
Tak terasa udah eps ๐ฏ aja, wuiiiiiih๐ค๐ค perasaan baru kemarennya mulai eps 001๐คญ
Semoga menteman terus setia ngikutin ceritanya ๐๐
masih belum tau mau tamatnya di eps berapa, soalnya masih banyak hal yang masih remang-remang gituh๐ Ada cerita tentang jabatan Iqbal yang belum sempat di bahas, terus belum lagi kelanjutan Zea dan sekolahnya, dan lagi perkara penyerangan malam itu, dan juga sebenarnya ada sedikit niat pengen buat part khusus masa lalu Rafeal dan Marvel dalam satu eps tapi belum juga terealisasikan๐คญ
So terus pantangin My Princess ya๐๐
Dan terima kasih buat manteman semua yang sudah Like, Comen n vote cerita aku sejak Cinta Elsaliani - My Princess ๐๐๐๐
Jangan bosan-bosan ya๐
Oh ya satu ge, yok mampir juga di novel baru aku, kali ini dengan genre komedi-roment, masih sedikit membingungkan pembukaannya tapi di eps berikutnya kalian juga pasti akan mulai menyukainya๐คญ semoga๐
๐นMirza& Meisha๐น
Jangan lupa mampir ya๐
Di tunggu kunjungan mateman semua๐ kok terkesan aku nya maksa ya?๐ค๐ค nggak pa dong sekali2๐คฃ๐คฃ
Terima kasih ๐๐๐๐๐
๐๐๐๐๐๐๐
Zea masih terbaring di atas ranjang dengan jarum infus yang terpasang di tangannya. Sedari tadi ia hanya menatap setiap sudut ruangan lalu membuang nafas kasar dan kembali mengulang hal yang sama hingga perlahan pintu kamar rawatnya di buka dari luar. Mata Zea langsung tertuju pada sosok Rakes yang kian mendekat kearahnya, raut wajah Rakes tidak bisa ditebak sama sekali, ada ekspresi lega sekaligus ada rasa khawatir yang terpancar di sana, dan juga ada rasa kecewa yang bercampur dengan kesedihan.
"Chim chim!" Panggil Zea saat perlahan tangan Rakes menyentuh wajahnya.
Tampa jawaban Rakes duduk di pinggir ranjang pada sisi kasur yang sedikit kosong dengan mata yang terus menatap dalam wajah Zea, perlahan tangan Rakes mengusap kedua bahu Zea lalu sedikit mendekatkan dada bidangnya lalu mencoba menyembunyikan wajahnya di leher Zea.
'Dek' Jantung Zea seakan berdetak tak beraturan saat tetesan air mata Rakes membasahi lehernya dari balik jilbab yang masih membungkus kepalanya.
Dalam diam, Zea terus berusaha untuk berpikir positif, tangan nya yang tak terpasang infus perlahan bergerak lalu membelai bagian rambut belakang Rakes yang semakin memanjang hingga menutupi bagian belakang lehernya.
"Apa yang dokter bicarakan? kenapa menangis?" Tanya Zea dengan suara yang seakan tercekat di tenggorokan namun ia tetap berusaha tegar.
"Maaf dan juga terima kasih!" Ujar Rakes pelan.
"Sungguh? jadi dokter hanya mengatakan 'Maaf dan terima kasih' ??"
"Zea..." Ujar Rakes lalu mengangkat kepalanya dari leher Zea.
"Abang yang mengatakannya, bukan dokter!"
"Kenapa?"
"Maaf karena abang tidak menjaga kamu dengan baik, maaf karena abang membiarkan kamu dan Raze junior berada dalam bahaya dan juga terima kasih karena telah menjaga anak kita dengan baik, kamu hebat Zea!" Jelas Rakes.
"So? Raze junior baik-baik aja?" Tanya Zea memastikan dengan mata yang menatap lekat kedua bola mata Rakes.
"Alhamdulillah, kalian berdua melakukannya dengan baik, ibu yang tangguh dan anak yang kuat!"
"Hmmmm, apa Chim chim tidak berencana untuk memberikan kami piagam penghargaan?"
"Maksudnya?"
"Masak gitu aja nggak paham? katanya jenius!"
"Kejeniusan tingkat dewa pun nggak bakal ngerti dengan bahasa alien yang kamu gunakan!" Cetus Rakes.
"Emang otak Chim chim aja yang tidak mencapai tingkat IQ tertinggi!"
"Oke, abang ngalah! so?"
"Oke kita kembali ke topik! Chim chim tau kan kalau aku dan Raze junior sudah bertahan dengan baik, so harusnya Chim chim memberikan kami hadiah dong!" Jelas Zea dengan senyuman mesumnya.
"Hadiah? kalian mau hadiah apa? akan abang belikan sekarang juga!"
"Janji? sekarang?"
"Iya, janji!"
