
Assalamualaikum manteman semua@ππ
Makasih banyak2 atas like n vote@ selama ini, ples comen@ jugaπ semua itu membuat semangat aku semakin menggebu2 untuk up selaluπ seriusan!βΊοΈ
Jangan bosan2 tuk selalu ngikutin My Princess yaπππ
Selamat membacaπ€π€π€
semoga manteman semua terhibur, semangatπͺπͺπͺπͺ
πππππππ
Zea terlihat begitu nyenyak dalam tidur lelapnya, malam ini Zea dan Elsaliani tidur bersama karena Iqbal sedang dalam tugas.
Mereka berdua memutuskan untuk menghabiskan malam di kamar Zea, sebelum tidur keduanya nonton bersama hingga keduanya terlelap dengan laptop yang masih memutarkan drama favorit keduanya.
Jarum jam terus berdetak menjelajah waktu yang terus berputar, tepat pukul 01.00 WIB dua penjaga yang mengawasi gerbang berhasil dilumpuhkan oleh para lelaki kekar yang baru saja datang, setelah membereskan penjaga gerbang mereka langsung menyerang para penjaga yang ada di depan pintu utama rumah Iqbal. Setelah sukses dengan aksinya, kini mereka mulai membuka paksa pintu utama dari luar, hanya butuh beberapa menit saja, pintu telah terbuka sempurna.
"Cari ke seluruh ruangan! jangan ada yang terlewatkan!" Perintah sang bos yang langsung dilaksanakan oleh seluruh anak buahnya.
Mereka berpencar ke setiap ruangan. Hingga akhirnya lima orang diantara mereka mulai memasuki kamar Zea, mereka terus mendekati ranjang dimana Zea dan Elsaliani terlelap.
"Waaaah benar-benar menggiurkan!" Seru seorang diantara mereka lalu semakin mendekat.
"Gila tuh Iqbal, hidupnya serba wow, bini bening gila anak pun bak Cinderella, benar-benar bikin iri!" Jelas lelaki yang paling tinggi diantara mereka.
Lelaki tersebut juga ikut mendekat, bahkan tangannya mulai menyentuh wajah Elsaliani sedangkan yang satunya lagi mulai membelai rambut Zea.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Gumam sang bos murka saat melihat para anak buahnya yang main nyosor tanpa perintahnya.
"Maaf bos!" Pinta keduanya hampir bersamaan lalu segera menjauh dari ranjang.
Keributan yang mereka buat seketika membangunkan Elsaliani dari tidur nyenyaknya.
"Siapa kalian? keluar dari rumah ku!" Jelas Elsaliani yang segera meraih jilbabnya.
Tangan Elsaliani bukannya menyentuh jilbab yang tergeletak di sandaran kursi yang ada sampingnya tapi malah disambut hangat oleh sang bos.
"Lepas!" Teriak Elsaliani.
"Uma..." Ujar Zea yang baru saja membuka matanya.
Suasana kamar sontak membuat Zea terperanjat kaget.
"Lepaskan uma ku!" Teriak Zea yang langsung memukul kasar tangan yang menggenggam erat tangan Elsaliani.
"Pegang bocah itu, aku mau main sebentar dengan aset berharganya Monster gila itu!" Perintah bos.
Kelima anak buahnya langsung menyeret tubuh Zea secara paksa, Zea terus memberontak dengan sekuat tenaga, ia terus berusaha melepaskan tubuh kecilnya dari kukungan mereka.
"Dasar banci! kalian beraninya sama wanita, aku akan membunuh kalian semua!" Teriak Zea yang begitu dikuasai oleh emosi.
Dengan sisa tenaga yang ada Zea menggigit setiap tangan yang menyentuh dirinya, setelah berhasil lepas Zea segera berlari mendekati Elsaliani.
"********, lepaskan uma ku!" Gumam Zea yang kali ini langsung merampas kembali Elsaliani.
Tak tinggal diam, sang bos langsung menampar kasar Zea hingga tubuhnya tergeletak dilantai, lalu ia kembali menyentuh Elsaliani berusaha untuk membelai mesra setiap lekuk tubuh Elsaliani.
"Jangan sakiti putriku! lepas!" Gumam Elsaliani dengan tetesan air mata.
"Cepat seret bocah itu keluar?" Perintah sang bos.
"Jangan, aku mohon jangan sakiti putri ku!" Pinta Elsaliani yang begitu ketakutan.
"Lepas! aku bilang lepas! aku mohon om lepaskan uma ku, lepas!" Tangis Zea pecah.
"Oke, aku lepas!" Jelas sang bos yang langsung melepaskan tubuh Elsaliani lalu mulai beralih mendekati Zea.
"Sepertinya aku akan memulainya dari kamu bocah kecil!" Jelas sang bos yang kini perlahan menyentuh wajah sangar Zea.
"Jangan, jangan sentuh putriku, jangan sentuh dia!" Tangis Elsaliani.
"Perpaduan Iqbal dan gadis lugu nan jelita menghasilkan bocah yang luar biasa cantik, ayo kita bersenang-senang!" Jelas sang bos yang terus berusaha mencium Zea.
"Jangan sentuh aku! lepas, aku bilang lepas!" Teriakan Zea sukses membuat Zea terbangun dari mimpi buruknya.
"Zea, kenapa?" Tanya Rakes.
Rakes yang dari tadi sibuk berolah raga, segera lari menghampiri Zea yang terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya.
"Tenanglah! abang disini." Jelas Rakes yang langsung mengusap rambut Zea.
"Kenapa tiba-tiba kenangan itu muncul lagi? kenapa masa lalu itu kembali menghantui?" Tanya Zea yang terlihat panik dengan apa yang baru saja ia alami.
