim chim menghabiskan waktu selama tujuh belas tahun mencintai aku dalam diam, menunggu aku dengan begitu sabar, dan sekarang giliran aku yang harus menunggu, baik, aku bahkan bisa melakukannya lebih baik dari yang Chim chim lakukan." Jelas Zea lalu perlahan kembali merapikan baju Rakes.
Kedua tangan Zea menyentuh lembut wajah Rakes, menatapnya lekat lalu mengecup kening serta hidung mancung Rakes.
"Bertahanlah untuk aku dan Raze Junior!" Ujar Zea lalu perlahan meletakkan tangan Rakes pada bagian perutnya.
"Love daddy!" Ujar Zea dengan air mata yang kembali berlinang.
Dengan begitu lembut Zea kembali mengangkat tangan Rakes dari perutnya namun yang terjadi tangan itu malah perlahan mengusap lembut bagian perut Zea dari balik kemeja.
"Chim chim!" Ujar Zea saat merasakan tangan Rakes bergerak lembut di perutnya.
"Maaf, karena membuat kamu menunggu lama, dan juga maaf karena abang menghabiskan waktu yang begitu lama untuk bisa kembali menatap wajah indah mu." Ujar Rakes pelan dengan tatapan lemah yang ia paksa agar terus menatap wajah Zea tanpa berkedip.
Tangan Rakes perlahan bergerak menyentuh wajah sembab Zea lalu mengusap air mata yang sejak tadi membasahi wajah Zea.
"Berhenti menangis, atau kamu juga ingin melihat abang menangis, hmmmm?" Ujar Rakes dengan berusaha memamerkan senyumannya.
"Chim chim!" Ujar Zea yang langsung mengecup lembut dahi Rakes.
"Zea....." Panggil Erina sembari mengetuk pintu.
"Iya ma." Jawab Zea lantang.
Dokter dan para suster kembali masuk beserta Hadi dan Erina.
"Tidak ada yang harus di periksa ulang, aku baik-baik saja." Jelas Rakes.
"Rakes!" Ujar Erina yang langsung mendekap wajah Rakes dengan kedua tangannya, ia terlihat begitu bahagia.
"Pak Rakes harus tetap melakukan pemeriksaan, meski sekarang bapak sudah sadar dan merasa baik-baik saja tapi saya tidak bisa memastikan kalau kejadian tadi akan kembali terulang nantinya. Keadaan pak Rakes belum stabil, sewaktu-waktu bapak bisa kembali berada dalam masa kritis." Jelas Dokter.
"Aku menolak melakukannya!" Tegas Rakes.
"Rakes, papa sudah menyetujuinya. Kamu harus tetap melakukannya, papa nggak mau kalau sampai papa menyesal dengan keputusan papa!" Jelas Hadi.
"Tapi pa!" Sanggah Rakes.
"Sayang, tolong turuti permintaan papa mu. Ini semua demi kebaikan mu. Sayang, kenapa tidak bicara sama mama dan papa tentang kelainan pada darah mu?" Jelas Erina.
"Ma, baiklah, aku akan melakukannya!" Jelas Rakes yang tidak bisa lagi membuat Erina terluka dan sedih.
"Terima kasih sayang!" Ucap Erina yang mengusap lembut rambut Rakes.
"Kami akan membawa pasien ke ruang pemeriksaan." Ujar Dokter.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk anak ku!" Pinta Hadi.
"Kami akan melakukannya sebaik mungkin. Suster, bawa pasien sekarang." Jelas Dokter.
"Baik dok!" Jawab para suster dan langsung mendorong ranjang Rakes.
"Cari aja, toh aku nggak akan ada di sana. Kamu lupa orang baik-baik itu tempatnya di surga bukan di neraka." Jelas Rakes diakhiri dengan senyuman menawan bersamaan dengan ranjangnya yang beranjak semakin jauh dari Rafeal dan yang lainnya.
_______________________
"Ayah!" Panggil Zea setelah menutup rapat pintu ruang rawat Elsaliani.
Zea terus melangkah mendekati sang ayah yang sedang tertidur pulas dengan kepala yang tersandar di bagian ranjang tepat di hadapan tangan Elsaliani.
"Ayah, uma!" Ujar Zea pelan lalu silih bergantian menatap wajah lelap kedua orang tuanya.