Mata tajam Zea langsung beraksi, dia terus menatap mesum seluruh tubuh Rakes.
"Zea, kita masih di rumah sakit, jangan buat ulah!" Jelas Rakes yang mulai mengikuti setiap tatapan Zea yang seakan membekas pada setiap anggota tubuh yang ia tatap.
"Tuh kan, belum juga mulai udah cari alasan! lupakan saja hadiahnya, lebih baik aku tidur aja!" Gumam Zea dan langsung memejamkan matanya.
"Zea...." Panggil Rakes.
"Aku mau istirahat!" Tegas Zea.
"Oke fine! katakan hadiah apa yang kamu inginkan?" Tanya Rakes mengalah.
"Bukan 'Kamu' tapi 'Kalian'! aku dan juga Raze junior!" Jelas Zea.
"Oke! katakanlah!"
"Tabrakan maut!" Tegas Zea dengan suara lantang.
"Zea...."
"Lupakan! tambah kesal jadinya, udah ah Chim chim keluar aja, aku dan Raze junior mau istirahat, kali aja bisa tabrakan maut dalam mimpi, mau yang nyata pun nggak kesampaian kan!" Jelas Zea yang kembali memejamkan matanya.
Sejenak memandang wajah polos Zea, perlahan Rakes mulai mendekat lalu lalu memenuhi permintaan Zea, dan terjadilah 'tabrakan maut' yang seperti Zea inginkan.
"Terus apa permintaan Raze junior?" Tanya Rakes setelah melepaskan ciumannya.
"Lagi!" Pinta Zea.
Rakes kembali mencium lembut sang istri tercinta.
"Istirahatlah!" Ujar Rakes.
"Lah permintaannya Raze junior kan belum!"
"Terus yang barusan apa?"
"Itukan masih lanjutan hadiah buat aku!"
"Zea.....!"
"Baiklah, hadiah buat Raze junior di tunda aja dulu, aku akan tagih saat di rumah nanti!" Jelas Zea lalu memejamkan matanya.
"Istirahatlah, setelah cairan infus ini habis kita sudah boleh pulang." Jelas Rakes sambil menyentuh tangan Zea.
(Huffffff! jika saja bukan di rumah sakit abang sudah menerkam mu, Zea. Kamu benar-benar membuat darah abang memanas, jantung abang menggila!) Bisik hati Rakes dengan mencoba menghela nafas pelan dan menormalkan kembali dirinya yang sedari tadi terus melawan nafsunya yang kian meledak.
____________________
"Jangan gerak, tetap di situ!" Pinta Rakes setelah mobilnya terparkir di halaman rumah Iqbal.
"Kenapa? apa kita salah alamat?" Zea balik mengajukan pertanyaan konyol.
"Kamu lupa apa pesan dokter tadi? untuk seminggu ini kamu nggak boleh banyak gerak, nggak boleh kecapean, nggak boleh....." Penjelasan Rakes langsung di selip oleh Zea.
"Abang serius! jangan berkelahi, jangan ikutan balap, jangan buat onar! janji?"
"Hmmmmm baikalah, janji!" Ujar Zea dengan berat hati.
"Deal!" Tegas Rakes dan lekas keluar dari mobil.
Rakes segera membuka pintu disebelahnya, lalu membuka sabuk pengaman yang menempel pada tubuh Zea, dan dengan perlahan mengendong tubuh mungil Zea lalu membawanya masuk.
"Zea......!" Seru Rayyan saat melihat kedatangan Rakes dan Zea.
"Bagaimana? apa keadaan Zea baik-baik saja?" Tanya Elsaliani yang terlihat begitu panik.
"Uma, Zea baik-baik aja. Uma nggak usah khawatir, macam uma nggak kenal sama anak uma aja!" Jelas Zea dengan senyuman manisnya.
"Zea, uma tau kamu kuat, tapi yang uma khawatirkan sekarang bukan kamu tapi kand....." Penjelasan Elsaliani langsung terhenti dengan sendirinya hingga membuat para member club Zea langsung mengalihkan pandangan mereka pada Elsaliani.
"Apa yang uma khawatirkan?" Tanya Taufan.
"Apa terjadi sesuatu yang tidak kami tau pada Zea?" Tanya Bian yang tak kalah panik.
"Maksud uma......hmmmmm!" Zea terlihat begitu kebingungan untuk menjelaskannya.
"Uma itu khawatir dengan lambung Zea, jika bermasalah ntar yang ada nggak ada lagi yang menghabiskan semua masakannya!" Jelas Rafeal ngasal.
"Tau aja kamu!" Cetus Zea dengan tawa khasnya.
"Khmmmm, masih betah aja tuh di gendong, banyak sofa yang nganggur loh!" Cetus Rayyan yang tidak bisa menahan rasa cemburu meski telah ia tahan sekuat mungkin.