"Masa lalu? masa lalu yang mana?" Tanya Rakes yang perlahan membawa Zea ke dalam dekapannya.
"Luka lama, luka yang membuat aku kehilangan waktuku dengan percuma. Chim chim, dulu aku pernah koma, aku tertidur selama dua tahun, dan kini entah kenapa kenangan buruk itu datang kembali, pada hal aku tidak ingin mengingatnya lagi."
"Segala kejadian pasti ada hikmahnya, berdamailah dengan masa lalu, jangan jadikan ia sebagai musuh tapi perlakukan ia sebagai bagian dari diri kita yang harus kita perbaiki di masa depan." Jelas Rakes.
"Tapi tetap saja...."
"Chim chim!" Ujar Zea yang semakin membenamkan wajahnya di dada kotak Rakes.
"Zea...." Ujar Rakes sembari menghentikan tangan Zea yang mulai merayap kebalik kaos tanpa lengan yang melekat sempurna di tubuh kekar Rakes.
"Rinduuu!" Ujar Zea manja dan terus saja menluncurkan aksi raba-raba hingga meluas ke bagian dinding beton Rakes.
"Tubuh abang masih lengket, keringatan, abang baru siap olah raga." Jelas Rakes.
"Ayo mandi bersama!" Ajak Zea.
"Ini udah tengah malam, mandi di malam hari nggak baik buat kesehatan."
Perlahan Zea melepaskan tubuhnya dari dekapan Rakes, lalu beringsut masuk ke bawah selimut.
"Zea..." ujar Rakes.
"Lakukanlah apa yang Chim chim mau, aku mau kembali tidur siapa tau aku bisa melanjutkan lagi mimpi buruk yang sempat bersambung tadi!" Cetus Zea dengan wajah yang terlihat jelas begitu kecewa.
"Apa sekarang kamu sedang marah?" Tanya Rakes sembari menarik selimut yang menutupi wajah Zea.
"Zea, kamu nangis?" Rakes kembali bertanya saat melihat mata Zea yang begitu berkaca-kaca.
Tangan Rakes mengusap lembut wajah Zea.
"Apa Chim chim mulai bosan?" Tanya Zea dengan raut wajah sedih.
Tanpa jawaban apa-apa, Rakes langsung menyerang Zea, bahkan kali ini Rakes melakukannya secara brutal tak terkendali.
____________________
"Yakin mau berangkat sekolah?"
"Iya, hari ini ada ulangan Matematika." Jawab Zea dengan suara yang terdengar sedikit parau.
"Tapi kamu lagi nggak sehat, wajah kamu pucat banget." Jelas Rakes setelah menyentuh dahi Zea dengan telapak tangannya.
"Udah Chim chim tenang aja, kalau sekedar untuk berjalan aku masih kuat kok." Jelas Zea yang masih fokus memakai kaos kaki.
"Soal tadi malam, abang minta maaf!" Ujar Rakes yang kini membantu Zea mengenakan kaos kaki.
"Kenapa minta maaf? Chim chim melakukan hal yang memang seharusnya di lakukan. Aku hanya sedikit lelah, bentar lagi juga tenaga aku kembali full." Jelas Zea sembari menyentuh rambut Rakes.
"Potong lah rambut, ini sungguh mengganggu pemandangan." Lanjut Zea yang terus memainkan poni yang menutupi jidat paripurna milik Rakes.
"Kalau tugas abang di sekolah sudah selesai, abang akan langsung memangkasnya. Nah selesai!" Jelas Rakes yang selesai memasangkan kaos kaki di kedua kaki Zea.
"Terima kasih!" Ucap Zea dengan senyuman menawan.
"Sama-sama Jannati!"
"Ihhh genit! sejak kapan Chim chim mulai manja gini?" Ujar Zea yang mendapat perlakuan romantis dari Rakes.
Rakes memeluk erat pinggang ramping Zea, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Zea yang sedang duduk di ujung kasur. Tangan Zea kembali mengusap lembut kepala Rakes. Belakangan bukan hanya Zea yang gesit melakukan penyerangan pada tubuh kekar Rakes, tapi sebaliknya Rakes juga mulai berani menyentuh tubuh mungil Zea, bahkan tadi malam dia melakukannya dengan begitu gila.
"Setelah tugas yang ini selesai abang akan minta cuti, kita honeymoon!" Jelas Rakes
"Nggak mau!" Tegas Zea.
"Kenapa?"
"Semalam kan honeymoon juga!" Jelas Zea dengan wajah yang kembali merona ketika mengingat sikap Rakes yang semalam.
"Ya beda dong!"
"Beda dari mana coba, nggak mau ah!"
"Kenapa?"
"Chim chim, nggak penting tempatnya dimana, nggak penting suasananya kayak apa, itu semua nggak penting buat aku, yang penting Chim chim adalah milikku. Aku nggak butuh honeymoon ala-ala siapapun, kamar ini sudah cukup menjadi saksi betapa sejatinya cinta kita berdua. Aku sudah cukup bahagia, aku tidak butuh apa-apa lagi." Jelas Zea.
"Sesimpel itu kah?" Tanya Rakes sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Zea.
"Hmmmmm!" Ucap Zea lalu mengecup kening Rakes.
"Ayo berangkat!" Ajak Rakes setelah tubuhnya berdiri tegak.
"Ayo!" Ujar Zea yang langsung menggandeng tangan Rakes.
Keduanya keluar dari kamar lalu sarapan bersama Elsaliani dan Iqbal setelah itu segera berangkat ke sekolah.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