(Uma, Zea rindu saat semuanya baik-baik saja. Ayah, Zea ingin hidup kita aman tanpa satupun hal yang menyakiti uma dan abang Rakes. Zea takut, Zea benar-benar takut.) Keluh hati Zea dengan tetesan air mata.
Zea semakin mendekati Iqbal lalu menyentuh pundak sang ayah hingga membuat Iqbal terbangun dari tidurnya, mata tajam Iqbal langsung tertuju pada tangan Zea lalu beralih ke wajah Zea.
"Zea, ada apa sayang? dimana Rakes?" Tanya Iqbal yang dengan sigap berdiri tegap di hadapan Zea.
"Ayah..." Tangis Zea pecah di dalam pelukan Iqbal.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa menangis seperti ini?" Tanya Iqbal dengan suara yang ia tahan sebisa mungkin akan tidak membuat Elsaliani terbangun.
Iqbal membawa Zea ke sofa yang agak jauh dari Zea, keduanya duduk di sana.
"Abang sedang di periksa. Zea takut ayah, saat ini Zea benar-benar ketakutan." Adu Zea yang masih membenamkan wajahnya di dada Iqbal.
"Tenanglah, ayah ada di sini, semuanya akan segera membaik." Ujar Iqbal menenangkan sang putri tercinta dengan mengusap pelan jilbab Zea.
Keadaan Zea membuat Iqbal juga ikut takut, namun ia tetap berusaha untuk terlihat tenang. Karena selama ini Zea tidak pernah terlihat se-rapuh saat ini, dia gadis yang kuat dan tangguh, bahkan saat ia terancam bahaya, dia masih tetap tenang, tapi sekarang tidak ada lagi Zea yang kuat yang tersisa hanyalah sosok Zea yang begitu lemah dan ketakutan.
"Apa ada hal yang ayah tidak tau?"
"Sebenarnya, ada kelainan pada darah abang Rakes, saat terluka waktu itu dokter sudah memperingatkannya tapi abang bersih keras kalau dia baik-baik saja, dan sekarang Zea nggak tau apa yang akan terjadi, bagaimana kalau itu akan berefek buruk bagi pertahanan abang, Zea takut ayah!" Cerita Zea dengan air mata.
"Sekarang yang lain dimana? bapak sama bunda dimana?"
"Bunda dan bapak di antar om Mikeal ke rumah, mereka pulang untuk mengambil barang-barang uma dan abang. Kalau yang lain masih di sana menunggu pemeriksaan lanjutan abang Rakes."
"Kamu disini, temani uma sebentar, ayah harus melihat Rakes sebentar."
"Hmmmmm" Zea menganggukkan kepalanya dan Iqbal lekas pergi.
_________________
"Bruuuuuk" Sebuah tinju mendarat di wajahnya Damar bahkan sampai membuat Damar terjatuh dari kursinya.
Ulah Marvel membuat tim penyidik yang sedang bertugas panik seketika. Seorang polisi yang berada di ruangan tersebut lekas menghentikan Marvel yang kembali ingin menghantam Damar.
"Marvel, apa yang kamu lakukan?" Tanya Angel yang baru saja masuk.
"Aku akan membunuhnya tante, aku akan membunuhnya!" Gumam Marvel kesal dengan tubuh yang ikut ambruk ke lantai.
Keadaan Marvel benar-benar kacau, tangisnya terdengar begitu jelas.
"Haisssssh!" Gumam Marvel kasar.
"Tenanglah, ini kantor polisi, jangan menambah masalah!" Jelas Angel.
"Aku, aku! haisssssh!" Marvel kembali bangun lalu kembali meninju wajah Damar yang baru saja berdiri dengan dibantu oleh bawahannya Angel.
"Marvel!" Tegas Angel yang langsung menarik tubuh Marvel keluar dari rungan tersebut.
"Bruuuuuuuuk" Kali ini tinju Iqbal yang mendarat di perut Damar membuat Damar terjatuh ke pojok ruangan.
Kedatangan Iqbal membuat polisi yang bertugas malah menjauh lalu memberi akses untuk Iqbal.
Dengan kasar tangan Iqbal menarik kerah baju Damar lalu menyeretnya paksa untuk ikut bersamanya.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