"Kalau gitu aku permisi ke kamar!" Ujar Rakes setelah meletakkan Zea ke atas sofa.
Rakes langsung berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Semua yang ada langsung mengerumuni Zea.
"Kalian semua mau membunuh ku?" Tanya Zea.
"Kami khawatir tau!" Tegas Bian lalu kembali duduk.
"Kamu yakin nih beneran nggak ada yang luka?" Tanya Rayyan memastikan setelah semuanya kembali ke posisi semula.
"Dokter udah periksa, udah kalian jangan lebay deh! aku Zea loh, Nuri Zea Zahiya Saka, monster Iqbal dalam versi wanita!" Cetus Zea dengan bangganya.
"Ya udah kalian lanjutkan obrolan kalian, uma akan menyiapkan makan malam buat kalian semua, jadi nggak ada yang boleh pulang, kita makan malam bersama." Jelas Elsaliani.
"Siap uma!" Seru Bian Girang.
"Masak yang banyak ya uma!" Ujar Taufan.
"Siap, ya udah uma ke dapur dulu ya!" Ujar Elsaliani.
"Biar aku bantu tante eh uma!" Ujar Namira yang masih begitu canggung dengan Elsaliani, karena memang ini adalah kali pertama dia main ke rumah Zea.
"Nggak apa sayang, kamu di sini aja!" Ujar Elsaliani.
"Nggak apa-apa uma, sekalian mau belajar masak sama uma!" Jelas Namira.
"Ya udah ayo!" Ajak Elsaliani.
"Belajar yang bener ya! biar kamu bisa masakin buat aku!" Jelas Taufan.
"Dasar.....!" Cetus Rayyan dan Zea hampir bersamaan.
"Pepet terus!" Seru Rafeal menggoda.
"Biarin, dari pada macam situ, jomblo terus dari tahun ke tahun!" Jelas Taufan.
"Jomblo tapi happy!" Seru Rafeal bangga.
"Kalian berisik tau! udah ah aku mau istirahat!" Jelas Zea yang hendak bangun dari sofa.
"Sini biar aku gendong, kamu masih belum sehat, aku akan mengantar mu ke kamar!" Jelas Rayyan yang telah bersiap hendak menggendong Zea.
"Aku bisa sendiri!" Tegas Zea.
"Udah nggak usah keras kepala!" Gumam Rayyan.
"Kelamaan kalian, debat aja kerjanya!" Jelas Rafeal yang langsung menggendong tubuh Zea.
"Udah biar Rafeal aja yang gendong toh memang tubuh dia lebih kekar dari kita." Jelas Bian yang mau tidak mau membuat Rayyan kembali duduk.
"Aku istirahat sebentar ya, kalian lanjutkan aja obrolan kalian!" Jelas Zea saat Rafeal mulai menaiki tangga.
"Aku akan segera turun setelah mengantarkan bigbos ke kamarnya!" Seru Rafeal yang mempercepat langkahnya.
"Mau aku antar ke kamar mana?" Tanya Rafeal saat keduanya berada di depan kamar Zea dan Rakes.
"Ke kamar aku aja, takutnya mereka nyariin nanti!" Jelas Zea.
"Oke!" Ujar Rafeal yang hendak membuka pintu kamar Zea.
Tangan Rafeal terhenti ketika pintu di buka dari dalam.
"Nih!" Seru Rafeal yang langsung menyerahkan Zea.
Rakes mengambil alih Zea ke dalam gendongannya dengan mata yang menatap tajam Rafeal.
"Rilexs bro! mending aku yang bawa kan dari pada Rayyan, lagi pula aku juga bertanggung jawab atas Zea." Jelas Rafeal.
"Nggak nanya!" Cetus Rakes yang langsung menutup pintu kamar.
"Dasar srigala tak berperasaan! ah lupa srigala kan emang nggak punya hati lebih-lebih perasaan! aku aja yang bodoh bisa-bisanya bergaul dengan hewan, hewannya aneh pula! hiiiiih!" Jelas Rafeal pada dirinya sendiri dan lekas turun kembali bergabung dengan teman-teman yang lain di ruang tamu sana.
"Istirahatlah!" Ujar Rakes setelah membaringkan Zea di atas kasur.
"Apa Chim chim cemburu?" Tanya Zea.
"Kenapa bertanya tentang hal yang sudah kamu tau jawabannya! abang mau mandi, kamu istirahat lah!" Jelas Rakes.
"Aku juga mau mandi! ayo kita mandi!" Ajak Zea yang langsung bangun.
"Zea.....!"
"Buruan!" Desak Zea yang langsung menyeret paksa Rakes ke kamar mandi.
Rakes hanya menurut saat tangan Zea menarik tangannya untuk ikut ke kamar mandi.
๐๐๐๐๐๐๐
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE๐๐
Stay terus sama My Princess๐๐๐
KaMsaHamidaโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธ